Minggu, Oktober 25, 2009

Sucikan Hati, Sucikan Jiwa Tanpa Menyakiti : Kepeloporan Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang

0 komentar

Program Pelatihan Pemahaman Hikmah Al Furqon Dengan Metoda Belajar ”in door” Sembari Berkarya Nyata Sosial, 9-13 Oktober 2009

Palembang, yang dikenal sebagai kota empek-empek, boleh dikata sejak dulu merupakan kota religius. Di zaman Sriwijaya masih berkuasa, Palembang pernah merupakan pusat keagamaan Budha sehingga pendeta Budha dari Tiongkok memerlukan berkunjung ke situ dalam lawatannya ke India. Di zaman awal masuknya Islam ketika Majapahit berkuasa, disebutkan pula bahwa Sunan Ampel pernah berdakwah di sana saat Arya Damar, penguasa / adipati Palembang beserta keluarganya bermukim di situ. Perlu diketahui bahwa R Patah (R Fattah), anak tiri Arya Damar yang kelak menjadi Sultan Demak, juga lahir dan berada di tempat ini saat Sunan Ampel melaksanakan dakwah kelilingnya.


Palembang yang terus tumbuh dan berkembang, saat ini menjadi kota besar dengan penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa. Sebagai kota dagang dan industri, kota ini tetap tidak melupakan ciri-ciri kereligiusannya. Buktinya di sini terdapat sebuah Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah, yang telah berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 7 Tahun 1964 tanggal 22 Oktober 1964.

Jejak kepeloporan Sunan Ampel, guru Raden Fatah, sebagai pendakwah, rupanya ditiru oleh mahasiswa IAIN Raden Fatah dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Kedua kelembagaan di lingkungan kampus ini mengadakan kegiatan Pemahaman Al Quran yang dilaksanakan antara tanggal 9 Oktober 2009 sampai 13 Oktober 2009 dengan metode yang boleh dikatakan baru meski sudah ada sejak lama.

Dikatakan metode yang sudah ada sejak lama karena sudah dicantumkan dalam kitabullah. Dikatakan baru karena jarang ada yang memakai metode ini dan baru kali ini dilakukan oleh mahasiswa di IAIN tersebut. Itulah yang disebut kepeloporan karena metodenya adalah membumikan Kitabullah bukan hanya untuk didengar dan dipelajari tetapi untuk didengar, dipelajari, dipahami, dilaksanakan dan disyiarkan melalui praktek nyata langsung.

Adapun metode yang didasarkan pada Al Quran dan Hadits tersebut memakai pendekatan sebagai berikut :

  • Al Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca tetapi untuk dibaca, dipelajari, dipahami, dipraktekkan, disyiarkan dan dilestarikan.
  • Al Quran diturunkan Allah tidak untuk membuat manusia sulit karena selain kitabnya adalah kitab yang menjelaskan (ayat dijelaskan oleh ayat), juga ayatnya diulang-ulang agar manusia ingat.
  • Al Quran dimudahkan dalam bahasa masing-masing manusia (melalui terjemahan)
  • Al Quran menyatakan bahwa hikmah dan ilmu diberikan kepada orang-orang yang cukup dewasa dan berbuat baik. Atau dengan berbuat baiklah pemahaman Al Quran akan diberikan oleh Allah kepada manusia yang melakukannya.

Kegiatan Pemahaman Al Quran berdasarkan pendekatan itu diikuti oleh 115 orang peserta yang terdiri dari 80 orang mahasiswa, 10 orang Kelompok Pecinta Alam (KPA), 10 orang Siswa Pecinta Alam (SISPALA) dan 15 orang lainnya dari kategori umum. Jadwalnya sebagai berikut :

  • 9/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an I.
  • 10/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an II dan pemberian paket sembako kepada warga prasejahtera.
  • 11/10/2009 : Kegiatan membersihkan pasar Cinde dan Terminal km. 12 Palembang.
  • 12/10/2009 : Pemahaman Al Qur’an III.
  • 13/10/2009 : Penanaman seribu pohon penghijauan.

Pelatihan tersebut dilakukan di Gedung Academic Center IAIN Raden Fatah Palembang, sedangkan bakti sosial dilakukan di Pasar Cinde dan Terminal km 12 Palembang. Dalam hal ini fasilitator yang amat berperan dalam pelatihan ini adalah : Muhammad Nurhadi; H. Baharuddin, . Fauzan. S. Ag, Sukardi, S. Ag dan Abdul Haris Ridho, Lc.

Rupanya para mahasiswa yang melaksanakan kegiatan tersebut kesengsem dengan metode yang mengkaitkan pemahaman dengan karya nyata langsung. “Merasakan betapa manisnya Al Quran dan betapa Al Quran baru bisa dipahami secara nyata kalau kita berbuat kebajikan“ kata Dayuningrat, salah satu organisator pelaksana. Oleh sebab itu Dayu dan teman-temannya yang mahasiswa itu berencana menjadikan kegiatan pelatihan pemahaman Al Quran sebagai program rutin organisasi-organisasi kemahasiswaan. Khususnya organisasi-organisasi kemahasiswaan yang berada di lingkungan IAIN Raden Fatah.

Menurut rencana, kegiatan serupa akan diselenggarakan oleh BEM Fakultas Adab IAIN Raden Fatah pada bulan November / Desember 2009 yang pesertanya dari mahasiswa dan para guru TKA / TPA. Sementara itu kegiatan peduli lingkungan juga akan dilanjutkan oleh Mapala, Sispala dan KPA di awal tahun 2010.



Ditulis berdasarkan bahan dari Dayunungrat,
Palembang 15 Oktober 2009
http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Baca selanjutnya.....

Jumat, September 18, 2009

Terpanggil Untuk Balita & Ibu Hamil Miskin : Sekelumit Kisah Kasih Sayang Utary Tjandra di 286 Posyandu Seputar Bogor

1 komentar

Sampai 18 September 2009 ini, data 41 ribu orang prasejahtera dari 286 posyandu, 21 Kelurahan di Kota dan Kabupaten Bogor sudah di tangannya. Siap disantuni secara langsung oleh warga yang berasal atau yang bermukim di Bogor atau siapa saja yang selain peduli masa depan anak dan cucu kandungnya sendiri juga peduli anak bangsa yang kelak menjadi mitra anak-cucunya.



Dengan Data Fakir Miskin Yang Benar Dan Akurat Bisa Dilakukan Banyak Hal


“Balita adalah masa depan bangsa. Kecerdasan balita adalah cikal bakal kecerdasan dari sebuah bangsa”, demikian ujar Utary Tjandra. Ibu tiga anak yang terkesan selalu ceria ini memang termasuk wanita langka di Indonesia. Bisa jadi juga langka di dunia. Mengapa demikian ? Wanita lulusan Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi dari sebuah universitas di Melbourne Australia ini selalu gembira di tengah dua kesibukannya. Sibuk selaku pemilik dan pengurus perusahaan penyedia software lisensi SunSystems dan sibuk mendatangi posyandu - posyandu. Sebelumnya posyandu di wilayah DKI dan sekarang ini kebanyakan di wilayah Bogor. Untuk apa ? Untuk mendapatkan data fakir miskin yang pengumpulan dan seleksinya dilakukan oleh posyandu dan kemudian disyahkan oleh RT/RW di mana posyandu tersebut berada.


Untuk apa data itu ? Nah di sinilah cerita menarik yang bisa diambil hikmahnya untuk siapa saja putera Indonesia yang cinta dan peduli negerinya. Yang peduli kepada saudaranya yang masih hidup dalam situasi miskin dan bodoh di alam yang sudah merdeka ini.

Semula Utary Tjandra enggan tetapi kemudian bersedia untuk sedikit bercerita tentang apa guna data-data itu setelah dia ingat bahwa ada perintah dari Sang Maha Kuasa untuk selain memberi juga mendorong orang lain agar memberi fakir miskin. Dengan bercerita, dia berharap bahwa ia juga mendorong atau menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama. Dengan adanya data itu – menurut Ayie sebutan akrab Utary Tjandra - ia bisa banyak berbuat. Yang pertama, dana yang dimilikinya dapat disalurkan kepada mereka yang berhak tanpa ada keraguan lagi karena datanya langsung ia peroleh dari pengurus posyandu yang memang sehari-hari mengetahui siapa saja yang miskin di wilayahnya. Yang kedua, sesuai dengan perintah Tuhan Semesta Alam, ia tidak boleh sendirian memberi sebab kalau suatu saat ia mati kegiatan itu akan putus. Dengan kata lain ia perlu mengajak keluarga dan sahabatnya untuk bersama dan atau sendiri-sendiri memberikan hak orang miskin yang dititipkan Tuhan Semua Manusia kepada mereka masing-masing. Dengan modal data itulah ajakannya menjadi lebih efisien dan efektf alias tidak omong doang karena ada bukti di atas kertas.


Antara Motivasi Dan Skala Prioritas


Sudah sejak kecil ia diberi contoh dan diajak oleh orang tuanya – yang saat itu tinggal di Jalan Semeru Bogor dan kemudian di Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta - untuk selalu peduli kaum fakir miskin. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya ia pun menyadari bahwa walaupun ikhlas memberi tetapi akal tetap harus digunakan sehingga tidak asal memberi. Kata “memberi” yang diyakininya adalah memberi kepada pihak-pihak yang paling membutuhkan dan memberi manfaat jangka panjang bagi pihak-pihak tersebut secara khusus dan terutama memberi manfaat kepada bangsa Indonesia. Iapun lantas terjun langsung melihat profil kemiskinan, mendatanya dan kemudian memberikan santunan pribadinya. Itu berlangsung cukup lama terutama ia lakukan di wilayah Jakarta Selatan di mana ia bermukim.

Sewaktu terjun langsung itulah Utary yang kini tinggal di Cipete Jakarta Selatan terperangah melihat kemiskinan yang diderita bangsanya. Menurut ceritanya ia sempat melihat orang yang hidup serumah berdampingan dengan kambing. Mengapa ? Karena miskinnya, maka rumahnya dijadikan sekaligus kandang kambingnya. Masih ada cerita-cerita lain yang ia peroleh selama ia beranjangsana ’turun ke bawah’ itu. Semuanya membuatnya bertambah bersyukur kepada Tuhan atas pemberiaNya. Dan selanjutnya ia ingin mewujudkan rasa syukurnya itu dengan aksi nyataYaitu menafkahkan sebagian besar hartanya kepada mereka.

Ketika ditanya apa motivasi semua ini, Utary yang menjawab tidak secara langsung mengatakan bahwa selain cinta anak kecil, ia juga pernah bertanya kepada Tuhan Semesta Alam mengenai apa yang harus dikerjakannya seimbang dengan harta yang dianugerahkan kepadanya. Baik berupa harta benda dalam pengertian fisik maupun harta yang berupa kepandaian, relasi, waktu dan energi. Jawab yang diperolehnya ialah bahwa ia harus menjadikan harta kekayaannya lebih bermanfaat kepada pihak-pihak yang benar-benar membutuhkan. Artinya lebih mengutamakan skala prioritas. Ia kemudian mencoba bertanya ke sana-sini mengenai skala prioritas itu. Jawabnya adalah orang miskin yang tidak mendapat bagian atau dengan kata lain tidak mampu untuk meminta bagiannya kepada pihak yang mempunyai kemampuan untuk membantu. Siapa orang miskin yang tidak mendapat bagian itu ?. Akhirnya terjawab pula yaitu bayi dalam kandungan orang miskin dan balita anak orang miskin (baik yang orang tuanya ada maupun yang yatim/piatu). Mengapa mereka dapat dianggap prioritas ? Merekalah yang di masa depan akan menentukan nasib bangsa ini mau dibawa ke mana. Merekalah yang akan menjadi mitra anak-cucu kita, baik sebagai atasan, bawahan ataupun teman sekerja. Kalau mereka bodoh karena kurang gizi di waktu kecilnya, maka kelak saat menjadi mitra anak cucu kita, mereka akan menjadi manusia yang tidak produktif bahkan bisa berpeluang merusak apa yang dibangun kita dan anak-cucu kita. Tentunya akan menyusahkan anak-cucu kita pula di masa mendatang itu.

Bayangkan, jika seorang pengemis tidak memiliki biaya untuk memberikan gizi yang cukup,pada anak-anak mereka, yang lebih dari satu jumlahnya. Masalahnya tidak akan sesederhana ini, dampaknya selain terganggunya kesehatan mereka, juga akan menurunkan tingkat kecerdasan berfikir dan emosinya. Lalu ketika mereka besar, karena tak bisa merasakan pendidikan yang normal di bangku sekolah, bisa jadi mereka akan terus berada dari lintasan kebodohan dan kemiskinan, dan bisa jadi akan terjebak ke dalam “kemiskinan abadi”.

Lantas di mana mereka yang prioritas itu berada ? Jawabnya di posyandu. Sekedar diketahui, secara teoritis, paling tidak ada 2 (dua) hal yang membuat anak tidak cerdas, yaitu (1) gizi yang baik semasa balita, serta (2) pendidikan yang memadai. Dengan dua hal tersebut, kemiskinan bisa diatasi secara perlahan-lahan. Dengan demikian, program nasional atau gerakan masyarakat pemberian gizi tambahan untuk balita miskin yang dikelola secara terpadu melalui posyandu atau posdaya (pos pemberdayaan keluarga) menjadi salah satu upaya penting dalam menanggulangi kemiskinan masa depan bangsa.

Lalu bagaimana kondisi posyandu dewasa ini ? Ternyata kenyataan menunjukkan bahwa kepedulian warga kepada yang prioritas ini masih rendah. Buktinya apa ? Belum banyak yang peduli kepada 4 juta balita miskin yang 790 ribuan di antaranya kurang gizi dan pemerintah hanya sanggup menangani 29 ribuan balita saja. Lantas siapa yang peduli ? Bukankah kemiskinan menjadi tanggung jawab semua anak bangsa bukan hanya pemerintah saja ? Bukankah untuk mengubah akhlak dan kondisi suatu bangsa ini harus dimulai sejak anak kecil ? Bukankah yang bisa merubah nasib suatu bangsa adalah bangsa itu sendiri dan bukan bangsa lain ? Bukankah yang bisa mengubah nasib manusia di suatu kampung atau daerah adalah orang daerah atau kampung itu sendiri dan bukan orang lain? Itulah yang dilihat dan dirasakan oleh Utary dan itulah yang kemudian menjadikan Utary termotivasi untuk terjun langsung memberdayakan dirinya dan juga kerabat serta temannya untuk mengurangi beban anak cucu di masa depan akibat ketidakpedulian umumnya warga Indonesia. Program aksinya sederhana saja, sebagaimana telah ia utarakan sebelumnya, yaitu memberi dan menganjurkan untuk memberi agar penanganan kemiskinan menjadi budaya bangsa.


Jadilah Dia Disebut Ratu Penebar Virus Peduli Prasejahtera


Di kalangan kawan-kawannya Utary Tjandra - yang menikah dengan Teddy Tjandra teman SMP dan tetangganya di Jalan Teuku Umar Jakarta itu - dikenal termasuk manusia yang maniak melakukan pemberdayaan masyarakat melalui posyandu, baik dilakukannya sendiri maupun dengan mengajak kawan-kawannya. Kini paling tidak 18 orang kawannya – baik pengusaha maupun profesional - ikut memberikan kontribusi baik dalam kebersamaan maupun sendiri-sendiri dengan wilayah wilayah yang meliputi DKI, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, Kalbar, Jambi, Sumsel dan Lampung.

Karena prestasi yang diraihnya dalam mengumpulkan data, menyantuni dan kemudian mengajak orang lain untuk ikut menyantuni puluhan ribu fakir miskin pengunjung posyandu itulah maka kawan-kawannya menggelarinya Ratu Penebar Virus Peduli Prasejahtera dari Cipete Jakarta.

Dijuluki gelar itu, Utary yang almarhum suaminya menciptakan software Quranku - tertawa saja sambil berucap ” Alhamdullilah”.


Harapannya Ke Depan


Sebagai putera bangsa Indonesia yang belajar dan berusaha untuk bertakwa kepada Tuhan Semesta Alam, Utary ingin mengajak dirinya dan juga kerabat dan kawan-kawannya untuk terjun langsung menangani kemiskinan. Dimulai dengan pendataan yang benar dan akurat. Dilanjutkan dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan dan diakhiri dengan mengajak orang lain.

”Kalau kegiatan itu menjadi budaya bangsa, apalagi sejak masih anak-anak, ” Kata Utary, ” Insya Allah, Indonesia di masa depan akan bebas dari kemiskinan dan kebodohan”









Ditulis oleh Jon Posdaya / Sri Posdayawati/ Sastrawan Batangan, 18 September 2009, berdasarkan wawancara langsung dengan Utary Tjandra serta informasi dari beberapa orang yang mengenal sepak terjangnya.

Catatan :


(1) Rekapitulasi 249 posyandu dari total 286 posyandu yang pernah dan sedang ditangani oleh Utary Tjandra & kawan-kawannya (s/d Akhir Agustus 2009)

  • Kel. Balumbang, Kec.Bogor Barat, 12 posyandu, 889 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Situ Gede, Kec.Bogor Barat, 10 posyandu, 835 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Sindang Barang, Kec.Bogor Barat, 15 posyandu, 1277 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Bubulak, Kec.Bogor Barat, 13 posyandu, 1158 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Loji, Kec.Bogor Barat, 14 posyandu, 1183 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Gunung Batu, Kec.Bogor Barat, 14 posyandu, 1873 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Semplak, Kec.Bogor Barat, 10 posyandu, 920 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Pakuan, Kec.Bogor Selatan, 8 posyandu, 373 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Empang, Kec.Bogor Selatan, 23 posyandu, 1220 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Bojong Kerta, Kec.Bogor Selatan, 14 posyandu, 839 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cipaku, Kec.Bogor Selatan, 18 posyandu, 1079 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Paledang, Kec.Bogor Selatan, 13 posyandu, 710 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Genteng, Kec.Bogor Selatan, 14 posyandu, 710 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Tegal Lega, Kec.Bogor Tengah, 17 posyandu, 951 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Babakan Pasar, Kec.Bogor Tengah, 15 posyandu, 757 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cimahpar, Kec.Bogor Utara, 20 posyandu, 1666 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. Cilebut Timur, Kec.Sukaraja, 10 posyandu, 830 orang balita dan ibu hamil
  • Kel. JogJogan, Kec.Cisarua, 9 posyandu, 752 orang balita dan ibu hamil

(2) Daftar alamat posyandu berikut nama balita dan ibu hamil prasejahtera, serta nama dan hp pengurus posyandu, yang diperlukan bagi siapa saja yang ingin mengadopsi atau menyebarluaskan kegiatan ini - dapat diperoleh dari Tim Teknis (Sdr Aji, 0251-8318491)

(3) Informasi lebih detil dapat diakses dari http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Baca selanjutnya.....

Rabu, September 16, 2009

Posyandu Kekurangan Dana Untuk Menangani Ibu Hamil, Balita dan Lansia Miskin / Prasejahtera ? : Heriyadi Priyatna Punya Solusinya

0 komentar

Banyak Posyandu Dalam Situasi Buah Simalakama


Kebanyakan nasib posyandu seperti buah simalakama. Diperlukan masyarakat prasejahtera tetapi kurang dipedulikan warga sejahtera yang berada di lokasi di mana posyandu tersebut berada. Apa buktinya? Kita lihat saja banyak posyandu yang hidup dengan biaya disubsidi oleh para pengurusnya. Kalau pengurus posyandu kebetulan termasuk kalangan yang berada, mungkin kondisi pelayanannya masih akan mendekati standar. Namun bagaimana kalau pengurusnya sendiri termasuk kategori miskin dan itu terletak di daerah miskin pula ? Dapat dibayangkan bahwa pelayanannya akan jauh di bawah standar. Artinya PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang diperlukan untuk menjaga kestabilan gizi para pengunjung posyandu dari kalangan prasejahtera akan jauh dari memadai. Boleh jadi karena kekurangpedulian warga sejahtera itulah maka dari 260 ribuan posyandu yang pernah dibentuk di Indonesia, saat ini hanya 50% saja yang dikabarkan hidup.


Memang ada posyandu di beberapa daerah miskin menerapkan tanpa paksaan dari para pengunjungnya untuk menyumbang Rp 1000 sekali datang (umumnya sebulan sekali). Namun tetap saja tidak memadai sebab rata-rata PMT standar bernilai sekitar Rp 3000,- (bubur kacang ijo, susu bantal dan buah). Tentunya kekurangan Rp 2000 harus ditomboki sendiri oleh para pengurusnya. Dan seperti diutarakan di atas, di wilayah miskin di mana pengurusnya juga kekurangan, hal itu sulit dipenuhi.


Dua Alternatif

Menghadapi situasi kekurangan dana seperti itu tentunya para pengurus posyandu perlu mengembangkan berbagai kiat untuk mengatasinya. Alternatif pertama adalah menyadarkan warga yang sejahtera di lokasi di mana posyandu itu berada. Alternatif kedua, kader posyandu mencari sumber dana sendiri.

Nah, sambil menunggu kesadaran warga sejahtera agar turut memberikan kontribusinya, yang tentu saja memerlukan usaha keras dari para tokohnya, salah satu sukarelawan kita dari Semplak Bogor, Heriadi Priyatna, yang didukung oleh timnya, telah membantu beberapa posyandu untuk menggali sumber dana sendiri. Dalam hal ini Heriyadi mengembangkan beberapa jenis usaha kecil yang bisa dikerjakan secara mandiri oleh para kader posyandu. Sementara ini yang telah diperkenalkannya adalah produksi sabun cair untuk cuci piring.

Dengan memproduksi dan menjual sabun cair cuci piring dengan harga yang lebih murah dari umumnya sabun cuci piring cair komersial, posyandu mendapatkan dana tambahan untuk mengongkosi kegiatannya. Cukup lumayan.

Masih ada jenis usaha lain, kata Heriyadi, yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mendanai posyandu yang warga sejahteranya belum peduli. Di antaranya adalah produksi kue-kue dan keripik.


Heriyadi Siap Membantu

Heriyadi, yang aktif memberdayakan masyarakat sejahtera agar peduli sejahtera di wilayah Bogor dan sekitarnya telah mengadakan beberapa kali pelatihan usaha kecil pendukung posyandu. Beberapa di antaranya dilakukan di :

  • Posyandu Mawar II Semplak, Juni 2009
  • Posyandu Anggrek II, Desa Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, 29 Juli 2009
  • Posyandu Sleman, 15 Agustus 2009
  • Posyandu Anggrek RW 10 Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Semplak Kota Bogor (30 orang peserta), 5 September 2009
  • Posyandu di Majalaya, Kabupaten Bandung, 7 Agustus 2009.
  • Posyandu sekelurahan Panaragan Bogor, Sabtu 12 September 2009 (diikuti oleh Ibu Lurah, Bidan, Kepala PAUD dan kader Posyandu)

Selanjutnya Heriyadi menyatakan bahwa ia siap melatih kader posyandu lainnya dalam usaha untuk mengatasi kesulitan dana itu. Namun ia baru akan datang bilamana syarat-syarat yang diajukannya dipenuhi. Syarat pertama, posyandu harus mengajukan permintaan untuk pelatihan usaha kecil pendukung posyandu (dengan peserta minimal 10 orang). Syarat kedua, posyandu tersebut harus mendata warga miskin yang ada di wilayah posyandu (ibu hamil, balita dan lansia).


Ditulis oleh Jon Posdaya/Sri Posdayawati/Sastrawan Batangan, September 2009.


Catatan :

  • Heriyadi Priyatna dapat dihubungi melalui Tim Teknis Posdaya (0251-8318491)
  • Informasi lainnya disajikan di http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Baca selanjutnya.....

Senin, September 14, 2009

Melalui 150 Guru Agama, Paling Tidak 10 Ribuan Siswa Di Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo Dan Sumenep Diharapkan Berdayakan Diri Cegah Kemiskinan

0 komentar

Hikmah Pelatihan Pemahaman Kitab Suci (Al Quran) Dan Al Hadits Untuk Para Guru Agama / Fasilitator Pemberdayaan, Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, 8 Agustus 2009.


Asal Muasal

Kemiskinan dan kebodohan tak disangsikan lagi telah menyebabkan ketidakstabilan dalam perikehidupan manusia. Karena miskin dan bodoh, banyak timbul keonaran di muka bumi ini sehingga semuanya merugi termasuk orang yang ”kaya” dan pintar” . Tindakan untuk mengatasinya bukannya tidak pernah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah. Pernah dan sering. Namun kenyataan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan itu seringkali hanya didasarkan pada pendekatan teknis, ekonomis dan sosial saja. Belum menyentuh persoalan yang paling mendasar, yakni jiwa yang menjadi basis untuk mengubah kondisi miskin dan bodoh itu. Baik jiwa si miskin dan bodoh maupun jiwa si kaya dan pintar, dua-duanya belum banyak tersentuh. Dan karena jiwa belum tersentuh itulah maka bergulirlah kemiskinan dan kebodohan yang ujung akhirnya adalah kerusakan.



Lantas bagaimana solusi yang lebih baiknya ? Sederhana saja, yaitu mengkaitkan kegiatan teknis, sosial dan ekonomis yang selama ini telah dilakukan dengan pendekatan religius yang “menyentuh” jiwa sehingga si miskin dan bodoh mau dan mampu mengeluarkan dirinya sendiri dari kondisi miskin dan bodohnya sementara yang kaya dan pintar mau dan mampu memberdayakan dirinya untuk ikut memfasilitasi si miskin dan bodoh itu. Kedua golongan itu bertemu bukan untuk bertentangan tetapi justru bersinergi.

Berdasarkan pengamatan di berbagai tempat, pendekatan ini relatif ”mujarab” karena menghasilkan manusia-manusia lokal yang menyadari bahwa pada dirinya terdapat hak orang miskin dan menyadari bahwa selain memberi juga harus menganjurkan atau mengajak orang lain untuk memberikan sebagian hartanya (termasuk pemikiran dan tenaganya) kepada orang lain yang tidak mampu. Karena kehadiran jenis manusia seperti ini di lokasi masing-masing, maka penanganan kemiskinan tidaklah harus menunggu turun tangannya orang dari tempat jauh. Manusia-manusia yang telah sadar diri di lokasi itulah yang lebih dahulu turun tangan menanganinya dengan cara mengajak kawan atau keluarga dekatnya untuk turut serta memberikan kontribusinya.

Karena tidak mungkin pendekatan model ini bisa dilakukan secara keseluruhan dalam waktu yang singkat maka mau tidak mau prioritas mesti dilakukan. Dalam hal ini sangatlah penting peran guru agama sehingga merekalah yang perlu didahulukan dalam gerakan pemberdayaan masyarakat tersebut. Melalui guru-guru agama inilah diharapkan penularan “virus berbuat baik’ bisa dilkukan lebih cepar.


150 Guru Agama Mengikuti Pelatihan Paham Qurani Komunitas Hatibening


Berdasarkan pemikiran seperti disebutkan di atas, Komunitas Hatibening yang berkedudukan di Surabaya bekerjasama dengan tokoh pemberdaya Arief Mulyadi dari Bogor, menyelenggarakan pelatihan sehari Paham Qurani pada tanggal 8 Agustus 2009 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Kegiatan yang diketuai Maskur Handoyo - tokoh pemberdaya di Gresik - ini diikuti oleh 150 orang (guru agama dari sejak TPA sampai dengan SLTA dan fasilitator pemberdaya berbasis masjid) yang berasal dari Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo dan Sumenep.

Tujuan utama Pelatihan Paham Qurani ini :

  • Membantu para guru, khususnya guru agama dengan berbagai modul pemahaman Al Quran dan Al Hadits untuk disampaikan kepada para siswanya dengan cara mudah sembari tetap pararel mempelajari bahasa Arab sehingga makin mendalam pengetahuannya tentang keaslian Kitab Allah itu.
  • Membantu para orang tua di sisa umurnya yang kesulitan mempelajari bahasa Arab untuk lebih cepat memahami Al Quran dan Al Hadits – sebelum keburu mati- melalui terjemahannya sembari tetap mempelajari Al Quran dan Al Hadits dalam bahasa aslinya.
  • Meminta bantuan para ahli hadits untuk mencari berbagai hadits yang sesuai dengan ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan masalah perikemanusiaan.
  • Mewujudkan keberdayaan diri masing-masing untuk berbuat baik dan mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan karena Allah mempersyaratkan bahwa pemahaman Al Quran dan Al Hadits baru bisa diperoleh jika seseorang yang bertakwa selalu berbuat kebaikan.

Metode yang digunakan dalam pelatihan tersebut adalah ayat dijelaskan oleh ayat lainnya dengan menggunakan Al Quran Madinah (Al Quran terjemahan yang telah dilegitimasi oleh Raja Arab Saudi) serta Al Hadits sebagai tambahan referensinya. Dengan cara ini interpretasi manusia bisa dihindari agar tidak salah tafsir

Pelatihan gratis ini disponsori oleh beberapa ihwan yang menyadari bahwa kemiskinan dan kebodohan menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Dan agar tanggung jawab tersebut disadari secara bersama, maka peran sentuhan kalbu oleh firman-firmanNya amat diperlukan.


Paling Sedikit 10 Ribu Siswa Semoga Tetular


Dengan ikut sertanya 150 orang guru ini dalam pelatihan ini, maka tercatat paling sedikit 10 ribuan siswa binaan para guru tersebut yang bakalan akan menerima materi yang sama. Diharapkan dengan sedari kecil atau sedari dini mereka belajar memahami Al Quran dan Al Hadits, peran mereka sebagai manusia yang membawa rahmat bagi lingkungannya akan meningkat. Khususnya dalam menangani masalah kemiskinan yang masih meliputi sekitar 17 persen bangsa Indonesia.

Sebagai catatan, kegiatan pelatihan Pemahaman Qurani (Pemahaman Al Quran dan Al Hadits) berbasis berbuat baik untuk para guru agama itu sebelumnya telah dilaksanakan di berbagai kota. Antara lain di Banten, Palembang, Purworejo (Jateng), Bandung, Jakarta. Sementara itu pelatihan yang sama untuk umum juga telah berlangsung di banyak tempat di Indonesia. Keseluruhannya ditujukan agar jiwa bangsa Indonesia tersentuh untuk memberdayakan dirinya menangani kemiskinan dan kebodohan sebagai wujud memahami Kitab Suci Allah.

Sastrawan Batangan / Jon Posdaya / Sri Posdayawati, September 2009 / http://www.mariberposdaya.blogspot.com


Catatan :

  • Fasilitas gratis yang diberikan berupa uang saku sebagai ganti transportasi, materi pelatihan dan peralatan tulis, Al Quran dan terjemahannya dan cd program Qurani karya almarhum Teddy Chandra serta konsumsi (makan siang dan makanan ringan).
  • Panitia : Maskur Handoyo (Ketua), Edy Yusuf (Wakil Ketua), Yusron Hidayat (Sekretaris I), Moch Basori (Sekretaris Ii), Heruwati (Bendahara I/Acara), Masrul (Bendahara Ii/Dana), Zainuri (Dokumentasi & Publikasi), Ny. Masrul (Konsumsi), Makhin (Perlengkapan), Aji Setiyo (Transportasi), Imron (Umum)
  • Penjelasan lebi lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi : 1) Edy Yusuf, Jl. Laksda M Nazir 29, Blok E-18 Lantai 2, (031) 3281019, Fax. (031) 3282964 Surabaya, 2) Nuryanto, Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo 999, Sumber-Desa Kembangan, Depan Kpu Gresik, (031) 72405115,Hp:081330013383, Email:Remajapedulisesama@Yahoo.Com, 3) Yusron Hidayat, Jl. Diponegoro Jetis Gg. 2/55, (031)8952786, Sidoarjo, 4) Zulkifli, (031)71647592, Hp: 085231304191, Sumenep Madura, 5) Email: Hatibeningku@Gmail.Com, Hatibeningku.Wordpress.com



Baca selanjutnya.....

Sabtu, September 05, 2009

Saat Masjid Memberdayakan Masyarakat – Sejak Masih Anak - Bergotongroyong Peduli Lingkungan

1 komentar


Kelanjutan Program Posdaya di Masjid Baiturrahman, Dukuh Sembung,
Desa Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.

Hari itu, 14 Agustus 2009, banyak orang bungah dan sekaligus tergugah. Betapa tidak, hari itu telah ditandatangani dan sekaligus direalisasikan berbagai kontrak kemitraan pemberdayaan masyarakat oleh masjid Baiturrahman di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan warga sekitar lokasi masjid. Salah satu kontrak yang dilakukan oleh Masjid tersebut adalah dengan 7 sekolah (dari TK sampai dengan SD) dan 3 kelompok remaja yang melibatkan 244 orang siswa /remaja untuk secara serempak melakukan gotong royong membersihkan sekolah masing-masing secara bergantian.


Ke 244 orang peserta, yang berdasarkan kontrak tersebut akan melakukan 6 kali kegiatan gotong royong, terdiri dari siswa-siswi TK Sukorini (38 orang), TK ABA (49 orang), SDN Selomulyo (25 orang), SDN Sukomulyo (25 orang), MI Darul Huda (25 orang), SDN Seloharjo (25 orang), SDN Sukosari (25 orang), Remaja Masjid tingkat SD (10 orang), Remaja Masjid tingkat SLTP (10 orang) dan Remaja Masjid tingkat SLTA (12 orang). Bersama-sama mereka membersihkan sekolah dan Kantor desa dengan jadwal sebagai berikut :

  • 14 Agustus 2009, SDN Selomulyo
  • 9 Oktober 2009, SDN Sukomulyo
  • 23 Oktober 2009, MI Darul Huda
  • 6 November 2009, SDN Seloharjo
  • 20 November 2009, SDN Sukosari
  • 15 Desember 2009, Kantor Desa Sukoharjo

Selain kegiatan gotong royong, yang dikoordinasikan oleh Suyadi S.Pd. tersebut, Masjid Baiturrahman juga menyelenggarakan kontrak kemitraan dengan warga dalam beberapa hal, yakni :

  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli kesehatan dasar melalui pemberian contoh makanan sehat kepada 122 orang warga prasejahtera (9 orang ibu hamil, 46 orang balita dan 67 orang lansia) di posyandu setempat.
  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli pendidikan melalui kegiatan : a) pembinaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di mana di tempat itu terdapat 29 orang anak usia dini yang menjadi pesertanya, b) pemberian beasiswa kepada 102 orang siswa miskin (prasejahtera) serta c) pemberian honor tambahan bagi guru-guru yang berstatus honor
  • Pemberdayaan masyarakat agar peduli ekonomi warga prasejahtera melalui koperasi posdaya
Kegiatan yang disponsori oleh Yayasan Damandiri dan diharapkan setelah 3 bulan akan dilanjutkan secara mandiri oleh warga setempat tersebut seluruhnya dikoordinasikan oleh H. Ir.Wiratno yang bertindak sebagai Ketua Posdaya Berbasis Masjid Baiturrahman. Sedangkan Tim Teknis yang mendapatkan amanah dari Yayasan Damandiri untuk memfasilitasi kegiatan pemberdayaan ini terdiri dari Soleh Kusmana, Heriyadi Priatna, Arief Muttaqien, dan Iza Akmariza.

Khusus untuk kegiatan peduli kesehatan dasar, pernah dilakukan oleh Masjid Baiturrahman – bekerjasama dengan Yayasan Damandiri dan Yayasan Tatang Nana – pada awal tahun 2007. Bibit-bibit keberdayaan banyak bermunculan di antara warga lokal dan itulah yang dipantau oleh Yayasan Damandiri yang akhirnya memutuskan untuk melakukan pengembangan ke berbagai bidang pemberdayaan.

Mengapa Masjid Baiturrahman melakukan kegiatan seperti itu? Paling tidak ada tiga hal yang menjadi landasan, yaitu bahwa : 1) pendidikan kebersihan dan peduli lingkungan perlu diberikan sejak anak-anak berusia dini, 2) dengan bersama-sama bergotong royong, para siswa / remaja menjadi saling kenal dan karena saling kenal itulah maka intensitas tawuran diharapkan akan berkurang, 3) masjid sudah selayaknya menjadi sarana pemberdayaan masyarakat secara nyata sebagai bukti bahwa ketakwaan kepada Allah swt.

Semoga kiprah Masjid Baiturrahman dapat lestari dan menjadi maskot bagi tumbuhnya hal serupa di rumah-rumah ibadah lainnya untuk membuktikan bahwa rumah ibadah berfungsi membawa rahmatNya bagi semesta alam

Bogor, 6 September 2009 (Sastrawan Batangan/Jon Posdaya/Sri Posdayawati)

Catatan : Informasi lainnya dapat diperoleh di http://www.mariberposdaya.blogspot.com











Baca selanjutnya.....

Minggu, Agustus 23, 2009

Cegah ‘Sudah Jatuh Tertimpa Tangga’ Dengan Beasiswa & Pemberdayaan Siswa Miskin

0 komentar

Peluncuran Program Posdaya Berbasis Masjid Baitul Mukmin, Kelurahan Citerep, Kecamatan Ciruas, Serang, Banten

Marilah di bulan Ramadhan ini kita evaluasi, apakah kepedulian kita selama ini sudah sampai kepada mereka yang termasuk golongan orang miskin yang tidak minta-minta dan tidak mendapatkan bagian sebagaimana disebutkan oleh Tuhan Semesta Alam dalam firmanNya : ’Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian ’ (QS 51 : 19).


Sudah Jatuh Tertimpa Tangga ?

“Sudah jatuh tertimpa tangga pula”, itulah peribahasa yang populer digunakan masyarakat untuk menggambarkan peristiwa kemalangan yang datang bertubi-tubi. Dan inilah pula - yang kalau kita mau mengamatinya - terjadi pada anak miskin (prasejahtera) sehingga peribahasa itu bisa kita kembangkan menjadi “sudah miskin bodoh pula, mana mungkin mereka bisa berprestasi ?”

Mengapa terjadi demikian ? Sederhana jawabnya, yaitu jika orang tua miskin, maka umumnya anak-anak mereka kekurangan gizi sehingga cenderung bodoh. Karena bodoh maka mereka bersekolah di sekolah yang “kurang bermutu” karena sekolah yang “bermutu” tak mau mengambil resiko menampung orang “bodoh”. Kalaupun mereka masuk sekolah bermutupun, sekolah mereka jarang yang memberi beasiswa kepada anak “tidak berprestasi”. Beasiswa seringkali diberikan kepada anak yang dinilai pintar, bukan bodoh. Dan akhirnya kalaupun lulus, anak-anak yang termasuk kategori demikian, ya lulus apa adanya. Lantas bekerjapun juga apa adanya. Kalau pun tidak semuanya, ya terjadilah pengangguran.

Mereka adalah bagian masyarakat yang termarjinalkan yang seringkali dihinggapi perasaan putus asa dalam memahami hidupnya. Karena keputusasaan inilah, mereka gampang sekali diiming-imingi setan dengan mimpi kehidupan ”surga” di tempat lain. Karena mimpi indah itulah setan berhasil menggiring mereka untuk berbuat nekad yang berbentuk kekerasan kepada lingkungan dan atau membunuh dirinya sendiri. Rusak lingkungan dan rusak diri sendiri, itulah yang terjadi. Inilah yang disebut orang sebagai kenyataan yang terjadi akibat adanya ”lingkaran kemiskinan-kebodohan” di mana orang yang berada di dalamnya susah sekali keluar darinya.

Apakah kita hanya memperhatikan anak yang berprestasi saja ? Apakah kita yang termasuk kategori manusia yang sejahtera hanya berdiam diri saja ? Walaupun di sekolah sudah ada BOS dan bebas SPP, namun siapakah yang memikirkan gizi, buku, seragam anak-anak yang termasuk kategori miskin itu ?

Kepedulian Masjid Baitul Mukmin, Ciruas, Serang

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Mukmin, di Ciruas, Serang yang menyadari bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah saja, telah melaksanakan program penanganan siswa miskin ini per Juli 2009. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Damandiri melalui Program Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga) Berbasis Masjid.

Dalam kegiatan ini, kepada 115 orang siswa miskin diberikan beasiswa yang berkisar antara Rp 20 ribu sampai dengan Rp 75 ribu per bulan selama 3 bulan dengan distribusi sebagai berikut :

  • TK Khoerunnas Ciruas, Jl. Raya Serang - Jakarta Km. 09 Kubangawan Ciruas, 10 orang
  • TK PGRI Ciruas, Jl. Cipta Yasa Kp. Tegal Jetak Ds. Citerep Kec. Ciruas Kab. Serang - Banten 42182, 10 orang
  • SDN Ciruas I, Ds. Citerp Kec. Ciruas - Serang, 10 orang
  • SD Khoerunnas, Jl. Raya Serang - Jakarta Km. 09 Kubangawan Ciruas, 10 orang
  • SDN Tegal Jetak, Jl. Cipta Yasa Kp. Tegal Jetak Ds. Citerep Kec. Ciruas Kab. Serang - Banten 42182, 15 orang
  • SD IT Ibadurrahman, Jl. Kubangawan No. 81 Ciruas - Serang, 10 orang
  • MTs Assalam, Jl. Cipta Yasa Kp. Tegal Jetak Ds. Citerep Kec. Ciruas Kab. Serang - Banten 42182, 10 orang
  • SMPN I Ciruas, Jl. Raya Serang - Jakarta Km. 07 , 10 orang
  • SMP Putra Bangsa, Jl. Raya Jakarta Km. 09 Ciruas 42182, 10 orang
  • SMA Putra Bangsa , Jl. Raya Jakarta Km. 09 Ciruas 42182, 10 orang
  • SMK Putra Bangsa , Jl. Raya Jakarta Km. 09 Ciruas 42182, 10 orang

Setiap siswa yang diberi beasiswa diberi tanggung jawab untuk menjaga kebersihan. Untuk siswa sampai dengan kelas 5 SD bertanggung jawab atas kebersihan kelasnya. Sedang untuk siswa kelas 6 SD sampai dengan SMA bertanggung jawab atas kebersihan halaman sekolahnya masing-masing. Kemudian untuk memantaunya, beberapa guru honor (guru yang masih belum permanen) juga dilibatkan dalam kegiatan. Kepada masing-masing guru honor (yang umumnya berhonor kecil) ini juga diberikan dana santunan selama 3 bulan.

Sementara itu untuk meningkatkan rasa persaudaraan siswa antar sekolah sehingga mengurangi kemungkinan tawuran, juga dilaksanakan program gotong royong siswa yang diikuti oleh sekitar 340 siswa (per sekolah rata-rata 40 siswa) dari sekolah-sekolah yang siswanya mendapatkan beasiswa tersebut di atas. Secara bergantian, 340 siswa tersebut bekerjabakti membersihkan setiap sekolah secara bergilir. Jadwal kegiatan gotong royong - yang dikoordinasikan oleh Humaidi SE (Koordinator Beasiswa Posdaya) - ini adalah sebagai berikut:

  • 24-Jul-09, SMPN I Ciruas
  • 31-Jul-09, SMP Putra Bangsa
  • 7-Aug-09, SDN Ciruas I
  • 2-Oct-09, SD Khoerunnas
  • 9-Oct-09, SDN Tegal Jetak
  • 16-Oct-09, MTS Assalam
  • 23-Oct-09, SD IT Ibadurrahman
  • 30-Oct-09, SMA dan SMK Putra Bangsa
  • 6-Nov-09, SMPN I Ciruas
  • 13 Nop 20009, SMP Putra Bangsa
  • 20-Nov-09, SDN Ciruas I
  • 4-Dec-09, SD Khoerunnas

Khusus gotong royong antar TK yang dikoordinasikan oleh Kholis Yati (Kepala TK Khoirunnas Ciruas) dan Yuniami (Kepala TK PGRI Ciruas) dijadwalkan sbb :

  • 23-Jul-09, TK PGRI Ciruas
  • 30-Jul-09, TK Khoirunnas Ciruas
  • 6-Aug-09, TK PGRI Ciruas
  • 13-Aug-09, TK Khoirunnas Ciruas
  • 7-Oct-09, TK PGRI Ciruas
  • 15-Oct-09, TK Khoirunnas Ciruas

Pemberdayaan Masyarakat Secara Total

Selain kegiatan memberikan beasiswa untuk siswa miskin, melaksanakan gotong royong siswa antar sekolah, memberikan santunan untuk guru honor, Program Posdaya Berbasis Masjid di Masjid Baitul Mukmin, Kelurahan Citerep, kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang ini juga melakukan kegiatan peduli posyandu (dengan memberikan contoh makanan bergizi kepada 11 orang ibu hamil, 101 orang balita dan 53 orang lansia miskin di Posyandu Flamboyan), bimbingan teknis PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk anak miskin dan pemberdayaan koperasi agar memberikan kontribusinya untuk menangani warga miskin.






Semua kegiatan tersebut di atas selama 3 bulan difasilitasi oleh Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid dengan dana yang berasal dari Yayasan Damandiri. Setelah 3 bulan, kegiatan tersebut diharapkan akan ditangani langsung dan didanai oleh masyarakat setempat atau oleh warga tempat lain yang berasal atau mempunyai kaitan dengan wilayah Ciruas, Serang dibawah koordinasi Masjid Baitul Mukmin yang dalam hal ini diketuai oleh H Amin Isro. Untuk mempermudah proses operalih inilah maka Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid menyusun petunjuk teknis (juknis) yang dapat digunakan oleh para pengelola berikutnya. Semoga.

Sastrawan Batangan/Jon Posdaya/Sri Posdayawati, 23 Agustus 2009

Catatan :

  • Kader Posyandu Flamboyan, pelaksana Pemberian Contoh Makanan Bergizi terdiri dari : Ny. Roliyah, Ketua; Ny. Rosita, sekretaris; Ny. Faujah, Bendahara; Ny. Sukmanah, Anggota; Ny. Rumituningsih, Anggota
  • Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid terdiri dari : Tim Ababil (Soleh Kusmana, Hadiyono, Totok Soegiharto, Denny Sandyaputra, Heriyadi Priatna, Moch Endi Firdaus), Tim Hud-hud (Arief Muttaqien, Diaz Genaldy, Iza Akmariza, Yayan Aliyana, Iip Syarif Hidayat, Eeng Hendarusman), Tim BSB (Bermain Sambil Belajar) Plus Alang-alang (Anna Effana, Ismadi Dwiansyah, Karina Maharani, Nova Agnesha, St. Wullanifah, Nuralfianti, St. Huzaemah)
  • Informasi mengenai kegiatan Posdaya Berbasis Masjid di Masjid Baitul Mukmin, Ciruas, Serang, dapat diperoleh dari Bapak H Amin Isro (Ketua PPBM Baitul Mukmin), Humaidi SE (Koordinator Beasiswa Posdaya),



Baca selanjutnya.....

Minggu, Agustus 02, 2009

Posdaya | Qurrota Ayun Bangkit Membawa Rahmat Bagi Bedahan- Sawangan, Depok

2 komentar

Masjid, di zaman Nabi Muhammad SAW dan keempat sahabatnya tidak hanya menjadi bangunan untuk bershalat berjamaah saja. Semua hal yang menyangkut upaya untuk meningkatkan kesejahteraan umat di sekeliling masjid juga dirancang dan diorganisasikan di dalamnya. Maka jadilah masjid waktu itu mengurusi sekaligus dua kehidupan umat, yaitu dunia dan akhirat. Tidak hanya bermanfaat bagi segolongan umat saja, tetapi juga bagi seluruh umat tanpa membeda-bedakan asal-muasalnya. Mengapa ? Karena Nabi dan para sahabatnya selalu merujuk pada kalimat Allah bahwa siapapun manusia yang bertakwa harus berlaku adil kepada siapa saja.


Demikian pula jamaah Masjid Qurotta Ayun di Kelurahan Bedahan Kecamatan Sawangan Kota Depok. Pada Juli 2009 yang lalu mereka meningkatkan fungsi masjidnya sehingga menjadi basis bagi pemberdayaan warga sejahtera agar peduli memberdayakan warga prasejahtera. Jamaah sepakat untuk mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat paling tidak dalam 7 kegiatan yaitu : 1) peduli mengurusi posyandu tempat berkunjung ibu hamil, balita dan lansia miskin, 2) mengusahakan pemberian insentif kepada guru honor, 3) mengusahakan beasiswa bagi anak miskin, 4) kerja bakti siswa sekolah untuk meningkatkan kebersihan lingkugan dan kerukunan, 5) mengusahakan pendidikan anak usia dini (PAUD) terutama bagi kalangan balita miskin, 6) usaha kecil untuk pendukung kegiatan posyandu dan 7) koperasi yang melibatkan warga miskin dan sebagian sisa hasil usahanya dialokasikan untuk kaum prasejahtera.

Apa yang dilakukan pada bulan Juli 2009 tersebut tidak terjadi begitu saja. Awalnya pada tahun 2007, Yayasan Damandiri bekerja sama dengan Yayasan TatangNana mengintroduksikan konsep dan praktek posdaya (pos pemberdayaan keluarga) berbasis masjid kepada jamaah Masjid Qurota Ayun,. Kepada jamaah masjid pada waktu itu, Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid yang dikomandani Soleh Kusmana memperkenalkan sistem pendataan, perhitungan biaya, realisasi dan pelaporan program pemberian makanan sehat tambahan bagi ibu hamil, balita dan lansia miskin dengan melibatkan peran masyarakat sejahtera selaku tim pelaksana dan donatur.

Waktu dengan cepat berlalu, dan terakhir pada bulan Juli 2009 itulah, Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid, berdasarkan amanah dari Yayasan Damandiri, kembali datang untuk melanjutkan program percontohan posdaya ke berbagai kegiatan pemberdayaan lainnya. Dan tanpa rintangan, 7 (tujuh) kegiatan percontohan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dicantumkan di atas berhasil dilaksanakan.

Untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat sejahtera agar peduli masyarakat prasejahtera yang menjadi pengunjung Posyandu Anggrek II di RW-04, Tim Teknis melakukan penyegaran kembali konsep dan praktek yang tahun 2007 pernah diintroduksikan. Kali ini selama 3 bulan kepada 226 jiwa (26 bumil, 126 balita dan 74 lansia) diberikan contoh makanan sehat tambahan dengan harapan dapat segera menggugah hati kaum sejahtera di lingkungan sekitar agar ikut memberikan kontribusinya.

Untuk kegiatan pemberdayaan siswa sekolah agar peduli kebersihan dan agar rukun di antara sesama mereka, pada bulan Juli 2009 juga telah dilaksanakan program gotong royong yang dilakukan di 3 sekolah, yaitu di Yayasan Bina Sejahtera (Kamis, 11 Juli 2009), Yayasan Raudlatul Ulum (Sabtu, 13 Juli 2009) dan Yayasan Darul Quran (Minggu, 14 Juli 2009). Sementara itu gotong royong bergantian antar beberapa sekolah secara bersama baru pada tahap perintisan.

Untuk program PAUD, Tim Teknis Posdaya dibantu fasilitator BSB/PAUD dari Yayasan Alang-alang Ciawi Bogor mengintroduksikan konsep dan pengalaman berpraktek serta berbagai paket bermain sambil belajar kepada PAUD Saadatul Ummahat, Kel Bedahan Kecamatan Sawangan Kota Depok. Selain memberikan pembinaan kepada para guru di PAUD tersebut, fasilitator juga memberikan contoh pembimbingan langsung kepada para anak didik.

Dalam program pemberdayaan masyarakat agar peduli kepada siswa miskin, diberikan contoh pemberian beasiswa selama 3 bulan kepada 170 siswa (SD, SMP, SMA, SMK) yang tidak mampu (antara Rp 15.000,- s/d Rp 70 ribu per orang). Berbeda dengan umumnya program beasiswa, dalam program ini setiap siswa penerima beasiswa – sesuai dengan jenjang pendidikannya- diberdayakan dengan cara memberikan tanggung jawab yang berkaitan dengan kebersihan sekolah. Diharapkan dengan cara inilah akan terbentuk budaya ”tangan di atas”, bukan ”tangan di bawah”.

Sementara itu dalam program pemberdayaan masyarakat agar peduli kepada guru honorer, diberikan contoh pemberian honor kepada 8 orang guru di 3 sekolah selama 3 bulan @ Rp 125 ribu. Dalam hal ini sebagai umpan baliknya, setiap guru yang diberi honor tambahan diwajibkan memonitor siswa-siswa prasejahtera yang diberi beasiswa. Sekali lagi dengan tujuan untuk membentuk budaya ”tangan di atas”.

Selanjutnya untuk membantu kader posyandu agar dapat mengongkosi posyandunya, mereka telah dilatih cara memproduksi sabun cair pencuci piring. Menurut rencana mereka akan memproduksi dan menjual barang tersebut dengan harga yang lebih rendah daripada harga produk sejenis yang sudah ada di pasaran namun dengan kualitas yang sama sehingga menguntungkan warga miskin. Dengan cara inilah, selain meringankan beban rakyat miskin, para kader juga akan memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk keperluan posyandu.

Dan akhirnya untuk memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi, para jamaah sepakat untuk menghidupkan koperasi dengan visi dan misi yang diperbarui, yaitu menyertakan kepentingan warga miskin dalam kegiatan dan pembagian sisa hasil usaha. Diharapkan dengan aktifnya koperasi, selain mendapatkan dana abadi untuk membiayai kegiatan pemberdayaan masyarakat prasejahtera, warga masyarakat juga dapat melakukan kegiatan simpan-pinjam, memperoleh logistik (sembako) dengan harga murah serta dapat mengkoordinasikan produksi dan pemasaran produk-produk hasil warga setempat.

Itulah beberapa jenis ibadah sosial jamaah Masjid Qurrota Ayun sebagai upaya untuk menjadikan masjidnya membawa rahmat bagi semesta alam, khususnya alam sekitar Bedahan Sawangan Depok. ”Semoga bergulir dan menggiring keberdayaan seluruh masjid di sekitarnya” Demikian harapan seorang warga yang mengikuti langsung kegiatan ini kepada Mariberposdaya.

Bogor, 2 Agustus 2009.

Jon Posdaya/Sastrawan Batangan

Catatan :

1) Tim Teknis Posdaya Berbasis Masjid terdiri dari : Tim Ababil (Soleh Kusmana, Hadiyono, Totok Soegiharto, Denny Sandyaputra, Heriyadi Priatna, Moch Endi Firdaus), Tim Hud-hud (Arief Muttaqien, Diaz Genaldy, Iza Akmariza, Yayan Aliyana, Iip Syarif Hidayat, Eeng Hendarusman), Tim BSB (Bermain Sambil Belajar) Plus Alang-alang (Anna Effana, Ismadi Dwiansyah, Karina Maharani, Nova Agnesha, St. Wullanifah, Nuralfianti, St. Huzaemah).
2) Informasi mengenai kegiatan dapat diperoleh dari Bapak Zaid Jayadi / DKM Qurrota Ayun, Bedahan-Sawangan, Depok.



Baca selanjutnya.....