Selasa, Juni 30, 2009

Setitik Airmata Tak Mau Dusta

0 komentar

Suatu kali Jon Maslahat mengikuti acara pemberian bantuan dana pendidikan untuk murid-murid sekolah dasar dan guru honorer yang diselenggarakan oleh kantornya. Salah satu acara setelah pembukaan adalah pembacaan kalam Illahi yang terjemahannya adalah sebagai berikut :


(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama
(2) Itulah orang yang menghardik anak yatim,
(3) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
(4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(5) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
(6) orang-orang yang berbuat riya.
(7) dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Surat Al-Maa’uun / 107 :1-7).

Suasana begitu sendu dan banyak yang terisak, termasuk Pak Radaslama yang berdiri di sebelah kanan Jon Maslahat. Pak Radaslama adalah mantan pejabat tinggi suatu instansi pemerintah yang kini menjadi penasehat akhli di perusahaan di mana Jon Maslahat bekerja.

Jon Maslahat, seperti kena stroom. Ia mulai terhanyut oleh suasana sendu itu, namun hatinya berkata : “Jangan ikut cengeng..., Jon ! ”.

Ia pun lalu berusaha menahan diri sekuat tenaga. Ia mencoba dan terus mencoba. Tetapi suasana sendu yang begitu dominan menyebabkan pertahanan Jon Maslahat akhirnya bobol. Air matanyapun lalu menitik.

Setelah sejenak berhasil mengendalikan kecengengannya, Jon Maslahat - yang suka menimba pengalaman orang lain - memberanikan diri bertanya kepada Pak Radaslama : “Mengapa bapak menangis?”.

Pak Radaslama - sambil mengusap matanya - menjawab : “ . . . . Saya . . . saya . . sangat . . . sangat . . tersentuh . . . . Saya sering membaca surat Al Maa’uun itu pada saat shalat namun rasanya hanya sekadar membaca dengan bibir. Tidak tahu kedalaman maknanya yang benar-benar luar biasa. Coba anda simak ayat tiga. Di situ tercantum perintah untuk menganjurkan memberi makan orang miskin. Jika perintah itu tidak kita laksanakan, maka kita akan termasuk golongan pendusta agama. Jadi jelasnya, kita tidak cukup hanya memberi saja, namun juga harus menganjurkan untuk memberi makan orang miskin”.

“Bapak benar........”. Kata Jon Maslahat. Namun omongan itu tidak berlanjut karena pembawa acara meminta Pak Radaslama maju ke depan untuk ikut menyerahkan paket bantuan.

Satu jam kemudian acara selesai. Jon Balekon pulang membawa kenangan berupa sentuhan Al-Maa ‘uun. Ia berharap agar selalu tersentuh untuk menganjurkan di samping terus memberikan kelebihan kepada yang memerlukan pertolongan (020296)

Digubah untuk program posdaya dari tulisan ”Menganjurkan & Tidak Hanya Memberi” dalam Serial Makna Hidup ”Ngeh Lalu Oye” , Sastrawan Batangan, April 2004 http://www.mariberposdaya.blogspot.com)


Baca selanjutnya.....

Tidak Mungkin Tanpa Hutang Dan Karena Itulah Mesti Bayar

0 komentar

Siapa saja yang mau menggunakan akalnya tentunya akan pernah berpikir bahwa dia tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang dan makhluk lain yang ada di sekelilingnya. Dengan kata lain terpaksa ataukah tidak, dia telah behutang kepada orang dan makhluk lain itu. Ada hutang tenaga, hutang ’mata’, hutang ’rasa (perasaan)’, hutang nyawa dan berbagai macam jenis hutang lainnya. Mestikah semua hutang itu dibayar ?

Fenomena BerHutang


Kehadiran semua enersi dan materi di alam semesta ini, termasuk manusia di antaranya, bukanlah suatu hal yang sia-sia alias tiada gunanya. Kalau dipikir lebih mendalam, ternyata semua yang hadir itu memiliki hubungan saling melengkapi karena di antara mereka terjadi proses memberi dan diberi. Entah terpaksa ataukah tidak.

Tidaklah lengkap kalau misalnya saja salah satu dari mereka tidak ada. Dengan kata lain dengan hadirnya suatu fungsi maka fungsi lain akan menjadi ada. Sebagai contoh, manusia tidak akan disebut manusia kalau tidak ada makanan yang berasal dari tanaman atau hewan. Sebaliknya, tanaman dan hewan akan menjadi seperti apa adanya jika tidak ada manusia yang memberdayakannya.

Anjing, misalnya, akan tetap menjadi anjing pada umumnya jika tidak dilatih. Karena dilatih, misalnya oleh polisi, maka anjingpun menjadi bernilai lebih. Melalui penciumnya yang tajam, ia menjadi anjing yang memberikan kontribusi dalam memberantas kejahatan. Dan sebagai imbalannya, sang anjing ikut merasakan naik mobil (dalam hal ini mobil polisi), makanan dan ”rumahnya” kandangnya lebih berkualitas daripada hal yang sama yang diperoleh anjing lainnya.

Manusia berhutang budi kepada anjing. Sang anjing berhutang budi kepada manusia. Itu baru satu contoh. Kalau ditelusuri lebih jauh, hutang budi selalu dialami oleh makhluk apa saja. Termasuk makhluk yang disebut jahat sekalipun. Berikut ini adalah contoh beberapa fenomena ”hutang budi” :

  • Kita tak mungkin hidup bila tak ada makanan yang tersedia dalam bentuk hewan dan tanaman. Hal yang sama juga terjadi jika tanaman dan atau hewan, kalupun ada, ”memberontak” tidak mau disentuh, apalagi dimanfaatkan oleh manusia.
  • Kita tak mungkin hidup kalau tak ada ibu dan bapak kandung kita
  • Kita tak mungkin disebut ibu kandung atau bapak kandung kalau tidak ada anak kandung yang langsung lahir dari diri kita atau dilahirkan oleh isteri kita.
  • Kita tak mungkin menjadi kaya kalau tidak ada yang mau bekerja dengan kita dan ada orang mau membeli barang/jasa kita.
  • Kita tak mungkin mempunyai rumah bagus kalau tak ada tukang dan kuli yang mau membangunnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut bupati (kalau kebetulan kita bupati) atas suatu kabupaten kalau tidak ada rakyat yang diperintahnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut polisi yang berhasil mencegah/ mengurangi kriminalitas (kalau kebetulan kita polisi) kalau tak ada manusia yang melakukan tindak kriminal (sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya gara-gara ada pelaku kriminal maka ada polisi naik pangkat).
  • Kita tak mungkin bisa bersatu kalau tak ada orang yang menjadi pemimpin yang menyatukannya.
  • Kita tak mungkin bisa bersyukur kalau kita tidak pernah melihat orang sombong, orang sakit, orang digebuki, dll
  • Kita tak mungkin bisa bekerja dengan baik kalau komponen tubuh (pernafasan, pencernakan, dll) kita tidak berfungsi dengan baik, dll

Dengan kata lain tidak mungkin kita bisa hidup sendiri. Terjadi fenomena saling memerlukan dan saling melengkapi. Demikian pula halnya dengan keberhasilan yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang (misalnya kelompok bisnis, LSM, pemerintahan, negara, dll), juga tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Selalu ada makhluk lain yang berkorban (suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak terpaksa) agar keberhasilan tersebut dapat diraih.

Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau air “memberontak” tak mau diatur. Bagaimana jadinya kalau tanaman “memberontak” tak mau dipetik buahnya oleh manusia. Bagaimana jadinya kalau kuda tak mau dinaiki. Bagaimana jadinya kalau anggota keluarga atau anak buah kita “memberontak” tak mau diatur. Dan atas dasar itulah kita dan siapa saja selalu berhutang budi kepada yang lainnya.

Menyimak berbagai fenomena tersebut, sesungguhnya setiap manusia itu selalu “berhutang budi” kepada makhluk / manusia lainnya. Dengan mengambil contoh sebelumnya, beberapa fenomena hutang budi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Seorang pemimpin berhutang budi kepada yang memilih/mengangkatnya serta kepada anak buah/rakyat yang dipimpinnya
  • Orang yang punya rumah bagus berhutang budi kepada tukang dan kuli yang membantu membangun para pedagang bangunan dan orang lain yang melihat rumah itu lantas bilang “bagus”.
  • Orang yang punya pembantu rumah tangga berhutang budi kepada pembantu tersebut karena gara-gara pekerjaan di rumah beres, ada kesempatan untuk meraih rezeki di luar rumah .
  • Pedagang berhutang budi kepada para pemasok barang, pekerja yang membantu dan para konsumen yang membeli barangnya
  • Anak berhutang budi kepada orang tuanya
  • Orang tua berhutang budi kepada anaknya karena gara-gara ada anak tsb mereka bisa disebut orang tua, menjadi terhibur hatinya, dll.
  • Orang tua seorang anak berhutang budi kepada para guru anaknya, dll
  • Para pengembang perumahan (real estate developer) berhutang budi kepada masyarakat yang mau melepaskan/ menjual lahannya.
  • Orang baik berhutang budi kepada pencuri karena omongan orang baik seringkali tidak didengar oleh orang kaya sementara pencurian lebih menyebabkan orang kaya menjadi seringkali sadar
  • Orang baik berhutang budi kepada orang sombong karena menyebabkan orang baik tersebut bersyukur bahwa dirinya tidak sombong
  • Manusia berhutang budi kepada tanaman, hewan dan material-material lainnya yang ada di bumi dan langit karena gara-gara mereka maka manusia dapat makan, minum, melihat keindahan, dll.
  • Setiap manusia berhutang budi kepada seluruh organ tubuhnya karena gara-gara mereka ia dapat menjalankan tugasnya.

Hutang Perlu Dan Bahkan Harus Dibalas Dengan Membayar Hutang


Hutang budi “perlu” dan bahkan “harus” dibalas secara langsung ataupun tidak langsung. Lantas bagaimana kalau kita tidak melakukan balas budi?. Berbagai hal yang tidak mengenakkan akan timbul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa contohnya adalah :

  • Jika orang kaya tidak membalas budi kepada orang-orang yang telah menjadi lantaran dia kaya dengan cara memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, terutama kepada yang miskin, maka pada suatu saat jurang kaya-miskin akan makin melebar sementara si miskin yang minus kasih sayang akan melakukan penjarahan atau pengrusakan.
  • Jika penguasa tidak tahu diri dan tidak membalas budi sehingga bersikap otoriter, maka pada suatu saat akan diturunkan oleh rakyatnya sendiri atau oleh orang asing.
  • Jika manusia tak tahu diri lalu membiarkan alam tidak terpelihara bahkan dirusak, maka banjir, longsor dsb biasanya akan membuat manusia menderita
  • Jika manusia hanya berpikir untuk maju atau bekerja keras tanpa kenal waktu dan lupa memelihara tubuhnya maka suatu saat ia akan sakit.
Pengertian membalas budi secara langsung adalah dengan memberikan barang berguna sesuai kebutuhan kepada makhluk/orang yang secara langsung telah membantu kita. Sedangkan membalas budi yang bersifat tidak langsung antara lain berupa menganjurkan atau memberikan sesuatu kepada makhluk/orang lain yang secara tak langsung membantu kita namun mempunyai pengaruh atas keberhasilan kita.

Contoh membalas budi secara langsung antara lain adalah :

  • Anak membalas budi kepada orang tuanya secara langsung dengan cara berkata-kata sopan, memelihara orang tuanya saat sudah tua renta,
  • Bos memberikan tambahan bonus kepada anak buahnya yang berprestasi
  • Mengunjungi teman yang sakit (walaupun ia sombong).
  • Mandi, olahraga, mengikuti acara ritual-religius, dll
Sedangkan contoh membalas budi secara tidak langsung adalah :

  • Menganjurkan untuk menolong orang miskin “yang tak mendapatkan kesempatan memperoleh kue pembangunan” karena sudah “direbut” duluan oleh orang-orang yang mempunyai modal, orang-orang yang dekat sumber informasi, orang-orang yang dekat kekuasaan.
  • Melestarikan mengendalikan pertumbuhan dan tidak membunuh atau memperlakukan tanaman/hewan dengan semena-mena.

Membalas budi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat disebut dengan istilah 'berbuat baik' atau bisa pula disebut sebagai 'bersyukur'. Jadi berbuat baik – kepada semua makhluk dan kepada diri sendiri- memang menjadi suatu keharusan karena kita berhutang budi. Kalau tidak dikerjakan, kita tidak dapat menjalankan peran kita sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya.

Akhirnya setelah mengetahui berbagai fungsi utusan YMK yang bermacam-macam itu, maka kita patut bersyukur karena kita dijadikan sebagai manusia yang dengan izin YMK berfungsi untuk mengatur / memberdayakan alam semesta. Namun apakah peran itu sudah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, sebaik dan semaksimal mungkin ? Apakah kita masih suka malas “membalas budi” ? Apakah kita masih tidak mau mendengar, memusuhi, mencela, berbuat kasar, merusak, melakukan teror, bahkan membunuhi utusan YMK yang lain dengan semena-mena ? Apakah kita masih suka lupa sehingga secara tak sadar telah memberi tempat kepada penyakit dalam diri kita sendiri ? Mudah-mudahan tidak dan mudah-mudahan pula kita telah memberdayakan diri untuk memberdayakan yang belum berdaya sebagai cara membayar hutang budi kita.

Dasar Posdaya (SastrawanBatangan-20090630)- http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Baca selanjutnya.....

Senin, Juni 29, 2009

Posdaya | Pelatihan Paham Kitabullah : Menstimuli Gotong Royong Memberdayakan Prasejahtera

1 komentar

Keberdayaan manusia untuk melakukan sesuatu umumnya baru akan timbul kalau didasari oleh adanya motivasi. Tanpa dorongan dari dalam diri sendiri, rasanya amat musykil seseorang yang diberi kelebihan rezeki mau terjun mengasihsayangi orang lain yang berada dalam kondisi prasejahtera. Demikian pula tanpa ada desakan dari dalam, seseorang yang prasejahtera tidak akan bangkit untuk memperbaiki kualitas hidupnya agar menjadi sejahtera.


Melihat kenyataan bahwa di masyarakat telah tercipta adanya umat sejahtera dan prasejahtera yang perlu disalinghubungkan sementara untuk melakukan kegiatan seperti itu tidak mungkin dapat dilakukan sendirian saja maka Tim Paham Qur’ani berusaha untuk mendorong keberdayaan tersebut dengan cara melakukan sosialisasi serta menyelenggarakan berbagai modul pelatihan. Diharapkan dengan gosokan-gosokan itu, bangkitlah kesadaran umat untuk berbuat nyata. Kaum sejahtera berbuat nyata kepada yang prasejahtera yang di antaranya dilakukan dengan cara gotong royong melalui program pos pemberdayaan keluarga (posdaya). Sementara kaum sejahtera dengan fasilitas dari kaum sejahtera, berbuat nyata melalui berbagai program untuk keluar dari kemiskinannya.

Sosialisasi dilakukan untuk komunitas apa saja sementara pelatihan dirancang selain untuk majelis taklim, pesantren / sekolah, perkantoran, dan umum lainnya juga khusus ditujukan untuk para guru ngaji, guru agama, guru TKA/TK, PAUD. Program untuk guru ini sengaja diselenggarakan dengan gratis karena disadari bahwa merekalah yang akan mencetak generasi mendatang yang diharapkan makin peduli kepada sesamanya. Sebagai catatan di Indonesia pada saat ini terdapat ratusan ribu guru ngaji (di Pulau Jawa saja terdapat sekitar 200 ribuan orang) yang sangat efektif untuk menyampaikan amanat kepedulian itu.

Pelatihan yang bertajuk ‘Paham Qur’ani tersebut, terdiri dari minimal 3 modul dengan menggunakan metode masing-masing peserta membaca Al Quran terjemahan ayat demi ayat (suatu ayat dijelaskan oleh ayat lain sehingga mempunyai pengertian yang komprehensif) ditambah dengan hadits-hadits sahih yang sesuai. Oleh karena itu setiap peserta perlu membawa Al Quran terjemahan (terbitan Departemen Agama / Percetakan Al Quran Madinah) dan Hadits. Modul pertamanya memerlukan waktu 8 jam (1 hari, biasanya Sabtu atau Minggu) yang mana pada akhir acara diadakan kegiatan pengumpulan dana takwa untuk dibagikan langsung kepada masyarakat duafa di sekitar tempat pelatihan. Pada akhir acara juga dilakukan kerjabakti membersihkan fasilitas umum, yang juga berlokasi di dekat tempat pelatihan.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Tim Paham Qur’ani ini tidak berhenti setelah pelatihan 8 jam tersebut selesai. Kepada setiap peserta dibagikan juknis dan formulir pendataan kaum prasejahtera melalui posyandu di tempat mereka masing-masing untuk mereka tindaklanjuti. Yaitu setelah data mustahik terkumpul dan dianalisa, selanjutnya mereka mengajak saudara, tetangganya atau komunitas lainnya di mana ia berinteraksi agar ikut peduli.

Dengan metode seperti itu, program pemberdayaan keluarga (posdaya) makin semarak di Indonesia, terutama di Jawa, Sumatera Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat. Tempat-tempat lain akan menyusul. Inilah bukti bahwa Al Furqon bukan lagi sekadar dibaca, tapi dipelajari, dipahami, dilaksanakan dan dilestarikan. Inilah bukti bahwa umat Muslim dihadirkan bukan hanya untuk memberi manfaat kepada segolongan kecil umat saja namun hadir untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, yang berarti pula membesarkan namaNya

Jon Posdaya / Sri Posdayawati / Sastrawan Batangan, Bogor 30 Juni 2009

Lampiran-Daftar Pelatihan Januari 2009 – Juni 2009
  • 4 Januari 2009, Gedung Pemkot Cilegon, Banten, Pelatihan 1, 100 peserta
  • 8 Maret 2009, SDN 01 Desa/Kecamatan Ciamber Sukabumi, Pelatihan 1, 65 peserta
  • 5 s/d 21 April 2009, Kompleks Bilabong Bogor, Pelatihan Posdaya Tim Palembang, 10 peserta
  • 12 April 2009, Kompleks Bilabong Bogor, Pelatihan Fasilitator, 54 peserta
  • 9 Mei 2009, Gedung Dakwah Alun-alun Kabupaten Subang, Pelatihan 1, 135 peserta
  • 24 Mei 2009, Desa Semampir Kec. Pituruh Kabupaten Purworejo, Guru agama/TK/TKA/TPA/PAUD, 99 peserta
  • 21 Juni 2009, Aula SMP/SMA Al Ahzar II Kampus Pejaten Jl Siaga Raya Jakarta Selatan, Pelatihan guru agama/TKA/TPA/TK/PAUD, 106 peserta


Baca selanjutnya.....

Sabtu, Juni 27, 2009

Posdaya | Selembar Surat Penanganan Kemiskinan Umat Dari DMI Jawa Barat

0 komentar

Atensi masjid di Jawa Barat untuk ikut menangani masalah kemiskinan dan kebodohan umat, dalam arti melibatkan masyarakat luas, semakin meningkat. Pada tanggal 11 Juni 2009, Pengurus Dewan Masjid se Jawa Barat di Bandung, mengeluarkan surat resminya nomor 418/B.SP / PW/DMI-JB / VI / 2009 perihal program pemberdayaan umat berbasis masjid.


Surat tersebut mengabarkan bahwa telah diadakan kerjasama antara DMI Jabar dengan Tim Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA) Berbasis Masjid untuk melaksanakan berbagai program pemberdayaan keluarga yang beraktivitas di lingkungan sekitar masjid. Program-program tersebut meliputi :

1. Memberikan pelajaran pemahaman Al Quran secara gratis
2. Memberikan contoh makanan sehat secara gratis kepada prasejahtera
3. Memberikan pendidikan secara gratis kepada anak usia dini
4. Memberikan dana gratis untuk kerjabakti
5. Memberikan beasiswa SD, SLTP, SLTA kepada keluarga prasejahtera

Dalam surat yang ditandatangani oleh drs HR Maulany SH (Ketua Umum) dan drs HE Sendjaya Ak Msi (Sekretaris Umum) tersebut, Pengurus DMI Jabar mengharapkan agar seluruh Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid di Jawa Barat memberdayakan diri untuk bekerjasama dalam program POSDAYA dalam rangka mengimplementasikan kelima program di atas tersebut sehingga dapat meningkatkan kemaslahatan umat.

Perlu diketahui bahwa pada tahun 2008 dengan total penduduk 41,48 juta jiwa, jumlah penduduk miskin Jawa Barat mencapai 5,32 juta (13,01 persen) yang sekitar 50% di antaranya tinggal di pedesaan (Suseda 2007, BPS, Prov Jawa Barat). Sedangkan jumlah masjid tahun 2006 sekitar 161 ribuan (kotabogor.go.id, 2009)

Dengan melihat data tersebut maka dapat dibuat perhitungan kasar bahwa jumlah kemiskinan di Jabar adalah 1 orang per 8 penduduk sedangkan rasio masjid terhadap jumlah penduduknya adalah 1 masjid untuk 254 orang. Dengan demikian terdapat sekitar 33 orang miskin yang perlu ditangani oleh masjid.

Melihat jumlah kemiskinan dan jumlah masjid sebanyak itu maka sangatlah beralasan jika DMI Jabar perlu melakukan langkah-langkah pemberdayaan umat untuk ikut menanganinya. Hal ini sebelumnya juga pernah diungkapkan oleh Ketua Umum DMI Jabar tersebut pada saat melantik Pengurus DMI Kota Bogor periode 2009-2014 DMI Kota Bogor masa bakti 2009-2014 di Masjid Raya Bogor Jum`at 27/3/2009 (Harian Pikiran Rakyat/ pikiranrakyat.com).

Dalam acara itu Maulany mengajak agar masjid-masjid menjadi masjid pemberdayaan umat. Artinya, masjid yang bisa meningkatkan kualitas ritual ibadah, dan meningkatkan potensi ibadah muamalah. Masjid harus menjadi tempat jihad sosial. Sebab misi masjid adalah hayyaa`lasholah dan hayya`alal falah. Artinya melalui masjid, kualitas ibadah ritual ditingkatkan dan melalui masjid pula kemenangan perlu diraih dalam membebaskan kemiskinan, kebodohan dan kedangkalan Iman.

Menurutnya pula, jika masjid-masjid yang ada sudah menjadi masjid pemberdayaan umat, yang berorientasi kepada IPM (Indek Pembangunan Manusia), maka insya Allah masyarakat akan sejahtera. Karena itu DMI harus bisa menuntaskan dan memberdayakan jaringan DMI sampai ke tingkat ranting-ranting yang ada di kelurahan, untuk mendorong masjid-masjid yang ada sebagai basis pemberdayaan umat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sampai dengan tulisan ini dibuat, paling sedikit sudah ada 26 masjid di wilayah Jabar yang diketahui telah memberdayakan diri untuk secara sistematis dan sinergis memberdayakan umat yang ada di sekelilingnya agar peduli prasejahtera mulai dari urutan masalah yang banyak diderita masyarakat yakni kurang gizi dan kebodohan dini.

Usaha ini bukan berarti meninggalkan usaha-usaha lain yang selama ini telah dilakukan oleh masjid seperti misalnya usaha ekonomi berbasis masjid (koperasi masjid), BMT dan sejenisnya. Namun sembari terus mengembangkan yang sudah ada, masjid diharapkan memberikan kontribusi untuk menangani persoalan mendasar yaitu kurang gizi dan kebodohan sejak dari dini sehingga masyarakat, terutama anak-anak, tercegah dari kemungkinan kekufuran di masa mendatang.

Bogor, 27 Juni 2009 (Jon Posdaya / Sri Posdayawati / Sastrawan Batangan)

Catatan :

Lampiran - Daftar Masjid di Jawa Barat Yang Telah Melaksanakan Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Melalui Program Pemberian Contoh Makanan Sehat Kepada Kaum Prasejahtera

Bandung/Cimahi

  1. Posyandu Cicalengka, Masjid Besar Cicalengka, Desa Cicalengka Kulon Kec. Cicalengka Bandung (Kab) Jabar, 231 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Kilin, Telp : 022-7949308
  2. Posyandu Sedapmalam 1/2/3/4, Masjid Al Aqsho, Kel. Sarijadi Kec. Sukasari Bandung (Kota) Jabar, 403 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Eman Suherman, M.Ag, Telp : 0812-2186561
  3. Posyandu Melati 3 Kp Bewak RW 03, Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jayagiri Kec. Lembang Bandung Barat (Kab) Jabar, 168 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Aan Darliah, Telp :-
  4. Posyandu Cempaka RW 08+RW 09, Masjid Jami Pangkalan, Desa Sariwangi Kec. Parongpong Bandung Barat (Kab) Jabar, 398 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___, Telp:-
  5. Posyandu Anggrek I dan II, Masjid Al-Fattah, RW Desa Margamulya Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 370 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Lia Erliawati, Telp :_____
  6. Posyandu Cempaka 1/2, Masjid Ar Rahmat, Kel. Utama Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 339 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Madiyana, Telp :0813-2050-6185

Bekasi / Depok

  1. Posyandu Cempaka I/II & Posyandu Flamboyan, Masjid Baitul Jannah, Desa Jatimulya Kec. Tambun Selatan Bekasi (Kab) Jabar, 466 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nurdin, Telp : 0812-1327874 / 021-8800814
  2. Posyandu Kel Margajaya, Masjid Nurul Islam, Kel. Marga Jaya Kec. Bekasi Selatan Bekasi (Kota) Jabar, 428 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. H. Kanti Prayogo, Telp :0812-820-7449
  3. Posyandu Anggrek II, Masjid Qurrota'Ayun, Kel. Bedahan Kec. Sawangan Depok (Kota) Jabar, 310 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Moh. Syahudin H, Telp :0812-972-1706
Bogor

  1. Posyandu Teratai RT 1/RW-19 Kp Kedep, Masjid Al Maliki, Kel. Tlajung Udik Kec. Gunung Putri Bogor (Kab) Jabar, 220 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ade Siti Hayati , Telp : 021-8675061
  2. Posyandu Mangga/Belimbing/Pisang, Masjid Al Kautsar, Kel. Cipaku Kec. Bogor Selatan Bogor (Kota) Jabar, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs.H.Zaenal Syukri, Telp :0251-311-429
  3. Posyandu Kemuning, Posyandu Kenanga, Masjid Miftahul Jannah, Kel. Ciwaringin Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 378 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Abdullah, Telp :0852-1045-3176

Ciamis / Tasikmalaya / Garut / Cianjur/ Karawang

  1. Posyandu Mawar / Melati /Kenanga, Masjid At Taqwa, Desa Golat Kec. Panumbangan Ciamis (Kab) Jabar, 287 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Harun Kuswana, Telp :0812-2192-245
  2. Posyandu Kartini/Cakra, Masjid Al Mu'awanah, Desa Pagerageung Kec. Pagerageung Tasikmalaya (Kab) Jabar, 412 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Abd. Aziz D. Badri, Telp :0265-453-070
  3. Posyandu Nusa Putra I/II, Masjid Manbaul Hikmah, Desa Sabandar Kec. Karang Tengah Cianjur (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nandang Zaenudin S.Pd, Telp :0815-7027-472
  4. Posyandu Budi Asih/Doktren 1, Masjid Shiraatul Jannah, Desa Cikeket Kec. Cikelet Garut (Kab) Jabar, 331 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Dede Tarmidi, Telp :0262-2520-321
  5. Posyandu Dahlia 1/2/3/4, Masjid As Syuhada, Desa Cikampek Kec. Cikampek Timur Karawang (Kab) Jabar, 432 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Pia Supra Supriatna, Telp :0264-310-241
  6. Posyandu Melati 1/2/3/4/5/6/7/8, Masjid Nurul Jannah, Desa Parakan Kec. Tirtamulya Karawang (Kab) Jabar, 672 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Upi, Telp :
Subang

  1. Posyandu Apel IV, Masjid Al-Mubarokah Subang, Kp Babakan Kondang Desa Pasanggrahan Kec. Cisalak Subang (Kab) Jabar, 131 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sholeh Kusmana, Telp :
  2. Posyandu Nusa Indah/Terate, Masjid Nurul Amal, Desa Cigadung Kec. Subang Subang (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Endang Ahmad Suryana, Telp :0260-416-103

Sukabumi

  1. Posyandu Desa Nagrak Selatan, Masjid At Taqwa, Desa Nagrak Selatan Kec. Nagrak Sukabumi (Kab) Jabar, 323 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Misbah Kamil, Telp :0266-7077-747
  2. Posyandu Cut Nyak Dien, Masjid Tijanul Anwar, Cipelang Leutik Desa Selabatu Kec. Cikole Sukabumi (Kota) Jabar, 164 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___________, Telp :
  3. Posyandu Kresna RW 09, Masjid Darunnadjah, Kp Kebandungan Desa Parungseah Kec. Sukabumi Sukabumi (Kota) Jabar, 209 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _____, Telp :
Cirebon / Kuningan

  1. Posyandu Cipedes, Masjid Nurul Huda, Desa Cipedes Kec. Ciniru Kuningan (Kab) Jabar, 446 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tedi Kusnadi SPd.I, Telp :0813-1744-8586
  2. Posyandu Dusun 1/2/3/4, Masjid Nurul Falah, Desa Linggajati Kecamatan Cilimus, Kuningan (Kab), 609 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H Subandi AAG, Ketua Pelaksana Posdaya Masjid Nurul Falah telp 085864099057
  3. Posyandu Cempaka, Masjid Jami Al Hikmah, Kel Kesambi Baru, Kec Kesambi, Cirebon (Kota), 91 orang bumil/balita/lansia, Kontak Posyandu Teratai : Hj Iis Aisyah (Ketua PKK), telp 085224211244, Hani Sumarni (Wakil Ketua PKK) telp. 0878-29534393

Baca selanjutnya.....

Jumat, Juni 26, 2009

Posdaya | Lingga(r)jati Cilimus Kuningan : Sekali BerSejarah Tetap BerSejarah

2 komentar

Desa Linggajati Kecamatan Cilimus – 14 km dari Kuningan dan 26 km dari Cirebon, di lereng Gunung Cireme di ketinggian 400 m dpl - rupanya menjadi langganan sejarah. Kalau tahun 1946 di tempat itu dilakukan perundingan antara Republik Indonesia yang baru saja merdeka dengan pemerintah Kolonial Belanda mengenai wilayah defakto RI, maka 8 Juni 2009 yang baru lalu, masyarakat setempat juga mencatat sejarah baru. Yaitu kesinerjian antara masjid, posyandu dan warga sejahtera untuk peduli sesamanya yang termasuk kategori prasejahtera.


Selama ini bukan berarti masyarakat tidak peduli. Sesungguhnya bibit-bibit peduli telah ada dan telah dilaksanakan oleh banyak warga namun sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi sehingga tidak sinergi. Karena itu masalah yang paling krusial yaitu kurang gizi dan kebodohan yang diderita warga prasejahtera menjadi sering terlewatkan.

Dengan telah adanya bibit-bibit itu maka kehadiran tim teknis posdaya untuk mengajak masyarakat memberdayakan keluarga masing-masing (berposdaya) melalui masjid tidak mengalami halangan bahkan mendapat sambutan hangat.

Kehangatan dan kemudahan itu sangat terasa saat Tim Teknis mempresentasikan program Posdaya Berbasis Masjid kepada para tokoh agama dan masyarakat, bidan desa (ibu Atun Rohyatun), para guru Madrasah (Bp Samir dkk), Koordinator Posyandu Desa (Ibu Rusmiati) dan para kader posyandunya, Ketua RW dan RT serta Kepala Desa Cilimus (Bp. Unang Unarsan). Para tokoh tersebut merestui dan melapangkan jalan bagi Tim untuk melakukan sosialisasi bagi warga masyarakat

Dengan dasar restu tersebut Tim melakukan sosialisasi di hadapan warga bertempat di Masjid Nurul Falah. Hasilnya juga memuaskan, yaitu adanya komitmen warga untuk melaksanakan posdaya yang pelaksanaannya diawali pada tanggal 7 Juni 2009 dengan kerjabakti membersihkan masjid yang diikuti oleh 40 warga bersama 150 siswa TPA. Kegiatan gotong royong ini dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kehadiratNya atas berlangsungnya program kepedulian yang sinerji. Dan Akhirnya pada hari Senin 8 Juni 2008, Posyandu Dusun 1, 2, 3 dan 4 untuk pertama kalinya memberikan santunan kepada 609 orang prasejahtera (38 ibu hamil, 237 balita dan 244 lansia) berupa contoh makanan sehat..

Dana untuk melaksanakan santunan tersebut berasal dari suatu keluarga yang peduli pemberdayaan dengan harapan setelah 3 bulan berikutnya, masyarakat setempat akan meneruskannya. Keluarga yang tak mau disebutkan identitasnya ini baru saja memiliki kebiasaan baru yaitu memberi pancingan agar orang lain terdorong untuk membantu orang lain yang prasejahtera. Kebiasaan ini rupanya ditularkan oleh keluarga lain yang menjadi sahabatnya.

Dengan telah berlangsungnya posdaya berbasis Masjid Nurul Falah di Desa Linggajati ini maka peristiwa sejarah terukir kembali walau jauh dari liputan pers internasional bahkan nasional sekalipun. Meskipun peristiwa kecil, namun dampaknya bagi anak cucu amat sangat besar karena kalau kegiatan ini terus dipelihara dan berkembang, anak cucu warga desa ini akan terhindar dari kebodohan akibat kurang gizi.

Bogor, 27 Juni 2009 (JonPosdaya / SriPosdayawati / Sastrawan Batangan)

Catatan :

  • Perkembangan jumlah keluarga miskin di Kabupaten Kuningan dari tahun 2004 sampai tahun 2007 bertambah 2.868 orang. Dimana pada tahun 2004 jumlah keluarga pra sejahtera I tercatat sebanyak 83,332 kepala keluarga. Peningkatan itu terjadi karena ada keterkaitan dengan situasi berbagai kebutuhan pokok semakin meningkat yang memberatkan masyarakat (beritacerbon.com/ .29 Apr 2009)
  • Porgram Posdaya Berbasis Masjid di Kabupaten Kuningan untuk pertama kalinya pernah dilakukan awal tahun 2008 di Desa Cipedes, Kecamatan Ciniru
  • Pemberian makanan tambahan tahap kedua direncanakan tanggal 5 Juli 2009 sedangkan tahap ketiga tanggal 5 Agustus 2009
  • Kerjabakti tahap kedua direncakan tanggal 9 Juli 2009 dan tahap ketiga tanggal 4 Agustus 2009
  • Tim Teknis terdiri dari Soleh Kusmana, Arief Muttaqien, Hadiono dan Diaz Genaldy dengan alamat Jalan Airlangga V no 42 Cimanggu Permai Bogor (tlp 0251-8318491, e-mail : posdaya@pahamqurani.com)
  • Kontak : H Subandi AAG, Ketua Pelaksana Posdaya Masjid Nurul Falah telp 085864099057

Baca selanjutnya.....

Kamis, Juni 25, 2009

Posdaya | Ungkapan Hati Atas Terlaksananya Posdaya Berbasis Masjid Di Masjid Jami Al Hikmah, Kesambi Baru, Kesambi, Kota Cirebon

0 komentar

8 Juni 2009, di Masjid Jami Al Hikmah, Kesambi Baru, Kota Cirebon berlangsung realisasi kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Paket bantuan pemberdayaan ini berasal dari sebuah keluarga besar di Jakarta yaitu berupa makanan tambahan bergizi yang akan berlangsung selama 3 bulan (Juni – Agustus 2009) untuk 91 warga prasejahtera (6 ibu hamil, 51 balita dan 39 lansia). Diharapkan setelah Agustus 2009 itu, masyarakat setempat – yang berkomitmen setelah dilakukan sosialisasi oleh Tim Teknis – akan meneruskan kegiatan pemberdayaan tahap awal, yaitu peduli kurang gizi masyarakat prasejahtera.


Tim Teknis yang melaksanakan kegiatan tersebut membuat buku laporan dan petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan posdaya berbasis masjid. Dalam buku laporan kecil mereka yang singkat padat itu, ada suatu ungkapan hati para anggota Tim Teknis Pelaksananya yang patut disimak. Bunyinya adalah sebagai berikut :

Cirebon, 8 Juni 2009

“Ya Allah Ya Robbana, lindungilah bangsa kami dari segala gangguan, godaan, bisikan, rayuan dan tipu daya serta kedatangan iblis syaitan yang terkutuk.

Dengan rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Salam selamat sejahtera bagi keluarga besar masyarakat Kesambi Baru. Segala puji milik Allah. Salam dan salawat kepada para malaikat, para nabi, khususnya kepada Nabi Besar Muhammad saw dan para pengikutnya yang setia.

Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Keluarga Besar Ibu Pratiwi Hasan kepada masyarakat RW 05 Kesambi Baru Kota Cirebon berupa contoh makanan sehat (CMS) dalam bentuk bubur kacang hijau, telur ayam rebus, buah jeruk dan susu untuk 96 orang prasejahtera yang terdiri dari 51 balita, 39 lansia dan 6 bumil yang dilaksanakan satu bulan sekali pada kegiatan Posyandu Teratai di Masjid Al Hikmah, Kesambi Baru selama tiga bulan (Juni, Juli, Agustus 2009).

Kami harapkan setelah tiga bulan kegiatan pemberian contoh makanan sehat untuk Posyandu Teratai tetap berjalan terus menerus dan sudah dapat dibiayai oleh seluruh masyarakat sejahtera khususnya di lingkungan Kesambi Baru.

Semoga program Posdaya ini dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat sejahtera di bumi persada Indonesia melalui kegiatan posyandu dan pemberdayaan masyarakat prasejahtera agar masyarakat prasejahtera menjadi masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Terima kasih kepada keluarga besar Ibu Pratiwi Hasan
Terima kasih kepada Ketua PKK RW-05 Ibu Hj Iis Aisyah
Terima kasih kepada DKM Masjid Al Hikmah
Terima kasih kepada Ibu Hj Nani Sumarni
Terima kasih kepada para kader Posyandu Teratai RW-05
Terima kasih kepada Bidan Desa Ibu Cucu Rosilawati, MM Kes
Terima kasih kepada Puskesmas Kesambi
Terima kasih kepada Kelurahan Kesambi
Terima kasih kepada Ketua RW-05 Kesambi Baru
Terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Kesambi Baru
Terima kasih kepada para pendiri dan pencetus ide Posdaya Berbasis Masjid

Salam sayang dari Tim Teknis Pelaksana Posdaya
(Soleh Kusmana, Arief Muttaqien, Hadiyono, Diaz Genaldy)

Selain ungkapan hati, buku kecil itu juga berisi beberapa informasi yang di antarnya adalah: peran masjid sebagai basis pemberdayaan masyarakat, sinergi antara masyarakat sejahtera dengan masjid untuk peduli dan sayang kepada masyarakat prasejahtera, proses penyaluran paket dari masjid posdaya kepada masyarakat prasejahtera. Dalam buku ini juga dituliskan kembali ”Pancasila”, ’Lagu Indonesia Raya’ dan ’Sumpah Pemuda’ sebagai pengingat bagi putra bangsa untuk selalu cinta tanah air dan cinta sesamanya, khususnya kepada yang masih prasejahtera.

JonPosdaya & SriPosdayawati, Bogor, 26 Juni 2009

Catatan :

  • Laju pertumbuhan penduduk di Kota Cirebon sebesar 1,6-1,7 persen per tahun Mengacu pada data BPMP2KB, jumlah penduduk alami Kota Cirebon bulan Mei 2009 sebanyak 270.445 jiwa. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlahnya sudah lebih dari 290.000 jiwa (Kompas.com, Kamis, 25 Juni 2009 ). Selanjutnya karena ada perbedaan parameter pengukuran kemskinan maka jumlah warga miskin di Kota Cirebon bervariasi. Tahun 2008 yang lalu, menurut data Dinas Kesehatan Kota Cirebon terdapat warga miskin sebanyak 68.942 jiwa. Menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Cirebon jumlahnya hanya 19.188 jiwa. Menurut Dinas Sosial Kota Cirebon sekitar 15.000 jiwa sedangkan menurut BPS Kota Cirebon jumlah warga miskin adalah 14.856 jiwa (http://www.radarcirebon.com, Selasa 9/6/2009).
  • Alamat Masjid Al Hikmah : Jalan Kesambi Baru, Cirebon 45134
  • Kontak Posyandu Teratai : Hj Iis Aisyah (Ketua PKK), telp 085224211244, Hani Sumarni (Wakil Ketua PKK) telp. 0878-29534393
  • Untuk mendapatkan juknis gratis sehingga bisa dipakai di lokasi masing-masing dapat menghubungi : Soleh Kusmana (telp. 0813-19300850) atau email : posdaya@ pahamqurani.com

Baca selanjutnya.....

Posdaya | Di Bogor, PKL Jadi Pelopor Dongkrak Gizi Warga Miskin Semplak

0 komentar


Di kaki lima dan halaman depan sebuah rumah di Jalan Raya Semplak Bogor, tak jauh dari Lapangan Terbang TNI AU Atang Senjaya, ada sejumlah pedagang kaki lima yang mangkal saban hari menjajakan dagangannya. Cukup laris dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada gangguan apapun. Yang menjadi lain beberapa bulan terakhir ini adalah kesertaan mereka dalam program pemberian makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil, balita dan lansia miskin yang ada di lokasi itu.


Bermula dari si empunya rumah, Heriyadi Priatna, 40 tahunan, yang sebelumnya menyadari bahwa fungsi manusia akan berkurang jikalau lalai untuk selalu memberi dan selalu mendorong orang lain agar selalu memberi kepada kaum prasejahtera. Karena sering bertemu dan berbincang, rupanya kesadaran ini tertular kepada beberapa pedagang kaki lima yang telah mangkal bertahun-tahun di depan rumahnya yang termasuk dalam wilayah RT 03, RW 08 Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Para pedagang kaki lima itu - Yusuf (pedagang martabak penduduk Leuwiliang), Kepen (pedagang nasi goreng penduduk RW-09), Wahab (pedagang goreng pisang, penduduk RW-07), Damanhuri (pedagang sate, penduduk RW-08) – rupanya pada posisi pemahaman yang relatif sama. Maka dari itu bersama-sama Heriyadi, mereka mencari jalan untuk merealisasikan tindakan nyatanya.

Setelah berembug mengenai apa yang sebaiknya mereka kontribusikan dalam arti mempunyai dampak dorong kepada masyarakat, akhirnya mereka memilih untuk memberi makanan tambahan bergizi kepada kaum prasejahtera yang biasanya sebulan sekali mengunjungi posyandu. Posyandu yang mereka pilih tak jauh-jauh dari lokasi mereka, yaitu Posyandu Mawar II RW 08 (RT 1-2-3) Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor yang biasa dikunjungi oleh 7 orang ibu hamil, 60 orang balita, dan 25 orang lansia.

Kegiatan yang berawal bulan April 2009 dan sampai dengan akhir Juni 2009 ini telah tiga kali dilakukan, ternyata berimbas kepada para tokoh terkemuka di Kelurahan Semplak yang luasnya 44 ha itu. Ibu RW dan Bidan Kelurahan juga telah ikut memberikan kontribusi sementara para pedagang kaki lima lainnya serta beberapa pemilik warung di sekitar tempat itu juga telah mendaftarkan diri.

Mengapa bisa demikian marak dalam pengertian dapat menyebabkan orang banyak ikut memberikan kontribusi ? Heriyadi mengemukan beberapa penyebabnya. Yang pertama . beberapa tokoh tertarik untuk ikut serta karena laporan yang rapih dan transparan dari para kader posyandu yang melaksanakan kegiatan pemberian makanan tambahan bergizi tersebut. Yang kedua bahwa dalam setiap kali acara, beberapa pengusaha atau wakil dari kantor dan warung yang ada di wilayah itu diundang untuk menyaksikan kegiatan posyandu. Bukan untuk dimintai sumbangan tetapi hanya sekadar menyaksikan.

Dengan makin banyakya kontributor maka kegiatan yang semula berlangsung hanya satu kali per bulan dalam waktu dekat akan ditingkatkan menjadi per minggu yang berarti ada 4 kali tambahan gizi bagi warga miskin di wilayah itu.

Luar biasa. Keberdayaan masyarakat yang awalnya bersumber dari segelintir orang akar rumput ini telah menyebabkan para tokoh dan masyarakat bangkit untuk juga memberikan andilnya dalam mengurangi kemiskinan.

Sastrawan Batangan, Bogor 26 Juni 2009

Catatan :

  • Posyandu Posyandu Mawar II RW 08 (RT 1-2-3), Pelaksana : PKL & Heriyadi Priatna, Kelurahan Semplak Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor , 92 ibu hamil/balita/lansia, Kontak : Ningsih (Ketua Posyandu), telpon 0251-2159566

Baca selanjutnya.....

Sabtu, Juni 20, 2009

Posdaya | Cara Mudah Bantu Tetangga Miskin (Yang Dekat Atau Di Luar Komplek Perumahan)

0 komentar

Diedit dari tulisan yang dimuat dalam Notes Annie Soehardjo / UGM / dalam Facebook tanggal 20 Juni 2009

Tulisan ini mengajak kita sekalian untuk memberdayakan diri untuk melakukan tindakan nyata dengan cara gampang, murah meriah dan tepat guna (kemungkinan sedikit salah sasaran atau dimanipulasi karena tidak berupa uang) namun amat berguna untuk mengurangi penderitaan tetangga dekat akibat kurang gizi dan kelaparan. Apa yang dilakukan ini adalah bagian dari Posdaya (Pos Pembedayaan Keluarga) dengan operasionalisasi sbb :
  • Mulai dari kita sendiri saja. Pilih 3 anak, atau 3 lansia (Tidak usah semua! Sesuaikan saja dengan kemampuan) yang terdekat, atau yang termiskin, atau yang “ter: apa saja, sesuai kata hati), yang sering lewat, atau sering kita jumpai sekitar rumah.
  • Bilang ke mereka, mereka boleh datang ke rumah, atau kita ke rumah mereka tiap hari Sabtu (atau Sabtu dan Rabu, atau hari apa saja - sesuai kemampuan saja) untuk mendapat 1 susu bantal atau apa saja yang mempunyai nilai gizi (bubur kacang ijo atau sejenisnya). Kalau misalnya si miskin itu ada di luar komplek perumahan anda, mintai tolong pembantu atau satpam untuk mengantarnya ke rumah si miskin (sekali-kali anda cek apakah benar bantuan tsb sampai kepada ybs).
  • Lakukan beberapa lama.
  • Kalau kemampuan bertambah, atau kita ingin menambah. Bisa kita tambah jumlah mustahik, atau persering pemberian susu misalnya menjadi 3x seminggu, atau tambah jenis makanan misalnya telur rebus, vitamin, atau apa saja.
  • Kemudian ajak 1-2 tetanggamu yang lain, melakukan hal yang sama kepada yang lain. Yang diberikan boleh apa saja, seberapa saja, kepada mustahik yang mana saja, sesuai pilihan mereka. Nanti, tiap teman bisa diminta mengajak temannya yang lain. MLM seperti ini niscaya membangun gunung kebaikan, menanamkan kasih sayang dan kegembiraan hati pada semua orang, baik yang memberi, maupun yang diberi.
  • Dengan berjalannya waktu, kegiatan ini akan berkembang sendiri baik bentuk, jumlah, jenis pelayanan dan sebagainya sesuai situasi dan kondisi setempat. Jangan lupa, kita infokan lokasi kegiatan ini kepada "Gizi Untuk Tetangga Dhuafa". Siapa tahu ada orang-orang lain lagi yang berdekatan dengan lokasi tersebut yang juga ingin bergabung.
  • Mohon teman-teman untuk mendistribusikan info cara-cara termudah membantu tetangga dhuafa yang bisa dilakukan di sekitar tempat tinggal masing-masing. Teman -teman juga dipersilahkan – jika berkenan – bergambung dalam discussion board di FB dengan tajuk ’GIZI UNTUK TETANGGA DHUAFA’

Info lebih lanjut mengenai hal ini dan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga) dapat menghubungi Aksi Nutrisi Nurani, Bona Indah Garden Blok B5/52, Jakarta atau melalui e-mail: gizitetangga.dhuafa@ymail.com,

Disunting oleh Sastrawan Batangan, 20 Juni 2009


Baca selanjutnya.....