Senin, Februari 23, 2009

Walisongo Tentu Bergirang Hati Menyaksikan Gresik Mentradisikan Peduli

Nun dulu kala, diperkirakan tahun 1380 M, di Desa Sebalo (Tebalo) atau Leran (sekarang termasuk Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik) pernah mendarat rombongan dari Campa (diperkirakan 40 orang) yang dipimpin seorang ulama bernama Maulana Malik Ibrahim.


Wali senior - yang wafat tahun 1419 M dan dimakamkan di Desa Gapura Gresik - itu membuka sejarah besar kereligiusan bumi Nusantara, khususnya tanah Jawa, sebab di sekitar wilayah tersebut pada periode berikutnya muncullah beberapa tokoh yang punya kontribusi besar memperbaiki akhlak masyarakat yang pada waktu itu sedang gonjang-ganjing dirundung zaman edan akibat pertikaian politik dan perang antar kerabat istana Majapahit yang hampir mendekati masa bangkrutnya. Beberapa ulama tersebut masih termasuk kerabat dekat Maulana Malik Ibrahim. Di antaranya adalah Sunan Ampel (kemungkinan besar saudara 1 kakek dari Maulana Malik Ibrahim), Sunan Giri atau Raden Paku (lahir di Blambangan tahun 1442 M dan wafat di Giri, Gresik, tahun 1506 M), Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan beberapa tokoh lainnya.

Tentunya sebagai wali, beliau-beliau ini mengetahui bahwa ada perintah Allah dalam Al Quran yang tidak boleh hanya dibaca atau disebut-sebut saja namun harus dilaksanakan sebagai bukti tidak mendustakan agama. Di antaranya adalah kewajiban untuk memberikan sebagian harta yang dimiliki pada saat lapang maupun sempit kepada orang miskin baik yang meminta-minta maupun orang miskin yang tidak mendapatkan bagian (QS 51:15-19), perintah untuk menganjurkan / mendorong orang lain agar memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada fakir miskin (QS 69:34, 107:1-4) dan perintah-perintah lainnya yang intinya agar menahan amarah, memaafkan dan peduli kepada orang miskin (QS 3:133-134, dll), tidak merusak dan tidak mengurangi hak orang lain (QS 28:77, 7:33, 4:30). Kesemuanya itu dilakukan tanpa mengharapkan upah sebagaimana tercantum di antaranya dalam QS 74:6 dan 76:9.





Karena tahu adanya perintah tersebut maka para wali tentunya berusaha keras untuk melaksanakan dan mensyiarkannya. Sebagaimana diketahui pekerjaan utama para wali umumnya adalah berdagang sedangkan syiar yang dilakukan bukan dimaksudkan untuk mencari nafkah namun semata-mata untuk merealisasikan perintah mensyiarkan berita gembira, peringatan dan hal-hal lain yang terkait dengan tatanan kehidupan manusia agar sejahtera (QS 3:187, 2:159, 2:174).

Sampai seberapa jauhkah hasil kerja beliau pada saat beliau wafat ? Yang jelas terlihat adalah kenyataan bahwa gara-gara kehadiran para wali, masyarakat yang saat itu resah akibat guncangan politik di masa akhir Majapahit menjadi seolah-olah tersiram kesegaran. Moral membaik, rumah ibadah banyak dibangun, dan banyak masyarakat bisa membaca dan menulis Al Quran. Itulah jasa besar para wali pada periode abad 15-17

Waktu yang terus menggelinding tanpa hambatan meninggalkan masa lalu, rupanya masih menyisakan kemiskinan yang secara sunatullah memang akan terus ada. Usaha para wali dan beberapa rezim pemerintahan yang silih berganti berkuasa bukannya tidak ada. Selalu ada, namun tidak akan menyelesaikan persoalan kemiskinan yang selalu disorot dalam firman-firman Allah.

Maka syukur Alhamdullilah di tengah masyarakat Gresik telah lama muncul insan - insan dari berbagai wilayah di lingkungan Gresik yang walaupun diam-diam namun terus berusaha memberdayakan dirinya yang sejahtera untuk memberdayakan (mendorong) orang lain yang sejahtera agar ikut peduli memberdayakan kaum yang belum sejahtera.





Mereka telah berusaha – walaupun menurut mereka kecil-kecilan – untuk memberi dan menganjurkan memberi. Dari mulai urunan 5-10 orang dengan menggunakan keropak sampai dengan menggunakan listing (daftar) karena jumlah pesertanya telah mencapai puluhan orang. Dalam hal in i mereka menempuh berbagai cara agar kepedulian itu terus terpelihara. Tidak mati oleh kesibukan harian mencari nafkah yang seringkali menyebabkan lupa dan malas. Di antaranya dengan mengadakan forum silaturahmi yang di dalamnya ditanamkan firman-firman Allah yang terkait dengan tugas dan fungsi manusia takwa

Walhasil dengan semangat yang terus meningkat akhirnya mereka sampai pada keinginan untuk berposdaya dengan sistem sinambung bergulir. Dengan sistem ini mereka berharap akan terjadi kesinambungan. ”Kepedulian bukan milik segelintir orang tetapi milik semua orang yang bertakwa kepada Tuhan YME” kata mereka merujuk firman Allah.



Tahap pertama yang mereka lakukan adalah membentuk simpul-simpul posdaya di 3 desa yang tersebar di 2 kecamatan di wilayah Kabupaten Gresik. Deskripsinya adalah sebagai berikut :

  • 1 posdaya berbasis masjid (Masjid Nurul Falah, RW-01/Dusun Srembi, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas),
  • 2 posdaya berbasis masyarakat peduli (RW 02 dan RW 09 Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas),
  • 1 posdaya berbasis masyarakat peduli (Perumahan Dinari, Desa Tebalo, Kecamatan Manyar)
  • 1 posdaya berbasis masyarakat peduli (RW-01 dan RW-02 Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar)

Pada awal pelaksanaannya (Oktober 2008), jumlah prasejahtera yang berhasil diberdayakan mencapai 1.148 orang terdiri dari 77 orang ibu hamail, 681 orang balita dan 390 orang lansia prasejahtera. Sampai dengan laporan ini dipublikasikan untuk pertama kalinya, kegiatan posdaya di tempat itu terus bergulir.

Para wali yang pernah berjuang di Gresik –bila mereka masih ada - tentunya akan bergirang hati menyaksikan ulah positip masyarakat di wilayah di mana mereka dahulu pernah memulai sejarah. Girang hati ini disebabkan bahwa keimanan masyarakat bukan hanya sekadar ucap dan ritual saja tetapi sudah sampai pada tahap totalitas perbuatan sebagai cerminan ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam firman Allah sbb :

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS 2:177).

SriPosdayawati, Februari 2009

Lampiran Lokasi Posdaya Gresik

Masjid Nurul Falah, Dusun Srembi, Desa Kembangan, Kec. Kebomas Kab. Gresik Prov. Jawa Timur.

  • Jenis posdaya : Posdaya Berbasis Masjid
  • Pelaksana : DKM Nurul Falah bekerjasama dengan PKK dan Posyandu RW-02 Dusun Srembi, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Kab Gresik
  • Paket makanan sehat tambahan : bubur kacang hijau, telur puyuh rebus dan buah
  • Penerima paket : 237 orang Pra sejahtera yang terdiri dari 12 bumil, 89 balita, 136 lansia
  • Frekuensi pelaksanaan awal berdasarkan kontrak kemitraan : 1 bulan sekali selama 3 bulan (Oktober, November dan Desember 2008)
  • Lokasi pelaksanaan : Masjid Nurul Falah
  • Tokoh-tokoh terlibat : Bpk. Maskur Handoyo, Bpk H Nur Yanto AS (Pembina Paguyuban Remaja Peduli Sesama Desa Kembangan), Ibu Hj. Hartatik, Bpk Yusron Hidayat, DKM Nurul Falah, Bapak Ketua RW, Kepala Desa Kembangan Bpk. H. Ngadimin, Tim Penggerak PKK Desa Kembangan, Tim kader Posyandu RW 02 dan Tim Kader Posyandu RW, Bidan Desa Ibu Nyimas Sholehatul Ainiyah, Amd Keb, keluarga besar Paham Qur’ani Bogor,
  • Kontak hubungan : H Nuryanto (031-72405115)

RW 02 dan RW 08, Desa Kembangan, Kec. Kebomas Kab. Gresik Prov. Jawa Timur.

  • Jenis posdaya : Posdaya Berbasis Masyarakat RW
  • Pelaksana : Posyandu RW 02, dan RW. 08, Desa Kembangan Kec. Kebomas Kab. Gresik Prov. Jawa Timur.
  • Paket makanan sehat tambahan : bubur kacang hijau, telur puyuh rebus dan buah
  • Penerima paket : 330 orang Pra sejahtera yang terdiri dari 24 bumil, 221 balita, 85 lansia
  • Frekuensi pelaksanaan awal berdasarkan kontrak kemitraan : 1 bulan sekali selama 3 bulan (Oktober, November dan Desember 2008)
  • Lokasi pelaksanaan : Posyandu RW 02, Posyandu RW-08
  • Tokoh-tokoh terlibat : Kel. Bpk. Maskur Handoyo, Bpk Nur Yanto AS, Ibu Hj. Hartatik, Bapak Kepala Desa Kembangan Bpk. H. Ngadimin, Tim Penggerak PKK Desa Kembangan, Tim kader Posyandu RW 02 dan Tim Kader Posyandu RW 08, Bidan Desa Ibu Nyimas Sholehatul Ainiyah, Amd Keb; Bapak Ketua RW 02 dan Ketua RW 08, Keluarga Besar Paham Qur’ani Bogor
  • Kontak hubungan : H Nuryanto (031-72405115)

Desa Tebalo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

  • Jenis posdaya : Posdaya Berbasis Masyarakat Desa
  • Pelaksana : Komunitas Peduli Prasejahtera Warga Perumahan Dinari, dan Posyandu POS I, II, III Desa Tebalo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
  • Paket makanan sehat tambahan : bubur kacang hijau, telur ayam rebus dan buah
  • Penerima paket : 325 orang Pra sejahtera yang terdiri dari 13 bumil, 224 balita, 88 lansia
  • Frekuensi pelaksanaan awal berdasarkan kontrak kemitraan : satu bulan sekali selama bulan Oktober, November dan Desember 2008.
  • Lokasi pelaksanaan : Posyandu POS I, II, III dan Perumahan Dinari
  • Tokoh-tokoh terlibat : Keluarga Besar Bpk. Maskur Handoyo, Keluarga Besar Yusron Hidayat, Kepala Desa Tebalo H. Moh Haki dan Ibu Hj. Nurasiah Hakim, Tim Penggerak PKK Desa Tebalo, Tim kader Posyandu Pos I, II, III, dan Perum Dinari, Bidan Desa, dan keluarga besar Paham Qur’ani Bogor,
  • Kontak hubungan : Yusron Hidayat (0819-38483990)

Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik

  • Jenis posdaya : Posdaya Berbasis Masyarakat Desa
  • Pelaksana : Posyandu POS I dan II RW.01 dan RW.02
  • Paket makanan sehat tambahan : bubur kacang hijau, telur ayam rebus dan buah
  • Penerima paket : 246 orang Pra sejahtera yang terdiri dari 18 bumil, 147 balita, 81 lansia
  • Frekuensi pelaksanaan awal berdasarkan kontrak kemitraan : satu bulan sekali selama bulan Oktober, November dan Desember 2008.
  • Lokasi pelaksanaan : Posyandu POS I dan II RW.01 dan RW.02
  • Tokoh-tokoh terlibat : keluarga besar Bpk. Maskur Handoyo, Kepala Desa Yosowilangun Bpk. Akhmad Musa, Tim Penggerak PKK Desa Yosowilangun, Tim kader Posyandu Pos I dan II, Bidan Desa Ibu Machmudah, Amd. Keb., dan keluarga besar Paham Qur’ani Bogor,
  • Kontak hubungan : Maskur Handoyo (0811-314493)

2 komentar:

  1. Saya trenyuh. Di saat banyak orang banyak "bicara besar" masih ada orang-orang yang peduli yang "keci". Semoga berhasil Gresik!. Semoga tradisi ini muncul di mana saja. Masjid di zaman Nabi banyak untuk kegiatan sosial jadi makmur. Itulah yang namanya memakmurkan masjid. Bukan meramaikan saja.

    Saya dan teman2 yang tinggal di Cirebon juga berusaha meniru anda. Cirebon kan juga kota wali.

    Karang Sembung, Februari 2009

    BalasHapus
  2. Ahmad Basyir (Tangerang)Rabu, 11 Maret, 2009

    Mudah-mudahan di kota wali lainnya (Cirebon, Banten) dan seluruh Indonesia, masjid-masjidnya makmur dengan kegiatan sosial untuk kemaslahatan umat. Bukankah ujung akhir dari keimanan adalah perbuatan bagi umat dan bukan duduk diam berdoa saja ?

    BalasHapus