Rabu, Maret 25, 2009

Posdaya | Caleg ”Memakelari” Tiket Surga

0 komentar

Kita sudah terbiasa dengan istilah makelar alias calo. Di antaranya makelar tanah atau makelar mobil. Sementara itu ada lagi profesi sejenis namun umumnya mereka yang melakukannya enggan menyandang gelar itu karena malu atau takut ditangkap pihak berwajib. Di antaranya adalah makelar proyek dan makelar jabatan.

Bicara lebih lanjut tentang makelar, yang tugasnya mempertemukan dua atau lebih pihak yang saling memerlukan, ternyata kegiatan ini perlu dan bahkan harus dikerjakan oleh siapapun yang merasa dirinya manusia bilamana ia ingin masuk surga. Tidak pandang bulu profesi si manusia tsb, Apakah kiyai, ulama, pendeta, presiden, seniman, pengusaha, professor, profesional, baik kaya ataupun miskin, baik sibuk maupun tidak. Semuanya dikenai kewajiban, bahwa selain memberikan sebagian harta yang dimilikinya, juga sebagai perantara untuk menyambungkan yang kaya dengan yang miskin yang terkenal dengan istilah “menganjurkan” atau “mendorong” dan agar gampang diingat sebut saja makelar.

Apa yang dituliskan di atas adalah sebuah kesimpulan yang diterima oleh seorang caleg sebuah parpol setelah berkali-kali berdialog secara serial dan pararel dengan banyak pendalam dan praktisi agama. Di antaranya adalah ulama, pastor, pendeta, dan bikhu yang pada waktu dialog membuka kitab sucinya masing-masing. Referensi yang mereka gunakan di antaranya adalah:
  • Kesejahteraan makhluk hendaklah engkau usahakan sebab orang sedang berjalan, duduk, bangun, tidur sekalipun jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat tidak ada bedanya dengan perilaku hewan (Weda, S. Mucaya 139) .Tuhan Yang Maha Esa tidak akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur. Demikian pula yang tidak mendermakan sebagian miliknya kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukan. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengambil kekayaan untuk orang-orang yang tamak dan menganugrahkannya kepada orang-orang yang dermawan. (Rg.veda V.34.7).
  • Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Injil, Yakobus 2:24). Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Injil, Amsal 14:31)
  • "Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. .......... " (Sabda Budha dalam Dhammapada, 19, 20)
  • Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Quran 61:2-3). Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala...... ...... Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. (Quran 69:31-34) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Quran 107:1-7). Mulailah dari dirimu, bersedekahlah atasnya (Ibda’ Binafsika Fa Tashoddaq ‘Alaiha) (HR Muslim). Sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat (HR. Bukhari)
Pemahaman tersebut di atas menjadi makin mendalam bagi sang caleg ketika di sebuah forum yang dihadirinya ada yang bertanya : ”.... Tetapi mengapa koq banyak orang tidak atau enggan menjadi makelar seperti itu ? ” Pendakwah, yang berada di mimbar forum, menjawab : ” Karena kebanyakan dari kita menganggap bahwa mati belum sebentar lagi....... Ntar..ntar saja kalau sudah nggak sibuk...ntar ntar saja kalau sudah tua..... Padahal mati kan bisa kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya”.

Maka tidaklah mengherankan jika sang caleg itu kemarin, diakhir pidatonya berkata dengan penuh semangat : ”Ayolah ramai-ramai bersama saya menjadi makelar .......makelar sosial alias maksos di lingkungan masing-masing.....karena siapapun baik pemerintah maupun partai yang menangpun tak akan sanggup sendirian menangani kemiskinan dan kebodohan....Saya tidak berjanji menghilangkan kemiskinan dan kebodohan dari bumi pertiwi kita ini. Tetapi saya berjanji mulai saat ini dan atau saat terpilih nanti akan bersama-sama anda menggelorakan semangat makelar sosial alias maksos agar kegiatan maksos menjadi milik kita semua...agar kemiskinan dan kebodohan segera teratasi ......Maka contrenglah saya.......!!!!!”

Tempik sorak para penonton di depan podium membahana. Mereka setuju apa yang dikatakan sang caleg bahwa kemiskinan dan kebodohan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah ataupun oleh siapapun partai yang menang. Justru rakyatlah - terutama yang termasuk kategori mampu alias sejahtera - yang harus dirangsang agar peduli dan bahu membahu. Maka setelah bubar, para pendengar kampanye membawa pulang oleh-oleh selarik kalimat ” Menjadi makelar di lingkungannya masing-masing tanpa malu, tanpa riya karena kalau tidak...... tidak akan mendapat tiket surga.....................................................dan tidak lupa mencontreng sang caleg yang tadi berkampanye”.


http://mariberposdaya.co.cc, 25 Maret 2009


Baca selanjutnya.....

Senin, Maret 23, 2009

Posdaya | Tanda Cinta Dokter Ahli Syaraf Samino Untuk Isterinya Tidak Lagi Kembang Yang Gampang Layu

1 komentar

Di dunia persyarafan, apalagi Alzheimer, nama dokter H.Samino Sp.S (k) sangat populer. Pria berwajah lembut, mantan direksi RSCM, dosen di FKUI/RSCM dan saat ini menjadi Direktur RS Islam Jakarta ini, kemarin, 15 Maret 2009, menorehkan salah satu bukti cintanya buat sang isteri, Endang Samino, yang telah melahirkan 3 anaknya. Bukti Cinta itu tidak lagi seombyok kembang, apalagi sebuah klinik atau rumah sakit baru seperti yang dewasa ini banyak muncul di mana-mana, tapi sebuah karya mewakili diri pribadi dan profesinya. Karya itu berupa pemberdayaan masyarakat sejahtera agar peduli secara sistematis kepada 66 balita dan 137 lansia miskin di Desa Semampir, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, kampung halaman leluhur keluarga besar isterinya.


Hari itu adalah tahap pertama kerja bareng keluarga besarnya baik yang ada di Jakarta maupun yang ada di desa itu. Mereka berpantungan untuk memberikan contoh makanan bergizi kepada balita dan lansia miskin dengan harapan bahwa kaum sejahtera yang ada di lokasi itu juga ikut ambil bagian. Tidak hanya ambil bagian pada masalah gizi tapi juga pada pendidikan anak usia dini, pendidikan anak/remaja lepas sekolah dan bahkan niatnya sampai pada tahap pemberdayaan ekonomi keluarga dan penanganan kesehatan secara total.

Sementara balita ditangani oleh bidan desa dan kader puskesmas, dokter Samino ikut turun memeriksa kesehatan lansia yang rata-rata karena miskin jarang disentuh oleh dokter. Itulah sebuah hajad dari keluarga yang melibatkan tidak saja posyandu, puskesmas, aparat desa tapi juga masjid. Dalam kaitan ini masjid diharapkan menjadi basis spiritual untuk turut menyadarkan warga bahwa pada diri mereka terdapat hak orang miskin sehingga para jamaah mau bergotong royong menangani masalah kemiskinan dan kebodohan di lokasi itu.

Dokter Samino – yang persis di depan rumahnya di Jalan Nenas, Utan Kayu Jakarta Pusat memiliki bangunan yang disediakan untuk kegiatan masyarakat – menyatakan bahwa kegiatan ini bisa dikerjakan oleh komunitas apa saja. Bisa komunitas arisan / perkumpulan keluarga, alumni, RT atau RW atau komunitas profesional seperti ikatan dokter atau ikatan isteri dokter yang sadar bahwa pada harta dan profesi mereka ada hak orang miskin. Murah meriah tetapi manfaatnya amat sangat besar karena akan mengurangi beban anak cucu akibat kawan-kawan mereka di masa kecilnya kurang gizi dan kurang mutu pendidikan.

Dokter Samino - berdasarkan hasil studinya mengenai Al Quran dan Al Hadits dan ia yakin bahwa itu juga disebutkan dalam kitab agama lainnya–menyatakan bahwa kewajiban manusia tidak hanya bicara dan berdoa saja tetapi harus selalu memberi di kala lapang dan sempit dan sekaligus menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Kalau keduanya tidak dilakukan, baik memberi maupun mengajurkan, maka manusia seperti itu akan dipandang Allah sebagai manusia yang tidak beriman dan sekaligus mendustakan agama. Kebanyakan orang memberi tapi diam-diam karena takut riya. Padahal suruhan Tuhan, manusia selain memberi juga harus menganjurkan. Kalau tidak menganjurkan mana mungkin kemiskinan dan kebodohan bisa ditangani sendiri. Kesimpulannya adalah bagaimana caranya memberi dan menganjurkan tetapi tanpa riya. Untuk itulah pentingnya mohon perlindunganNya agar terhindar dari syaitan yang menyebabkan riya dalam setiap usaha untuk menganjurkan.

Itulah kisah tentang tanda cinta seorang suami kepada isterinya. Tidak lagi berupa kembang yang sehari dua hari bisa layu, tetapi kegiatan yang bermanfaat dunia akhirat. Memberi dan menganjurkan untuk memberi. Siapa menyusul agar tidak dimurkai Allah karena mendustakan agama ?

Catatan : 1) Ditulis berdasarkan dialog dengan dr Samino dan isterinya (yang juga Pengurus Besar IIDI) di Jakarta tanggal 17 Maret 2009 dan berbagai informasi lain mengenai kegiatan posdaya keluarga besarnya di Purworejo tanggal 15 Maret 2009; 2) Di Palembang, Cimahi dan Gresik, menurut kabar, banyak dokter meluangkan waktunya untuk menjadi sukarelawan di posyandu yang menangani langsung pengobatan gratis bagi masyarakat. 3) Firman-firman yang terkait dengan apa yang diutarakan dokter Asmino di antaranya terdapat pada QS 3:133-134; 63:10; 65:7; 61:2-3;; 107:1-6; 69:25-34, beberapa hadits, Kitab Suci Injil, Weda dan lainnya; 4) Lokasi kegiatan di Posyandu Mekarsari dan Masjid An Nur (koordinator : KH Abdul Aziz) serta di Posyandu Sehat Kuat (koordinator Sutarto SPd) yang semuanya berada di Desa Semampir, Kec. Pituruh; Kab. Purworejo. 5) Tim Teknis Posdaya yang ikut bekerja di lapangan terdiri dari : Soleh Kusmana S.Ag, Eko Prihandono, Fikriyansa, dan Diaz G.

Baca selanjutnya.....

Minggu, Maret 22, 2009

Posdaya | Dua Nenek Tua Miskin Mensubsidi Masyarakat Untuk Mengurusi Orang Miskin

0 komentar

Nenek yang pertama bernama Carolina Sahri, 69 tahun, yang sejak 1986 mengurusi 27 posyandu dengan 4.000 balita dan ibu hamil di 31 RW Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tak jauh dari Cikeas, kediaman SBY. Ia lebih sering berjalan kaki mengunjungi posyandu-posyandu yang dikunjungi oleh banyak ibu hamil dan balita miskin itu (di antaranya ada 100 balita bergizi buruk), karena kalau tidak, honornya yang Rp 200 ribu akan tekor.

Sementara nenek yang kedua bernama Constan Saya, 87 tahun, yang adalah ibu dari Carolina Sahri. Constan Saya ini sendirian sebulan sekali dengan cara 4 kali berganti angkot/bus dari Kebon Jeruk, Jakarta Selatan mengantar uang Rp 150.000,- ke Carolina yang ada di Kampung Kedep di Gunung Putri itu. Untuk apa dia ke sana mengantar uang yang berasal dari patungan para keponakannya itu ? Untuk biaya sewa rumah Carolina.

Inilah subsidi dari dua nenek tua, yang termasuk kategori minus ini, kepada masyarakat sejahtera yang sebagian besar belum bangun dari tidurnya untuk tidak hanya membicarakan tetapi juga peduli secara nyata dan langsung kepada orang miskin agar mereka memberdayakan diri keluar dari kemiskinannya.

Terketuk hati ingin membantu ? Carolina - lulusan SGKP tahun 1960 di Palembang - bilang : ” Tidak usah jauh-jauh. Salurkan kacang ijo atau sop bergizi ke posyandu di kampung sekitar tempat tinggal anda atau di kampung masa kecil anda. Di sana selalu ada anak dalam kandungan dan balita miskin. Mereka kelak akan jadi kawan atau anak buah dari anak cucu kita masing-masing. Kasihan kan kalau anak cucu kita berhadapan dengan mitra dan anak buah yang di masa kecilnya kurang gizi sehingga bodoh, susah diatur dan cenderung merusak. Kacang ijo dan sop itu adalah bentuk bantuan yang nyata dan langsung buat bangsa...”

”Saya yakin anda telah membantu bangsa ini melalui profesi masing-masing..tapi jangan lupa yang kecil, yang murah meriah tetapi sangat mendasar ini, yang karena kecil dan tidak bergengsi banyak dilupakan orang. Mengapa saya minta masyarakat segera turun tangan? Dari informasi yang saya terima ada 4 juta balita miskin, 700 ribu kurang gizi. Kemampuan pemerintah hanya 39 ribu per tahun....Lalu sisanya siapa yang tanggung jawab ....? Kalaupun sudah memberi, perlu pula mendorong atau menganjurkan orang lain agar melakukan hal yang sama. Kalau kita mati siapa yang akan melanjutkan kepedulian ini dan lagi bukankah persoalan ini menyangkut jumlah banyak dan wilayah yang luas ? Saya dengan tubuh tua ini masih mau...kenapa anda tidak.....? Sekali lagi tak usah jauh-jauh membantu saya ! Cari posyandu termiskin di wilayah terdekat dengan anda.......itu berarti membantu saya” Katanya.

(Ditulis berdasarkan hasil beberapa kali wawancara dengan Carolina Sahri dan Constan Saya dan yang terakhir dilakukan tanggal 17 Maret 2009)

Baca selanjutnya.....

Rabu, Maret 11, 2009

Arief Mulyadi bin Tatang Nana

7 komentar

Model ”Murah-Meriah-Strategis”
Pemberdayaan Umat
Berbasis
Metode Cepat Paham Kitabullah


Arief Muyadi, yang terkesan “bodor” alias “ngebanyol” karena punya talenta mampu meramu berbagai cerita humor sehingga suasana – termasuk saat presentasi - menjadi hidup, segar dan tak membosankan, saat ini banyak dikenal berbagai kalangan. Terutama komunitas yang mempelajari Kitabullah dengan metode cepat berdasarkan Al Quran dan Al Hadits serta mereka yang kemudian mewujudkan pemahaman itu dalam kegiatan nyata berupa memberi dan mendorong orang lain untuk memberi, yang di antaranya – karena dianggap sangat prioritas di bumi persada Nusantara dewasa ini – adalah melalui posdaya.

Sewaktu pada suatu kesempatan ”MariBerposdaya” ketemu dan menanyakan seluk beluk metode itu dan apa kaitannya dengan berbuat baik yang salah satu di antaranya melalui posdaya, Arief – yang dikaruniai 1 isteri, 2 anak, 1 menantu dan 1 cucu serta bermukim tak jauh dari Istana Bogor ini - mengatakan : ”Jika mau tahu, ikuti saja beberapa presentasi saya atau mitra saya”.

MariBerposdaya yang sepakat lantas melihat agenda kegiatan Arief dan mitranya. ”Amboi padat amat skedul pak Arief dan mitra-mitranya ini ”, kata salah satu jurnalis “MariBerposdaya”. Dan memang benar, kalau tidak presentasi di Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur atau Bandung, Arief – dan juga para mitranya - sering ke Kalimantan, Sumsel, Lampung dan Jambi. Atau bisa jadi pergi ke Jateng dan Jatim. Kesemuanya dalam rangka menemui mitranya untuk bersama-sama mempelajari Al Quran sekaligus menggerakkan posdaya di setiap lokasi yang dikunjungi.

Metode Pemahaman

Setelah MariBerposdaya mengikuti beberapa kali presentasi Arief (dia tak mau disebut berdakwah) akhirnya dapat disimpulkan bahwa seseorang akan makin cepat memahami Al Quran bilamana dia berupaya memahaminya dengan cara mengikutii tatakrama yang sudah disebutkan Allah dalam Al Quran yang tentunya juga dilaksanakan oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. Beberapa yang fundamental dalam metode ini adalah :
  • Allah menyatakan bahwa DiriNya menciptakan alam semesta dan manusia tidak dengan dan tujuan main-main
  • Al Quran menyatakan bahwa tugas manusia adalah sebagai kalifatullah dengan bekal Al Quran sebagai pedoman hidup dan masing-masing saat mati nantinya akan bertanggung jawab atas dirinya masing-masing.
  • Karena mati bisa terjadi kapan saja, maka oleh Allah diperingatkan agar manusia yang beriman segera kembali ke Al Quran – yang dilupakan oleh sebagian besar manusia – agar manusia yang beriman itu tidak menyesal saat kematian datang, di mana di dalam pengertian kembali ini terdapat aktivitas untuk membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan Al Quran
  • Dengan melaksanakan peringatan Allah itu, manusia akan terhindar dari godaan syaitan dan iblis yang memang telah diberi otorisasi untuk menggoda manusia dan karena itu manusia yang dulunya berasal dari sesuatu yang tidak bisa disebut akan menjadi manusia mulia.
  • Al Quran menyatakan bawa suatu ayat dalam Al Quran akan dijelaskan oleh ayat lainnya sehingga bisa dimengerti dengan mudah oleh manusia yang mau memperhatikan dan melaksanakan ayat-ayat itu
  • Al Quran menjelaskan bahwa sebelum membaca Al Quran, baik Al Quran besar maupun Al Quran kecil, seseorang harus mohon perlindungan terlebih dulu pada Allah agar terhindar dari bisikan dan godaan syetan /iblis yang memang telah mendapat lisensi untuk menggoda manusia
  • Agar manusia mendapat petunjuk, Allah menyatakan bahwa sebelum membaca Al Quran perlu memohon petunjuk kepada Allah dan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah
  • Selama membaca Al Quran, Allah menyarankan untuk pelahan-lahan, tidak tergesa-gesa (karena tergesa-gesa adalah sifat iblis)
  • Setelah membaca Al Quran, sesuai petunjuk Allah, orang yang membacanya perlu melakukan sebanyak mungkin perbuatan baik – seperti apa yang dibacanya - secara kontinyu karena Allah berjanji akan menjelaskan ayat-ayat tersebut apabila sesorang melaksanakan apa yang dibacanya
  • Orang yang telah memahami suatu ayat Al Quran perlu dan bahkan harus mensyiarkan apa yang telah dipahaminya itu kepada orang lain dengan cara menjelaskan hikmahnya serta dengan pelajaran yang baik tanpa memaksakan dan tanpa meminta upah apapun
  • Proses berikutnya adalah berulang kali melakukan proses-proses tersebut di atas karena itulah yang akan melestarikan Al Quran
Berbuat Baik & Posdaya

Sebagaimana tercantum dalam firman Allah, perbuatan baik harus ditujukan kepada seluruh umat tanpa memandang apa latar belakangnya dengan prioritas orang miskin / tidak mampu, baik yang meminta-minta maupun yang tidak mendapatkan bagian. Sementara di surat lain dicantumkan bahwa yang bisa membawa keluar seseorang dari suatu keadaan, miskin misalnya, adalah orang yang miskin itu sendiri. Itu berarti bahwa siapapun manusia tidak bisa membuat orang lain keluar dari kemiskinan kalau orang miskin itu tidak memberdayakan dirinya sendiri. Dengan demikian yang bisa dilakukan oleh seseorang yang bertakwa adalah mendorong dan memfasilitasi orang miskin agar yang bersangkutan memberdayakan dirinya.

Mengapa salah satu bentuk perbuatan baik dilakukan melalui posdaya ? Arief, yang dianugerahi kemampuan untuk merangkai ayat-ayat Allah di luar kepala sehingga apa yang dibahas menjadi mudah dicerna oleh hadirin yang menyimaknya, menyatakan bahwa :
  • Program posdaya – yang awalnya diperkenalkan oleh Prof Dr Haryono Suyono – bertujuan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia dan salah satu metode untuk mencapainya adalah melalui pendekatan per keluarga
  • Dalam hal ini setiap keluarga perlu memberdayakan dirinya agar peduli 8 fungsi keluarga yaitu agama, budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan keluarga, kesehatan dan reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan
  • Karena kemiskinan dan kebodohan diderita oleh sebagian besar orang miskin maka untuk mewujudkan kedelapan fungsi keluarga itu dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara perlu ada kesinergian antar masyarakat sejahtera agar mereka peduli dan sayang kepada masyarakat prasejahtera.
Berkaitan dengan itu, Arief dan kawan-kawannya merumuskan bahwa program yang strategis namun mudah dikerjakan oleh masyarakat sejahtera untuk memberdayakan dirinya dapat dilakukan melalui 7 (tujuh) tahapan utama sebagai berikut:
  • Memberikan Contoh Makanan Sehat (CMS) gratis kepada masyarakat prasejahtera khususnya ibu hamil, anak-anak Bawah Lima Tahun (Balita) dan orang tua Lanjut Usia (Lansia)
  • Memberikan pendidikan kepada anak usia dini (Usia Bawah Lima Tahun) dan anak Usia Remaja (Usia Bawah 17 Tahun) dengan metoda Bermain Sambil Belajar (BSB)
  • Memberikan dana gratis untuk mengerjakan kerja bakti membersihkan dan merawat sekolah antar siswa sekolah tingkat SD, SLTP dan SLTA agar sejak dini sudah terlatih dan terbiasa bersilaturahmi, bergotong royong dan tolong menolong sesama rakyat Indonesia agar dapat mewujudkan Persatuan Indonesia
  • Memberikan beasiswa kepada keluarga prasejahtera pada tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA.
  • Memberikan pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil (warung Posdaya) di bidang administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera
  • Memberikan modal kerja kepada serikat dagang warung warga Posdaya untuk mensejahterakan para anggota dan masyarakat prasejahtera
  • Memberikan pengobatan dan perawatan gratis kepada masyarakat prasejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter yang bertakwa.
“Karena itulah…….., Kata Arief, yang di masa mudanya pernah menjadi test driver di sebuah perusahaan mobil di Jepang, “….. ada korelasi antara pemahaman Al Quran dengan posdaya. Di mana dalam pemahaman dinyatakan bahwa (a) Bukti bahwa seseorang telah bertakwa adalah memberi dan menganjurkan atau mendorong orang lain untuk memberikan sebagian harta yang dimilikinya kepada fakir miskin (b) Orang miskin tidak bisa ditolong namun mereka sendirilah yang akan memberdayakan dirinya agar menjadi tidak miskin. Nah posdayalah yang dapat menjadi salah satu wahana bagi kaum sejahtera untuk berkiprah menerapkan pemahaman itu dengan cara memfasilitasi keberdayaan orang yang tidak mampu”

“Contohnya adalah kalau ada seorang menginfakkan uangnya sebesar Rp 100 ribu apa yang bisa dilakukan ? Kalau mau gampang dan tidak bersistem, ya berikan saja kepada setiap orang miskin yang lewat yang kalau nilai uangnya besar seringkali datang berebutan. Nah dalam program posdaya justru dana itu dapat disalurkan via posyandu yang telah berposdaya ditempatnya masing-masing. Bisa dipakai untuk tambahan makanan bergizi bagi ibu hamil dan balita miskin dan bisa pula untuk beasiswa untuk anak-anak orang miskin” Kata Arief.

“Kalau punya Rp 5 juta bagaimana ? Wah kalau itu bisa dipakai untuk mancing warga 1 RW untuk berposdaya. Maksudnya, dengan dana sebesar itu, suatu wilayah yang warganya belum peduli kepada masyarakat miskin dapat diberi contoh selama 5 bulan @ Rp 1 juta yang dirupakan makanan bergizi (dengan asumsi di situ ada 400 balita/ibu hamil dan lansia yang paket gizinya masing-masing bernilai Rp 2.500,-). Setelah 5 bulan masyarakat sejahtera di wilayah itulah yang kemudian akan menggantikannya dengan cara urunan. Dan kalau kegiatan warga tersebut terus berkelanjutan maka kepedulian akan menjadi tradisi bagi warga di situ. Bayangkan kalau ini terjadi di seluruh Indonesia, apa Indonesia 20 tahun ke depan tidak panen anak pintar ? Karena pintar alias tidak bodoh, kekufuran berkurang dan sejahteralah bangsa ini...” Kata Arief menambahkan.

Arief juga memberikan contoh lainnya yaitu seperti apa yang dilakukan pasangan suami isteri Asiaaf K Utomo dan Melati di Ciawi. Mereka memberdayakan dirinya yang sejahtera untuk menyelenggarakan program BSB (bermain sambil belajar) bagi anak –anak yang masih kecil dan anak sekolah di luar waktu sekolahnya. Kepada mereka, pasangan suami isteri dibantu oleh beberapa instruktur yang dibiayai oleh kedua pasangan itu sendiri , mengajarkan agar tidak hanya hafal ayat dalam bahasa Arab tapi mengerti artinya dan bisa mempraktekkannya setelah melakukan beberapa games simulasi. Diharapkan di masa depan, anak-anak yang semula miskin itu menjadi produktif, mandiri, sosial dan religius. "Dan Alhamdulilah,.."Kata Arief, " BSB tsb banyak dikunjungi oleh insan-insan yang terketuk hatinya untuk melakukan hal yang sama"

Ternyata dengan memahami dan kemudian mengikuti metoda yang dipakai Arief ini – di mana tiap orang membaca sendiri-sendiri Al Quran dan mereka yakin bahwa Allahlah yang akan langsung menjelaskannya bilamana ia melaksanakan apa yang ada di dalamnya - banyak orang yang merasa cocok. Karena merasa cocok itulah maka banyak orang makin rajin mempelajari Al Quran dan Al Hadits secara mandiri dan makin rajin pula untuk berbuat yang positif yang di antaranya melalui posdaya. Mereka membuktikan sendiri bahwa pemahaman itu ternyata memang berkorelasi langsung dengan perbuatan baik.

Proses Memperoleh Metoda Pemahaman Cepat

Bagaimana awalnya Arief mendapatkan metoda ”ayat dijelaskan ayat ” ini ? Arief menyatakan bahwa metode ayat dijelaskan ayat ini sesungguhnya sudah lama diperkenalkan di IAIN. Metode lainnya adalah ayat dijelaskan akal, ayat dijelaskan hadits. Hanya saja metode ayat dijelaskan ayat kurang populer.

Sementara kalau akal yang berperan sehingga banyak timbul penafsiran, maka seringkali tafsir-tafsir itulah yang justru akan bertabrakan. Sementara itu kalau ayat dijelaskan hadits ada persoalan untuk mencari hadits yang sahih dan tidak semua hadits sesuai dengan tempat dan perkembangan zaman. Jadi bagaimana ? Utamanya adalah ayat dijelaskan ayat di mana hikmah ayat ini akan terus sesuai dengan tempat dan perkembangan zaman, sambil mencari hadits yag sahih dan sesuai zaman dan tempat serta menggunakan akal. Jadi semuanya dipakai di mana yang lebih dominan tentunya ayat dijelaskan ayat. Dengan cara inilah kita tidak menafsirkan hanya mempelajari ayat-ayat yang dijelaskan oleh ayat-ayat lainnya sehingga pemahaman menjadi komprehensif.

”Karena itulah .........,” Kata Arief yang pernah sekolah di berbagai SMA (karena nakal, pihak sekolah menyatakan tak sanggup ”mendidiknya” sehingga Arief terpaksa pindah ke sekolah lain), lalu Fakultas Teknik Pertanian IPB (lulus 1979, angkatan “Antime”), ”... Saya tidak menafsirkan Al Quran, apalagi ngarang. Sebab semuanya itu ada dalam Al Quran sebagaimana dibaca oleh banyak orang. Seharusnya banyak ahli kitab tahu tentang metode ini, Mungkin Allah berkehendak demikian karena kebenaran Al Quran selalu datang belakangan alias tidak instan”.

Berbuat Baik Adalah Wujud Takwa

Pada awalnya dulu Arief, yang pernah bekerja di Astra Graphia, Trakindo Utama, Coca Cola, Ika Muda dan Medco Inti Dinamika ini, mempraktekkan ”berbuat baik adalah wujud bertakwa” dengan caranya sendiri. Namun setelah ketemu kawan-kawannya yang berpandangan sama maka bersinergilah mereka untuk bersama-sama melakukan kegiatan sosial. Berupa antara lain : beasiswa anak miskin, sunat masal, santunan guru, posyandu, pesantren ramadhan, dll. Dalam perjalanannya, pada tahun 1987, mereka terpaksa membentuk yayasan yang mereka namakan Yayasan Indonesia Selamat Sejahtera (disingkat Yassin). Mengapa terpaksa ? Rupanya mereka seringkali dicurigai oleh rezim pemerintah waktu itu melalui Dinas Sospol yang ada di setiap kota/kabupaten.

” Waktu itu kalau ada orang mau menyumbang ke sekolah atau RT/RW sering diberondong serentetan pertanyaan antara lain dari mana sumber duitnya, anda dari golongan mana dan sebagainya. Repotlah...padahal uang itu hasil urunan dari kawan-kawan. Maka dengan terpaksa yayasan didirikan. Untungnya notarisnya ngasih gratis ....” Kata Arief.

Walaupun mendirikan yayasan, Arief dan kawan-kawan sepakat untuk tidak membesarkan yayasan tetapi setiap personil yang bergabung dalam yayasan diharapkan menjadi ”maksos” alias makelar sosial, yaitu perantara antara orang mampu dengan orang tidak mampu. Dengan maksos ini akan terkumpul data orang miskin yang bisa ditawarkan kepada orang lain sehingga terbentuklah ”bursa mustahik” yang disingkat Bumus. Kegiatan Maksos dan Bumus itu bisa dikerjakan dengan mudah oleh masing-masing anggota yayasan.

Mengapa yayasan tidak perlu dibesarkan ? Arief dan kawan-kawan tidak mau kebebanan ongkos operasional, birokratisasi dan kemungkinan timbulnya kekisruhan antar orang setelah yayasan besar. Yang penting, kata mereka, jiwa semangat Indonesia peduli prasejahtera terus menggelinding ke semua anak bangsa.

Komitmen arief secara pribadi untuk bersinergi tanpa harus membesarkan yayasan rupanya terus berlanjut saat ia bersama keluarganya mendirikan Yayasan Tatang Nana (YTN), milik keluarga keturunan Tatang Nana (almarhum Tatang Nana adalah pemegang saham PT Jakarta Beverage Bottling Company, pabrik pembotolan Coca Cola di Jakarta). Yayasan ini sampai dengan akhir 2008 yang lalu banyak bermitra dengan berbagai pihak. Di antaranya sebagai tim teknis sewaktu YAMP melaksanakan Posdaya Berbasis Masjid. Sementara Arief sendiri pernah bermitra dengan ESQ untuk mengisi kegiatan alumni ESQ karena ESQ belum memiliki materi untuk para alumninya tsb

Buku-buku

Arief – yang termasuk golongan orang tekun - sudah sejak lama rajin menyusun ayat-ayat sehingga membentuk topik yang kemudian dibukukan. Beberapa di antaranya malahan telah menjadi standar pelatihan bagi mitra-mitra yang mengikuti metode cepat itu. Beberapa judul buku yang disusun Arief (dia tak mau disebut pengarang) adlah :
  • Pancasila
  • Kerukunan Antar Umat Beragama
  • Rintangan hidup manusia
  • Modul Pemahaman Al Quran Berdasarkan Al Quran dan Al Hadits (Tingkatan Pemahaman Al Quran, Tatakrama Membaca Al Quran, Kiat Mempelajari Al Quran, Kiat Memahami, Kiat Melaksanakan, Kiat Syiar dan Kiat Melestarikan)
  • Kiat Berbuat Baik
  • Kiat Mengatasi Rintangan Hidup
  • Kiat Bertobat
  • Kiat Bersabar
  • Kiat Syiar dll
Yang Mengajar & Yang Diajar, Dua-duanya Tidak Minta Upah

Banyak orang belajar melalui Arief namun dia tak mau menyebut orang yang belajar itu sebagai murid. Kata Arief : ”Kalau ada guru dan ada murid apalagi di bidang pemahaman agama, nantinya selalu ada pengkultusan”. Oleh karena itu Arief menyebut orang yang menjadikannya sebagai narasumber sebagai ”mitra”. Tetapi luar biasa, kalau jumlah mitra ini dihitung jumlahnya sudah ratusan ribu. Beberapa mitranya adalah lulusan IAIN, uztad dan ustadzah yang kondang, pengusaha ternama, artis dan birokrat. Bahkan ada beberapa mitranya yang kemudian menjadi fasilitator pengajian beberapa pejabat tinggi negara. Disebut fasilitator karena yang bersangkutan berkeberatan disebut ustadz.

Dalam kaitan proses belajar-mengajar ini Arief memberikan kiatnya berdasarkan apa yang dia dapatkan dari Al Quran : ” Yang pertama, kalau yang mengajar dan yang diajar sama-sama tidak minta upah, insya Allah petunjuk datang. Yang kedua kalau mau aman dari kemungkinan datangnya iblis pengkultusan, seorang kiyai yang bijak akan membikin muridnya nggak seneng sama dia dengan tujuan semata-mata untuk menghindari kultus itu”.


Berkaitan dengan talenta Arief yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, pernah komunitas Badui di Kabupaten Lebak mengundangnya untuk menyelesaikan masalah kerusakan alam, termasuk kerusakan moral. Solusi yang diberikan Arief yang didasarkan Al Quran sesungguhnya sederhana saja yaitu bahwa bencana sudah ditulis dan setiap orang menghampiri neraka. Orang bertakwa akan diselamatkan orang yang tidak bertakwa dibiarkan masuk neraka. Karena itulah berlomba berbuat baik agar selamat dunia – akhirat dan itulah ciri orang bertakwa.

Tidak Tertarik Mendirikan Tapi Ingin Memberdayakan Yang Ada

Mengingat banyak ”murid” atau mitranya itu MariBerposdaya bertanya : ”Apa pak Arief tidak tertarik mendirikan lembaga pendidikan sendiri?”. Apa jawabnya ?

”Kita kan tahu lembaga pendidikan sudah demikian banyak dan tiap hari selalu ada bangunan baru dibangun untuk pendidikan. Yang justru kurang adalah honor untuk guru-gurunya, terutama yang swasta. Minim sekali. Lebih baik enersi diarahkan pada upaya agar masyarakat sejahtera memberdayakan dirinya untuk membantu guru-guru honor mendapatkan tambahan honor sehingga hidupnya lebih sejahtera. Sementara itu kepada lembaga pendidikan yang sudah atau kepada gurunya saya bisa bermitra untuk menyebarkan metode pemahaman dan kegiatan posdaya. Lebih baik bersinergi daripada saya membuat lembaga pendidikan baru” Kata Arief yang telah mewakafkan salah satu rumahnya di Bogor untuk dijadikan kantor para sukarelawan posdaya.

Dalam penyelenggaraan yayasan sosial dan pendidikan swasta, Arief juga memberikan kiat berdasarkan pengalaman prakteknya. Kiatnya adalah : a) pisahkan antara keuangan yayasan dan keuangan rumah tangga, b) bedakan sumbangan dari pihak sponsor menjadi dana operasional, dana zakat -infaq –sodaqoh dan dana takwa dengan sistem pelaporan yang jelas, c) lakukan pengorganisasian kegiatan menjadi 4 bidang yaitu keuangan, pelatihan, posdaya, dan IT, serta d) upayakan pemiliknya melakukan hibah wasiat sebelum mati kepada pewarisnya - yang biasanya lebih dari satu – agar waktu meninggal dunia Insya Allah sudah tak ada lagi masalah.

”Dengan cara seperti itu bila pendiri dan pengelola generasi pertamanya mati maka para penerusnya relatif akan tidak berebutan karena sistemnya sudah jelas” . Kata Arief yang waktu di kampus dulu pernah menjadi ketua senat mahasiswa.

Masa Kecil

Saat ditanya masa kecilnya, maka berceritalah Arief tentang kenakalannya di waktu kecil. ”Saya termasuk orang jahil” Katanya yang dilanjutkan dengan berbagai ceritanya yang konyol, jahil, lucu sehingga yang mendengarnyapun akan tertawa terbahak-bahak.

”Kenakalan saya itu sangat disadari ayah saya...., ”kata Arief, pria berbobot di atas normal yang kecilnya akrab dengan air Ciliwung karena tinggal di Kampung Melayu Kecil sehingga logat betawinya seringkali amat kentara, ”.. Saya nangis setelah belakangan tahu bahwa ternyata orang tua saya sangat memperhatikan diri saya yang bengal. Karena bijak, orang tua saya tidak pernah ngomong langsung kepada saya, Tapi via guru ngaji saya. Guru ngaji itulah yang beberapa tahun yang lalu baru memberi tahu saya setelah lama tak jumpa dan setelah ayah saya tidak ada lagi”.

Jangan Dengar Omongan

Kalau diceritakan masih banyak lagi dari Arief ini, tetapi dia tak mau diceritakan banyak-banyak. ”Sekali lagi ...., katanya, yang justru diperlukan saat ini adalah bukan cerita lagi tetapi aksi nyata langsung dari perintah Tuhan untuk membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan, melestarikan Al Quran berdasarkan Al Quran dan Al Hadits yang beberapa perintah di dalamnya adalah keharusan manusia untuk segera mengadakan perbaikan dengan berbuat baik dengan tekun, sungguh-sungguh, berkesinambungan kepada seluruh makhluk di alam semesta, termasuk manusia tanpa membeda-bedakan latarbelakangnya. Karena surga adalah milik semua orang takwa, bukan milik golongan tertentu saja sebagaimana juga diterangkan bahwa rasul yang membawa Al Quran diperintahkan untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

”Jangan dengar omongan saya. Sehingga jangan kata Arief. Saya bisa saja salah karena saya adalah manusia tetapi kalimat Allah tidak pernah salah...Saya sangat bahagia kalau orang bicara apalagi berdakwah dengan 100% merujuk Al Quran berdasarkan ayat yang dijelaskan ayat dengan hadits sebagai tambahannya lalu diikuti dengan perbuatan baik yang ditujukan kepada seluruh manusia tanpa pandang latar belakang” Kata Arief.

Tak dapat disangkal bahwa metode cepat pemahaman Al Quran berdasarkan Al Quran dan Hadilts telah menggiring orang untuk harus segera berbuat baik dan berbuat baik yang priotitas karena mudah dan strategis bagi kesejahteraan umat di antaranya adalah melalui posdaya. Itulah sejarah yang pernah diukir oleh Arief Mulyadi melalui metode yang disusun dan kemudian disebarluaskannya.

Maret 2009

JonPosdaya, SriPosdayawati, SastrawanBatangan



Baca selanjutnya.....

Jumat, Maret 06, 2009

Mentari Kang Soleh “Goparana” Kusmana

8 komentar

Profil Sarjana Agama Pemberdaya Yang Minta Maaf

Kalau ada pertandingan antar orang non pemerintah yang diukur dari berapa banyak posyandu yang pernah dikunjungi dalam rangka pemberdayaan masyarakat sejahtera agar memberdayakan prasejahtera, maka Soleh Kusmana hampir dapat dipastikan akan termasuk manusia Indonesia yang dapat rekor tinggi. Bisa-bisa atau boleh jadi MURI akan memberikan piagam penghargaan kepada lelaki setengah baya ini. Tentunya kalau MURI mau mencatatnya dalam rangka mempercepat terciptanya banyak pemberdaya swasta lainnya yang memang amat sangat diperlukan di Indonesia ini.

Soleh, lulusan IAIN Sunan Gunung Jati Bandung yang kini aktif sebagai pemberdaya dalam Tim Teknis Posdaya yang dikelola para sukarelawan dan berkantor di Kota Bogor, diketahui memang sudah lama berkecimpung dalam program tersebut. Dalam rangka inilah, dia pernah menjelajahi daerah Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng DIY dan Jatim.



Dalam melaksanakan program posdaya itu Soleh -yang berkolaborasi dengan kawan-kawannya dari berbagai latar belakang - berusaha membumikan pemahaman dan pelaksanaan keyakinan beragamanya sesuai dengan bumi di mana mereka berada yaitu Indonesia. Karena itulah disamping memohon perlindungan kepada Allah swt agar bangsa Indonesia terhindar dari godaan iblis dan syaitan (taudz) serta membacakan ayat-ayat suci yang terkait dengan keharusan manusia bertakwa untuk berbuat baik kepada semua orang, tidak merusak, berbuat adil dan tidak mengurangi hak orang lain (di antaranya Surat 3:133-134, 28:77, 26:179-183), Soleh tidak lupa pula mengajak para hadirin untuk mengumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Sumpah Pemuda sebagai salah satu cara perekat kebangsaan. Bersama-sama merekapun mendoakan para pahlawan kemerdekaan, pahlawan pembangunan, pahlawan agama, pahlawan budaya dan semua orang yang memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia



“Mari kita laksanakan Mentari agar tidak disebut Allah mendustakan agama dan agar shalatnya tidak dianggap lalai” Kata Soleh dalam setiap kesempatan presentasinya.



“Lho apa “Mentari itu, kang ? Tanya salah seorang peserta pada suatu kesempatan.

Mentari itu adalah singkatan dari Memberi & Menganjurkan Tanpa Riya, sebagai ringkasan dari kalimat suruhan Allah swt yang tercantum dalam QS 107 (Al Maun) ayat 1-7” Jawabnya sambil selanjutnya mengatakan bahwa firman itu berarti bahwa siapa saja yang tidak menganjurkan kepada orang lain agar orang itu memberikan sebagian dari hartanya untuk memberi makan orang miskin berarti orang itu mendustakan agama. Apalagi kalau tidak memberi. Sementara kalau memberinya dengan riya, maka dia akan termasuk kategori orang celaka. Jadi sekali lagi kita kudu memberi dan menganjurkan tanpa riya yang disingkat mentari untuk memudahkan mengingat” .



Ketika ditanya mengapa ke Posyandu ? Soleh menjawab bahwa umumnya posyandu dikunjungi ibu hamil dan balita miskin. Orang kaya jarang datang ke situ. Sementara itu posyandu sendiri masih belum menjadi milik masyarakat seutuhnya. Apa buktinya ? Lihat saja dari 250 ribuan posyandu di Indonesia, ada berapa posyandu yang masyarakat di sekitarnya telah peduli kepada ibu hamil dan balita apalagi lansia miskin. Itulah sebabnya menurut kabar terakhir sampai dengan November 2008 yang lalu, sedikitnya tercatat 4 juta anak Indonesia yang menderita kurang gizi terancam jatuh derajadnya ke gizi buruk. Celakanya, dari 700.000 penderita gizi buruk, kemampuan pemerintah menangani hanya 39.000 anak gizi buruk per tahun. Lantas apa masyarakat sejahtera (kaya) hanya diam ? Anak orang kaya tentunya relatif cukup gizi bahkan banyak yang gendut kelebihan gizi. Tetapi di masa depan anak-anak mereka akan punya PR besar karena generasi seumurnya banyak yang bodoh dan cenderung kufur. Bayangkan saja kalau si anak orang kaya itu menjadi anggota parlemen, birokrat atau pengusaha yang berhasil tentunya akan berhadapan dengan masalah yang besar”

“Nah itulah sebabnya diperlukan banyak pemberdaya swasta yang sukarela“ Kata Soleh yang kalau sudah bicara beberapa kali mengeluarkan kata “maaf”. Mungkin saking santunnya, Soleh takut orang lain tersinggung atau sakit hati saat dia bicara

“Kang Soleh dana untuk kegiatan berasal dari mana ? Tanya “MariBerposdaya”
“Dari para sejahtera yang sadar bahwa pada dirinya ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian sebagaimana tercantum pada QS 51:19” Jawab Soleh.

Selanjutnya Soleh menjelaskan bahwa program posdaya yang dikerjakan bersama timnya memiliki karakteristik yang dapat digambarkan sbb :

  • Yang dapat mengeluarkan seseorang dari situasi kemiskinan itu adalah orang miskin (prasejahtera) itu sendiri (QS 13:11). Adapun fungsi kaum sejahtera (kaya/ berkecukupan) adalah memfasilitasi melalui pemdekatan “Silih Asih-Silih Asuh-Silih Asah”
  • Tahap pertama yang dilakukan adalah memancing kaum sejahtera yang ada di sekitar posyandu (seRT / seRW / sedesa ) dengan memberikan makanan sehat kepada ibu hamil, balita dan lansia prasejahtera selama jangka waktu tertentu (antara 2-6 bulan). Dana berasal dari kaum sejahtera yang bermitra dengan Soleh sedangkan logistik berasal dari warung-warung terdekat milik masyarakat setempat.
  • Setelah jangka waktu tertentu itu kaum sejahtera yang ada di sekitar posyandu akan mendanai sendiri kegiatan tersebut untuk seterusnya yang berarti tugas Soleh dkk untuk tahap pertama telah selesai
  • Soleh dkk – melalui kader yang ada di posyandu –melaksanakan kegiatan tahap kedua, yaitu memancing tumbuhnya tradisi peduli pendidikan luar sekolah untuk mengisi waktu agar produktif. Fokusnya adalah penyelenggaraan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan BSB (Bermain sambil Belajar) bagi anak-anak dan remaja prasejahtera yang ada ditempat itu. Dana untuk para pengajarnya tetap berasal dari kaum sejahtera yang bermitra dengan Soleh dkk sampai jangka waktu tertentu di mana masyarakat sejahtera di lokasi itu akan meneruskan pembiayaanya.
  • Tahap ketiga adalah mentradisikan kegiatan gotong royong antar siswa sekolah (untuk memupuk kerukunan serta meningkatkan kebersihan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan). Koordinator gotong royong adalah guru-guru honorer yang dibantu masyarakat sejahtera
  • Tahap keempat – setelah atau bisa juga pararel dengan tahap kedua - adalah mentradisikan masyarakat agar mau memberikan beasiswa kepada anak prasejahtera. Inipun dilakukan dengan cara pancingan selama jangka waktu tertentu.
  • Tahap kelima – setelah atau pararel dengan tahap keempat – adalah memberikan pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil (warung posdaya) dibidang administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera.
  • Tahap keenam adalah pemberian modal kerja kepada serikat dagang warung warga Posdaya untuk mensejahterakan para anggota dan para masyarakat pra sejahtera
  • Tahap ketujuh adalah berlangsungnya tradisi pemberian pengobatan dan perawatan gratis kepada masyarakat pra sejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter yang bertakwa kepada Tuhan Semesta Alam.

“Itulah tahap-tahap pemberdayaan yang kami lakukan. Murah meriah ! “Kata Soleh sambil tersenyum

Lantas apa yang khas dari Soleh dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan? Dari pengamatan “MariBerposdaya “ selama mengikuti sepak terjangnya di beberapa posyandu terlihat bahwa ibu-ibu kader posyandu sering tertawa geli saat Soleh menjelaskan alasan, pengertian dan teknis berposdaya. Apalagi kalau sedang membahas dan menghitung paket makanan sehat yang akan diberikan, Soleh amat fasih menjelaskannya dengan humor. Terutama saat menjelaskan berapa “telur” yang diperlukan ibu hamil. Ibu-ibu umumnya tertawa senang setelah mencermati omongan Soleh yang sopan tapi belakangan ternyata lucu.

Soleh, saat dialog dengan “MariBerposdaya”, menyatakan sangat bersyukur dapat berfungsi sebagai pemberdaya atau pendorong atau penganjur . Dengan kata lain, katanya, ia tidak termasuk kelompok omdo (omong doang) yang dimurkai / dibenci Allah sebagaimana tercantum dalam QS 61:2-3.

Sebagai putra Bangsa Indonesia kelahiran Subang dengan 1 isteri dan 4 orang anak, ia menyatakan ingin melanjutkan perjuangan Goparana leluhur pendiri Subang dan juga Cianjur. Temannya yang tahu lantas menyisipkan nama “Goparana” pada namanya sehingga menjadi Soleh “Goparana” Kusmana.

Keinginan untuk ikut memajukan daerahnya rupanya bersambut walaupun dia tetap harus berkeliling ke beberapa tempat terutama di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Di desanya di Subang, telah tumbuh benih benih pemberdayaan melalui program Posdaya Berbasis Masjid dan program BSB (Belajar Sambil Bermain). Dalam program itu artis Adipura – asal Subang - dan beberapa keluarga sejahtera yang tak mau disebut namanya di Jakarta juga turut serta .

“Selamat berjuang Kang Soleh Goparana Kusmana. Jangan lupa Akang memberi maaf disamping minta maaf” Itulah kata pamitan jurnalis MariBerposdaya kepada Soleh.

Soleh - yang tak mau ketinggalan teknologi informasi sehingga saat ini punya website http://gemarposdaya.blogspot.com/ - tersenyum cerah dan mengucapkan : “Selamat jalan. Maapin saya”.

Catatan : Soleh dapat dihubungi untuk penjelasan lebih rinci melalui salah satu anggota Tim Teknis Posdaya, sdr Eeng Hendarusman (0251-8318491) atau melalui website/blog http://gemarposdaya.blogspot.com


Baca selanjutnya.....

Selasa, Maret 03, 2009

“Arema” Yang Kini Jadi “Urang” Bogor Berposdaya Di Kepanjen Malang

3 komentar

Kepanjen ? Nama apa itu ? Tidak semua orang kenal karena dia adalah sebuah kota kecamatan kecil di wilayah Kabupaten Malang. Namun kalau mau membuka-buka peta Jawa Timur dan juga buku sejarah, Kepanjen, yang kini jadi ibukota kabupaten, pernah mengukir riwayat yang cukup panjang.


Selain berlokasi tidak jauh dari pusat kerajaan besar di masa lalu, berturut-turut Kerajaan Kanjuruhan (sekitar tahun 700-an M yang ibukotanya diperkirakan di Dinoyo Malang), Kerajaan Kediri (1049 -1222 M) dan Kerajaan Singasari (1222-1293 M, ibukotanya sebelah utara Kota Malang), Kepanjen tentunya tidak lepas dari gejolak politik pemerintahan. Di Sengguruh, yang berada dalam wilayah Kepanjen, sebagai contoh, pernah muncul beberapa kejadian. Di antaranya pernah menjadi basis sisa -sisa Majapahit yang menyerbu Giri (Gresik) pada tahun 1535. Di situ pula Amangkurat III pernah mengungsi dari Mataram karena bertikai dengan PB I yang notabene adalah pamannya sendiri. Di situ pulalah - menurut sejarah - sisa-sisa pasukan Untung Surapati – pada tahun 1700-an - bertempur habis-habisan melawan tentara VOC yang berkolaborasi dengan tentara Mataram.



Dan kini kalau Kepanjen menjadi ibukota kabupaten dan kemudian di situ dibangun stadiun besar milik rakyat ”Arema” yang dinamakan Gajayana adalah suatu hal yang pantas. Dan rasanya klop pula kalau kemudian Kepanjen juga terpilih sebagai lokasi posdaya. Rupanya ada seorang hamba Allah – Bapak Ronny Kosasih - yang kini bermukim dan berusaha di sekitar Jakarta-Bogor, terketuk hatinya untuk menyisihkan sebagian perhatiannya kepada kaum prasejahtera yang bermukim di Kepanjen. Hamba Allah ini dulunya memang pernah bermukim - walaupun sebentar - di kota kecil yang terletak 20 km sebelah selatan Kota Malang yang sejuk itu.



Maka atas sponsor Pak Ronny ini, pada akhir Januari 2009, dimulailah program Posdaya Berbasis Masyarakat di Desa Penarukan Kepanjen yang melibatkan pemberdayaan 624 orang prasejahtera (bumil: 30, balita: 456, lansia: 138) selama 2 bulan dan 17 orang guru honorer TKA Darul Mujawwidin (Jl Pasuruan 30 Kepanjen) selama 3 bulan. Keseluruhan dananya ditanggung oleh Pak Ronny dan diharapkan setelah 2 bulan, masyarakat sejahtera yang berada atau yang berasal dari Kepanjen akan meneruskan program tersebut.

Dalam kegiatan itu Tim Teknis Posdaya Bogor dibantu oleh beberapa sukarelawan dari Kepanjen (Bapak Jumahfudz, Kepala Sekolah TKA Darul Mujawwidin dan para guru) dan sukarelawan dari Malang (Vickry Anggun Nurramadan alias Gembong, Window, Cuplis, "Mbah" Berna dan para kerabat dekatnya yang lain).

Beberapa tokoh yang juga terlibat dalam kegiatan posdaya di Kepanjen ini antara lain adalah :

  • Marendra H Iriawan (Ka Kelurahan Penarukan, selaku pelindung)
  • Mustakim (Ketua DKM Baiturrohman, Penarukan, selaku penasehat)
  • Jumahfudz (Kepala TPA Darul Mujawwidin, selaku Ketua Tim Pelaksana)
  • Ny Choirul Fatimah (Koordinator Posyandu Kelurahan) Bendahara Koord Posyandu Kelurahan
  • Ny Komariah (Seksi Bumil, Koordinator Melati-4)
  • Ny Nana (Seksi Balita, Koordinator Melati-5)
  • Ny Nur Saidah (Seksi Lansia, Koordinator Melati-1)
  • Ny Atim S (Seksi Lain2; Koordinator Melati-2),
  • Ny Nur Saidah; Ny Nanik; Ny Siti; Ny Sriah; Ny Heni (Kader Poyandu Melati-1);
  • Ny Atin; Ny Lusiah; Ny Murni; Ny Sunarsih; Ny Rokatih (Kader Poyandu Melati-2)
  • Ny Khoirul Fatimah; Ny Sunakyah; Ny Dewi Mahmudah; Ny Marwan; Ny Siti Harwiah; (Kader Poyandu Melati-3)
  • Ny Hj Sunakyah; Ny Komariah; Ny Nurjanah; Ny Atin; Ny Luwari; (Kader Poyandu Melati-4)
  • Ny Susiani; Ny Mardiyati; Ny Nur Alifah; Ny Siani; Ny Satulin; Ny Sunarsih; Ny Arifatih; (Kader Poyandu Melati-5)
  • Ny Anik Handayani (Bidan)
  • Ny Srihartati (PLKB);
  • Ny Hariasih (Kesos);

Menurut Gembong yang untuk selanjutnya bertindak selaku tim pemantau, kegiatan ini telah dilanjutkan dengan kerjabakti/gotong royong guru-guru dan siswa TKA pada bulan Februari 2009. Tujuannya di samping sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME juga sekalian untuk memupuk rasa kebersamaan generasi muda usia sedari dini.

SriPosdayawati, Maret 2009

Catatan : Untuk kontak lebih lanjut mengenai posdaya di Kepanjen dapat menghubungi Gembong (0341-464226)

Baca selanjutnya.....