Selasa, Juni 30, 2009

Setitik Airmata Tak Mau Dusta

0 komentar

Suatu kali Jon Maslahat mengikuti acara pemberian bantuan dana pendidikan untuk murid-murid sekolah dasar dan guru honorer yang diselenggarakan oleh kantornya. Salah satu acara setelah pembukaan adalah pembacaan kalam Illahi yang terjemahannya adalah sebagai berikut :


(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama
(2) Itulah orang yang menghardik anak yatim,
(3) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
(4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(5) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
(6) orang-orang yang berbuat riya.
(7) dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Surat Al-Maa’uun / 107 :1-7).

Suasana begitu sendu dan banyak yang terisak, termasuk Pak Radaslama yang berdiri di sebelah kanan Jon Maslahat. Pak Radaslama adalah mantan pejabat tinggi suatu instansi pemerintah yang kini menjadi penasehat akhli di perusahaan di mana Jon Maslahat bekerja.

Jon Maslahat, seperti kena stroom. Ia mulai terhanyut oleh suasana sendu itu, namun hatinya berkata : “Jangan ikut cengeng..., Jon ! ”.

Ia pun lalu berusaha menahan diri sekuat tenaga. Ia mencoba dan terus mencoba. Tetapi suasana sendu yang begitu dominan menyebabkan pertahanan Jon Maslahat akhirnya bobol. Air matanyapun lalu menitik.

Setelah sejenak berhasil mengendalikan kecengengannya, Jon Maslahat - yang suka menimba pengalaman orang lain - memberanikan diri bertanya kepada Pak Radaslama : “Mengapa bapak menangis?”.

Pak Radaslama - sambil mengusap matanya - menjawab : “ . . . . Saya . . . saya . . sangat . . . sangat . . tersentuh . . . . Saya sering membaca surat Al Maa’uun itu pada saat shalat namun rasanya hanya sekadar membaca dengan bibir. Tidak tahu kedalaman maknanya yang benar-benar luar biasa. Coba anda simak ayat tiga. Di situ tercantum perintah untuk menganjurkan memberi makan orang miskin. Jika perintah itu tidak kita laksanakan, maka kita akan termasuk golongan pendusta agama. Jadi jelasnya, kita tidak cukup hanya memberi saja, namun juga harus menganjurkan untuk memberi makan orang miskin”.

“Bapak benar........”. Kata Jon Maslahat. Namun omongan itu tidak berlanjut karena pembawa acara meminta Pak Radaslama maju ke depan untuk ikut menyerahkan paket bantuan.

Satu jam kemudian acara selesai. Jon Balekon pulang membawa kenangan berupa sentuhan Al-Maa ‘uun. Ia berharap agar selalu tersentuh untuk menganjurkan di samping terus memberikan kelebihan kepada yang memerlukan pertolongan (020296)

Digubah untuk program posdaya dari tulisan ”Menganjurkan & Tidak Hanya Memberi” dalam Serial Makna Hidup ”Ngeh Lalu Oye” , Sastrawan Batangan, April 2004 http://www.mariberposdaya.blogspot.com)


Baca selanjutnya.....

Tidak Mungkin Tanpa Hutang Dan Karena Itulah Mesti Bayar

0 komentar

Siapa saja yang mau menggunakan akalnya tentunya akan pernah berpikir bahwa dia tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang dan makhluk lain yang ada di sekelilingnya. Dengan kata lain terpaksa ataukah tidak, dia telah behutang kepada orang dan makhluk lain itu. Ada hutang tenaga, hutang ’mata’, hutang ’rasa (perasaan)’, hutang nyawa dan berbagai macam jenis hutang lainnya. Mestikah semua hutang itu dibayar ?

Fenomena BerHutang


Kehadiran semua enersi dan materi di alam semesta ini, termasuk manusia di antaranya, bukanlah suatu hal yang sia-sia alias tiada gunanya. Kalau dipikir lebih mendalam, ternyata semua yang hadir itu memiliki hubungan saling melengkapi karena di antara mereka terjadi proses memberi dan diberi. Entah terpaksa ataukah tidak.

Tidaklah lengkap kalau misalnya saja salah satu dari mereka tidak ada. Dengan kata lain dengan hadirnya suatu fungsi maka fungsi lain akan menjadi ada. Sebagai contoh, manusia tidak akan disebut manusia kalau tidak ada makanan yang berasal dari tanaman atau hewan. Sebaliknya, tanaman dan hewan akan menjadi seperti apa adanya jika tidak ada manusia yang memberdayakannya.

Anjing, misalnya, akan tetap menjadi anjing pada umumnya jika tidak dilatih. Karena dilatih, misalnya oleh polisi, maka anjingpun menjadi bernilai lebih. Melalui penciumnya yang tajam, ia menjadi anjing yang memberikan kontribusi dalam memberantas kejahatan. Dan sebagai imbalannya, sang anjing ikut merasakan naik mobil (dalam hal ini mobil polisi), makanan dan ”rumahnya” kandangnya lebih berkualitas daripada hal yang sama yang diperoleh anjing lainnya.

Manusia berhutang budi kepada anjing. Sang anjing berhutang budi kepada manusia. Itu baru satu contoh. Kalau ditelusuri lebih jauh, hutang budi selalu dialami oleh makhluk apa saja. Termasuk makhluk yang disebut jahat sekalipun. Berikut ini adalah contoh beberapa fenomena ”hutang budi” :

  • Kita tak mungkin hidup bila tak ada makanan yang tersedia dalam bentuk hewan dan tanaman. Hal yang sama juga terjadi jika tanaman dan atau hewan, kalupun ada, ”memberontak” tidak mau disentuh, apalagi dimanfaatkan oleh manusia.
  • Kita tak mungkin hidup kalau tak ada ibu dan bapak kandung kita
  • Kita tak mungkin disebut ibu kandung atau bapak kandung kalau tidak ada anak kandung yang langsung lahir dari diri kita atau dilahirkan oleh isteri kita.
  • Kita tak mungkin menjadi kaya kalau tidak ada yang mau bekerja dengan kita dan ada orang mau membeli barang/jasa kita.
  • Kita tak mungkin mempunyai rumah bagus kalau tak ada tukang dan kuli yang mau membangunnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut bupati (kalau kebetulan kita bupati) atas suatu kabupaten kalau tidak ada rakyat yang diperintahnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut polisi yang berhasil mencegah/ mengurangi kriminalitas (kalau kebetulan kita polisi) kalau tak ada manusia yang melakukan tindak kriminal (sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya gara-gara ada pelaku kriminal maka ada polisi naik pangkat).
  • Kita tak mungkin bisa bersatu kalau tak ada orang yang menjadi pemimpin yang menyatukannya.
  • Kita tak mungkin bisa bersyukur kalau kita tidak pernah melihat orang sombong, orang sakit, orang digebuki, dll
  • Kita tak mungkin bisa bekerja dengan baik kalau komponen tubuh (pernafasan, pencernakan, dll) kita tidak berfungsi dengan baik, dll

Dengan kata lain tidak mungkin kita bisa hidup sendiri. Terjadi fenomena saling memerlukan dan saling melengkapi. Demikian pula halnya dengan keberhasilan yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang (misalnya kelompok bisnis, LSM, pemerintahan, negara, dll), juga tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Selalu ada makhluk lain yang berkorban (suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak terpaksa) agar keberhasilan tersebut dapat diraih.

Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau air “memberontak” tak mau diatur. Bagaimana jadinya kalau tanaman “memberontak” tak mau dipetik buahnya oleh manusia. Bagaimana jadinya kalau kuda tak mau dinaiki. Bagaimana jadinya kalau anggota keluarga atau anak buah kita “memberontak” tak mau diatur. Dan atas dasar itulah kita dan siapa saja selalu berhutang budi kepada yang lainnya.

Menyimak berbagai fenomena tersebut, sesungguhnya setiap manusia itu selalu “berhutang budi” kepada makhluk / manusia lainnya. Dengan mengambil contoh sebelumnya, beberapa fenomena hutang budi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Seorang pemimpin berhutang budi kepada yang memilih/mengangkatnya serta kepada anak buah/rakyat yang dipimpinnya
  • Orang yang punya rumah bagus berhutang budi kepada tukang dan kuli yang membantu membangun para pedagang bangunan dan orang lain yang melihat rumah itu lantas bilang “bagus”.
  • Orang yang punya pembantu rumah tangga berhutang budi kepada pembantu tersebut karena gara-gara pekerjaan di rumah beres, ada kesempatan untuk meraih rezeki di luar rumah .
  • Pedagang berhutang budi kepada para pemasok barang, pekerja yang membantu dan para konsumen yang membeli barangnya
  • Anak berhutang budi kepada orang tuanya
  • Orang tua berhutang budi kepada anaknya karena gara-gara ada anak tsb mereka bisa disebut orang tua, menjadi terhibur hatinya, dll.
  • Orang tua seorang anak berhutang budi kepada para guru anaknya, dll
  • Para pengembang perumahan (real estate developer) berhutang budi kepada masyarakat yang mau melepaskan/ menjual lahannya.
  • Orang baik berhutang budi kepada pencuri karena omongan orang baik seringkali tidak didengar oleh orang kaya sementara pencurian lebih menyebabkan orang kaya menjadi seringkali sadar
  • Orang baik berhutang budi kepada orang sombong karena menyebabkan orang baik tersebut bersyukur bahwa dirinya tidak sombong
  • Manusia berhutang budi kepada tanaman, hewan dan material-material lainnya yang ada di bumi dan langit karena gara-gara mereka maka manusia dapat makan, minum, melihat keindahan, dll.
  • Setiap manusia berhutang budi kepada seluruh organ tubuhnya karena gara-gara mereka ia dapat menjalankan tugasnya.

Hutang Perlu Dan Bahkan Harus Dibalas Dengan Membayar Hutang


Hutang budi “perlu” dan bahkan “harus” dibalas secara langsung ataupun tidak langsung. Lantas bagaimana kalau kita tidak melakukan balas budi?. Berbagai hal yang tidak mengenakkan akan timbul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa contohnya adalah :

  • Jika orang kaya tidak membalas budi kepada orang-orang yang telah menjadi lantaran dia kaya dengan cara memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, terutama kepada yang miskin, maka pada suatu saat jurang kaya-miskin akan makin melebar sementara si miskin yang minus kasih sayang akan melakukan penjarahan atau pengrusakan.
  • Jika penguasa tidak tahu diri dan tidak membalas budi sehingga bersikap otoriter, maka pada suatu saat akan diturunkan oleh rakyatnya sendiri atau oleh orang asing.
  • Jika manusia tak tahu diri lalu membiarkan alam tidak terpelihara bahkan dirusak, maka banjir, longsor dsb biasanya akan membuat manusia menderita
  • Jika manusia hanya berpikir untuk maju atau bekerja keras tanpa kenal waktu dan lupa memelihara tubuhnya maka suatu saat ia akan sakit.
Pengertian membalas budi secara langsung adalah dengan memberikan barang berguna sesuai kebutuhan kepada makhluk/orang yang secara langsung telah membantu kita. Sedangkan membalas budi yang bersifat tidak langsung antara lain berupa menganjurkan atau memberikan sesuatu kepada makhluk/orang lain yang secara tak langsung membantu kita namun mempunyai pengaruh atas keberhasilan kita.

Contoh membalas budi secara langsung antara lain adalah :

  • Anak membalas budi kepada orang tuanya secara langsung dengan cara berkata-kata sopan, memelihara orang tuanya saat sudah tua renta,
  • Bos memberikan tambahan bonus kepada anak buahnya yang berprestasi
  • Mengunjungi teman yang sakit (walaupun ia sombong).
  • Mandi, olahraga, mengikuti acara ritual-religius, dll
Sedangkan contoh membalas budi secara tidak langsung adalah :

  • Menganjurkan untuk menolong orang miskin “yang tak mendapatkan kesempatan memperoleh kue pembangunan” karena sudah “direbut” duluan oleh orang-orang yang mempunyai modal, orang-orang yang dekat sumber informasi, orang-orang yang dekat kekuasaan.
  • Melestarikan mengendalikan pertumbuhan dan tidak membunuh atau memperlakukan tanaman/hewan dengan semena-mena.

Membalas budi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat disebut dengan istilah 'berbuat baik' atau bisa pula disebut sebagai 'bersyukur'. Jadi berbuat baik – kepada semua makhluk dan kepada diri sendiri- memang menjadi suatu keharusan karena kita berhutang budi. Kalau tidak dikerjakan, kita tidak dapat menjalankan peran kita sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya.

Akhirnya setelah mengetahui berbagai fungsi utusan YMK yang bermacam-macam itu, maka kita patut bersyukur karena kita dijadikan sebagai manusia yang dengan izin YMK berfungsi untuk mengatur / memberdayakan alam semesta. Namun apakah peran itu sudah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, sebaik dan semaksimal mungkin ? Apakah kita masih suka malas “membalas budi” ? Apakah kita masih tidak mau mendengar, memusuhi, mencela, berbuat kasar, merusak, melakukan teror, bahkan membunuhi utusan YMK yang lain dengan semena-mena ? Apakah kita masih suka lupa sehingga secara tak sadar telah memberi tempat kepada penyakit dalam diri kita sendiri ? Mudah-mudahan tidak dan mudah-mudahan pula kita telah memberdayakan diri untuk memberdayakan yang belum berdaya sebagai cara membayar hutang budi kita.

Dasar Posdaya (SastrawanBatangan-20090630)- http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Baca selanjutnya.....

Senin, Juni 29, 2009

Posdaya | Pelatihan Paham Kitabullah : Menstimuli Gotong Royong Memberdayakan Prasejahtera

1 komentar

Keberdayaan manusia untuk melakukan sesuatu umumnya baru akan timbul kalau didasari oleh adanya motivasi. Tanpa dorongan dari dalam diri sendiri, rasanya amat musykil seseorang yang diberi kelebihan rezeki mau terjun mengasihsayangi orang lain yang berada dalam kondisi prasejahtera. Demikian pula tanpa ada desakan dari dalam, seseorang yang prasejahtera tidak akan bangkit untuk memperbaiki kualitas hidupnya agar menjadi sejahtera.


Melihat kenyataan bahwa di masyarakat telah tercipta adanya umat sejahtera dan prasejahtera yang perlu disalinghubungkan sementara untuk melakukan kegiatan seperti itu tidak mungkin dapat dilakukan sendirian saja maka Tim Paham Qur’ani berusaha untuk mendorong keberdayaan tersebut dengan cara melakukan sosialisasi serta menyelenggarakan berbagai modul pelatihan. Diharapkan dengan gosokan-gosokan itu, bangkitlah kesadaran umat untuk berbuat nyata. Kaum sejahtera berbuat nyata kepada yang prasejahtera yang di antaranya dilakukan dengan cara gotong royong melalui program pos pemberdayaan keluarga (posdaya). Sementara kaum sejahtera dengan fasilitas dari kaum sejahtera, berbuat nyata melalui berbagai program untuk keluar dari kemiskinannya.

Sosialisasi dilakukan untuk komunitas apa saja sementara pelatihan dirancang selain untuk majelis taklim, pesantren / sekolah, perkantoran, dan umum lainnya juga khusus ditujukan untuk para guru ngaji, guru agama, guru TKA/TK, PAUD. Program untuk guru ini sengaja diselenggarakan dengan gratis karena disadari bahwa merekalah yang akan mencetak generasi mendatang yang diharapkan makin peduli kepada sesamanya. Sebagai catatan di Indonesia pada saat ini terdapat ratusan ribu guru ngaji (di Pulau Jawa saja terdapat sekitar 200 ribuan orang) yang sangat efektif untuk menyampaikan amanat kepedulian itu.

Pelatihan yang bertajuk ‘Paham Qur’ani tersebut, terdiri dari minimal 3 modul dengan menggunakan metode masing-masing peserta membaca Al Quran terjemahan ayat demi ayat (suatu ayat dijelaskan oleh ayat lain sehingga mempunyai pengertian yang komprehensif) ditambah dengan hadits-hadits sahih yang sesuai. Oleh karena itu setiap peserta perlu membawa Al Quran terjemahan (terbitan Departemen Agama / Percetakan Al Quran Madinah) dan Hadits. Modul pertamanya memerlukan waktu 8 jam (1 hari, biasanya Sabtu atau Minggu) yang mana pada akhir acara diadakan kegiatan pengumpulan dana takwa untuk dibagikan langsung kepada masyarakat duafa di sekitar tempat pelatihan. Pada akhir acara juga dilakukan kerjabakti membersihkan fasilitas umum, yang juga berlokasi di dekat tempat pelatihan.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Tim Paham Qur’ani ini tidak berhenti setelah pelatihan 8 jam tersebut selesai. Kepada setiap peserta dibagikan juknis dan formulir pendataan kaum prasejahtera melalui posyandu di tempat mereka masing-masing untuk mereka tindaklanjuti. Yaitu setelah data mustahik terkumpul dan dianalisa, selanjutnya mereka mengajak saudara, tetangganya atau komunitas lainnya di mana ia berinteraksi agar ikut peduli.

Dengan metode seperti itu, program pemberdayaan keluarga (posdaya) makin semarak di Indonesia, terutama di Jawa, Sumatera Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat. Tempat-tempat lain akan menyusul. Inilah bukti bahwa Al Furqon bukan lagi sekadar dibaca, tapi dipelajari, dipahami, dilaksanakan dan dilestarikan. Inilah bukti bahwa umat Muslim dihadirkan bukan hanya untuk memberi manfaat kepada segolongan kecil umat saja namun hadir untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, yang berarti pula membesarkan namaNya

Jon Posdaya / Sri Posdayawati / Sastrawan Batangan, Bogor 30 Juni 2009

Lampiran-Daftar Pelatihan Januari 2009 – Juni 2009
  • 4 Januari 2009, Gedung Pemkot Cilegon, Banten, Pelatihan 1, 100 peserta
  • 8 Maret 2009, SDN 01 Desa/Kecamatan Ciamber Sukabumi, Pelatihan 1, 65 peserta
  • 5 s/d 21 April 2009, Kompleks Bilabong Bogor, Pelatihan Posdaya Tim Palembang, 10 peserta
  • 12 April 2009, Kompleks Bilabong Bogor, Pelatihan Fasilitator, 54 peserta
  • 9 Mei 2009, Gedung Dakwah Alun-alun Kabupaten Subang, Pelatihan 1, 135 peserta
  • 24 Mei 2009, Desa Semampir Kec. Pituruh Kabupaten Purworejo, Guru agama/TK/TKA/TPA/PAUD, 99 peserta
  • 21 Juni 2009, Aula SMP/SMA Al Ahzar II Kampus Pejaten Jl Siaga Raya Jakarta Selatan, Pelatihan guru agama/TKA/TPA/TK/PAUD, 106 peserta


Baca selanjutnya.....

Sabtu, Juni 27, 2009

Posdaya | Selembar Surat Penanganan Kemiskinan Umat Dari DMI Jawa Barat

0 komentar

Atensi masjid di Jawa Barat untuk ikut menangani masalah kemiskinan dan kebodohan umat, dalam arti melibatkan masyarakat luas, semakin meningkat. Pada tanggal 11 Juni 2009, Pengurus Dewan Masjid se Jawa Barat di Bandung, mengeluarkan surat resminya nomor 418/B.SP / PW/DMI-JB / VI / 2009 perihal program pemberdayaan umat berbasis masjid.


Surat tersebut mengabarkan bahwa telah diadakan kerjasama antara DMI Jabar dengan Tim Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA) Berbasis Masjid untuk melaksanakan berbagai program pemberdayaan keluarga yang beraktivitas di lingkungan sekitar masjid. Program-program tersebut meliputi :

1. Memberikan pelajaran pemahaman Al Quran secara gratis
2. Memberikan contoh makanan sehat secara gratis kepada prasejahtera
3. Memberikan pendidikan secara gratis kepada anak usia dini
4. Memberikan dana gratis untuk kerjabakti
5. Memberikan beasiswa SD, SLTP, SLTA kepada keluarga prasejahtera

Dalam surat yang ditandatangani oleh drs HR Maulany SH (Ketua Umum) dan drs HE Sendjaya Ak Msi (Sekretaris Umum) tersebut, Pengurus DMI Jabar mengharapkan agar seluruh Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid di Jawa Barat memberdayakan diri untuk bekerjasama dalam program POSDAYA dalam rangka mengimplementasikan kelima program di atas tersebut sehingga dapat meningkatkan kemaslahatan umat.

Perlu diketahui bahwa pada tahun 2008 dengan total penduduk 41,48 juta jiwa, jumlah penduduk miskin Jawa Barat mencapai 5,32 juta (13,01 persen) yang sekitar 50% di antaranya tinggal di pedesaan (Suseda 2007, BPS, Prov Jawa Barat). Sedangkan jumlah masjid tahun 2006 sekitar 161 ribuan (kotabogor.go.id, 2009)

Dengan melihat data tersebut maka dapat dibuat perhitungan kasar bahwa jumlah kemiskinan di Jabar adalah 1 orang per 8 penduduk sedangkan rasio masjid terhadap jumlah penduduknya adalah 1 masjid untuk 254 orang. Dengan demikian terdapat sekitar 33 orang miskin yang perlu ditangani oleh masjid.

Melihat jumlah kemiskinan dan jumlah masjid sebanyak itu maka sangatlah beralasan jika DMI Jabar perlu melakukan langkah-langkah pemberdayaan umat untuk ikut menanganinya. Hal ini sebelumnya juga pernah diungkapkan oleh Ketua Umum DMI Jabar tersebut pada saat melantik Pengurus DMI Kota Bogor periode 2009-2014 DMI Kota Bogor masa bakti 2009-2014 di Masjid Raya Bogor Jum`at 27/3/2009 (Harian Pikiran Rakyat/ pikiranrakyat.com).

Dalam acara itu Maulany mengajak agar masjid-masjid menjadi masjid pemberdayaan umat. Artinya, masjid yang bisa meningkatkan kualitas ritual ibadah, dan meningkatkan potensi ibadah muamalah. Masjid harus menjadi tempat jihad sosial. Sebab misi masjid adalah hayyaa`lasholah dan hayya`alal falah. Artinya melalui masjid, kualitas ibadah ritual ditingkatkan dan melalui masjid pula kemenangan perlu diraih dalam membebaskan kemiskinan, kebodohan dan kedangkalan Iman.

Menurutnya pula, jika masjid-masjid yang ada sudah menjadi masjid pemberdayaan umat, yang berorientasi kepada IPM (Indek Pembangunan Manusia), maka insya Allah masyarakat akan sejahtera. Karena itu DMI harus bisa menuntaskan dan memberdayakan jaringan DMI sampai ke tingkat ranting-ranting yang ada di kelurahan, untuk mendorong masjid-masjid yang ada sebagai basis pemberdayaan umat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sampai dengan tulisan ini dibuat, paling sedikit sudah ada 26 masjid di wilayah Jabar yang diketahui telah memberdayakan diri untuk secara sistematis dan sinergis memberdayakan umat yang ada di sekelilingnya agar peduli prasejahtera mulai dari urutan masalah yang banyak diderita masyarakat yakni kurang gizi dan kebodohan dini.

Usaha ini bukan berarti meninggalkan usaha-usaha lain yang selama ini telah dilakukan oleh masjid seperti misalnya usaha ekonomi berbasis masjid (koperasi masjid), BMT dan sejenisnya. Namun sembari terus mengembangkan yang sudah ada, masjid diharapkan memberikan kontribusi untuk menangani persoalan mendasar yaitu kurang gizi dan kebodohan sejak dari dini sehingga masyarakat, terutama anak-anak, tercegah dari kemungkinan kekufuran di masa mendatang.

Bogor, 27 Juni 2009 (Jon Posdaya / Sri Posdayawati / Sastrawan Batangan)

Catatan :

Lampiran - Daftar Masjid di Jawa Barat Yang Telah Melaksanakan Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Melalui Program Pemberian Contoh Makanan Sehat Kepada Kaum Prasejahtera

Bandung/Cimahi

  1. Posyandu Cicalengka, Masjid Besar Cicalengka, Desa Cicalengka Kulon Kec. Cicalengka Bandung (Kab) Jabar, 231 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Kilin, Telp : 022-7949308
  2. Posyandu Sedapmalam 1/2/3/4, Masjid Al Aqsho, Kel. Sarijadi Kec. Sukasari Bandung (Kota) Jabar, 403 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Eman Suherman, M.Ag, Telp : 0812-2186561
  3. Posyandu Melati 3 Kp Bewak RW 03, Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jayagiri Kec. Lembang Bandung Barat (Kab) Jabar, 168 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Aan Darliah, Telp :-
  4. Posyandu Cempaka RW 08+RW 09, Masjid Jami Pangkalan, Desa Sariwangi Kec. Parongpong Bandung Barat (Kab) Jabar, 398 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___, Telp:-
  5. Posyandu Anggrek I dan II, Masjid Al-Fattah, RW Desa Margamulya Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 370 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Lia Erliawati, Telp :_____
  6. Posyandu Cempaka 1/2, Masjid Ar Rahmat, Kel. Utama Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 339 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Madiyana, Telp :0813-2050-6185

Bekasi / Depok

  1. Posyandu Cempaka I/II & Posyandu Flamboyan, Masjid Baitul Jannah, Desa Jatimulya Kec. Tambun Selatan Bekasi (Kab) Jabar, 466 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nurdin, Telp : 0812-1327874 / 021-8800814
  2. Posyandu Kel Margajaya, Masjid Nurul Islam, Kel. Marga Jaya Kec. Bekasi Selatan Bekasi (Kota) Jabar, 428 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. H. Kanti Prayogo, Telp :0812-820-7449
  3. Posyandu Anggrek II, Masjid Qurrota'Ayun, Kel. Bedahan Kec. Sawangan Depok (Kota) Jabar, 310 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Moh. Syahudin H, Telp :0812-972-1706
Bogor

  1. Posyandu Teratai RT 1/RW-19 Kp Kedep, Masjid Al Maliki, Kel. Tlajung Udik Kec. Gunung Putri Bogor (Kab) Jabar, 220 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ade Siti Hayati , Telp : 021-8675061
  2. Posyandu Mangga/Belimbing/Pisang, Masjid Al Kautsar, Kel. Cipaku Kec. Bogor Selatan Bogor (Kota) Jabar, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs.H.Zaenal Syukri, Telp :0251-311-429
  3. Posyandu Kemuning, Posyandu Kenanga, Masjid Miftahul Jannah, Kel. Ciwaringin Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 378 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Abdullah, Telp :0852-1045-3176

Ciamis / Tasikmalaya / Garut / Cianjur/ Karawang

  1. Posyandu Mawar / Melati /Kenanga, Masjid At Taqwa, Desa Golat Kec. Panumbangan Ciamis (Kab) Jabar, 287 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Harun Kuswana, Telp :0812-2192-245
  2. Posyandu Kartini/Cakra, Masjid Al Mu'awanah, Desa Pagerageung Kec. Pagerageung Tasikmalaya (Kab) Jabar, 412 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Abd. Aziz D. Badri, Telp :0265-453-070
  3. Posyandu Nusa Putra I/II, Masjid Manbaul Hikmah, Desa Sabandar Kec. Karang Tengah Cianjur (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nandang Zaenudin S.Pd, Telp :0815-7027-472
  4. Posyandu Budi Asih/Doktren 1, Masjid Shiraatul Jannah, Desa Cikeket Kec. Cikelet Garut (Kab) Jabar, 331 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Dede Tarmidi, Telp :0262-2520-321
  5. Posyandu Dahlia 1/2/3/4, Masjid As Syuhada, Desa Cikampek Kec. Cikampek Timur Karawang (Kab) Jabar, 432 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Pia Supra Supriatna, Telp :0264-310-241
  6. Posyandu Melati 1/2/3/4/5/6/7/8, Masjid Nurul Jannah, Desa Parakan Kec. Tirtamulya Karawang (Kab) Jabar, 672 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Upi, Telp :
Subang

  1. Posyandu Apel IV, Masjid Al-Mubarokah Subang, Kp Babakan Kondang Desa Pasanggrahan Kec. Cisalak Subang (Kab) Jabar, 131 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sholeh Kusmana, Telp :
  2. Posyandu Nusa Indah/Terate, Masjid Nurul Amal, Desa Cigadung Kec. Subang Subang (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Endang Ahmad Suryana, Telp :0260-416-103

Sukabumi

  1. Posyandu Desa Nagrak Selatan, Masjid At Taqwa, Desa Nagrak Selatan Kec. Nagrak Sukabumi (Kab) Jabar, 323 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Misbah Kamil, Telp :0266-7077-747
  2. Posyandu Cut Nyak Dien, Masjid Tijanul Anwar, Cipelang Leutik Desa Selabatu Kec. Cikole Sukabumi (Kota) Jabar, 164 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___________, Telp :
  3. Posyandu Kresna RW 09, Masjid Darunnadjah, Kp Kebandungan Desa Parungseah Kec. Sukabumi Sukabumi (Kota) Jabar, 209 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _____, Telp :
Cirebon / Kuningan

  1. Posyandu Cipedes, Masjid Nurul Huda, Desa Cipedes Kec. Ciniru Kuningan (Kab) Jabar, 446 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tedi Kusnadi SPd.I, Telp :0813-1744-8586
  2. Posyandu Dusun 1/2/3/4, Masjid Nurul Falah, Desa Linggajati Kecamatan Cilimus, Kuningan (Kab), 609 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H Subandi AAG, Ketua Pelaksana Posdaya Masjid Nurul Falah telp 085864099057
  3. Posyandu Cempaka, Masjid Jami Al Hikmah, Kel Kesambi Baru, Kec Kesambi, Cirebon (Kota), 91 orang bumil/balita/lansia, Kontak Posyandu Teratai : Hj Iis Aisyah (Ketua PKK), telp 085224211244, Hani Sumarni (Wakil Ketua PKK) telp. 0878-29534393

Baca selanjutnya.....

Jumat, Juni 26, 2009

Posdaya | Lingga(r)jati Cilimus Kuningan : Sekali BerSejarah Tetap BerSejarah

2 komentar

Desa Linggajati Kecamatan Cilimus – 14 km dari Kuningan dan 26 km dari Cirebon, di lereng Gunung Cireme di ketinggian 400 m dpl - rupanya menjadi langganan sejarah. Kalau tahun 1946 di tempat itu dilakukan perundingan antara Republik Indonesia yang baru saja merdeka dengan pemerintah Kolonial Belanda mengenai wilayah defakto RI, maka 8 Juni 2009 yang baru lalu, masyarakat setempat juga mencatat sejarah baru. Yaitu kesinerjian antara masjid, posyandu dan warga sejahtera untuk peduli sesamanya yang termasuk kategori prasejahtera.


Selama ini bukan berarti masyarakat tidak peduli. Sesungguhnya bibit-bibit peduli telah ada dan telah dilaksanakan oleh banyak warga namun sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi sehingga tidak sinergi. Karena itu masalah yang paling krusial yaitu kurang gizi dan kebodohan yang diderita warga prasejahtera menjadi sering terlewatkan.

Dengan telah adanya bibit-bibit itu maka kehadiran tim teknis posdaya untuk mengajak masyarakat memberdayakan keluarga masing-masing (berposdaya) melalui masjid tidak mengalami halangan bahkan mendapat sambutan hangat.

Kehangatan dan kemudahan itu sangat terasa saat Tim Teknis mempresentasikan program Posdaya Berbasis Masjid kepada para tokoh agama dan masyarakat, bidan desa (ibu Atun Rohyatun), para guru Madrasah (Bp Samir dkk), Koordinator Posyandu Desa (Ibu Rusmiati) dan para kader posyandunya, Ketua RW dan RT serta Kepala Desa Cilimus (Bp. Unang Unarsan). Para tokoh tersebut merestui dan melapangkan jalan bagi Tim untuk melakukan sosialisasi bagi warga masyarakat

Dengan dasar restu tersebut Tim melakukan sosialisasi di hadapan warga bertempat di Masjid Nurul Falah. Hasilnya juga memuaskan, yaitu adanya komitmen warga untuk melaksanakan posdaya yang pelaksanaannya diawali pada tanggal 7 Juni 2009 dengan kerjabakti membersihkan masjid yang diikuti oleh 40 warga bersama 150 siswa TPA. Kegiatan gotong royong ini dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kehadiratNya atas berlangsungnya program kepedulian yang sinerji. Dan Akhirnya pada hari Senin 8 Juni 2008, Posyandu Dusun 1, 2, 3 dan 4 untuk pertama kalinya memberikan santunan kepada 609 orang prasejahtera (38 ibu hamil, 237 balita dan 244 lansia) berupa contoh makanan sehat..

Dana untuk melaksanakan santunan tersebut berasal dari suatu keluarga yang peduli pemberdayaan dengan harapan setelah 3 bulan berikutnya, masyarakat setempat akan meneruskannya. Keluarga yang tak mau disebutkan identitasnya ini baru saja memiliki kebiasaan baru yaitu memberi pancingan agar orang lain terdorong untuk membantu orang lain yang prasejahtera. Kebiasaan ini rupanya ditularkan oleh keluarga lain yang menjadi sahabatnya.

Dengan telah berlangsungnya posdaya berbasis Masjid Nurul Falah di Desa Linggajati ini maka peristiwa sejarah terukir kembali walau jauh dari liputan pers internasional bahkan nasional sekalipun. Meskipun peristiwa kecil, namun dampaknya bagi anak cucu amat sangat besar karena kalau kegiatan ini terus dipelihara dan berkembang, anak cucu warga desa ini akan terhindar dari kebodohan akibat kurang gizi.

Bogor, 27 Juni 2009 (JonPosdaya / SriPosdayawati / Sastrawan Batangan)

Catatan :

  • Perkembangan jumlah keluarga miskin di Kabupaten Kuningan dari tahun 2004 sampai tahun 2007 bertambah 2.868 orang. Dimana pada tahun 2004 jumlah keluarga pra sejahtera I tercatat sebanyak 83,332 kepala keluarga. Peningkatan itu terjadi karena ada keterkaitan dengan situasi berbagai kebutuhan pokok semakin meningkat yang memberatkan masyarakat (beritacerbon.com/ .29 Apr 2009)
  • Porgram Posdaya Berbasis Masjid di Kabupaten Kuningan untuk pertama kalinya pernah dilakukan awal tahun 2008 di Desa Cipedes, Kecamatan Ciniru
  • Pemberian makanan tambahan tahap kedua direncanakan tanggal 5 Juli 2009 sedangkan tahap ketiga tanggal 5 Agustus 2009
  • Kerjabakti tahap kedua direncakan tanggal 9 Juli 2009 dan tahap ketiga tanggal 4 Agustus 2009
  • Tim Teknis terdiri dari Soleh Kusmana, Arief Muttaqien, Hadiono dan Diaz Genaldy dengan alamat Jalan Airlangga V no 42 Cimanggu Permai Bogor (tlp 0251-8318491, e-mail : posdaya@pahamqurani.com)
  • Kontak : H Subandi AAG, Ketua Pelaksana Posdaya Masjid Nurul Falah telp 085864099057

Baca selanjutnya.....

Kamis, Juni 25, 2009

Posdaya | Ungkapan Hati Atas Terlaksananya Posdaya Berbasis Masjid Di Masjid Jami Al Hikmah, Kesambi Baru, Kesambi, Kota Cirebon

0 komentar

8 Juni 2009, di Masjid Jami Al Hikmah, Kesambi Baru, Kota Cirebon berlangsung realisasi kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Paket bantuan pemberdayaan ini berasal dari sebuah keluarga besar di Jakarta yaitu berupa makanan tambahan bergizi yang akan berlangsung selama 3 bulan (Juni – Agustus 2009) untuk 91 warga prasejahtera (6 ibu hamil, 51 balita dan 39 lansia). Diharapkan setelah Agustus 2009 itu, masyarakat setempat – yang berkomitmen setelah dilakukan sosialisasi oleh Tim Teknis – akan meneruskan kegiatan pemberdayaan tahap awal, yaitu peduli kurang gizi masyarakat prasejahtera.


Tim Teknis yang melaksanakan kegiatan tersebut membuat buku laporan dan petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan posdaya berbasis masjid. Dalam buku laporan kecil mereka yang singkat padat itu, ada suatu ungkapan hati para anggota Tim Teknis Pelaksananya yang patut disimak. Bunyinya adalah sebagai berikut :

Cirebon, 8 Juni 2009

“Ya Allah Ya Robbana, lindungilah bangsa kami dari segala gangguan, godaan, bisikan, rayuan dan tipu daya serta kedatangan iblis syaitan yang terkutuk.

Dengan rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Salam selamat sejahtera bagi keluarga besar masyarakat Kesambi Baru. Segala puji milik Allah. Salam dan salawat kepada para malaikat, para nabi, khususnya kepada Nabi Besar Muhammad saw dan para pengikutnya yang setia.

Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Keluarga Besar Ibu Pratiwi Hasan kepada masyarakat RW 05 Kesambi Baru Kota Cirebon berupa contoh makanan sehat (CMS) dalam bentuk bubur kacang hijau, telur ayam rebus, buah jeruk dan susu untuk 96 orang prasejahtera yang terdiri dari 51 balita, 39 lansia dan 6 bumil yang dilaksanakan satu bulan sekali pada kegiatan Posyandu Teratai di Masjid Al Hikmah, Kesambi Baru selama tiga bulan (Juni, Juli, Agustus 2009).

Kami harapkan setelah tiga bulan kegiatan pemberian contoh makanan sehat untuk Posyandu Teratai tetap berjalan terus menerus dan sudah dapat dibiayai oleh seluruh masyarakat sejahtera khususnya di lingkungan Kesambi Baru.

Semoga program Posdaya ini dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sejahtera di bumi persada Indonesia melalui kegiatan posyandu dan pemberdayaan masyarakat prasejahtera agar masyarakat prasejahtera menjadi masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Terima kasih kepada keluarga besar Ibu Pratiwi Hasan
Terima kasih kepada Ketua PKK RW-05 Ibu Hj Iis Aisyah
Terima kasih kepada DKM Masjid Al Hikmah
Terima kasih kepada Ibu Hj Nani Sumarni
Terima kasih kepada para kader Posyandu Teratai RW-05
Terima kasih kepada Bidan Desa Ibu Cucu Rosilawati, MM Kes
Terima kasih kepada Puskesmas Kesambi
Terima kasih kepada Kelurahan Kesambi
Terima kasih kepada Ketua RW-05 Kesambi Baru
Terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Kesambi Baru
Terima kasih kepada para pendiri dan pencetus ide Posdaya Berbasis Masjid

Salam sayang dari Tim Teknis Pelaksana Posdaya
(Soleh Kusmana, Arief Muttaqien, Hadiyono, Diaz Genaldy)

Selain ungkapan hati, buku kecil itu juga berisi beberapa informasi yang di antarnya adalah: peran masjid sebagai basis pemberdayaan masyarakat, sinergi antara masyarakat sejahtera dengan masjid untuk peduli dan sayang kepada masyarakat prasejahtera, proses penyaluran paket dari masjid posdaya kepada masyarakat prasejahtera. Dalam buku ini juga dituliskan kembali ”Pancasila”, ’Lagu Indonesia Raya’ dan ’Sumpah Pemuda’ sebagai pengingat bagi putra bangsa untuk selalu cinta tanah air dan cinta sesamanya, khususnya kepada yang masih prasejahtera.

JonPosdaya & SriPosdayawati, Bogor, 26 Juni 2009

Catatan :

  • Laju pertumbuhan penduduk di Kota Cirebon sebesar 1,6-1,7 persen per tahun Mengacu pada data BPMP2KB, jumlah penduduk alami Kota Cirebon bulan Mei 2009 sebanyak 270.445 jiwa. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlahnya sudah lebih dari 290.000 jiwa (Kompas.com, Kamis, 25 Juni 2009 ). Selanjutnya karena ada perbedaan parameter pengukuran kemskinan maka jumlah warga miskin di Kota Cirebon bervariasi. Tahun 2008 yang lalu, menurut data Dinas Kesehatan Kota Cirebon terdapat warga miskin sebanyak 68.942 jiwa. Menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Cirebon jumlahnya hanya 19.188 jiwa. Menurut Dinas Sosial Kota Cirebon sekitar 15.000 jiwa sedangkan menurut BPS Kota Cirebon jumlah warga miskin adalah 14.856 jiwa (http://www.radarcirebon.com, Selasa 9/6/2009).
  • Alamat Masjid Al Hikmah : Jalan Kesambi Baru, Cirebon 45134
  • Kontak Posyandu Teratai : Hj Iis Aisyah (Ketua PKK), telp 085224211244, Hani Sumarni (Wakil Ketua PKK) telp. 0878-29534393
  • Untuk mendapatkan juknis gratis sehingga bisa dipakai di lokasi masing-masing dapat menghubungi : Soleh Kusmana (telp. 0813-19300850) atau email : posdaya@ pahamqurani.com

Baca selanjutnya.....

Posdaya | Di Bogor, PKL Jadi Pelopor Dongkrak Gizi Warga Miskin Semplak

0 komentar


Di kaki lima dan halaman depan sebuah rumah di Jalan Raya Semplak Bogor, tak jauh dari Lapangan Terbang TNI AU Atang Senjaya, ada sejumlah pedagang kaki lima yang mangkal saban hari menjajakan dagangannya. Cukup laris dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada gangguan apapun. Yang menjadi lain beberapa bulan terakhir ini adalah kesertaan mereka dalam program pemberian makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil, balita dan lansia miskin yang ada di lokasi itu.


Bermula dari si empunya rumah, Heriyadi Priatna, 40 tahunan, yang sebelumnya menyadari bahwa fungsi manusia akan berkurang jikalau lalai untuk selalu memberi dan selalu mendorong orang lain agar selalu memberi kepada kaum prasejahtera. Karena sering bertemu dan berbincang, rupanya kesadaran ini tertular kepada beberapa pedagang kaki lima yang telah mangkal bertahun-tahun di depan rumahnya yang termasuk dalam wilayah RT 03, RW 08 Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Para pedagang kaki lima itu - Yusuf (pedagang martabak penduduk Leuwiliang), Kepen (pedagang nasi goreng penduduk RW-09), Wahab (pedagang goreng pisang, penduduk RW-07), Damanhuri (pedagang sate, penduduk RW-08) – rupanya pada posisi pemahaman yang relatif sama. Maka dari itu bersama-sama Heriyadi, mereka mencari jalan untuk merealisasikan tindakan nyatanya.

Setelah berembug mengenai apa yang sebaiknya mereka kontribusikan dalam arti mempunyai dampak dorong kepada masyarakat, akhirnya mereka memilih untuk memberi makanan tambahan bergizi kepada kaum prasejahtera yang biasanya sebulan sekali mengunjungi posyandu. Posyandu yang mereka pilih tak jauh-jauh dari lokasi mereka, yaitu Posyandu Mawar II RW 08 (RT 1-2-3) Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor yang biasa dikunjungi oleh 7 orang ibu hamil, 60 orang balita, dan 25 orang lansia.

Kegiatan yang berawal bulan April 2009 dan sampai dengan akhir Juni 2009 ini telah tiga kali dilakukan, ternyata berimbas kepada para tokoh terkemuka di Kelurahan Semplak yang luasnya 44 ha itu. Ibu RW dan Bidan Kelurahan juga telah ikut memberikan kontribusi sementara para pedagang kaki lima lainnya serta beberapa pemilik warung di sekitar tempat itu juga telah mendaftarkan diri.

Mengapa bisa demikian marak dalam pengertian dapat menyebabkan orang banyak ikut memberikan kontribusi ? Heriyadi mengemukan beberapa penyebabnya. Yang pertama . beberapa tokoh tertarik untuk ikut serta karena laporan yang rapih dan transparan dari para kader posyandu yang melaksanakan kegiatan pemberian makanan tambahan bergizi tersebut. Yang kedua bahwa dalam setiap kali acara, beberapa pengusaha atau wakil dari kantor dan warung yang ada di wilayah itu diundang untuk menyaksikan kegiatan posyandu. Bukan untuk dimintai sumbangan tetapi hanya sekadar menyaksikan.

Dengan makin banyakya kontributor maka kegiatan yang semula berlangsung hanya satu kali per bulan dalam waktu dekat akan ditingkatkan menjadi per minggu yang berarti ada 4 kali tambahan gizi bagi warga miskin di wilayah itu.

Luar biasa. Keberdayaan masyarakat yang awalnya bersumber dari segelintir orang akar rumput ini telah menyebabkan para tokoh dan masyarakat bangkit untuk juga memberikan andilnya dalam mengurangi kemiskinan.

Sastrawan Batangan, Bogor 26 Juni 2009

Catatan :

  • Posyandu Posyandu Mawar II RW 08 (RT 1-2-3), Pelaksana : PKL & Heriyadi Priatna, Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor , 92 ibu hamil/balita/lansia, Kontak : Ningsih (Ketua Posyandu), telpon 0251-2159566

Baca selanjutnya.....

Sabtu, Juni 20, 2009

Posdaya | Cara Mudah Bantu Tetangga Miskin (Yang Dekat Atau Di Luar Komplek Perumahan)

0 komentar

Diedit dari tulisan yang dimuat dalam Notes Annie Soehardjo / UGM / dalam Facebook tanggal 20 Juni 2009

Tulisan ini mengajak kita sekalian untuk memberdayakan diri untuk melakukan tindakan nyata dengan cara gampang, murah meriah dan tepat guna (kemungkinan sedikit salah sasaran atau dimanipulasi karena tidak berupa uang) namun amat berguna untuk mengurangi penderitaan tetangga dekat akibat kurang gizi dan kelaparan. Apa yang dilakukan ini adalah bagian dari Posdaya (Pos Pembedayaan Keluarga) dengan operasionalisasi sbb :
  • Mulai dari kita sendiri saja. Pilih 3 anak, atau 3 lansia (Tidak usah semua! Sesuaikan saja dengan kemampuan) yang terdekat, atau yang termiskin, atau yang “ter: apa saja, sesuai kata hati), yang sering lewat, atau sering kita jumpai sekitar rumah.
  • Bilang ke mereka, mereka boleh datang ke rumah, atau kita ke rumah mereka tiap hari Sabtu (atau Sabtu dan Rabu, atau hari apa saja - sesuai kemampuan saja) untuk mendapat 1 susu bantal atau apa saja yang mempunyai nilai gizi (bubur kacang ijo atau sejenisnya). Kalau misalnya si miskin itu ada di luar komplek perumahan anda, mintai tolong pembantu atau satpam untuk mengantarnya ke rumah si miskin (sekali-kali anda cek apakah benar bantuan tsb sampai kepada ybs).
  • Lakukan beberapa lama.
  • Kalau kemampuan bertambah, atau kita ingin menambah. Bisa kita tambah jumlah mustahik, atau persering pemberian susu misalnya menjadi 3x seminggu, atau tambah jenis makanan misalnya telur rebus, vitamin, atau apa saja.
  • Kemudian ajak 1-2 tetanggamu yang lain, melakukan hal yang sama kepada yang lain. Yang diberikan boleh apa saja, seberapa saja, kepada mustahik yang mana saja, sesuai pilihan mereka. Nanti, tiap teman bisa diminta mengajak temannya yang lain. MLM seperti ini niscaya membangun gunung kebaikan, menanamkan kasih sayang dan kegembiraan hati pada semua orang, baik yang memberi, maupun yang diberi.
  • Dengan berjalannya waktu, kegiatan ini akan berkembang sendiri baik bentuk, jumlah, jenis pelayanan dan sebagainya sesuai situasi dan kondisi setempat. Jangan lupa, kita infokan lokasi kegiatan ini kepada "Gizi Untuk Tetangga Dhuafa". Siapa tahu ada orang-orang lain lagi yang berdekatan dengan lokasi tersebut yang juga ingin bergabung.
  • Mohon teman-teman untuk mendistribusikan info cara-cara termudah membantu tetangga dhuafa yang bisa dilakukan di sekitar tempat tinggal masing-masing. Teman -teman juga dipersilahkan – jika berkenan – bergambung dalam discussion board di FB dengan tajuk ’GIZI UNTUK TETANGGA DHUAFA’

Info lebih lanjut mengenai hal ini dan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga) dapat menghubungi Aksi Nutrisi Nurani, Bona Indah Garden Blok B5/52, Jakarta atau melalui e-mail: gizitetangga.dhuafa@ymail.com,

Disunting oleh Sastrawan Batangan, 20 Juni 2009


Baca selanjutnya.....

Selasa, Juni 16, 2009

Daftar 105 Lokasi Percontohan Posdaya di Jawa, Kalimantan dan Sumatera Hasil Dorong Mendorong Model Pancingan Per Mei 2009

1 komentar

Ditunggu Siapa Saja Yang Mau Meneruskan & Mengembangkan Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera :


Peduli secara nyata dalam bentuk memberikan sebagian dari apa saja jenis harta yang dimiliki karena pada harta itu ada hak orang miskin serta mendorong orang lain agar juga melakukannya, merupakan prasyarat yang tidak bisa ditawar lagi bagi siapa saja yang menginginkan dirinya disebut bertakwa. Sang Maha Pencipta tentu tidak main-main dalam memaklumatkan prasyarat ini sebab berdasarkan desain yang diciptakanNya, di benua manapun kemiskinan akan selalu ada sebagai akibat dari kemampuan manusia yang berbeda dalam mengeksploitasi alam. Kemampuan yang beragam ini mengkristalkan manusia dalam 3 golongan, yaitu : miskin, menengah dan kaya. Dan – berdasarkan desainNya pula- hanya setiap individulah yang sanggup mengeluarkan dirinya sendiri dari kemiskinan dan bukan orang lain. Kalaupun ada orang lain yang membantu, fungsinya hanya terbatas memfasilitasi.


Bagi Indonesia yang jumlah rakyat miskinnya masih sekitar 17%, pemenuhan syarat takwa itu sungguh sangat berarti. Betapa tidak ? Jika saja 83% rakyat Indonesia (yang tidak termasuk kategori miskin) nyata-nyata peduli maka jumlah orang miskin (prasejahtera) yang 17% tentu akan bisa dikurangi. Bukan dengan cara memanjakannya sehingga akan membentuk perilaku ”tangan di bawah’ alias menengadahkan tangan tetapi justru sebaliknya. Yakni menjadikan kaum prasejahtera mampu bangkit untuk mengeluarkan dirinya sendiri dari kelaparan, kurang gizi dan kebodohan melalui berbagai upaya yang disebut dengan ’pemberdayaan diri dan keluarga’.

Potensi Peduli Ada Di Mana-mana Tinggal Mendorongnya

Pada dasarnya pada jiwa manusia – walau dengan kadar berbeda- telah ditanamkan olehNya rasa kasih sayang. Sehebat-hebatnya penjahat pun masih ada yang menangis manakala anaknya sakit dan akan marah kalau keluarganya disakiti. Rasa kasih sayang - walaupun masih terbatas pada keluarga – telah ada dalam dirinya.

Rasa kasih sayang itu terlihat nyata sekali bilamana terjadi bencana. Kita lihat betapa cepatnya bantuan dikumpulkan untuk diberikan kepada sesamanya yang sedang kena musibah. Dalam hal ini rasa kasihan – sebagai bagian dari rasa kasih sayang- tersentuh oleh kejadian di mana banyak jiwa melayang dan banyak badan terluka.

Rasa kasihan yang gampang tersentuh tersebut di atas kalau dikategorikan, termasuk rasa kasihan yang terimplemnetasikan dalam bentuk penanggulangan. Sayangnya, rasa kasihan tersebut tidak gampang dibangkitkan untuk hal-hal yang bersifat pencegahan. Wajarlah karena manusia umumnya baru tersentuh kalau melihat secara langsung dan bukan apa yang dibayangkan. Padahal hampir semua menyadari bahwa mencegah sebelum kejadian justru lebih penting agar kejadian yang lebih kronis tidak terjadi. Oleh karena itulah usaha yang terus menerus untuk selalu bisa mendorong amat sangat diperlukan.

Begitu pula dalam usaha mencegah kemiskinan dan kebodohan, upaya mendorong itu juga amat diperlukan. Khususnya mendorong berbagai tokoh yang memiliki komunitas agar segera turun tangan untuk menghindari bencana masa depan akibat banyaknya populasi yang di masa kecilnya kurang gizi.

Namun dengan makin banyaknya urusan manusia, urusan mendorong agar peduli kemiskinan dan kebodohan secara nyata itu seringkali kali kalah prioritas. Bisa saja hari ini orang ingat karena diingatkan betapa pentingnya untuk menangani kebodohan namun besoknya boleh jadi bisa lupa karena ada sesuatu yang lain yang terpaksa harus diingat. Akibatnya kontinyuitas atau konsistensi dalam penanganan kemiskinan dan kebodohan menjadi tidak stabil. Kadang-kadang intensitasnya tinggi namun menjadi menurun di saat lain. Salah satu bukti yang dapat dijadikan indikatornya adalah dari 267 ribuan posyandu yang pernah dibentuk sejak 19886, dikabarkan hanya sekitar 50% saja yang masih aktif.

Dengan kata lain upaya mendorong secara terus menerus mutlak diperlukan. Dan itulah yang dilakukan oleh Prof Dr Haryono Suyono penggagas Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga), suatu model pemberdayaan masyarakat menuju sejahtera berbasis individu dalam keluarga yang salah satu kelembagaannya adalah posyandu (pos pelayanan terpadu) yang direvitalisasi menjadi posdaya (pos pemberdayaan keluarga). Baik melalui institusinya maupun secara pribadi, Prof Haryono mempromosikan Posdaya tersebut kepada berbagai kalangan baik pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi maupun majelis keagamaan.

Sambutan terhadap posdaya tersebut timbul di mana-mana di antaranya adalah kampus dengan KKN Posdayanya (Universitas Jenderal Soedirman / Unsoed, dll), Posdaya Berbasis Masjid, Posdaya Berbasis Sekolah dan lainnya. Namun demikian masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan mengingat demikian banyaknya program penting lainnya yang sudah dan akan ada di masyarakat selain luasnya wilayah dan banyaknya penduduk yang perlu memberdayakan dirinya.

Pengalaman Dorong-Mendorong Model Pancingan

Suatu kegiatan dorong mendorong dengan pancingan agar kepedulian bisa berlangsung semarak di masyarakat dapat diambil hikmahnya dari pengalaman Arief Mulyadi – yang bermukim di Bogor - dan kawan-kawannya yang tersebar di berbagai pelosok.

Sejak tahun 1987, Arief Mulyadi dan kawan-kawannya, melalui pendekatan bahwa ’setiap manusia bertakwa harus memberi dan mendorong orang lain untuk memberikan sebagian harta yang dimiliki’ berusaha mempraktekkannya dalam berbagai ragam kegiatan baik yang didanai sendiri maupun dengan cara patungan. Kegiatan memberi tersebut antara lain berupa beasiswa anak-anak tidak mampu, pemberian honor guru-guru yang berstatus honorer atau guru bantu, sunatan massal, pembangunan MCK dan berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan penanganan kemiskinan.

Dalam melaksanakan kegiatan tersebut Arief Mulyadi dan kawan-kawan tidak menghendaki adanya pengumpulan dana di tingkat nasional namun justru mengharapkan agar di setiap wilayah terjadi mobilisasi dana, energi dan pemikiran dari setiap orang yang menyadari arti ketakwaan untuk dialokasikan di wilayahnya masing-masing. Dengan kata lain organisasi tidak perlu dibesarkan dan sebaliknya jiwa atau spirit untuk peduli itulah yang harus terus dikobarkan secara merata di wilayah NKRI.

Waktu demi waktu terus berlalu dan banyak kawan Arief yang bangkit di lokasinya masing-masing dengan kegiatan ’memberi’ yang beragam. Demikian pula nama organisasi atau komunitas yang mengelola kegiatan memberi di setiap lokasi pun juga beragam.

Pada tahun 2000 awal, setelah mengalami banyak hal di lapangan, Arief melihat bahwa ada suatu masalah fundamental yang sedang dihadapi bangsa ini yaitu kemungkinan adanya ledakan anak bodoh di masa depan akibat di masa balitanya kurang gizi. Karena itulah sejak tahun 2000-an kegiatan Arief dan kawan-kawan yang semula beragam itu kemudian difokuskan pada pemberdayaan melalui posyandu yang kalau bisa diupayakan bisa sinergi dengan kegiatan sosial masjid atau rumah ibadah lainnya. Mengapa Posyandu ? Di Posyandu banyak berkumpul golongan ekonomi lemah sementara para pengurusnya adalah manusia-manusia yang terbukti ikhlas sebagai pelayan masyarakat yang benar-benar mengetahui kondisi kemiskinan warga. Dengan cara melalui posyandu, para donatur tidak perlu repot-repot membentuk organisasi baru. Mengapa rumah ibadah ? Melalui rumah ibadahlah sang pendakwah / pengkhotbah dapat mengingatkan setiap jemaahnya agar selalu memberi dan untuk memberinya tidak perlu capek-capek karena ada posyandu. Dengan kata lain terjadi sinergi antara masyarakat-posyandu (dan kelembagaan lainnya yang terkait dengan pemberdayaan)-rumah ibadah.

Maka begitu posdaya bergaung melalui kiprah Prof Haryono, Arief dan kawan-kawannya seperti mendapat angin segar. Tidak lagi harus susah-susah menjelaskan kepada warga masyarakat yang akan diberdayakannya karena konsep peduli kemiskinan itu telah dikemas rapih oleh Prof Haryono dengan nama posdaya. Karena kemudahan itulah, kegiatan untuk memberi dan mendorong untuk memberi makin semarak. Baik yang dikerjakan secara mandiri maupun bekerjasama dengan LSM lainnya. Tahun 2007 misalnya, YTN (Yayasan Tatang Nana di mana Arief dan keluarganya melakukan kegiatan sosial) bekerjasama dengan Yayasan Damandiri mengimplementasikan contoh posdaya berbasis masjid di 30 masjid di Pulau Jawa.

Dari kegiatan memberi dan dorong mendorong untuk memberi di berbagai tempat dan kalangan maka per Mei 2009 terdapat 105 lokasi percontohan posdaya model pancingan yang sebagian besar diawali dengan pemberian contoh makanan sehat bagi ibu hamil, balita dan lansia miskin (Daftar terlampir). Disebut posdaya model pancingan karena untuk mendorong masyarakat agar peduli perlu ada pancingan terlebih dulu untuk beberapa bulan sebelum masyarakat melanjutkannya. Dalam hal ini dana untuk pancingan berasal dari berbagai pihak yang menyadari manfaat model pancingan tersebut.

Deskripsi ke-105 lokasi percontohan berdasarkan provinsi, basis kegiatan, dan jumlah populasi untuk setiap jenis peserta tersebut adalah sbb :

a) Berdasarkan provinsi

  • Banten, 10 lokasi, 10%
  • Jabar, 43 lokasi, 41%
  • Jakarta, 16 lokasi, 15%
  • Jateng, 5 lokasi, 5%
  • DIY, 2 lokasi, 2%
  • Jatim, 12 lokasi, 11%
  • Kalbar, 2 lokasi, 2%
  • Lampung, 9 lokasi, 9%
  • Sumsel, 6 lokasi, 6%

b) Berdasarkan basis

  • Berbasis Masjid, 58 lokasi
  • Berbasis Pesantren, 1 lokasi
  • Berbasis dll / Umum, 46 lokasi

c) Berdasarkan peserta posyandu

  • Bumil = 933 orang
  • Balita = 13,082 orang
  • Lansia = 5,578 orang
  • Guru = 27 orang

Total = 19,620 orang
(Catatan : Tidak termasuk Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan)

Kegiatan dorong-mendorong model pancingan tersebut di atas membuahkan banyak pengalaman. Beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin memulai atau melanjutkan kepedulian (posdaya) di tempatnya masing-masing adalah sbb:

  • Pendekatan akan lebih efektif bilamana dilakukan dengan cara mengingatkan perintah Sang Maha Pencipta dalam agama yang dipeluknya masing-masing bahwa memberi tanpa membedakan latar belakang orang yang diberi serta mendorong orang lain agar juga memberi adalah tugas manusia bertakwa. Selanjutnya -melalui pendekatan yang sama – diingatkan bahwa seseorang baru bisa mendorong orang lain jika dan hanya jika ia telah memberi terlebih dahulu sehingga tidak disebut ’omong doang’. Dalam hal ini memberikan sebagian harta yang dimiliki berarti memberikan apa saja yang selain materi bisa pula berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan atau bisa pula berupa tenaga dan waktu.
  • Umumnya orang malu-malu untuk mendorong orang lain karena takut dianggap riya. Namun dengan mengingatkan bahwa ”takut” itu adalah bisikan setan / iblis sementara memberi - menurut perintah Sang Maha Pencipta – selain dapat dilakukan dengan diam-diam juga dapat dilakukan dengan cara terang-terangan, maka rasa ”takut” untuk memberi dengan terang-terangan dapat diminimalkan dengan terlebih dulu memohon perlindungan kepadaNya dari godaan iblis/syaitan serta berniat untuk tidak riya dalam melaksanakan kebaikan.
  • Kegiatan ’memberi’ dimulai dengan yang paling mudah dan mendasar yaitu dengan memberikan ’ikan’ dan bukan ’pancing’ kepada kaum miskin yang memerlukannya. Anak-anak yang sedang dikandung dan balita miskin sebagai contohnya, memerlukan ”ikan” berupa tambahan gizi gratis agar di masa depan anak-anak tersebut tidak bodoh dan menjadi beban lingkungannya. Demikian pula lansia miskin juga memerlukan ”ikan” berupa makanan agar tidak kelaparan. Di luar anak-anak dalam kandungan, balita dan lansia miskin, paket yang diberikan sebaiknya berupa ’pancingan’ yang bersifat memberdayakan.
  • Komunitas yang dijadikan basis untuk melaksanakan kegiatan bisa apa saja namun akan lebih efektif kalau basisnya adalah rumah ibadah dengan tujuan agar kegiatan memberi dan mendorong untuk memberi menjadi tradisi mingguan atau bahkan harian. Jika basis awalnya bukan rumah ibadah, langkah-langkah untuk menggiringnya sehingga menjadi kegiatan yang mentradisi di rumah ibadah perlu dilakukan secara bertahap.
  • Dana awal untuk memancing masyarakat umumnya berasal dari bukan warga di mana kegiatan akan dilakukan. Dana pancingan tersebut umumnya berasal dari donatur yang telah menyadari bahwa ’dorong mendorong untuk mengatasi kemiskinan perlu dilakukan’. Tentunya dana yang diperoleh tersebut sesuai dengan kemampuan donatur. Bisa untuk kegiatan 1 bulan atau lebih dengan komitmen bahwa kegiatan tersebut akan dilanjutkan oleh warga setempat dengan dana yang diusahakan oleh warga itu sendiri.
  • Jika warga kemudian melanjutkan kegiatan setelah donatur sponsor menarik diri maka diusahakan semaksimal mungkin agar tidak terjadi penumpukan dana oleh organisasi pelaksana secara tersentral. Dana yang diperlukan setiap lokasi dihimpun oleh masing-masing pengurus di setiap lokasi dan didistribusikan kembali untuk pemberdayaan di lokasi masing-masing. Berdasarkan pengalaman, pengumpulan material dalam bentuk natura (bukan uang) lebih mudah dilakukan daripada dalam bentuk uang.
  • Data dan laporan harus akurat dan mutakhir serta disyahkan oleh tokoh masyarakat yang disegani dan atau yang memiliki legitimasi sehingga tidak meragukan semua pihak yang terkait.
  • Perlu dilakukan pemilihan satu atau dua orang miskin yang mampu dan dapat dipercaya sebagai wakil warga miskin. Salah satu fungsi wakil tersebut adalah memfilter atau mencegah adanya orang-orang mampu yang mengaku-aku miskin.

Masih banyak lagi pengalaman yang diperoleh namun terlalu panjang kalau dituliskan di sini. Mungkin pada kesempatan lain dapat dibahas karena kesemuanya menjadi modal yang penting artinya dalam pengembangan dan pemeliharaan kegiatan pemberdayaan masyarakat (posdaya).

Tantangan Bagi Kita

Di Indonesia terdapat sekitar 36 jutaan warga miskin, di mana 4 juta di antaranya adalah balita. Mereka terhimpun dalam 260 ribuan posyandu (yang kabarnya hanya 50%-nya saja yang masih beroperasi) yang tersebar di 70 ribuan desa. Melihat jumlah ini rasanya cukup lama waktu yang diperlukan untuk menangani kemiskinan.

Sebagai manusia yang berusaha untuk menjadi manusia bertakwa, keberhasilan berdasarkan target waktu bukanlah suatu tujuan. Perjuangan yang sungguh-sungguh berdasarkan proses yang sesuai dengan aturanNya itulah yang akan menentukan derajat ketakwaan. Dan itulah tantangan bagi siapa saja yang ingin menjadikan dirinya sebagai manusia bertakwa. Untuk itu pilihannya adalah : a) memberi dengan terang-terangan atau diam-diam, b) memberi sekali lalu tidak memberi lagi atau selalu memberi, c) hanya sendirian memberi tanpa mendorong orang lain untuk juga memberi, d) berdoa saja tanpa memberi atau berdoa sambil memberi dan e) kombinasi dari pilihan-pilihan tersebut berdasarkan aturanNya.

Sastrawan Batangan, 17 Juni 2009

Lampiran : Daftar 105 Lokasi Percontohan Posdaya (Nama Posyandu & Masjid Posdaya, Alamat, Jumlah Peserta Posyandu dan Nama Kontak) Per Mei 2009


Banten

  1. Posyandu Kel Tegal Ratu, Masjid Baitul Kholiq, - Kel. Tegal Ratu Kec. Ciwandan Cilegon (Kota) Banten, 423 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Abdul Manaf Sag, Telp : 0254-601465
  2. Posyandu Desa Cikeusik, Masjid Besar At Taqwa, - Desa Cikeusik Kec. Cikeusik Pandeglang (Kab) Banten, 332 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. A. Surajaya, Telp :0253-204087, 0852-1861900
  3. Posyandu Desa Cigadung, Masjid Ar Rohim, - Desa Cigadung Kec. Karang Tanjung Pandeglang (Kab) Banten, 349 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Encep Munadjat, Telp :0815-86823268
  4. Posyandu Desa Citeureup, Masjid Baitul Mu'min, - Desa Citereup Kec. Ciruas Serang (Kab) Banten, 289 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. M. Amin Isro, Telp :0254-280064
  5. Posyandu Salam Cengkeh Jahe Pamulang-2, Sukarelawan, - Kec. Pamulang Tangerang (Kab) Banten, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumiyati Karnadi, Telp : 021-74630575
  6. Posyandu Bougenvile, Sukarelawan, Kel. Rawa Buntu Kec. Serpong Tangerang (Kab) Banten, 75 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuriyati, Telp :______
  7. Posyandu Tulip , Sukarelawan, Kel. Rawa Buntu Kec. Serpong Tangerang (Kab) Banten, 31 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Mardiana, Telp :-
  8. Posyandu Mawar IV Jurangmangu, Sukarelawan, Kec. Pondok Aren Tangerang (Kota) Banten, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Ning, Telp :021-94023838 / 0853- 10197012
  9. Posyandu Anggrek , Sukarelawan, - - Kec. Pondok Aren Tangerang (Kota) Banten, 71 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Mariam, Telp :021-99866509
  10. Posyandu Kp Pinang, Masjid Syuhada, Desa Tigaraksa Kec. Tiga Raksa Tangerang (Kota) Banten, 258 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Ita Sumpena, Telp :021-5990037

Yogyakarta

  1. Posyandu Dusun Semail, Masjid Jamal, Desa Bangun Harjo Kec. Sewon Bantul (Kab) DIY, 212 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Warsito, Telp :027-6993778
  2. Posyandu Desa Sukoharjo, Masjid Baiturrohman, Desa Sukoharjo Kec. Ngaglik Sleman (Kab) DIY, 141 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. Wiratno MBA, Telp :0811-286320

Bandung/Cimahi

  1. Posyandu Cicalengka, Masjid Besar Cicalengka, Desa Cicalengka Kulon Kec. Cicalengka Bandung (Kab) Jabar, 231 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Kilin, Telp : 022-7949308
  2. Posyandu Melati 1 & 2 Punclut, Warga RW 02 Punclut, Kel Ciumbuleuit Kec. Cidadap Bandung (Kota) Jabar, 273 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _______, Telp :-
  3. Posyandu Sedapmalam 1/2/3/4, Masjid Al Aqsho, Kel. Sarijadi Kec. Sukasari Bandung (Kota) Jabar, 403 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Eman Suherman, M.Ag, Telp : 0812-2186561
  4. Posyandu Melati 3 Kp Bewak RW 03, Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jayagiri Kec. Lembang Bandung Barat (Kab) Jabar, 168 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Aan Darliah, Telp :-
  5. Posyandu Cempaka RW 08+RW 09, Masjid Jami Pangkalan, Desa Sariwangi Kec. Parongpong Bandung Barat (Kab) Jabar, 398 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___, Telp:-
  6. Posyandu Anggrek I dan II, Masjid Al-Fattah, RW Desa Margamulya Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 370 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Lia Erliawati, Telp :_____
  7. Posyandu Cempaka 1/2, Masjid Ar Rahmat, Kel. Utama Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 339 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Madiyana, Telp :0813-2050-6185
Bekasi

  1. Posyandu Cempaka I/II & Posyandu Flamboyan, Masjid Baitul Jannah, Desa Jatimulya Kec. Tambun Selatan Bekasi (Kab) Jabar, 466 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nurdin, Telp : 0812-1327874 / 021-8800814
  2. Posyandu Kel Margajaya, Masjid Nurul Islam, Kel. Marga Jaya Kec. Bekasi Selatan Bekasi (Kota) Jabar, 428 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. H. Kanti Prayogo, Telp :0812-820-7449
Depok

  1. Posyandu Anggrek II, Masjid Qurrota'Ayun, Kel. Bedahan Kec. Sawangan Depok (Kota) Jabar, 310 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Moh. Syahudin H, Telp :0812-972-1706
  2. Posyandu RW 09 Pasir Gunung Cimanggis Depok, Sukarelawan, RW-09 Kel Pasir Gunung Kec. Cimanggis Depok (Kota) Jabar, 301 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Tukijan, Telp : 0813-18586700
  3. Posyandu RW 13 Pasir Gunung Cimanggis Depok, Sukarelawan, RW-13 Kel Pasir Gunung Kec. Cimanggis Depok (Kota) Jabar, 316 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Suliyati Cahyo, Telp :021-87716711

Bogor

  1. Posyandu Teratai RT 1/RW-19 Kp Kedep, Masjid Al Maliki, Kel. Tlajung Udik Kec. Gunung Putri Bogor (Kab) Jabar, 220 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ade Siti Hayati , Telp : 021-8675061
  2. Posyandu Dahlia I, Sukarelawan, RW2 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 152 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Diah Karwa/ Aisyah, Telp : 021-87910988
  3. Posyandu Kecubung, Sukarelawan, RW1 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 73 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumarsih , Telp :021-87911619
  4. Posyandu Cempaka, Sukarelawan, RW3 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 81 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Iyum / Lia, Telp : 021-87906126
  5. Posyandu Sri Rejeki, Sukarelawan, RW1 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 108 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Romlah/Karmi, Telp : 021-8756964
  6. Posyandu Krisan 09, Sukarelawan, Kp Loji Desa Pasirjaya Kec. Cigombong Bogor (Kab) Jabar, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuryati , Telp :085697791549
  7. Posyandu Dahlia 2 , Sukarelawan, RW2 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 114 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Encah / Mustini , Telp :021-87911559
  8. Posyandu Flamboyan 1-12, Sukarelawan, Cibeuteng Udik Desa Cibeuteung Udik Kec. Ciseeng Bogor (Kab) Jabar, 142 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Rusjana , Telp : 081514257341
  9. Posyandu Mangga/Belimbing/Pisang, Masjid Al Kautsar, Kel. Cipaku Kec. Bogor Selatan Bogor (Kota) Jabar, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs.H.Zaenal Syukri, Telp :0251-311-429
  10. Posyandu Kemuning, Posyandu Kenanga, Masjid Miftahul Jannah, Kel. Ciwaringin Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 378 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Abdullah, Telp :0852-1045-3176
  11. Posyandu Seruni, Sukarelawan, Jl.Sepat Rt.05/13 Kel. Kebon Pedes Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 100 orang bumil/balita/lansia, Kontak: Ibu Idris, Telp :0251-8342993
  12. Posyandu Anyelir, Sukarelawan, Bubulak Kel. Kebon Pedes Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 254 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Idris, Telp :0251-8342993
  13. Posyandu Kenanga , Sukarelawan, Ciheuleut Pakuan RT. 04/09 Kel. Tegallega Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 83 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ine Usman , Telp :0251-8358876
  14. Posyandu Aster, Sukarelawan, Komplek PDK Ciparigi Kel. Ciparigi Kec. Bogor Utara Bogor (Kota) Jabar, 47 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Hamid, Telp :0251-8664679
  15. Posyandu Doa Ibu I , Sukarelawan, Cimanggu Lamping Rt.02/03 Kel. Kedung Waringin Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 96 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ida Sutiarsih, Telp :0251-4731964
  16. Posyandu Wijaya Kusuma, Sukarelawan, Jl Mataram, Cimanggu Permai Kel. Kedungjaya Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 54 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Bagus , Telp :0811113374
  17. Posyandu Anggrek III , Sukarelawan, Griya Katulampa D2 Kel. Katulampa Kec. Bogor. Timur Bogor (Kota) Jabar, 59 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Murtini, Telp :
  18. Posyandu Doa Ibu II , Sukarelawan, RT 4/14 Kel. Kedung Waringin Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 88 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Asih Sunarsih , Telp :0251-8359436
  19. Posyandu Melati I, Sukarelawan, RW1 Kec. Tajurhalang Desa Tonjong Bogor (Kota) Jabar, 119 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumarni/Slamet , Telp :0251-2762706

Ciamis / Tasikmalaya / Garut / Cianjur/ Sukabumi / Karawang / Subang

  1. Posyandu Mawar / Melati /Kenanga, Masjid At Taqwa, Desa Golat Kec. Panumbangan Ciamis (Kab) Jabar, 287 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Harun Kuswana, Telp :0812-2192-245
  2. Posyandu Kartini/Cakra, Masjid Al Mu'awanah, Desa Pagerageung Kec. Pagerageung Tasikmalaya (Kab) Jabar, 412 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Abd. Aziz D. Badri, Telp :0265-453-070
  3. Posyandu Nusa Putra I/II, Masjid Manbaul Hikmah, Desa Sabandar Kec. Karang Tengah Cianjur (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nandang Zaenudin S.Pd, Telp :0815-7027-472
  4. Posyandu Budi Asih/Doktren 1, Masjid Shiraatul Jannah, Desa Cikeket Kec. Cikelet Garut (Kab) Jabar, 331 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Dede Tarmidi, Telp :0262-2520-321
  5. Posyandu Dahlia 1/2/3/4, Masjid As Syuhada, Desa Cikampek Kec. Cikampek Timur Karawang (Kab) Jabar, 432 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Pia Supra Supriatna, Telp :0264-310-241
  6. Posyandu Melati 1/2/3/4/5/6/7/8, Masjid Nurul Jannah, Desa Parakan Kec. Tirtamulya Karawang (Kab) Jabar, 672 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Upi, Telp :
  7. Posyandu Cipedes, Masjid Nurul Huda, Desa Cipedes Kec. Ciniru Kuningan (Kab) Jabar, 446 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tedi Kusnadi SPd.I, Telp :0813-1744-8586
  8. Posyandu Apel IV, Masjid Al-Mubarokah Subang, Kp Babakan Kondang Desa Pasanggrahan Kec. Cisalak Subang (Kab) Jabar, 131 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sholeh Kusmana, Telp :
  9. Posyandu Nusa Indah/Terate, Masjid Nurul Amal, Desa Cigadung Kec. Subang Subang (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Endang Ahmad Suryana, Telp :0260-416-103
  10. Posyandu Desa Nagrak Selatan, Masjid At Taqwa, Desa Nagrak Selatan Kec. Nagrak Sukabumi (Kab) Jabar, 323 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Misbah Kamil, Telp :0266-7077-747
  11. Posyandu Cut Nyak Dien, Masjid Tijanul Anwar, Cipelang Leutik Desa Selabatu Kec. Cikole Sukabumi (Kota) Jabar, 164 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___________, Telp :
  12. Posyandu Kresna RW 09, Masjid Darunnadjah, Kp Kebandungan Desa Parungseah Kec. Sukabumi Sukabumi (Kota) Jabar, 209 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _____, Telp :

Jakarta

  1. Posyandu Putra Ceria 1, Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Armanih , Telp :021-7666623
  2. Posyandu Putra Ceria 2 , Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 190 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Neneng, Telp :021- 96421684
  3. Posyandu Al A'raf , Sukarelawan, Kel. Gandaria Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 36 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nia, Telp :021-93691955
  4. Posyandu Dukuh Ciganjur Jaksel, Sukarelawan, Kel. Jagakarsa Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 120 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Cucu Sutianah , Telp :021-98644856
  5. Posyandu Melati , Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 90 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Emi Susilo, Telp :021-7233913 / 0856 95157878
  6. Posyandu Mawar , Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 132 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Susi Sahara, Telp :08170787085
  7. Posyandu Putik, Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 52 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Djuminah, Telp :021-7394151
  8. Posyandu Aster I, Sukarelawan, Kel. Cilandak Barat Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 60 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sri Utami, Telp :085959436405
  9. Posyandu Melati 14, Sukarelawan, Kel. Cilandak Tengah Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 83 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nurjaroh, Telp :087880826674
  10. Posyandu Anggur III, Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 150 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Suartini, Telp :021-7662668 / 081218286508
  11. Posyandu Anggur III, Sukarelawan, Kel. Jagakarsa Kec. Jagakarsa Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 100 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuning, Telp :021-7272575
  12. Posyandu Singkong , Sukarelawan, Kel. Grogol Selatan Kec. Kebayoran Lama Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 120 orang bumil/balita/lansia, Kontak: Muasa, Telp :021-92412702
  13. Posyandu Melati, Sukarelawan, Kel. Pejaten Barat Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 130 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tuti Alawiyah, Telp :021-79193932
  14. Posyandu Cempaka, Sukarelawan, Jl Sawo RT0/2 Jakarta Kel. Cipete Utara Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 77 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Kusmiati, Telp :021-72792708
  15. Posyandu Taro Labu, Sukarelawan, Jl. Perdagangan, Bintaro Kel. Bintaro Kec. Pesanggrahan Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Hartati, Telp :021-7371573
  16. Posyandu Bougenville, Sukarelawan, Rawa Simpruk Jakarta Kel. Grogol Selatan Kec. Kebayoran Lama Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 150 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Aminah, Telp :021-7267002

Jateng (Cilacap, Magelang, Purworejo)

  1. Posyandu Melati Putih III, Masjid Al Huda, Desa Bantar Kec. Wanareja Cilacap (Kab) Jateng, 204 orang bumil/balita/lansia, Kontak : M. Syaikhu Mukhtar S.Ag, Telp : 0812-2996-009
  2. Posyandu Kalinegoro, Masjid Al Muhajirin, Perum. Kalinegoro Kel. Kalinegoro Kec. Mertoyudan Magelang (Kota) Jateng, 477 orang bumil/balita/lansia, Kontak : S. Heri Susena, Bsc, Telp :0293-328-0225
  3. Posyandu RW 01/02/03/04, Masjid At Taawazun, Desa Widuri Kec. Pemalang Pemalang (Kab) Jateng, 372 orang bumil/balita/lansia, Kontak : K.H. Sorihin Mukrim, Telp :081391774434
  4. Posyandu Mekarsari, Masjid An Nur Pituruh Purworejo, Desa Semampir Kec. Pituruh Purworejo (Kab) Jateng, 125 orang bumil/balita/lansia, Kontak : KH Abdul Aziz, Telp :__
  5. Posyandu Sehat Kuat II, Sukarelawan, Desa Semampir, Kec. Pituruh, Purworejo (Kab) Jateng, 78 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sutarto S.Pd, Telp : _______
Jatim (Bondowoso, Gresik, Malang, Madiun, Pacitan, Mojokerto)

  1. Posyandu Desa Dadapan, Masjid Al Ishlah, Desa Dadapan Kec. Grujugan Bondowoso (Kab) Jatim, 129 orang bumil/balita/lansia, Kontak : K.H Thoha YZ, Lc, Telp :0812-359-5824
  2. Posyandu Desa Kembangan, Komunitas Peduli, Desa Kembangan Kec. Kebomas Gresik (Kab) Jatim, 330 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nuryanto, Telp : 031-72405115.
  3. Posyandu RW 03, Masjid Nurul Falah, Dusun Srembi Desa Kembangan Kec. Kebomas Gresik (Kab) Jatim, 474 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Masykur, Telp :0811-314493
  4. Posyandu Tebalo , Komunitas Peduli, Desa Tebalo Kec. Manyar Gresik (Kab) Jatim, 325 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Yusron Hidayat, Telp : 0819-38483990
  5. Posyandu Desa Yosowilangun, Sukarelawan, Desa Yosowilangun Kec. Manyar Gresik (Kab) Jatim, 246 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Masykur, Telp : 0811314493
  6. Posyandu Dusun Kerjo, Ponpes Babussalam, Desa Mojorejo Kec. Kebonsari Madiun (Kab) Jatim, 290 orang bumil/balita/lansia, Kontak : KH Ahmad Fauzani S.Ag, Telp : 0351-367767
  7. Posyandu Desa Sukosari, Masjid Baiturrohmat, Desa Sukosari Kec. Kasembon Malang (Kab) Jatim, 103 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H.M. Basori Alwi, M.Sc, Telp :0813-3310-7006
  8. Posyandu Melati 1-5, Sukarelawan, Desa Penarukan Kec. Kepanjen Malang (Kab) Jatim, 624 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Gembong, Telp : 0341-464226
  9. TKA Darul Mujawwidin, Sukarelawan Kepanjen Malang, Jl Pasuruan no 30, Kec. Kepanjen Malang (Kab) Jatim, 20 orang guru honor, Kontak : Gembong, Telp : 0341-464226
  10. Posyandu Surodinawan I/II/Ketidur, Masjid Roudhotul Jannah, Kel. Surodinawan Kec. Prajurit Kulon Mojokerto (Kota) Jatim, 303 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Surani, BA, Telp :0321-323-537
  11. Posyandu Kayen I, Masjid Baitushsholihin, Desa Kayen Kec. Pacitan Pacitan (Kab) Jatim, 114 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Katwadi, Telp :0357-881-929
  12. Posyandu Desa Pucang Sewu, Masjid Pucang Sewu, Desa Pucang Sewu Kec. Pacitan Pacitan (Kab) Jatim, 486 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sugeng W, Telp :0852-3565-2486
Kalbar

  1. Posyandu Desa Pasir, Masjid Al Amien, Dusun Sebukit Rama Desa Pasir Kec. Mempawah Hilir Pontianak (Kab) Kalbar, 196 orang bumil/balita/lansia, Kontak : , Telp :
  2. Posyandu Tunas Kelapa, Masjid Darunnajah, RW 01 Desa Sungai Raya Kec. Sungai Raya Pontianak (Kab) Kalbar, 87 orang bumil/balita/lansia, Kontak : , Telp :

Lampung

  1. Posyandu Kel Suka Menanti, Masjid Al Fitrah, Kel Suka Menanti Kec. Kedaton Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Baherom/Priatman, Telp :0852-79410908
  2. Posyandu Kel Durian Payung, Masjid Asy Syuhada, Kel Durian Payung Kec. Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Jaya Putra, Telp :0812-7907915
  3. Posyandu Kel Kupang Teba, Masjid Nurul Iman, Kel Kupang Teba Kec. Teluk Betung Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Rifai/Zulfikar, Telp :0813-21431120
  4. Posyandu Desa Sendang, Masjid Nurul Iman, Desa Sendang Kec. Tanjung Bintang Lampung Selatan (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Nasibto SPdI, Telp :0819-30044484
  5. Posyandu Desa Negara Bumi Udik, Masjid Darul Ulum, Desa Negara Bumi Udik Kec. Anak Tuha Lampung Tengah (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
  6. Posyandu Desa Negara Bumi Udik, Masjid Nurul Iman, Desa Negara Bumi Udik Kec. Anak Tuha Lampung Tengah (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
  7. Posyandu Desa Sinar Menanga, Masjid Baabul Khoiril Ummah, Desa Sinar Menanga Kec. Sektor Udik Lampung Timur (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sunarti, Telp :0857-68271313
  8. Posyandu Kampung Sawah, Masjid Miftahul Jannah, Kampung Sawah Metro (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Supardi; M, Telp :0828-80908534
  9. Posyandu Desa Bagelen, Masjid Hidayatul Muslimin, Desa Bagelen Kec. Gedong Tataan Pesawaran (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
Sumsel
  1. Posyandu Kel 26 Ilir, Masjid Al Amani, Kel 26 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Fatoni, Telp :0816-3291209
  2. Posyandu Kel 19 Ilir, Masjid Agung, Kel 19 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Juwita, Telp :0813-67616136
  3. Posyandu Kel 27 Ilir, Masjid Al Amanah, Kel 27 Ilir Kec. Ilir Barat Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sugiarto, Telp :0815-32715511
  4. Posyandu Kel Sako, Masjid Al Muntaha, Kel Sako Kec. Kenten Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Eduard, Telp :0711-7333372
  5. Posyandu Kel Sialang, Masjid Istiqlal, Kel Sialang Kec. Kenten Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sutrisno, Telp :0711-7821477
  6. Posyandu Kel Lr Roda 26 Ilir, Masjid Al Hidayah, Kel Lr Roda 26 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Eko Sutardi, Telp :081373311412

Baca selanjutnya.....

Sabtu, Juni 13, 2009

Posdaya Berbasis Pesantren Di Ponpes Babussalam Madiun : Wujud Santri Ingat Lalu Peduli

4 komentar

Ketidaklupaan dan kecintaan mantan santri kepada almamaternya diwujudkan oleh Abdul Haris Ridho dengan suatu kegiatan yang amat kena dengan permasalahan yang sedang diderita bangsa pada saat ini yakni kurang gizi, kelaparan dan kebodohan. Sebagai realisasinya, tanggal 2 Mei 2009, dengan izin dan restu pimpinan dan setelah melalui sosialisasi, dicanangkanlah program Posdaya Berbasis Pesantren di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Babussalam, Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur.


Abdul Haris Ridho adalah jebolan ponpes Babussalam yang kini bermukim dan berusaha di Palembang. Kesungguhannya untuk selalu membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan ayat-ayat Allah selama ini akhirnya mengantarkannya pada suatu pemahaman bahwa seseorang akan dianggap tidak beriman kepadaNya apabila tidak menafkahkan sebagian rezeki yang diperolehnya serta tidak mendorong orang lain untuk peduli orang lain yang miskin.

Pemahaman yang relatif sama juga diperoleh kawan-kawan baiknya yang ada di Palembang. Karena pemahaman itulah maka terjadi proses dorong mendorong di antara mereka untuk mewujudkan posdaya (pos pemberdayaan keluarga) sebagai salah satu wujud peduli kemiskinan itu. Karena kesungguhan mereka maka dalam tempo sekitar 2 tahunan di beberapa tempat di Provinsi Sumsel dan Lampung telah banyak terbentuk Posdaya yang mereka bidani.

Dorong-mendorong itu pula yang juga menyebabkan mereka tidak lupa asal-muasal. Alhasil karena dorongan para relasinya yang ada di Palembang, Harris mengimplementasikan Posdaya di Ponpes Babussalam - di mana dulu Harris belajar - yang letaknya jauh dari Palembang itu.

Ponpes Babussalam, yang didirikan oleh alumni Ponpes Darussalam Gontor almarhum KH Hadi Martoyo BA pada 29 juni 1986 dan kini dipimpin oleh KH Ahmad Fauzani,S.Ag dengan jumlah murid 280 orang (200 puteri dan 80 putera di TK TPA, MI, MTs, dan MA) sangat menyambut baik usaha Harris dan para relasinya. Sosialisasi pun dilakukan yang kemudian diikuti dengan pendataan dan akhirnya pada tanggal 2 Mei 2009 untuk pertama kalinya posdaya dilakukan di posyandu Dusun Kerjo, Desa Mojorejo. Dalam acara itu kepada 200 balita, 80 lansia, 10 bumil dusun tersebut diberikan paket susu dalam saset, bubur kacang ijo dan telur. Khusus untuk anak-anak ditambahi lagi dengan roti biskuat.

Pada acara realisasi di ponpes yang berjarak 23 km barat daya Madiun ke arah Ponorogo itu, HM Nurhadi (Cak Nur), pengusaha di Palembang asal Jawa Timur yang turut menyertai Haris memaparkan presentasinya tentang mengapa posdaya perlu dilaksanakan. Ia mengatakan bahwa posdaya merupakan salah satu perwujudan dari peduli manusia – yang berarti bertakwa kepadaNya- dan cinta tanah air. Dengan tidak hanya sekali-sekali saja tetapi selalu peduli pada kemiskinan berarti manusia telah kembali kepada Al Quran dan sunah Rasul.

Hadir dalam acara itu Kepala Desa Mojorejo M Hanan , Camat Kebonsari drs Sugiharto dan para pejabat lainnya. Camat Kebonsari yang baru dilantik 11 Oktober 2008 itu meminta agar posdaya dapat dilakukan di seluruh posyandu yang ada di desa-desa dalam wilayah Kecamatan Kebonsari yaitu : Balerejo, Bacem, Kebonsari, Kedondong, Krandegan, Mojorejo, Palur (desa tempat kelahiran Sukarwo, Gubernur Jatim saat ini), Pucanganom, Rejosari, Sidorejo, Singgahan, Sukorejo, Tambakmas dan Tanjungrejo. Pada kesempatan itu Pak Camat bahkan bersedia memotong gajinya sendiri sebagai kontribusinya untuk posdaya.

Pimpinan ponpes yang juga Penasehat Radio Komunitas MaduFM Madiun tentunya berharap agar posdaya berbasis apa saja termasuk yang berbasis pesantren dapat dikembangkan di seluruh Indonesia. Tentu saja peran santri dan alumni santri sangat besar artinya untuk maksud tersebut. Jika terwujud, kurang gizi dan kelaparan serta kebodohan yang masih banyak diderita oleh anak negeri ini, insya Allah dapat ditanggulangi.

(Ditulis oleh Jon Posdaya berdasarkan penuturan tanggal 11 Juni 2009 yang disampaikan oleh Dayuningrat, salah satu relasi Abdul Haris Ridho yang ikut dalam acara tsb)

Catatan :

•Alamat : Pondok Pesantren Modern BabusSalam. Jl Kerjo MADIUN 63173 telp 0351-367767.
•Sumber info tambahan : www.madiunkab.go.id/


Baca selanjutnya.....