Sabtu, Desember 05, 2009

Kalau Sudah Dirasuki Peduli, Sampai Kapanpun Mantan Kades Tidak Lupa Rakyat

1 komentar

Pemberdayaan Masyarakat Oleh Komunitas Benteng Semar (Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang), November 2009


Suroyo, mantan Kepala Desa (kades) Desa Bener, Kecamatan Tengaran. Kabupaten Semarang, yang berlokasi tidak jauh dari Kota Salatiga, bersama beberapa mantan kades lainnya yang tergabung dalam komunitas Benteng Semar, telah berhasil mendorong tumbuhnya kepedulian dua pondok pesantren. Yaitu kepedulian pondok pesantren untuk ikut serta memberdayakan warga masyarakat seputar pesantren agar secara nyata memfasilitasi kaum prasejahtera agar bisa lepas dari kondisi kemiskinan dan kebodohannya.

Kedua pondok pesantren (pontren) yang dimaksud itu adalah Pontren Mahirul Hikam Assalafi di Dusun Payudan, Desa Kenteng (pimpinan KH Toha) dan Pontren Raudlatut Tholibin di Dusun Jetis, Desa Gentan, (pimpinan KH Muh Ulin Nuha) yang sama-sama berada dalam wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Kecamatan Susukan ini berlokasi tidak jauh dari Kecamatan Tengaran, di mana komunitas Benteng Semar tersebut berawal mula.

Melalui dorongan yang bersendikan Kitabullah, kedua pontren ini telah memulai gerakan nyata yang memfungsikan keseluruhan santri dan para pengurus yayasannya melaksanakan firman-firman Allah swt yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk membawa rakhmat bagi semesta alam sehingga tentunya harus peduli kepada sesama manusia. Dan kepedulian terhadap sesama itu tidak hanya sebatas pada dunia pendidikan sebagai bidang kerja pontren. Tidak pula hanya sebatas seremonial keagamaan seperti menunaikan zakat di penghujung Ramadhan atau berkurban hewan ternak saat Idul Adha ataupun memberikan santunan saat hari anak yatim. Tetapi peduli keseluruhan kehidupan manusia berdasarkan skala prioritas. Termasuk di antaranya kebutuhan gizi, kebutuhan beasiswa, kebutuhan honor tambahan bagi guru yang masih berstatus honorer.

Kegiatan yang dianggap prioritas sehingga ditetapkan sebagai kegiatan awal dalam program ini adalah pemberian paket makanan tambahan bergizi bagi balita, ibu hamil dan lansia prasejahtera serta pelatihan pemahaman Al Quran bagi para guru TPA/TKA/ TK, santri dan tokoh masyarakat agar bisa menjadi stimulator bagi masyarakat dalam rangka membawa rakhmat bagi semesta alam. Pelaksanaan santunan dan pelatihan (diikuti 125 orang, terdiri dari guru TK/TPA dan santri terpilih) di Pontren Raudlatut Tholibin di Dusun Jetis, Desa Gentan berlangsung tanggal 28 November 2009. Sedangkan di Pontren Mahirul Hikam Assalafi di Dusun Payudan, Desa Kenteng berlangsung tanggal 29 November 2009 (pelatihannya diikuti 150 orang, yang terdiri dari tokoh-tokoh agama dan santri terpilih). Dalam hal ini bertindak sebagai narasumber pelatihan adalah : Ir H Arief Mulyadi Tatangnana, Adipura (Aktor Sinetron), Nurhadi dan Fauzan.

Komunitas Benteng Semar, awalnya hanyalah sekadar sarasehan antar mantan kades di rumah Suroyo (60) di Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang (bersebelahan dengan Kota Salatiga). Sarasehan demi sarasehan telah mereka lakukan yang akhirnya berujung pada dobrakan moral agar tidak hanya bicara, tidak hanya diskusi, tetapi berbuat nyata. Dan kini mereka telah benar-benar membuktikannya bahwa mereka tidak hanya bicara atau berdiskusi saja. Mereka bisa .

Pemberdayaan masyarakat dengan metoda di mana pemahaman Al Quran selalu disertai berbuat baik telah menarik banyak kalangan. Tidak hanya Komunitas Benteng Semar, Pontren Mahirul Hikam Assalafi dan Pontren Raudlatut Tholibin di Kecamatan Susukan itu saja yang tertarik tetapi metoda itu juga telah menarik banyak individu lainnya. Sebagai contoh di Jakarta, 4 orang eksekutif lembaga keuangan yang dikoordinasikan oleh Agus Wicaksono (direktur sebuah perusahaan sekuritas) telah bersama-sama berpatungan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat di kampung halamannya masing-masing dengan pola yang relatif sama.

Kalau di negeri ini, seluruh pengusahanya, seluruh mantan kades atau mantan lurah, seluruh mantan pejabat dan seluruh mantan apa saja bisa berfungsi seperti Suroyo, maka benar-benar Indonesia sebentar lagi akan menjadi negeri yang sejahtera. Semoga.

Bogor, 5 Desember 2009,
Soleh Kusmana/Sastrawan Batangan

Catatan :

1) Alamat :
  • Pontren Mahirul Hikam Assalafi di Dusun Payudan Desa Kenteng, Kecamatan Susukan (pimpinan KH Toha), kode pos 50777 telp 081-914-339-740, 082-892-289-943. Selain pontren, yayasan pemilik pontren ini juga menyelenggarakan a) MTs (diakui), b) SMA (terakreditasi)
  • Pontren Roudlotut Tholibien, Jetis Gentan Susukan Semarang, Telp. (0298) 615136, Kontak: KH. Muh. Mubarok Toha. Pondok Pesantren Putra Putri Raudlatut Tholibin Jetis, Desa Gentan, Kec. Susukan, Kab. Semarang Kode Pos 50777 Telp. (0298) 3420006 – HP. 085 229 316 676,
  • Benteng Semar Jl. Tedjo No : 23, Dusun Krajan I Desa Bener, RT. 06/RW. I, Kec. Tengaran, Kab. Semarang, 50775 Telp : 0298 – 7105105
2) Baca lebih lanjut di http://www.mariberposdaya.blogspot.com












Baca selanjutnya.....

Kamis, November 05, 2009

Kabar Kepada Saudara SeBangsaku di Athena....

0 komentar


Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri tempat lahir the Great Alexander,
izinkan saya menulis surat ini kepadamu,
semata selain sebagai rasa syukurku padaNya,
juga sekalian melaporkan, sekaligus berterima kasih,
karena telah kau realisasikan keberdayaan dirimu,
untuk bergotong royong peduli kepada saudaramu
di tanah air tercinta ini.


Kemarin, 3 November 2009,
di Posyandu Sakura,
Kampung Kedep, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri Bogor,
tidak jauh dari Cikeas sana,
155 balita, ibu hamil dan lansia tidak sejahtera,
telah tersentuh kepedulianmu,
selama minimal 6 bulan,
dengan bubur kacang ijo dan telur rebus,
untuk memancing keberdayaan masyarakat mampu di sekitarnya,
untuk memancing keberdayaan belasan pabrik di sekelingnya,
untuk memancing keberdayaan punggawa pemerintah
untuk memancing tokoh masyarakat di lingkungan sana
agar selalu ingat di saat duduk berdiri dan berbaringnya
lalu segera bertindak
untuk peduli kepada saudaranya yang tidak sejahtera,
yang karena miskinnya tidak lagi peduli asupan gizinya,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri tempat lahir budaya besar Yunani,
izinkan aku mewartakan,
posyandu itu sebenarnya mau ditutup,
karena pengurusnya tidak kuat menanggung biaya
padahal itu sekadar telur dan kacang ijo saja
sementara masyarakat mengacuhkannya,
bahkan ada yang bilang, posyandu ditutup saja.
Betapa sedih,
sementara banyak rumah ibadah makin cantik,
sementara vocer telepon terjual seperti air mengalir,
urusan tetangga tidak sejahtera,
menunggu datang malaikat sepertimu.

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri dengan sejuta pesona purba,
izinkan pula aku menambahkan,
di belakang rumah tempat posyandu itu,
ada gubug reyot hampir roboh, dan akan roboh, kata tetangganya,
kalau ada angin besar sedikit saja
sementara pemiliknya yang janda jompo tua miskin, sakit pula,
tidak bisa berbuat apa-apa,
karena anaknya hanyalah pekerja harian pabrik,
yang hanya berupah sebatas untuk makan keluarganya saja,
Betapa sedih,
sementara baju makin berwarna-warni,
sementara mobil bagus makin berseliweran,
sementara motor genit makin meraung-raung,
sementara mal terang benderang makin padat pengunjung,
si jompo tua miskin sakit, pemilik rumah hanya pasrah,
karena saudara dan tetangganya belum berbuat apa-apa,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
negeri dengan tumpukan dokumen tebal sejarah tua,
izinkan aku berharap,
seperti halnya engkau mudah-mudahan juga berharap
semoga Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita semua,
tidak marah lantas turun tangan sendiri,
karena manusia tidak totalitas menjadi khalifahNya,
sehingga hanya mengurusi kemegahan bangunan ibadah saja,
sehingga hanya mengurusi seremonial agama saja,
sehingga hanya mengurusi keluarga dan harta bendanya saja,
sehingga hanya mengurusi politik dan kekuasaan saja,
sehingga hanya menggunjingkan sinetron dan isyu-isyu media saja,
lupa tidak mengurusi tetangga dekatnya yang tidak sejahtera,

Kepada sahabat-sahabat sebangsaku di Athena,
di negeri dengan sejumlah filosof terkenal dunia,
izinkan aku mengakhiri suratku ini.
dengan ucapan terima kasihku,
semoga upayamu untuk memberi
dan menganjurkan memberi orang tidak berpunya,
walau belum menjangkau 4 juta balita dan 30-an juta orang miskin Indonesia
adalah pertanda tidak mendustakan agama,
semoga keihlasanmu untuk mengurusi yang dianggap kecil itu
adalah pelengkap syarat manusia bertakwa,
yang telah diberiNya janji akan dianugerahi rahmat dan sejahtera
ketika dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan kembali.

Gunung Putri, Bogor, 5 November 2009.
Jon Posdaya/Sri Posdayawati/Sastrawan Batangan,
http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Catatan :

Komunitas masyarakat Indonesia di Athena Yunani, sejak Oktober 2008 telah bergotong royong membantu gizi 220 orang balita/ibu hamil/lansia prasejahtera di Posyandu Teratai di Kampung Kedep, RW 19, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sejak November 2009 ini, bantuan ditambahkan lagi untuk 155 orang di Posyandu Sakura di Kampung Kedep, RW 21 di desa yang sama. Bantuan untuk masyarakat prasejahtera itu berupa dana yang diberikan kepada pengurus posyandu untuk membiayai pembuatan bubur kacang ijo dan telur rebus.

Di desa tersebut terdapat puluhan pabrik yang CSR-nya belum dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar peduli gizi anak kecil yang kalau tidak dijaga kestabilannya sejak dini, akan berpotensi menjadikan anak-anak tersebut bodoh yang di kemudian hari akan menyebabkan masalah besar bagi perikehidupan berbangsa dan bertanah air. Beban besar bagi anak-cucu manusia Indonesia di masa depan karena keproduktifan anak pintar (sebagai dampak dari gizi yang tercukupi) terganggu oleh ketidakproduktifan anak bodoh (karena kurang gizi) yang biasanya pula cenderung gampang terprovokasi untuk merusak hasil-hasil produksi bangsa.

Kordinator pengurus posyandu yang mengorganisasikan kegiatan di kedua posyandu tersebut adalah : Ibu Ade Siti Hayati (Posyandu Teratai, 021-8675061), Ibu Sanih (Posyandu Sakura, 0817-66037)









Baca selanjutnya.....

Senin, November 02, 2009

Jangan Abaikan, Jangan Lupakan, Di Usia Dinilah Masa Depan Ditentukan.

0 komentar

Pemahaman Kitabullah Untuk Guru TPA/TKA/TK/PAUD/BSB/Ponpes di Jambi, 18 Oktober 2009

Orang tua di zaman sekarang ini semakin tidak bisa ”all out” mendidik anak-anaknya. Kesibukan yang menyita waktu di luar rumah, di antaranya mencari nafkah, menyebabkan sebagian besar pendidikan anak-anaknya diserahkan kepada pihak lain, yaitu guru. Pada usia dini, pendidikan anak-anak, yang di dalamnya termasuk pendidikan moral dan etika, kebanyakan ditangani oleh guru-guru TPA/PAUD/TKA yang umumnya berada di lokasi yang tidak jauh dari pemukiman orang tua mereka.



Dengan semakin kompleksnya masalah dunia, tuntutan untuk memberikan yang lebih baik kepada anak-anak juga semakin meningkat. Apalagi dengan gencarnya bombardemen informasi melalui televisi, yang kalau tidak disiasati, akan makin susah memberikan pemahaman masalah moral dan etika kepada anak-anak.

Pemahaman masalah moral dan etika –agama- akan menarik dan akan melekat pada jiwa anak-anak sampai mereka dewasa bahkan sampai mati bilamana kitab suci tidak hanya dibaca tetapi dipraktekkan dalam bentuk simulasi (permainan). Mempraktekkan perintah Tuhan Semesta Alam untuk berbuat baik kepada ibu bapa, karib kerabat, tetangga dekat, tetangga jauh, karib kerabat, hamba sahaya, orang miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, dll. Mempraktekkan perintah Yang Maha Pengasih Penyayang untuk berkata baik dan membalas dengan perbuatan baik kepada orang lain meskipun jahat sekalipun. Mempraktekkan perintah Yang Maha Kuasa untuk mencintai lingkungan dan tidak berbuat kerusakan, dll.

Amat banyak simulasi yang bisa dibuat agar kitab suci benar-benar dapat diterapkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi dalam prakteknya tidak gampang, terutama kalau guru anak-anak itu belum memahaminya. Oleh sebab itulah diperlukan peningkatan kemampuan guru TPA/TKA/TK/PAUD/BSB dalam pemahaman kitabullah sebelum menyajikan materi yang menarik bagi anak-anak.

Berbasis pada keinginan itu maka Yayasan Pendidikan Cerdas Emosi Dan Spiritual Jambi bekerjasama dengan Tim Teknis Paham Qurani dari Bogor mengadakan pelatihan di Gedung Aula Sekolah Tinggi Ilmu Kebidanan Baiturrahim (STIKBA), Jalan Prof. M. Yamin No. 31 Lebak Bandung, Jambi, Minggu, 18 Oktober 2009 dari jam 07.30 s/d 17.00 WIB. Bertindak selaku fasilitator adalah : H Arief Mulyadi, Sholeh Kusmana S.Ag, dan Adipura (pemain sinetron yang banyak aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat).

Pelatihan gratis yang dikoordinatori oleh H Hartoni SE dan Muhammad Toyib. S.Ag itu diikuti oleh 123 guru TPA/TKA/TK/ PAUD/BSB/Ponpes yang berada di Provinsi Jambi (sebagian besar berasal dari Kota Jambi). Diharapkan dengan dilatihnya mereka, sekitar 1.700 orang siswa binaan (murid) mereka akan mendapatkan materi pemahaman yang menarik yang menyebabkan mereka sedari usia dini, selain rajin membaca kitab suci, juga makin gemar mempraktekan ayat-ayat Allah yang penuh kasih sayang dalam perbuatan sehari-hari.

Selain kegiatan pelatihan tersebut, Yayasan Pendidikan Cerdas Emosi Dan Spiritual bekerjasama dengan berbagai pihak telah melakukan kegiatan sosial berupa pemberian makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil, balita dan lansia prasejahtera melalui posyandu yang pelaksanaanya dilakukan di Masjid Amanah, Kota Jambi. Pada kesempatan itu juga dilaksanakan gotong royong siswa-siswa SD Negeri 33/IV Jelutung Kota Jambi dan anak-anak yang bermukim di sekitar Masjid Amanah untuk membersihkan sampah di lingkungan sekitar sekolah dan tempat bermukim mereka.

Bogor, 2 November 2009

Ditulis oleh Jon Posdaya / Sastrawan Batangan berdasarkan informasi dari Sholeh Kusmana S.Ag dan Heriyadi Priyatna.

Catatan :

  • Panitia pelaksana pemahaman Al Quran dan Al Hadist Guru TPA/TKA/TK/PAUD/BSB/Ponpes Se Prov. Jambi, 18 oktober 2009 terdiri dari : M. Yusuf Bafadhal, SE (Ketua BKPRMI Prov Jambi/Pembina), H. Hartoni, SE (Ketua Forum Faham Qur ani Sumsel/ Penanggung Jawab); M. Toyib, S.Ag (Ketua Pelaksana); M. Gusni, S.Sos.I (Sekretaris); Amran, S.Ag (Bendahara); M. Suwito, Mahmud Riad, S.Ag (Seksi Acara), Husin, A.Ma (Seksi Perlengkapan); ME. Ngatoyo (Seksi Humas); Susilowati (Seksi Konsumsi); AM. Mondo (Seksi Dokumentasi)
  • Yayasan Pendidikan Cerdas Emosi Dan Spiritual Jambi beralamat di di jln. KH Ahmad Dahlan No. 49 Kelurahan Beringin, Kota Jambi





Baca selanjutnya.....

Minggu, Oktober 25, 2009

Sucikan Hati, Sucikan Jiwa Tanpa Menyakiti : Kepeloporan Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang

0 komentar

Program Pelatihan Pemahaman Hikmah Al Furqon Dengan Metoda Belajar ”in door” Sembari Berkarya Nyata Sosial, 9-13 Oktober 2009

Palembang, yang dikenal sebagai kota empek-empek, boleh dikata sejak dulu merupakan kota religius. Di zaman Sriwijaya masih berkuasa, Palembang pernah merupakan pusat keagamaan Budha sehingga pendeta Budha dari Tiongkok memerlukan berkunjung ke situ dalam lawatannya ke India. Di zaman awal masuknya Islam ketika Majapahit berkuasa, disebutkan pula bahwa Sunan Ampel pernah berdakwah di sana saat Arya Damar, penguasa / adipati Palembang beserta keluarganya bermukim di situ. Perlu diketahui bahwa R Patah (R Fattah), anak tiri Arya Damar yang kelak menjadi Sultan Demak, juga lahir dan berada di tempat ini saat Sunan Ampel melaksanakan dakwah kelilingnya.


Palembang yang terus tumbuh dan berkembang, saat ini menjadi kota besar dengan penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa. Sebagai kota dagang dan industri, kota ini tetap tidak melupakan ciri-ciri kereligiusannya. Buktinya di sini terdapat sebuah Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah, yang telah berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 7 Tahun 1964 tanggal 22 Oktober 1964.

Jejak kepeloporan Sunan Ampel, guru Raden Fatah, sebagai pendakwah, rupanya ditiru oleh mahasiswa IAIN Raden Fatah dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Kedua kelembagaan di lingkungan kampus ini mengadakan kegiatan Pemahaman Al Quran yang dilaksanakan antara tanggal 9 Oktober 2009 sampai 13 Oktober 2009 dengan metode yang boleh dikatakan baru meski sudah ada sejak lama.

Dikatakan metode yang sudah ada sejak lama karena sudah dicantumkan dalam kitabullah. Dikatakan baru karena jarang ada yang memakai metode ini dan baru kali ini dilakukan oleh mahasiswa di IAIN tersebut. Itulah yang disebut kepeloporan karena metodenya adalah membumikan Kitabullah bukan hanya untuk didengar dan dipelajari tetapi untuk didengar, dipelajari, dipahami, dilaksanakan dan disyiarkan melalui praktek nyata langsung.

Adapun metode yang didasarkan pada Al Quran dan Hadits tersebut memakai pendekatan sebagai berikut :

  • Al Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi untuk dibaca, dipelajari, dipahami, dipraktekkan, disyiarkan dan dilestarikan.
  • Al Quran diturunkan Allah tidak untuk membuat manusia sulit karena selain kitabnya adalah kitab yang menjelaskan (ayat dijelaskan oleh ayat), juga ayatnya diulang-ulang agar manusia ingat.
  • Al Quran dimudahkan dalam bahasa masing-masing manusia (melalui terjemahan)
  • Al Quran menyatakan bahwa hikmah dan ilmu diberikan kepada orang-orang yang cukup dewasa dan berbuat baik. Atau dengan berbuat baiklah pemahaman Al Quran akan diberikan oleh Allah kepada manusia yang melakukannya.

Kegiatan Pemahaman Al Quran berdasarkan pendekatan itu diikuti oleh 115 orang peserta yang terdiri dari 80 orang mahasiswa, 10 orang Kelompok Pecinta Alam (KPA), 10 orang Siswa Pecinta Alam (SISPALA) dan 15 orang lainnya dari kategori umum. Jadwalnya sebagai berikut :

  • 9/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an I.
  • 10/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an II dan pemberian paket sembako kepada warga prasejahtera.
  • 11/10/2009 : Kegiatan membersihkan pasar Cinde dan Terminal km. 12 Palembang.
  • 12/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an III.
  • 13/10/2009 : Penanaman seribu pohon penghijauan.

Pelatihan tersebut dilakukan di Gedung Academic Center IAIN Raden Fatah Palembang, sedangkan bakti sosial dilakukan di Pasar Cinde dan Terminal km 12 Palembang. Dalam hal ini fasilitator yang amat berperan dalam pelatihan ini adalah : Muhammad Nurhadi; H. Baharuddin, . Fauzan. S. Ag, Sukardi, S. Ag dan Abdul Haris Ridho, Lc.

Rupanya para mahasiswa yang melaksanakan kegiatan tersebut kesengsem dengan metode yang mengkaitkan pemahaman dengan karya nyata langsung. “Merasakan betapa manisnya Al Quran dan betapa Al Quran baru bisa dipahami secara nyata kalau kita berbuat kebajikan“ kata Dayuningrat, salah satu organisator pelaksana. Oleh sebab itu Dayu dan teman-temannya yang mahasiswa itu berencana menjadikan kegiatan pelatihan pemahaman Al Quran sebagai program rutin organisasi-organisasi kemahasiswaan. Khususnya organisasi-organisasi kemahasiswaan yang berada di lingkungan IAIN Raden Fatah.

Menurut rencana, kegiatan serupa akan diselenggarakan oleh BEM Fakultas Adab IAIN Raden Fatah pada bulan November / Desember 2009 yang pesertanya dari mahasiswa dan para guru TKA / TPA. Sementara itu kegiatan peduli lingkungan juga akan dilanjutkan oleh Mapala, Sispala dan KPA di awal tahun 2010.



Ditulis berdasarkan bahan dari Dayunungrat,
Palembang 15 Oktober 2009
http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Baca selanjutnya.....

Jumat, September 18, 2009

Terpanggil Untuk Balita & Ibu Hamil Miskin : Sekelumit Kisah Kasih Sayang Utary Tjandra di 286 Posyandu Seputar Bogor

0 komentar

Sampai 18 September 2009 ini, data 41 ribu orang prasejahtera dari 286 posyandu, 21 Kelurahan di Kota dan Kabupaten Bogor sudah di tangannya. Siap disantuni secara langsung oleh warga yang berasal atau yang bermukim di Bogor atau siapa saja yang selain peduli masa depan anak dan cucu kandungnya sendiri juga peduli anak bangsa yang kelak menjadi mitra anak-cucunya.



Dengan Data Fakir Miskin Yang Benar Dan Akurat Bisa Dilakukan Banyak Hal


“Balita adalah masa depan bangsa. Kecerdasan balita adalah cikal bakal kecerdasan dari sebuah bangsa”, demikian ujar Utary Tjandra. Ibu tiga anak yang terkesan selalu ceria ini memang termasuk wanita langka di Indonesia. Bisa jadi juga langka di dunia. Mengapa demikian ? Wanita lulusan Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi dari sebuah universitas di Melbourne Australia ini selalu gembira di tengah dua kesibukannya. Sibuk selaku pemilik dan pengurus perusahaan penyedia software lisensi SunSystems dan sibuk mendatangi posyandu - posyandu. Sebelumnya posyandu di wilayah DKI dan sekarang ini kebanyakan di wilayah Bogor. Untuk apa ? Untuk mendapatkan data fakir miskin yang pengumpulan dan seleksinya dilakukan oleh posyandu dan kemudian disyahkan oleh RT/RW di mana posyandu tersebut berada.


Untuk apa data itu ? Nah di sinilah cerita menarik yang bisa diambil hikmahnya untuk siapa saja putera Indonesia yang cinta dan peduli negerinya. Yang peduli kepada saudaranya yang masih hidup dalam situasi miskin dan bodoh di alam yang sudah merdeka ini.

Semula Utary Tjandra enggan tetapi kemudian bersedia untuk sedikit bercerita tentang apa guna data-data itu setelah dia ingat bahwa ada perintah dari Sang Maha Kuasa untuk selain memberi juga mendorong orang lain agar memberi fakir miskin. Dengan bercerita, dia berharap bahwa ia juga mendorong atau menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama. Dengan adanya data itu – menurut Ayie sebutan akrab Utary Tjandra - ia bisa banyak berbuat. Yang pertama, dana yang dimilikinya dapat disalurkan kepada mereka yang berhak tanpa ada keraguan lagi karena datanya langsung ia peroleh dari pengurus posyandu yang memang sehari-hari mengetahui siapa saja yang miskin di wilayahnya. Yang kedua, sesuai dengan perintah Tuhan Semesta Alam, ia tidak boleh sendirian memberi sebab kalau suatu saat ia mati kegiatan itu akan putus. Dengan kata lain ia perlu mengajak keluarga dan sahabatnya untuk bersama dan atau sendiri-sendiri memberikan hak orang miskin yang dititipkan Tuhan Semua Manusia kepada mereka masing-masing. Dengan modal data itulah ajakannya menjadi lebih efisien dan efektf alias tidak omong doang karena ada bukti di atas kertas.


Antara Motivasi Dan Skala Prioritas


Sudah sejak kecil ia diberi contoh dan diajak oleh orang tuanya – yang saat itu tinggal di Jalan Semeru Bogor dan kemudian di Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta - untuk selalu peduli kaum fakir miskin. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya ia pun menyadari bahwa walaupun ikhlas memberi tetapi akal tetap harus digunakan sehingga tidak asal memberi. Kata “memberi” yang diyakininya adalah memberi kepada pihak-pihak yang paling membutuhkan dan memberi manfaat jangka panjang bagi pihak-pihak tersebut secara khusus dan terutama memberi manfaat kepada bangsa Indonesia. Iapun lantas terjun langsung melihat profil kemiskinan, mendatanya dan kemudian memberikan santunan pribadinya. Itu berlangsung cukup lama terutama ia lakukan di wilayah Jakarta Selatan di mana ia bermukim.

Sewaktu terjun langsung itulah Utary yang kini tinggal di Cipete Jakarta Selatan terperangah melihat kemiskinan yang diderita bangsanya. Menurut ceritanya ia sempat melihat orang yang hidup serumah berdampingan dengan kambing. Mengapa ? Karena miskinnya, maka rumahnya dijadikan sekaligus kandang kambingnya. Masih ada cerita-cerita lain yang ia peroleh selama ia beranjangsana ’turun ke bawah’ itu. Semuanya membuatnya bertambah bersyukur kepada Tuhan atas pemberiaNya. Dan selanjutnya ia ingin mewujudkan rasa syukurnya itu dengan aksi nyataYaitu menafkahkan sebagian besar hartanya kepada mereka.

Ketika ditanya apa motivasi semua ini, Utary yang menjawab tidak secara langsung mengatakan bahwa selain cinta anak kecil, ia juga pernah bertanya kepada Tuhan Semesta Alam mengenai apa yang harus dikerjakannya seimbang dengan harta yang dianugerahkan kepadanya. Baik berupa harta benda dalam pengertian fisik maupun harta yang berupa kepandaian, relasi, waktu dan energi. Jawab yang diperolehnya ialah bahwa ia harus menjadikan harta kekayaannya lebih bermanfaat kepada pihak-pihak yang benar-benar membutuhkan. Artinya lebih mengutamakan skala prioritas. Ia kemudian mencoba bertanya ke sana-sini mengenai skala prioritas itu. Jawabnya adalah orang miskin yang tidak mendapat bagian atau dengan kata lain tidak mampu untuk meminta bagiannya kepada pihak yang mempunyai kemampuan untuk membantu. Siapa orang miskin yang tidak mendapat bagian itu ?. Akhirnya terjawab pula yaitu bayi dalam kandungan orang miskin dan balita anak orang miskin (baik yang orang tuanya ada maupun yang yatim/piatu). Mengapa mereka dapat dianggap prioritas ? Merekalah yang di masa depan akan menentukan nasib bangsa ini mau dibawa ke mana. Merekalah yang akan menjadi mitra anak-cucu kita, baik sebagai atasan, bawahan ataupun teman sekerja. Kalau mereka bodoh karena kurang gizi di waktu kecilnya, maka kelak saat menjadi mitra anak cucu kita, mereka akan menjadi manusia yang tidak produktif bahkan bisa berpeluang merusak apa yang dibangun kita dan anak-cucu kita. Tentunya akan menyusahkan anak-cucu kita pula di masa mendatang itu.

Bayangkan, jika seorang pengemis tidak memiliki biaya untuk memberikan gizi yang cukup,pada anak-anak mereka, yang lebih dari satu jumlahnya. Masalahnya tidak akan sesederhana ini, dampaknya selain terganggunya kesehatan mereka, juga akan menurunkan tingkat kecerdasan berfikir dan emosinya. Lalu ketika mereka besar, karena tak bisa merasakan pendidikan yang normal di bangku sekolah, bisa jadi mereka akan terus berada dari lintasan kebodohan dan kemiskinan, dan bisa jadi akan terjebak ke dalam “kemiskinan abadi”.

Lantas di mana mereka yang prioritas itu berada ? Jawabnya di posyandu. Sekedar diketahui, secara teoritis, paling tidak ada 2 (dua) hal yang membuat anak tidak cerdas, yaitu (1) gizi yang baik semasa balita, serta (2) pendidikan yang memadai. Dengan dua hal tersebut, kemiskinan bisa diatasi secara perlahan-lahan. Dengan demikian, program nasional atau gerakan masyarakat pemberian gizi tambahan untuk balita miskin yang dikelola secara terpadu melalui posyandu atau posdaya (pos pemberdayaan keluarga) menjadi salah satu upaya penting dalam menanggulangi kemiskinan masa depan bangsa.

Lalu bagaimana kondisi posyandu dewasa ini ? Ternyata kenyataan menunjukkan bahwa kepedulian warga kepada yang prioritas ini masih rendah. Buktinya apa ? Belum banyak yang peduli kepada 4 juta balita miskin yang 790 ribuan di antaranya kurang gizi dan pemerintah hanya sanggup menangani 29 ribuan balita saja. Lantas siapa yang peduli ? Bukankah kemiskinan menjadi tanggung jawab semua anak bangsa bukan hanya pemerintah saja ? Bukankah untuk mengubah akhlak dan kondisi suatu bangsa ini harus dimulai sejak anak kecil ? Bukankah yang bisa merubah nasib suatu bangsa adalah bangsa itu sendiri dan bukan bangsa lain ? Bukankah yang bisa mengubah nasib manusia di suatu kampung atau daerah adalah orang daerah atau kampung itu sendiri dan bukan orang lain? Itulah yang dilihat dan dirasakan oleh Utary dan itulah yang kemudian menjadikan Utary termotivasi untuk terjun langsung memberdayakan dirinya dan juga kerabat serta temannya untuk mengurangi beban anak cucu di masa depan akibat ketidakpedulian umumnya warga Indonesia. Program aksinya sederhana saja, sebagaimana telah ia utarakan sebelumnya, yaitu memberi dan menganjurkan untuk memberi agar penanganan kemiskinan menjadi budaya bangsa.


Jadilah Dia Disebut Ratu Penebar Virus Peduli Prasejahtera


Di kalangan kawan-kawannya Utary Tjandra - yang menikah dengan Teddy Tjandra teman SMP dan tetangganya di Jalan Teuku Umar Jakarta itu - dikenal termasuk manusia yang maniak melakukan pemberdayaan masyarakat melalui posyandu, baik dilakukannya sendiri maupun dengan mengajak kawan-kawannya. Kini paling tidak 18 orang kawannya – baik pengusaha maupun profesional - ikut memberikan kontribusi baik dalam kebersamaan maupun sendiri-sendiri dengan wilayah wilayah yang meliputi DKI, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, Kalbar, Jambi, Sumsel dan Lampung.

Karena prestasi yang diraihnya dalam mengumpulkan data, menyantuni dan kemudian mengajak orang lain untuk ikut menyantuni puluhan ribu fakir miskin pengunjung posyandu itulah maka kawan-kawannya menggelarinya Ratu Penebar Virus Peduli Prasejahtera dari Cipete Jakarta.

Dijuluki gelar itu, Utary yang almarhum suaminya menciptakan software Quranku - tertawa saja sambil berucap ” Alhamdullilah”.


Harapannya Ke Depan


Sebagai putera bangsa Indonesia yang belajar dan berusaha untuk bertakwa kepada Tuhan Semesta Alam, Utary ingin mengajak dirinya dan juga kerabat dan kawan-kawannya untuk terjun langsung menangani kemiskinan. Dimulai dengan pendataan yang benar dan akurat. Dilanjutkan dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan dan diakhiri dengan mengajak orang lain.

”Kalau kegiatan itu menjadi budaya bangsa, apalagi sejak masih anak-anak, ” Kata Utary, ” Insya Allah, Indonesia di masa depan akan bebas dari kemiskinan dan kebodohan”









Ditulis oleh Jon Posdaya / Sri Posdayawati/ Sastrawan Batangan, 18 September 2009, berdasarkan wawancara langsung dengan Utary Tjandra serta informasi dari beberapa orang yang mengenal sepak terjangnya.

Catatan :


(1) Rekapitulasi 249 posyandu dari total 286 posyandu yang pernah dan sedang ditangani oleh Utary Tjandra & kawan-kawannya (s/d Akhir Agustus 2009)

  • Kel. Balumbang, Kec.Bogor Barat, 12 posyandu, 889 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Situ Gede, Kec.Bogor Barat, 10 posyandu, 835 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Sindang Barang, Kec.Bogor Barat, 15 posyandu, 1277 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Bubulak, Kec.Bogor Barat, 13 posyandu, 1158 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Loji, Kec.Bogor Barat, 14 posyandu, 1183 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Gunung Batu, Kec.Bogor Barat, 14 posyandu, 1873 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Semplak, Kec.Bogor Barat, 10 posyandu, 920 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Pakuan, Kec.Bogor Selatan, 8 posyandu, 373 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Empang, Kec.Bogor Selatan, 23 posyandu, 1220 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Bojong Kerta, Kec.Bogor Selatan, 14 posyandu, 839 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cipaku, Kec.Bogor Selatan, 18 posyandu, 1079 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Paledang, Kec.Bogor Selatan, 13 posyandu, 710 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Genteng, Kec.Bogor Selatan, 14 posyandu, 710 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Tegal Lega, Kec.Bogor Tengah, 17 posyandu, 951 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Babakan Pasar, Kec.Bogor Tengah, 15 posyandu, 757 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cimahpar, Kec.Bogor Utara, 20 posyandu, 1666 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cilebut Timur, Kec.Sukaraja, 10 posyandu, 830 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. JogJogan, Kec.Cisarua, 9 posyandu, 752 orang balita dan ibu hamil

(2) Daftar alamat posyandu berikut nama balita dan ibu hamil prasejahtera, serta nama dan hp pengurus posyandu, yang diperlukan bagi siapa saja yang ingin mengadopsi atau menyebarluaskan kegiatan ini - dapat diperoleh dari Tim Teknis (Sdr Aji, 0251-8318491)

(3) Informasi lebih detil dapat diakses dari http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Baca selanjutnya.....

Rabu, September 16, 2009

Posyandu Kekurangan Dana Untuk Menangani Ibu Hamil, Balita dan Lansia Miskin / Prasejahtera ? : Heriyadi Priyatna Punya Solusinya

0 komentar

Banyak Posyandu Dalam Situasi Buah Simalakama


Kebanyakan nasib posyandu seperti buah simalakama. Diperlukan masyarakat prasejahtera tetapi kurang dipedulikan warga sejahtera yang berada di lokasi di mana posyandu tersebut berada. Apa buktinya? Kita lihat saja banyak posyandu yang hidup dengan biaya disubsidi oleh para pengurusnya. Kalau pengurus posyandu kebetulan termasuk kalangan yang berada, mungkin kondisi pelayanannya masih akan mendekati standar. Namun bagaimana kalau pengurusnya sendiri termasuk kategori miskin dan itu terletak di daerah miskin pula ? Dapat dibayangkan bahwa pelayanannya akan jauh di bawah standar. Artinya PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang diperlukan untuk menjaga kestabilan gizi para pengunjung posyandu dari kalangan prasejahtera akan jauh dari memadai. Boleh jadi karena kekurangpedulian warga sejahtera itulah maka dari 260 ribuan posyandu yang pernah dibentuk di Indonesia, saat ini hanya 50% saja yang dikabarkan hidup.


Memang ada posyandu di beberapa daerah miskin menerapkan tanpa paksaan dari para pengunjungnya untuk menyumbang Rp 1000 sekali datang (umumnya sebulan sekali). Namun tetap saja tidak memadai sebab rata-rata PMT standar bernilai sekitar Rp 3000,- (bubur kacang ijo, susu bantal dan buah). Tentunya kekurangan Rp 2000 harus ditomboki sendiri oleh para pengurusnya. Dan seperti diutarakan di atas, di wilayah miskin di mana pengurusnya juga kekurangan, hal itu sulit dipenuhi.


Dua Alternatif

Menghadapi situasi kekurangan dana seperti itu tentunya para pengurus posyandu perlu mengembangkan berbagai kiat untuk mengatasinya. Alternatif pertama adalah menyadarkan warga yang sejahtera di lokasi di mana posyandu itu berada. Alternatif kedua, kader posyandu mencari sumber dana sendiri.

Nah, sambil menunggu kesadaran warga sejahtera agar turut memberikan kontribusinya, yang tentu saja memerlukan usaha keras dari para tokohnya, salah satu sukarelawan kita dari Semplak Bogor, Heriadi Priyatna, yang didukung oleh timnya, telah membantu beberapa posyandu untuk menggali sumber dana sendiri. Dalam hal ini Heriyadi mengembangkan beberapa jenis usaha kecil yang bisa dikerjakan secara mandiri oleh para kader posyandu. Sementara ini yang telah diperkenalkannya adalah produksi sabun cair untuk cuci piring.

Dengan memproduksi dan menjual sabun cair cuci piring dengan harga yang lebih murah dari umumnya sabun cuci piring cair komersial, posyandu mendapatkan dana tambahan untuk mengongkosi kegiatannya. Cukup lumayan.

Masih ada jenis usaha lain, kata Heriyadi, yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mendanai posyandu yang warga sejahteranya belum peduli. Di antaranya adalah produksi kue-kue dan keripik.


Heriyadi Siap Membantu

Heriyadi, yang aktif memberdayakan masyarakat sejahtera agar peduli sejahtera di wilayah Bogor dan sekitarnya telah mengadakan beberapa kali pelatihan usaha kecil pendukung posyandu. Beberapa di antaranya dilakukan di :

  • Posyandu Mawar II Semplak, Juni 2009
  • Posyandu Anggrek II, Desa Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, 29 Juli 2009
  • Posyandu Sleman, 15 Agustus 2009
  • Posyandu Anggrek RW 10 Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Semplak Kota Bogor (30 orang peserta), 5 September 2009
  • Posyandu di Majalaya, Kabupaten Bandung, 7 Agustus 2009.
  • Posyandu sekelurahan Panaragan Bogor, Sabtu 12 September 2009 (diikuti oleh Ibu Lurah, Bidan, Kepala PAUD dan kader Posyandu)

Selanjutnya Heriyadi menyatakan bahwa ia siap melatih kader posyandu lainnya dalam usaha untuk mengatasi kesulitan dana itu. Namun ia baru akan datang bilamana syarat-syarat yang diajukannya dipenuhi. Syarat pertama, posyandu harus mengajukan permintaan untuk pelatihan usaha kecil pendukung posyandu (dengan peserta minimal 10 orang). Syarat kedua, posyandu tersebut harus mendata warga miskin yang ada di wilayah posyandu (ibu hamil, balita dan lansia).


Ditulis oleh Jon Posdaya/Sri Posdayawati/Sastrawan Batangan, September 2009.


Catatan :

  • Heriyadi Priyatna dapat dihubungi melalui Tim Teknis Posdaya (0251-8318491)
  • Informasi lainnya disajikan di http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Baca selanjutnya.....

Senin, September 14, 2009

Melalui 150 Guru Agama, Paling Tidak 10 Ribuan Siswa Di Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo Dan Sumenep Diharapkan Berdayakan Diri Cegah Kemiskinan

0 komentar

Hikmah Pelatihan Pemahaman Kitab Suci (Al Quran) Dan Al Hadits Untuk Para Guru Agama / Fasilitator Pemberdayaan, Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, 8 Agustus 2009.


Asal Muasal

Kemiskinan dan kebodohan tak disangsikan lagi telah menyebabkan ketidakstabilan dalam perikehidupan manusia. Karena miskin dan bodoh, banyak timbul keonaran di muka bumi ini sehingga semuanya merugi termasuk orang yang ”kaya” dan pintar” . Tindakan untuk mengatasinya bukannya tidak pernah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah. Pernah dan sering. Namun kenyataan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan itu seringkali hanya didasarkan pada pendekatan teknis, ekonomis dan sosial saja. Belum menyentuh persoalan yang paling mendasar, yakni jiwa yang menjadi basis untuk mengubah kondisi miskin dan bodoh itu. Baik jiwa si miskin dan bodoh maupun jiwa si kaya dan pintar, dua-duanya belum banyak tersentuh. Dan karena jiwa belum tersentuh itulah maka bergulirlah kemiskinan dan kebodohan yang ujung akhirnya adalah kerusakan.



Lantas bagaimana solusi yang lebih baiknya ? Sederhana saja, yaitu mengkaitkan kegiatan teknis, sosial dan ekonomis yang selama ini telah dilakukan dengan pendekatan religius yang “menyentuh” jiwa sehingga si miskin dan bodoh mau dan mampu mengeluarkan dirinya sendiri dari kondisi miskin dan bodohnya sementara yang kaya dan pintar mau dan mampu memberdayakan dirinya untuk ikut memfasilitasi si miskin dan bodoh itu. Kedua golongan itu bertemu bukan untuk bertentangan tetapi justru bersinergi.

Berdasarkan pengamatan di berbagai tempat, pendekatan ini relatif ”mujarab” karena menghasilkan manusia-manusia lokal yang menyadari bahwa pada dirinya terdapat hak orang miskin dan menyadari bahwa selain memberi juga harus menganjurkan atau mengajak orang lain untuk memberikan sebagian hartanya (termasuk pemikiran dan tenaganya) kepada orang lain yang tidak mampu. Karena kehadiran jenis manusia seperti ini di lokasi masing-masing, maka penanganan kemiskinan tidaklah harus menunggu turun tangannya orang dari tempat jauh. Manusia-manusia yang telah sadar diri di lokasi itulah yang lebih dahulu turun tangan menanganinya dengan cara mengajak kawan atau keluarga dekatnya untuk turut serta memberikan kontribusinya.

Karena tidak mungkin pendekatan model ini bisa dilakukan secara keseluruhan dalam waktu yang singkat maka mau tidak mau prioritas mesti dilakukan. Dalam hal ini sangatlah penting peran guru agama sehingga merekalah yang perlu didahulukan dalam gerakan pemberdayaan masyarakat tersebut. Melalui guru-guru agama inilah diharapkan penularan “virus berbuat baik’ bisa dilkukan lebih cepar.


150 Guru Agama Mengikuti Pelatihan Paham Qurani Komunitas Hatibening


Berdasarkan pemikiran seperti disebutkan di atas, Komunitas Hatibening yang berkedudukan di Surabaya bekerjasama dengan tokoh pemberdaya Arief Mulyadi dari Bogor, menyelenggarakan pelatihan sehari Paham Qurani pada tanggal 8 Agustus 2009 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Kegiatan yang diketuai Maskur Handoyo - tokoh pemberdaya di Gresik - ini diikuti oleh 150 orang (guru agama dari sejak TPA sampai dengan SLTA dan fasilitator pemberdaya berbasis masjid) yang berasal dari Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo dan Sumenep.

Tujuan utama Pelatihan Paham Qurani ini :

  • Membantu para guru, khususnya guru agama dengan berbagai modul pemahaman Al Quran dan Al Hadits untuk disampaikan kepada para siswanya dengan cara mudah sembari tetap pararel mempelajari bahasa Arab sehingga makin mendalam pengetahuannya tentang keaslian Kitab Allah itu.
  • Membantu para orang tua di sisa umurnya yang kesulitan mempelajari bahasa Arab untuk lebih cepat memahami Al Quran dan Al Hadits – sebelum keburu mati- melalui terjemahannya sembari tetap mempelajari Al Quran dan Al Hadits dalam bahasa aslinya.
  • Meminta bantuan para ahli hadits untuk mencari berbagai hadits yang sesuai dengan ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan masalah perikemanusiaan.
  • Mewujudkan keberdayaan diri masing-masing untuk berbuat baik dan mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan karena Allah mempersyaratkan bahwa pemahaman Al Quran dan Al Hadits baru bisa diperoleh jika seseorang yang bertakwa selalu berbuat kebaikan.

Metode yang digunakan dalam pelatihan tersebut adalah ayat dijelaskan oleh ayat lainnya dengan menggunakan Al Quran Madinah (Al Quran terjemahan yang telah dilegitimasi oleh Raja Arab Saudi) serta Al Hadits sebagai tambahan referensinya. Dengan cara ini interpretasi manusia bisa dihindari agar tidak salah tafsir

Pelatihan gratis ini disponsori oleh beberapa ihwan yang menyadari bahwa kemiskinan dan kebodohan menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Dan agar tanggung jawab tersebut disadari secara bersama, maka peran sentuhan kalbu oleh firman-firmanNya amat diperlukan.


Paling Sedikit 10 Ribu Siswa Semoga Tetular


Dengan ikut sertanya 150 orang guru ini dalam pelatihan ini, maka tercatat paling sedikit 10 ribuan siswa binaan para guru tersebut yang bakalan akan menerima materi yang sama. Diharapkan dengan sedari kecil atau sedari dini mereka belajar memahami Al Quran dan Al Hadits, peran mereka sebagai manusia yang membawa rahmat bagi lingkungannya akan meningkat. Khususnya dalam menangani masalah kemiskinan yang masih meliputi sekitar 17 persen bangsa Indonesia.

Sebagai catatan, kegiatan pelatihan Pemahaman Qurani (Pemahaman Al Quran dan Al Hadits) berbasis berbuat baik untuk para guru agama itu sebelumnya telah dilaksanakan di berbagai kota. Antara lain di Banten, Palembang, Purworejo (Jateng), Bandung, Jakarta. Sementara itu pelatihan yang sama untuk umum juga telah berlangsung di banyak tempat di Indonesia. Keseluruhannya ditujukan agar jiwa bangsa Indonesia tersentuh untuk memberdayakan dirinya menangani kemiskinan dan kebodohan sebagai wujud memahami Kitab Suci Allah.

Sastrawan Batangan / Jon Posdaya / Sri Posdayawati, September 2009 / http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Catatan :

  • Fasilitas gratis yang diberikan berupa uang saku sebagai ganti transportasi, materi pelatihan dan peralatan tulis, Al Quran dan terjemahannya dan cd program Qurani karya almarhum Teddy Chandra serta konsumsi (makan siang dan makanan ringan).
  • Panitia : Maskur Handoyo (Ketua), Edy Yusuf (Wakil Ketua), Yusron Hidayat (Sekretaris I), Moch Basori (Sekretaris Ii), Heruwati (Bendahara I/Acara), Masrul (Bendahara Ii/Dana), Zainuri (Dokumentasi & Publikasi), Ny. Masrul (Konsumsi), Makhin (Perlengkapan), Aji Setiyo (Transportasi), Imron (Umum)
  • Penjelasan lebi lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi : 1) Edy Yusuf, Jl. Laksda M Nazir 29, Blok E-18 Lantai 2, (031) 3281019, Fax. (031) 3282964 Surabaya, 2) Nuryanto, Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo 999, Sumber-Desa Kembangan, Depan Kpu Gresik, (031) 72405115,Hp:081330013383, Email:Remajapedulisesama@Yahoo.Com, 3) Yusron Hidayat, Jl. Diponegoro Jetis Gg. 2/55, (031)8952786, Sidoarjo, 4) Zulkifli, (031)71647592, Hp: 085231304191, Sumenep Madura, 5) Email: Hatibeningku@Gmail.Com, Hatibeningku.Wordpress.com



Baca selanjutnya.....

Sabtu, September 05, 2009

Saat Masjid Memberdayakan Masyarakat – Sejak Masih Anak - Bergotongroyong Peduli Lingkungan

1 komentar


Kelanjutan Program Posdaya di Masjid Baiturrahman, Dukuh Sembung,
Desa Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.

Hari itu, 14 Agustus 2009, banyak orang bungah dan sekaligus tergugah. Betapa tidak, hari itu telah ditandatangani dan sekaligus direalisasikan berbagai kontrak kemitraan pemberdayaan masyarakat oleh masjid Baiturrahman di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan warga sekitar lokasi masjid. Salah satu kontrak yang dilakukan oleh Masjid tersebut adalah dengan 7 sekolah (dari TK sampai dengan SD) dan 3 kelompok remaja yang melibatkan 244 orang siswa /remaja untuk secara serempak melakukan gotong royong membersihkan sekolah masing-masing secara bergantian.


Ke 244 orang peserta, yang berdasarkan kontrak tersebut akan melakukan 6 kali kegiatan gotong royong, terdiri dari siswa-siswi TK Sukorini (38 orang), TK ABA (49 orang), SDN Selomulyo (25 orang), SDN Sukomulyo (25 orang), MI Darul Huda (25 orang), SDN Seloharjo (25 orang), SDN Sukosari (25 orang), Remaja Masjid tingkat SD (10 orang), Remaja Masjid tingkat SLTP (10 orang) dan Remaja Masjid tingkat SLTA (12 orang). Bersama-sama mereka membersihkan sekolah dan Kantor desa dengan jadwal sebagai berikut :

  • 14 Agustus 2009, SDN Selomulyo
  • 9 Oktober 2009, SDN Sukomulyo
  • 23 Oktober 2009, MI Darul Huda
  • 6 November 2009, SDN Seloharjo
  • 20 November 2009, SDN Sukosari
  • 15 Desember 2009, Kantor Desa Sukoharjo

Selain kegiatan gotong royong, yang dikoordinasikan oleh Suyadi S.Pd. tersebut, Masjid Baiturrahman juga menyelenggarakan kontrak kemitraan dengan warga dalam beberapa hal, yakni :

  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli kesehatan dasar melalui pemberian contoh makanan sehat kepada 122 orang warga prasejahtera (9 orang ibu hamil, 46 orang balita dan 67 orang lansia) di posyandu setempat.
  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli pendidikan melalui kegiatan : a) pembinaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di mana di tempat itu terdapat 29 orang anak usia dini yang menjadi pesertanya, b) pemberian beasiswa kepada 102 orang siswa miskin (prasejahtera) serta c) pemberian honor tambahan bagi guru-guru yang berstatus honor
  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli ekonomi warga prasejahtera melalui koperasi posdaya
Kegiatan yang disponsori oleh Yayasan Damandiri dan diharapkan setelah 3 bulan akan dilanjutkan secara mandiri oleh warga setempat tersebut seluruhnya dikoordinasikan oleh H. Ir.Wiratno yang bertindak sebagai Ketua Posdaya Berbasis Masjid Baiturrahman. Sedangkan Tim Teknis yang mendapatkan amanah dari Yayasan Damandiri untuk memfasilitasi kegiatan pemberdayaan ini terdiri dari Soleh Kusmana, Heriyadi Priatna, Arief Muttaqien, dan Iza Akmariza.

Khusus untuk kegiatan peduli kesehatan dasar, pernah dilakukan oleh Masjid Baiturrahman – bekerjasama dengan Yayasan Damandiri dan Yayasan Tatang Nana – pada awal tahun 2007. Bibit-bibit keberdayaan banyak bermunculan di antara warga lokal dan itulah yang dipantau oleh Yayasan Damandiri yang akhirnya memutuskan untuk melakukan pengembangan ke berbagai bidang pemberdayaan.

Mengapa Masjid Baiturrahman melakukan kegiatan seperti itu? Paling tidak ada tiga hal yang menjadi landasan, yaitu bahwa : 1) pendidikan kebersihan dan peduli lingkungan perlu diberikan sejak anak-anak berusia dini, 2) dengan bersama-sama bergotong royong, para siswa / remaja menjadi saling kenal dan karena saling kenal itulah maka intensitas tawuran diharapkan akan berkurang, 3) masjid sudah selayaknya menjadi sarana pemberdayaan masyarakat secara nyata sebagai bukti bahwa ketakwaan kepada Allah swt.

Semoga kiprah Masjid Baiturrahman dapat lestari dan menjadi maskot bagi tumbuhnya hal serupa di rumah-rumah ibadah lainnya untuk membuktikan bahwa rumah ibadah berfungsi membawa rahmatNya bagi semesta alam

Bogor, 6 September 2009 (Sastrawan Batangan/Jon Posdaya/Sri Posdayawati)

Catatan : Informasi lainnya dapat diperoleh di http://www.mariberposdaya.blogspot.com











Baca selanjutnya.....