Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 16, 2009

|Posdaya : Seputar Paket Pancingan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Sinambung Bergulir

1 komentar

Kondisi Kemiskinan & Keberdayaan Masyarakat Indonesia Dalam Mengatasinya

Indonesia yang kaya sumber daya alam, memiliki 13.667 pulau, 370 suku bangsa, 67 bahasa induk dengan jumlah penduduk 227 juta jiwa (tahun 2007), di antaranya lebih dari 86% berKTP Muslim. Pada tahun 2007, sekitar 207 ribu muslimin Indonesia (+ 10% dari jemaah haji dunia) beribadah haji dengan biaya resmi paling murah Rp 29 juta. Namun Indonesia juga kaya orang miskin yaitu sekitar 16.6% atau 36,5 juta orang (2007).


Beberapa kasus kemiskinan yang terekam adalah :
  • Februari 2008, di Makassar, Sulsel; seorang ibu (45 th) dan seorang anak balitanya (4 th) meninggal dalam kondisi 3 hari kelaparan dan diare akut. Para tetangga, begitu pula RT/RW-nya, diberitakan tidak ada yang tahu karena mereka tidak pernah meminta-minta.
  • Mei 2008, seorang anak yatim laki2 usia SD di Cibinong terpaksa tidak sekolah karena harus menjaga 2 adiknya yang masih kecil. Ibunya harus mencari nafkah dengan pendapatan yang kecil sehingga tidak mencukupi untuk membayar pembantu rumah tangga.
  • Jatah beras miskin (raskin) yang didrop via ke-tua RT 1 x/ bulan tidak bisa ditebus oleh yang berhak. Saat beras datang, mereka tidak sanggup mengganti biaya transportasi karena sedang tidak punya uang (karena memang benar2 miskin). Akhirnya beras dibeli oleh orang yang lebih mampu.
  • Riba eceran (pinjaman bernilai kecil) banyak terjadi di kalangan orang miskin. Hutang Rp 200.000,- mesti dibayar Rp 8.000 per hari x 30 hari (bunga 20%/bulan)
  • Makassar, Maret 2008, seorang ibu miskin, sehabis bersalin, berniat menjual bayinya agar bisa membayar biaya pesalinan Rp300 ribu.
  • Di Bekasi, Maret 2008, seorang ibu membenamkan 2 anaknya sehingga mati karena kemiskinan.
  • Menurut informasi terakhir, saat ini terdapat antara 3-4 juta balita miskin, di mana 700 ribuan jiwa di antaranya dalam keadaan kritis gizi, Kemampuan pemerintah untuk menangani balita kritis gizi itu hanya 39 ribu orang per tahun.
Dampak miskin adalah kekufuran, di antaranya adalah sbb :
  • Fasilitas umum / produksi (pabrik), yang dibangun dengan waktu yang cukup lama dan biaya besar, dirusak dalam sekejap oleh masyarakat / karyawan sendiri.
  • Berebutan sedekah sehingga ter-injak2 (padahal ada orang yang berhak namun tidak mendapatkan)
  • Tawuran (olahraga, antar pelajar, antar kampung)
  • Membunuh anak sendiri (ibu yang membenamkan 2 anaknya karena miskin)

Akibat kekufuran terjadilah pengrusakan yang merupakan contoh buruk buat generasi mendatang bahwa pemaksaan / kekerasan dianggap sebagai alat ”ampuh” untuk melawan orang sejahtera (kaya) yang ”menulikan telinga”, ”membutakan mata”, dan ”membutakan hati”.

Akibat selanjutnya, banyak investor enggan berinvestasi. Lapangan kerja menjadi berkurang atau tidak bertambah. Kalau tidak segera ditangani diperkirakan bencana sosial akan datang.

Apakah kita cukup hanya terharu menitikkan air mata saja? Ataukah sendirian saja memberi orang miskin lantas semua masalah kemiskinan selesai ? Atau biarkan saja sehingga kita wariskan generasi yang lemah-miskin-bodoh yang akan mengakibatkan kekufuran?

Apa kita tidak berpikir bahwa anak-cucu kita (yang terdidik-pandai karena kita mampu membiayainya dan kemudian menjadi bos di masa depan) akan repot karena harus menghadapi generasi seumurnya yang bodoh-beringas akibat kurang gizi dan pendidikan? Atau apa kita tunggu saja mukjizat Allah? Tentunya akan tidak demikian kalau kita sebagai bangsa Indonesia melaksanakan perintah Tuhan YME sesuai dengan agama/ kepercayaannya masing-masing.

Apa Yang Disebut Posdaya ?

Posdaya - kependekan dari Pos Pemberdayaan Keluarga - adalah suatu gerakan masyarakat untuk memberdayakan setiap individu baik mandiri maupun berkelompok untuk mengamalkan 8 (delapan) fungsi keluarga yaitu : (1) agama, (2) budaya, (3) cinta dan kasih sayang, (4) perlindungan keluarga, (5) kesehatan dan reproduksi, (6) pendidikan, (7) ekonomi dan (8) lingkungan

Posdaya pada awalnya digagas oleh Prof Dr Haryono Suyono yang melihat bahwa usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baru akan berhasil kalau setiap individu dalam keluarga dan keluarga itu sendiri yang memberdayakan dirinya. Dalam kaitan ini dengan mempertimbangkan banyak hal, maka posyandu sebagai kelembagaan layanan masyarakat yang telah lama setia berkontribusi diharapkan mampu secara bertahap meningkatkan fungsinya sebagai operator lapangan pelaksanaan pemberdayaan keluarga ini. Lebih dari sekadar melayani kesehatan ibu dan anak balita yang selama ini telah dilakukan.

Mengapa Perlu Berposdaya ?

Sebagaimana telah dipahami bahwa kesejahteraan hanya dapat terjadi kalau terjadi sinergi antar setiap individu dalam keluarga dan sinergi antara individu / keluarga dengan masyarkat yang lebih luas. Dengan kata lain, kesejahteraan masyarakat tidak dapat terjadi dengan sendirinya.

Karena kesejahteraan tidak dapat terjadi dengan sendirinya sementara itu tingkat kesejahteraan setiap keluarga juga berbeda-beda di mana kaum prasejahtera (kaum miskin) memiliki kendala keterbatasan yang sangat besar dibandingkan kaum sejahtera, maka diperlukan usaha dari semua pihak. Dalam hal ini kaum sejahtera memberdayakan dirinya untuk selain meningkatkan kualitas hidupnya juga ikut memberikan kontribusi dalam memberdayakan kaum prasejahtera.

Sebaliknya dengan fasilitas yang dikontribusikan oleh kaum sejahtera, kaum prasejahtera memberdayakan dirinya untuk bangkit menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
Hubungan yang harmonis di mana kaum sejahtera membantu kaum prasejahtera untuk memberdayakan dirinya dan sebaliknya di mana kaum prasejahtera mau memberdayakan dirinya dengan difasilitasi oleh kaum sejahtera akan menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kata lain tanpa ada upaya dari masing-masing kaum, baik yang sejahtera maupun yang prasejahtera untuk memberdayakan dirinya secara sinergi, tidak mungkin kesejahteraan masyarakat akan tercapai. Atau dengan kata lain setiap individu dalam keluarga perlu memberdayakan diri dan keluarganya agar kesejahteraan keluarga dan masyarakat tercapai

Faktor Moral Apa Saja Yang Menjadikan Seseorang Perlu /Harus Melakukan Posdaya ?

Faktor-faktor moral yang mendasari seseorang melakukan posdaya adalah :
  • Sebagai bukti/perwujudan cinta negeri dan syukur kepada para pendahulu, pahlawan kemerdekaan, pahlawan pembangunan fisik dan agama yang telah menjadi lantaran Indonesia menjadi negeri yang merdeka dan terus membangun berdasarkan keseimbangan jasmani dan rohani
  • Sebagai bukti/perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa pada diri kita– baik di waktu lapang maupun sempit – terdapat hak orang miskin baik yang meminta maupun yang tidak mendapat bagian.
  • Sebagai bukti / perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa pada diri kita terdapat tugas untuk mendorong/mengajak/menganjurkan /memberdayakan orang lain (yang sejahtera) agar juga memberikan sebagian hartanya kepada orang tidak mampu (prasejahtera/miskin) sehingga kegiatan kepedulian berlangsung sinambung.
  • Sebagai bukti / perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa masalah kemiskinan hanya bisa diselesaikan sendiri oleh yang menderita kemiskinan dengan cara berupaya mengubah nasibnya sementara kontribusi kaum sejahtera berfokus pada usaha untuk memfasilitasi kaum prasejahtera agar mau dan mampu bangkit dari keterpurukannya
Apa Target Utama Posdaya?

Target utama Posdaya adalah berdayanya masyarakat sejahtera di suatu lokasi secara kontinyu untuk memberdayakan (bukan memanjakan) masyarakat prasejahtera yang berada di lingkungan sekitar masyarakat sejahtera itu sendiri.

Kelembagaan Apa Saja Yang Dapat Diberdayakan Sebagai Basis Posdaya

Subyek Posdaya adalah masyarakat di suatu wilayah. Sedangkan kelembagaan yang suda ada dan relatif siap untuk mengoperasionalkan posdaya adalah posyandu.

Dalam hal ini posyandu sebagai operator posdaya tidak akan dapat berfungsi kalau tidak didukung oleh berbagai komunitas masyarakat sebagai basisnya. Komunitas masyarakat yang dimaksudkan ini adalah suatu kumpulan warga masyarakat baik informal maupun formal yang memiliki kepentingan relatif sama, misalnya komunitas sekolah, komunitas majelis taklim, komunitas RT atau RW dan sebagainya.

Komunitas masyarakat yang saat ini ada dan diharapkan dapat berfungsi sebagai basis untuk menggerakkan anggotanya untuk memfasilitasi posyandu dalam melaksanakan posdaya di antaranya adalah :
  • Sekolah
  • Rumah ibadah
  • RT/RW
  • Kelompok pengajian / majelis taklim
  • Kleompok alumni/arisan
  • Perusahaan Dan sejenisnya

Dengan demikian pada saat pelaksanaan posdaya akan terdapat beberapa basis posdaya yang di antaranya adalah :
  • Posdaya berbasis SLTA A, Univeritas B, pesantren Z, dll
  • Posdaya berbasis masjid A, gereja B, dll
  • Posdaya berbasis majelis taklim C, dst
  • Posdaya berbasis alumni SMA-X atau Universitas-Z
Melalui basis-basis tersebut, warga masyarakat yang menjadi anggotanya bersinergi membantu posyandu yang diharapkan dapat meningkatkan fungsinya sebagai posdaya untuk menangani perrmasalahan masyarakat.

Apa dan Mengapa Perlu Melakukan Posdaya Sinambung Bergulir (Posdaya-SB)

Walaupun kemauan ada namun gerakan nyata dari masyarakat untuk memberdayakan dirinya, boleh dikatakan masih relatif rendah. Beberapa indikasinya adalah :
  • BLT (Bantuan Langsung Tunai) masih sering menjadi rebutan
  • Jatah beras untuk keluarga miskin masih sering tidak bisa dinikmati oleh keluarga yang berhak.
  • Banyak orang sakit parah ditolak RS karena ketiadaan jaminan
  • Setiap kali ada pembagian sedekah atau sejenisnya seringkali rebutan
  • Data kaum prasejahtera tidak selalu ada dan kalaupun ada seringkalo dalam keadaan tidak mutakhir.
Sesungguhnya kasus-kasus tersebut tidak perlu terjadi seandainya di setiap lokasi, masyarakat secara bergotong royong telah menangani masalah-masalah mereka sendiri. Dalam hal ini banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah :
  • masih rendahnya kualitas unsur pemerintah untuk secara ikhlas dalam melakukan pembinaan,
  • tidak adanya warga yang militan untuk tampil membenahi dan merawat sistem pendataan dan distribusi fasilitas yang diberikan kepada orang miskin,
  • belum sadarnya warga mampu bahwa dalam hartanya (baik dana, waktu dan pemikiran) ada hak orang miskin
  • belum sadarnya warga miskin bahwa budaya ”meminta/ mengemis” tidak akan bisa membuat sejahtera yang seharusnya diubah menjadi budaya ”memberdayakan diri”,
  • posyandu belum menjadi milik masyarakat sehingga posyandu dibiayai sendiri oleh kader-kader posyandu dan seringkali juga mengandalkan urunan warga miskin yang jumlahnya relatif terbatas.
Karena masalah-masalah itulah maka dalam pelaksanaan posdaya diperlukan adanya stimulan atau ”pancingan”. Yang disebut pancingan adalah pemberian contoh selama beberapa waktu (1 bulan atau lebih) oleh seorang atau lebih yang peduli untuk kemudian dilanjutkan (diambil-alih) dan diperluas oleh warga yang diberi contoh. Dengan adanya pancingan tersebut, diharapkan pula data yang valid dan merupakan keputusan bersama yang selalu mutakhir dapat dikelola pula dengan baik

Jika sudah terpancing, dalam hal ini setelah diberi contoh berdasarkan data yang valid dan selalu mutakhir tsb, masyarakat kemudian mmelanjutkan, maka pancingan dapat dirupakan berupa paket lain di mana masyarakat masih belum menyentuhnya.

Memancing dan kemudian menarik pancingan untuk memancing di bidang lain inilah yang disebut ’sinambung bergulir’. Diharapkan dengan adanya pancingan ini, terjadi percepatan keberdayaan masyarakat. Kesimpulannya Posdaya-SB memang diperlukan sebagai upaya untuk mempercepat ”bangun-nya” masyarakat.

Siapa Yang Dapat Berfungsi Sebagai Pemancing Posdaya-SB ?

Siapa saja yang diberi kelebihan oleh Tuhan Semesta Alam dalam hal harta, pemikiran, relasi, dan sejenisnya, yang sadar bahwa pada hartanya terdapat hak orang miskin baik yang meminta maupun yang tidak mendapat bagian.

Beberapa potensi masyarakat yang dapat berfungsi sebagai pemancing adalah : calon haji/haji, pejabat/mantan pejabat, dokter, pengusaha

Paket Apa Saja Yang Digunakan Sebagai ’Pancingan’ Dalam Posdaya-SB ?

Dari berbagai pengalaman yang ada, saat ini terdapat 8 paket pancingan yang disarankan untuk dilakukan secara berurutan (dari yang paling mudah sampai tersulit) mengingat bahwa masyarakat baru akan mau melaksanakannya jika mulai dari yang murah dan tidak sulit dikerjakannya. Kedelapan paket tersebut diuraikan berikut ini.
  • Paket Pancingan I : Paket makanan gizi tambahan untuk ibu hamil, balita dan lansia miskin (bubur kacang ijo, telur rebus dan buah-buahan) seharga saat ini sekitar Rp 3.500 per orang yang dapat dilakukan 1 kali atau lebih per bulan via posyandu yang logistiknya dibeli dari warung-warung yang sepakat untuk berposdaya.
  • Paket Pancingan II : Paket Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi anak-anak balita miskin berupa inisiasi, pengadaan modul belajar-mengajar, dan honor bagi fasilitator/ guru PAUD
  • Paket Pancingan III : Paket Belajar Sambil Bermain / Bekerja (BSB) bagi anak dan remaja miskin berupa inisiasi, pengadaan modul belajar-mengajar, dan honor bagi fasilitator/ guru BSB
  • Paket Pancingan IV : Paket kegiatan gotong royong kesetiakawanan sosial bagi siswa/ anak-remaja berupa dana gratis untuk konsumsi dan peralatan gotong royong
  • Paket Pancingan V : Paket beasiswa kepada keluarga pra sejahtera tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA
  • Paket Pancingan VI : Paket pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil (Warung Posdaya) di bidang administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera.
  • Paket Pancingan VII : Paket modal kerja kepada serikat dagang warung warga Posdaya untuk mensejahterakan para anggota dan para masyarakat pra sejahtera.
  • Paket Pancingan VIII : Paket pengobatan dan perawatan gratis kepada masyarakat pra sejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter yang TAKWA
Kedelapan paket tersebut di atas merupakan paket-paket yang relatif mudah dikerjakan sebagai awal untuk mengerjakan kegiatan pemberdayaan lainnya terutama di bidang ekonomi.

Bagaimana Paket Pancingan I Posdaya-SB Digulirkan ?

Tahap pertama ini dimulai dari adanya kesadaran satu atau lebih orang dari kalangan sejahtera yang ada di suatu wilayah atau kalau belum ada dapat berasal dari luar wilayah bahwa pada diri mereka terdapat hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tak mendapat bagian.

Oleh karena kesadaran itu, mereka menyisihkan sebagian hartanya untuk melakukan pancingan dalam usaha untuk mendorong / mengajak orang lain untuk memberi. Mengapa ? Karena selain memberi, pada diri setiap orang (baik kaya maupun miskin) terdapat tugas dari Yang Maha Kuasa untuk mendorong/menganjurkan memberi orang miskin.

Pancingan berupa makanan tambahan bergizi diberikan kepada kaum prasejahtera (ibu hamil, balita, lansia) yang berada di suatu wilayah melalui posyandu sesuai dengan standar yang telah ada. Pelayanan posyandu yang biasanya 1 x sebulan dapat ditingkatkan frekuensi dan kualitas kontennya sesuai dengan kemampuan, misalnya saja, 1 kali menjadi 2 kali atau lebih per bulan dengan memberikan tambahan makanan sehat yang lebih bergizi daripada sebelumnya. Logistik untuk ini diutamakan dibeli dari warung yang berada di wilayah tsb yang nantinya akan berfungsi sebagai warung posdaya.

Dalam program ini juga dilakukan kontrak kemitraan antara pihak ’yang memberi pancingan dengan warga masyarakat di mana kaum prasejahtera itu berada. Isi kontrak adalah bahwa setelah masa kontrak selesai, warga masyarakat (dalam hal ini tokoh dan kaum yang sejahtera) mau melanjutkan pemberian paket. Dalam hal ini wakil prasejahtera juga dilibatkan sebagai penandatangan kontrak.

Dengan adanya kegiatan ini, ada kesempatan yang baik untuk mengumpulkan dan memutakhirkan serta sekaligus melegalisasikan data. Tokoh-tokoh masyarakat diajak untuk melakukan verifikasi.

Selanjutnya pararel dengan pemberian makanan bergizi ini, kaum prasejahtera – melalui juru dakwah – diajak untuk menyadari bahwa yang dapat mengeluarkan diri dari kemiskinan dan kebodohan itu adalah dirinya sendiri. Orang lain tidak bisa dan hanya berfungsi sebagai fasilitator. Dengan demikian budaya mengemis/ meminta perlu diubah menjadi budaya memberi sesuai kemampuan. Memberi apa saja di saat lapang maupun sempit.

Kegiatan awal ini boleh dikatakan sebagai kegiatan yang murah-meriah namun relatif jitu sebagai starter awal (sosialisasi) kegiatan pemberdayaan masyarakat sejahtera maupun prasejahtera.

Bagaimana Paket Pancingan II Posdaya-SB Digulirkan ?

Dalam tahap kedua ini – setelah masyarakat secara mandiri melaksanakan / mengambil alih program tahap pertama – pancingan dapat diarahkan oleh para ’pemancing’ kepada penyelenggaraan PAUD (pendidikan anak usia dini) kaum miskin yang selain sebagai pengisi waktu agar produktif juga sebagai persiapan bagi mereka nantinya untuk masuk SD yang dewasa ini telah digratiskan oleh pemerintah.

Kebanyakan anak usia dini kaum fakir miskin ini tidak tersentuh oleh ’play group atau TK yang karena dikelola swasta, menjadi beban bagi kaum miskin. Kalaupun tersentuh oleh pengajian anak (yang dilakukan oleh guru ngaji), materinya pun baru terbatas kepada cara membaca, belum banyak mengarah kepada bagaimana mengimplementasikan ayat-ayat yang dibacanya melalui ’game’ dan tindakan nyata yang dapat membekas dalam diri anak-anak kecil itu.

Modul PAUD yang dipadukan dengan pengajian anak-anak didesain sebagai pendidikan luar sekolah yang materi-materinya mengarah kepada motivasi hidup, kemandirian yang sinergi, kesantunan, kereligiusan, kegotongroyongan dan keterampilan-keterampilan dasar yang cocok untuk anak usia dini

Karena jarang ada orang yang dengan sukarela (padahal di setiap lokasi selalu ada potensinya) mau menyelenggarakan kegiatan ini maka pancingan diarahkan pada :
  • Pemberian honor kepada fasilitator PAUD dan guru ngaji
  • Pelatihan fasilitator PAUD dan guru ngaji
  • Pemberian modul-modul yang diperlukan.
Sama seperti paket I, dalam pengguliran paket II ini juga dilakukan kontrak antara pihak pemancing dengan tokoh/warga sejahtera yang juga ditandatangani oleh wakil prasejahtera. Isi kontrak adalah kesepakatan tokoh masyarakat/warga sejahtera untuk melanjutkan kegiatan ini apabila jangka waktu kontrak bantuan telah selesai.

Bagaimana Paket Pancingan III Posdaya-SB Digulirkan ?

Jika paket I telah diambil alih oleh masyarakat, maka paket III bisa digulirkan baik secara serial maupun pararel dengan paket II. Dalam hal ini paket III difoluskan untuk menyelenggarakan pendidikan luar sekolah bagi anak-anak, remaja, dewasa dan lansia.

Pendidikan luar sekolah tersebut dapat dirinci sbb :
  • Pendidikan luar sekolah bagi anak-anak yang disebut BSB (Belajar Sambil Bermain) berisi materi-materi :motivasi hidup, kemandirian yang sinergi, kesantunan, kereligiusan, kegotongroyongan dan keterampilan-keterampilan yang cocok untuk anak-anak.
  • Pendidikan luar sekolah bagi remaja yang disebut BSK (belajar Sambil Bekerja), lebih diarahkan kepada visualisasi dunia kerja yang akan mereka masuk di kemudian hari. Dalam kegiatan BSK ini remaja diajak untuk berlatih bekerja di beberapa jenis pekerjaan yang ada di wilayah tsb.
  • Pendidikan bagi kaum dewasa lebih diarahkan pada bagaimana bersikap sebagai orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rumah tangga dan sebagai warga masyarakat, bagaimana mengembangkan hobi-hobi yang dapat diproduktifkan bilamana terjadi PHK dan beberapa materi lain yang berkaitan.
  • Pendidikan bagi lansia lebih diarahkan pada bagaimana mengisi kehidupan sebelum mati sebagai manusia mulia. Dalam hal ini materi yang lebih banyak disajikan adalah yang berkaitan dengan masalah sosial-religius
Pancingan yang Digulirkan antara lain berupa :
  • Pelatihan dan pemberian honor bagi fasilitator / guru yang mengajar
  • Pengadaan materi-materi (bukan bangunan) yang menjadi alat dalam penyelenggaraan kegiatan

Bagaimana Paket Pancingan IV Posdaya-SB Digulirkan ?

Paket IV – berupa bantuan fasilitas untuk melakukan kegiatan gotong royong - dapat diberikan pada saat paket III baru dimulai dengan tujuan memupuk kerukunan dan rasa kebersamaan warga dalam mengatasi masalah masyarakat.

Sebagai contoh dapat digambarkan skenarionya sebagai berikut :
  • Jika dari 5 sekolah (SD/SLTP/SLA) yang ada di suatu wilayah mengirimkan masing-masing 10 siswanya setiap minggu secara bergantian untuk bekerja bakti di salah satu sekolah, maka selama 5 minggu lima sekolah tsb telah pernah dikunjungi (untuk kerjabakti) oleh siswa-siswa yang sekolahnya berlainan tsb.
  • Dengan cara seperti ini kemungkinan tawuran antar siswa dapat ditekan menjadi seminimal mungkin.
Paket yang diberikan berupa alat kerja dan konsumsi selama kerjabakti / gotong royong, yang diharapkan dapat dilanjutkan / diambilalih oleh masyarakat setelah periode pancingan selesai.

Bagaimana Paket Pancingan V Posdaya-SB Digulirkan ?

Paket V (beasiswa kepada keluarga pra sejahtera tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA) digulirkan setelah paket gotong royong (Pakaet IV) dan paket pendidikan luar sekolah (paket III) diambil alih oleh masyarakat

Paket ini diberikan dalam bentuk seragam, uang transportasi, uang buku dan keperluan lain yang berkaitan dengan sekolah (dengan asumsi bahwa sekolah gratis).

Agar lepas dari budaya ’mengemis/meminta / menerima ’ yang dewasa ini sering menjadi trademark kaum miskin, maka kepada para siswa yang dapat beasiswa diwajibkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sbb :
  • Siswa kelas 1 s/d 5 SD diwajibkan untuk membersihkan ruang kelasnya masing-masing
  • Siswa kelas 6 SD s/d SLTA diwajibkan membersihkan halaman sekolah.
Dalam pelaksanaan paket ini, beberapa orang guru akan dilibatkan dalam memantau kinerja / prestasi para siswa miskin yang mendapatkan beasiswa tersebut.

Bagaimana Paket Pancingan VI Posdaya-SB Digulirkan ?

Sebagaimana diketahui bahwa pada saat awal pelaksanaan program pancingan, beberapa warung yang ada di lokasi posdaya telah dilibatkan sebagai pemasok material posyandu. Mereka inilah yang kemudian diupayakan untuk berhimpun dalam kegiatan yang disebut forum warung posdaya.

Untuk meningkatkan kualitas layanan dan manajemen warung-warung tsb maka digulirkanlah paket VI, yaitu pelatihan gratis bagi mereka, Bidang-bidang pelatihan meliputi administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera)
Paket VI (pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil /Warung Posdaya) ini digulirkan pararel dengan atau setelah paket V (pemberian beasiswa anak miskin) diambil alih oleh masyarakat.

Bagaimana Paket Pancingan VII Posdaya-SB Digulirkan ?

Bilamana masyarakat suatu lokasi telah bangkit melakukan posdaya melalui tahap demi tahap, maka suatu saat akan tercetus pemikiran mengenai bagaimanakah mendapatkan dana abadi untuk membiayai kegiatan posdaya yang sudah, sedang dan akan berlangsung. Dalam hal ini tentu ada yang berpikiran bahwa dana tersebut dapat diperoleh dari unit-unit usaha produktif yang dikelola masyarakat.

Menyikapi hal ini, ada potensi yang bisa dikembangkan untuk memenuhi maksud tersebut yaitu adanya beberapa warung yang telah membantu posdaya dan telah dilatih untuk menerapkan manajemen yang profesional sebagaimana dilakukan pada paket sebelumnya.

Atas dasar inilah maka digulirkanlah paket VII berupa pemberian modal kerja kepada serikat dagang warung Posdaya. Serikat dagang - yang diusahakan berbadan hukum koperasi - ini dibentuk dengan tujuan untuk mensejahterakan para anggota (warung posdaya) dan sekaligus para masyarakat prasejahtera. Mengapa demikian ? Karena sebagian dari keuntungan serikat dagang tersebut dialokasikan untuk memberdayakan prasejahtera.

Bagaimana Paket Pancingan VIII Posdaya-SB Digulirkan ?

Potensi masyarakat utntuk menanganai kemiskinan sesungguhnya amat besar hanya saja belum dibangkitkan untuk memberikan kontribusi. Di antara potensi-potensi tersebut ada yang berkaitan dengan bidang kesehatan, yakni : RS, apotik, dokter, tabib, perawat, dan sejenisnya.

Mengingat keberadaan potensi tersebut maka diluncurkanlah paket VIII berupa pengobatan dan perawatan gratis bagi masyarakat prasejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter takwa. Potensi ini amat mendukung Jamkesmas yang akan diberlakukan menyeluruh di Indonesia. Hal ini untuk mengantisipasi bilamana Jamkesmas tidak berlangsung lancar (karena sistem birokrasi), posdaya siap berperan menangani kekurangannya.

Dalam paket ini, para dokter, tabib dan perawat yang peduli bergabung untuk bergiliran berpraktek gratis setiap minggu 2 jam, Jika Jamkesmas lebih berfokus kepada tindakan kuratif, maka kegiatan praktek bergiliran ini banyak mengarah kepada tindakan pencegahan menangani penyakit yang mungkin timbul di kalangan laum miskin. Dalam hal ini pemilik apotik dan pemilik RS dilibatkan untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang timbul saat kegiatan berlangsung,

Beberapa Ciri Khas Posdaya Sinambungbergulir Yang Sepatutnya Dipertahankan

Beberapa Ciri Khas Posdaya Sinambungbergulir Yang Sepatutnya Dipertahankan adalah :
  • Kelembagaan yang telah ada, yang sudah dibentuk oleh pemerintah (Posyandu, dll) maupun masyarakat (majelis taklim, pesantren, sekolah, dll) berfungsi sebagai ”kendaraan” untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan (dengan kata lain seminimal mungkin melakukan pembentukan kelembagaan baru)
  • Memanfaatkan fasilitas bangunan yang sudah ada (masjid, sekolah, posyandu dsb) untuk menyelenggarakan kegiatan posdaya (pelayanan kesehatan, PAUD, BSB, dll) dan diusahakan tidak membangun fasilitas yang baru.
  • Menjadikan pemberian makanan tambahan bergizi sebagai tahap awal pembiasaan peduli
  • Menjadikan kegiatan pemberdayaan berupa pemahaman (pelatihan) yang selalu diikuti dengan aksi nyata
  • Menjadikan gotong royong sebagai wahana merukunkan warga dimulai dengan gotong royong menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan
  • Menjaga akurasi, kemutakhiran dan validitas data kaum miskin di mana kader posyandu/PKK dan ketua RT/RW amat berperan besar di dalamnya
  • Menjadikan sistem pelaporan berbasis data mustahik yang dilegalisir oleh pejabat/tokoh setempat sebagai alat untuk merencanakan, mengevaluasi / mengaudit dan menyampaikan himbauan untuk mengajak/mendorong peduli mustahik.


Bogor, April 2009
SastrawanBatangan / JonPosdaya / SriPosdayawati / MariBerposdaya / Posdaya,

Baca selanjutnya.....

Rabu, April 15, 2009

Posdaya | Resep Caleg Tidak Gila 2014 : Murah-Meriah-Gampang-Ridho

1 komentar

Hasil Pemilu 9 April 2009 yang lalu bagi masing-masing caleg relatif dengan cepat sudah bisa diterka, terutama di level kabupaten atau kota, apakah ia terpilih ataukah tidak untuk duduk di parlemen. Yang menang, sebagaimana ditayangkan tivi, kebanyakan ”sumringah-bungah”. Demikian pula pendukungnya juga ikut senang yang kemudian ada yang menggunduli kepalanya, ada pula yang memanggul dan mengarak si caleg keliling kampung dan sebagainya. Wajarlah dalam pesta demokrasi ada perilaku seperti itu.

Lantas bagaimana yang gagal ? Bermacam-macam pula responnya. Kebanyakan sedih, pilu, cenderung menyendiri bahkan depresi. Malahan ada yang gantung diri, mengusir orang yang telah puluhan tahun menumpang di rumah miliknya hanya karena tidak mencontreng dia, tidak pulang ke rumah karena takut dikejar penagih hutang dan ada pula yang lari ke padepokan tim spiritual alias dukun.

Mengapa gagal ? Seorang pemerhati masalah sosial religius menyimpulkan bahwa penyebab kegagalan seorang caleg terpilih menjadi legislator dapat dikelompokkan menjadi 5 faktor : (1) tidak dikenal rakyat; (2) tidak disuka rakyat; (3) tidak dipercaya rakyat.; (4) tidak dikehendaki parpol; dan (5) tidak dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat. Karena itulah bagi yang gagal tinggal pilih termasuk kategori manakah dia. Apakah belum dikenal rakyat ? Apakah dikenal cuma oleh sedikit rakyat? Kalau sudah dikenal apakah sudah disuka / disenangi rakyat. Apakah yang suka kepadanya sedikit ataukah banyak ? Lalu kalau sudah dikenal dan disuka, apakah dia dipercaya rakyat ? Apakah yang percaya kepadanya banyak ataukah sedikit ?. Kalau sudah dikenal, disuka dan dipercaya apakah parpol di mana sang caleg berinduk sudah menghendakinya ataukah tidak ?. Dan terakhir kalau semuanya sudah oke, apakah Sang Maha Pencipta Rakyat berkehendak ataukah tidak?

Dari logika itu pula kita dapat memahami mengapa ada seorang caleg yang tidak dikenal, tidak disuka dan tidak dipercaya oleh banyak warga masyarakat dapat terpilih menjadi legislator. Rupanya dia dikehendaki oleh parpol pendukungnya dan dikehendaki pula oleh Sang Maha Pencipta Rakyat. Demikian pula ada orang yang sangat dikenal, disukai dan dipercaya rakyat namun karena ”emoh” jadi wakil rakyat formal, maka tidak ada satupun parpol yang men-caleg-kannya. Dengan kata lain agar jadi wakil rakyat formal, parpol harus ”menghendakinya” terlebih dulu sebelum dikehendaki oleh Sang Maha Pencipta Rakyat.

Tentunya banyak caleg yang gagal pada pemilu 2009 ini yang masih berkeinginan untuk maju lagi pada pemilu 2014. Demikian pula tentu banyak muka-muka baru (new comer) yang ingin menjadi caleg 5 tahun di depan. Mereka tentunya tidak ingin gagal kan ?. Mereka juga tidak ingin gila kan ?. Namun bagaimana resepnya ?

Dari hasil ”tengok sana tengok sini”, ada sebuah paket dari seorang pengamat amatir - bermukim tidak jauh dari Jakarta- yang berisi kiat agar caleg dikenal-disuka-dipercaya rakyat, dikehendaki parpol dan dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat Bunyi kiatnya adalah sbb :

(1) Sosialisasikan pemberdayaan masyarakat dengan cara murah-meriah
  • Minta dan periksa data balita/ibu hamil dan lansia dari posyandu di kampung miskin-kumuh terdekat. Beli rutin kacang ijo (jangan lupa gula) dan berikan kepada posyandu untuk dimasak menjadi bubur kacang ijo dan kemudian dibagikan kepada balita/ibu hamil / lansia miskin. Murah, meriah, sekitar 5 kg per 200 orang miskin (+/- Rp 200.000, termasuk gula, dll).
  • Jika sudah dilakukan secara rutin 3 bulan, ajak 3 lansia yang kehidupannya mapan alias mampu untuk bergantian memberi makan pagi-siang-malam kepada 1 lansia yang miskin (anda tidak perlu keluar uang).
  • Bagaimana kalau hal itu sudah dilakukan ? Lanjutkan lagi dengan memberikan honor tambahan buat guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) balita miskin. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan baik secara serial maupun pararel, baik berskala RT maupun berskala lebih besar lainnya.
  • Siapa pelaksananya ? Tidak usah repot-repot. Ada posyandu yang bisa diminta sebagai pelaksananya karena relatif sudah tahunan terpecaya dan ikhlas mengurusi orang miskin.
  • Yang penting dalam hal ini adalah : 1) Ajak keluarga, tetangga dan kawan pengajian/ alumni / arisan / dll agar biaya murah dan ada unsur ”bersama”, 2) Tidak perlu ’bawa-bawa’ nama partai tertentu, partailah yang nanti ”nglamar” anda karena anda dekat rakyat. Ingat seorang ’salesman’ seringkali lebih dikenal namanya daripada perusahaannya, 3) Jangan pedulikan omongan orang yang umumnya suka ’ngomong’ tapi tidak peduli kepada tetangga dekat /jauhnya sendiri. Dalam hal ini anda boleh sedikit ”sombong’ karena telah langsung berbuat nyata bukan berwacana dan ’omdo’ saja. Dalam hal ini sebagai media latihan bagi anda, ajak orang-orang seperti itu agar mau ikut peduli.

(2) Banyak dan rajin bersilaturahmi

  • Silaturahmi yang dilakukan bersifat memberi (tidak selalu uang/harta/material fisik) dan kalau bisa tanpa upah (pamrih).
  • Kalaupun tidak bisa bersilaturahmi dengan cara tatap muka, saat ini bisa dilakukan dengan ”tatap monitor” yakni memanfaatkan media internet (e-mail, facebook)

(3) Banyak baca berita

  • Banyak baca koran dan media lainnya dan kalau bisa, tuliskan buah pikiran anda berdasarkan pengalaman nyata anda di atas untuk menangani masalah kemiskinan dan kebodohan. Dimuat di mana ? Media untuk itu sekarang ini amat banyak. Tidak usah langsung lewat koran juga tidak apa-apa. Manfaatkan saja web-site/ blog yang ada di internet dan kirim tulisan dalam blog anda itu kepada orang lain. Dengan cara ini anda telah memberi dan mendorong orang lain untuk peduli kemiskinan (sebagai perintah dari Sang Maha Pencipta Rakyat)

(4) Lakukan usaha ekonomi apa saja -walau kecil - tapi sinambung

  • Tujuannya adalah untuk mendukung kehidupan rumah tangga yang bisa berlangsung berdasarkan sistem walaupun anda tidak selalu bisa menunggui usaha itu.

(5) Rajin berpuasa & berolahraga

  • Banyak berpuasa sebagai usaha ”pengedalian diri”
  • Berolah raga agar tidak capek saat berkampanye atau duduk sidang berlama-lama sebagai legislator.

(6) Pengendalian bicara

  • Bicara tidak terburu-buru,
  • Bicara tidak ”nylekit”
  • Bicara sambil senyum dan sambil menoleh para pendengar yang ada di kiri dan kanannya.

(7) Berniat lurus & minta lindungan Sang Maha Pencipta Rakyat

  • Berniat benar-benar menjadi wakil rakyat yang memakelari kepentingan rakyat.
  • Berniat tidak gila bilamana kalah dan tidak gila kekuasaan jika menang.
  • Banyak minta lindungan Sang Maha Pencipta Rakyat agar terhindar dari syaitan dan iblis yang sering menipu lewat atau atas nama kepentingan rakyat.

Sang pengamat yang memberikan kiat di atas menambahkan : ”Empat tahun ke depan cukuplah bermodal tujuh butir itu untuk menjadi caleg yang dikenal, disuka dan dipercaya rakyat, dikehendaki partai dan semoga juga dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat. Dan perlu anda ketahui bahwa sebagian besar legislator yang gila kekuasaan dan caleg yang gila sungguhan karena tidak terpilih dipastikan tidak melakukan kiat-kiat itu...Mengapa ? He....he....he.......kita semuanya entah kenapa ya, maunya by-pass lewat jalan tol ....”.

SastrawanBatangan, Bogor, 2009-04-15

Baca selanjutnya.....

Rabu, Maret 25, 2009

Posdaya | Caleg ”Memakelari” Tiket Surga

0 komentar

Kita sudah terbiasa dengan istilah makelar alias calo. Di antaranya makelar tanah atau makelar mobil. Sementara itu ada lagi profesi sejenis namun umumnya mereka yang melakukannya enggan menyandang gelar itu karena malu atau takut ditangkap pihak berwajib. Di antaranya adalah makelar proyek dan makelar jabatan.

Bicara lebih lanjut tentang makelar, yang tugasnya mempertemukan dua atau lebih pihak yang saling memerlukan, ternyata kegiatan ini perlu dan bahkan harus dikerjakan oleh siapapun yang merasa dirinya manusia bilamana ia ingin masuk surga. Tidak pandang bulu profesi si manusia tsb, Apakah kiyai, ulama, pendeta, presiden, seniman, pengusaha, professor, profesional, baik kaya ataupun miskin, baik sibuk maupun tidak. Semuanya dikenai kewajiban, bahwa selain memberikan sebagian harta yang dimilikinya, juga sebagai perantara untuk menyambungkan yang kaya dengan yang miskin yang terkenal dengan istilah “menganjurkan” atau “mendorong” dan agar gampang diingat sebut saja makelar.

Apa yang dituliskan di atas adalah sebuah kesimpulan yang diterima oleh seorang caleg sebuah parpol setelah berkali-kali berdialog secara serial dan pararel dengan banyak pendalam dan praktisi agama. Di antaranya adalah ulama, pastor, pendeta, dan bikhu yang pada waktu dialog membuka kitab sucinya masing-masing. Referensi yang mereka gunakan di antaranya adalah:
  • Kesejahteraan makhluk hendaklah engkau usahakan sebab orang sedang berjalan, duduk, bangun, tidur sekalipun jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat tidak ada bedanya dengan perilaku hewan (Weda, S. Mucaya 139) .Tuhan Yang Maha Esa tidak akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur. Demikian pula yang tidak mendermakan sebagian miliknya kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukan. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengambil kekayaan untuk orang-orang yang tamak dan menganugrahkannya kepada orang-orang yang dermawan. (Rg.veda V.34.7).
  • Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Injil, Yakobus 2:24). Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Injil, Amsal 14:31)
  • "Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. .......... " (Sabda Budha dalam Dhammapada, 19, 20)
  • Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Quran 61:2-3). Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala...... ...... Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. (Quran 69:31-34) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Quran 107:1-7). Mulailah dari dirimu, bersedekahlah atasnya (Ibda’ Binafsika Fa Tashoddaq ‘Alaiha) (HR Muslim). Sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat (HR. Bukhari)
Pemahaman tersebut di atas menjadi makin mendalam bagi sang caleg ketika di sebuah forum yang dihadirinya ada yang bertanya : ”.... Tetapi mengapa koq banyak orang tidak atau enggan menjadi makelar seperti itu ? ” Pendakwah, yang berada di mimbar forum, menjawab : ” Karena kebanyakan dari kita menganggap bahwa mati belum sebentar lagi....... Ntar..ntar saja kalau sudah nggak sibuk...ntar ntar saja kalau sudah tua..... Padahal mati kan bisa kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya”.

Maka tidaklah mengherankan jika sang caleg itu kemarin, diakhir pidatonya berkata dengan penuh semangat : ”Ayolah ramai-ramai bersama saya menjadi makelar .......makelar sosial alias maksos di lingkungan masing-masing.....karena siapapun baik pemerintah maupun partai yang menangpun tak akan sanggup sendirian menangani kemiskinan dan kebodohan....Saya tidak berjanji menghilangkan kemiskinan dan kebodohan dari bumi pertiwi kita ini. Tetapi saya berjanji mulai saat ini dan atau saat terpilih nanti akan bersama-sama anda menggelorakan semangat makelar sosial alias maksos agar kegiatan maksos menjadi milik kita semua...agar kemiskinan dan kebodohan segera teratasi ......Maka contrenglah saya.......!!!!!”

Tempik sorak para penonton di depan podium membahana. Mereka setuju apa yang dikatakan sang caleg bahwa kemiskinan dan kebodohan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah ataupun oleh siapapun partai yang menang. Justru rakyatlah - terutama yang termasuk kategori mampu alias sejahtera - yang harus dirangsang agar peduli dan bahu membahu. Maka setelah bubar, para pendengar kampanye membawa pulang oleh-oleh selarik kalimat ” Menjadi makelar di lingkungannya masing-masing tanpa malu, tanpa riya karena kalau tidak...... tidak akan mendapat tiket surga.....................................................dan tidak lupa mencontreng sang caleg yang tadi berkampanye”.


http://mariberposdaya.co.cc, 25 Maret 2009


Baca selanjutnya.....

Senin, Maret 23, 2009

Posdaya | Tanda Cinta Dokter Ahli Syaraf Samino Untuk Isterinya Tidak Lagi Kembang Yang Gampang Layu

1 komentar

Di dunia persyarafan, apalagi Alzheimer, nama dokter H.Samino Sp.S (k) sangat populer. Pria berwajah lembut, mantan direksi RSCM, dosen di FKUI/RSCM dan saat ini menjadi Direktur RS Islam Jakarta ini, kemarin, 15 Maret 2009, menorehkan salah satu bukti cintanya buat sang isteri, Endang Samino, yang telah melahirkan 3 anaknya. Bukti Cinta itu tidak lagi seombyok kembang, apalagi sebuah klinik atau rumah sakit baru seperti yang dewasa ini banyak muncul di mana-mana, tapi sebuah karya mewakili diri pribadi dan profesinya. Karya itu berupa pemberdayaan masyarakat sejahtera agar peduli secara sistematis kepada 66 balita dan 137 lansia miskin di Desa Semampir, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, kampung halaman leluhur keluarga besar isterinya.


Hari itu adalah tahap pertama kerja bareng keluarga besarnya baik yang ada di Jakarta maupun yang ada di desa itu. Mereka berpantungan untuk memberikan contoh makanan bergizi kepada balita dan lansia miskin dengan harapan bahwa kaum sejahtera yang ada di lokasi itu juga ikut ambil bagian. Tidak hanya ambil bagian pada masalah gizi tapi juga pada pendidikan anak usia dini, pendidikan anak/remaja lepas sekolah dan bahkan niatnya sampai pada tahap pemberdayaan ekonomi keluarga dan penanganan kesehatan secara total.

Sementara balita ditangani oleh bidan desa dan kader puskesmas, dokter Samino ikut turun memeriksa kesehatan lansia yang rata-rata karena miskin jarang disentuh oleh dokter. Itulah sebuah hajad dari keluarga yang melibatkan tidak saja posyandu, puskesmas, aparat desa tapi juga masjid. Dalam kaitan ini masjid diharapkan menjadi basis spiritual untuk turut menyadarkan warga bahwa pada diri mereka terdapat hak orang miskin sehingga para jamaah mau bergotong royong menangani masalah kemiskinan dan kebodohan di lokasi itu.

Dokter Samino – yang persis di depan rumahnya di Jalan Nenas, Utan Kayu Jakarta Pusat memiliki bangunan yang disediakan untuk kegiatan masyarakat – menyatakan bahwa kegiatan ini bisa dikerjakan oleh komunitas apa saja. Bisa komunitas arisan / perkumpulan keluarga, alumni, RT atau RW atau komunitas profesional seperti ikatan dokter atau ikatan isteri dokter yang sadar bahwa pada harta dan profesi mereka ada hak orang miskin. Murah meriah tetapi manfaatnya amat sangat besar karena akan mengurangi beban anak cucu akibat kawan-kawan mereka di masa kecilnya kurang gizi dan kurang mutu pendidikan.

Dokter Samino - berdasarkan hasil studinya mengenai Al Quran dan Al Hadits dan ia yakin bahwa itu juga disebutkan dalam kitab agama lainnya–menyatakan bahwa kewajiban manusia tidak hanya bicara dan berdoa saja tetapi harus selalu memberi di kala lapang dan sempit dan sekaligus menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Kalau keduanya tidak dilakukan, baik memberi maupun mengajurkan, maka manusia seperti itu akan dipandang Allah sebagai manusia yang tidak beriman dan sekaligus mendustakan agama. Kebanyakan orang memberi tapi diam-diam karena takut riya. Padahal suruhan Tuhan, manusia selain memberi juga harus menganjurkan. Kalau tidak menganjurkan mana mungkin kemiskinan dan kebodohan bisa ditangani sendiri. Kesimpulannya adalah bagaimana caranya memberi dan menganjurkan tetapi tanpa riya. Untuk itulah pentingnya mohon perlindunganNya agar terhindar dari syaitan yang menyebabkan riya dalam setiap usaha untuk menganjurkan.

Itulah kisah tentang tanda cinta seorang suami kepada isterinya. Tidak lagi berupa kembang yang sehari dua hari bisa layu, tetapi kegiatan yang bermanfaat dunia akhirat. Memberi dan menganjurkan untuk memberi. Siapa menyusul agar tidak dimurkai Allah karena mendustakan agama ?

Catatan : 1) Ditulis berdasarkan dialog dengan dr Samino dan isterinya (yang juga Pengurus Besar IIDI) di Jakarta tanggal 17 Maret 2009 dan berbagai informasi lain mengenai kegiatan posdaya keluarga besarnya di Purworejo tanggal 15 Maret 2009; 2) Di Palembang, Cimahi dan Gresik, menurut kabar, banyak dokter meluangkan waktunya untuk menjadi sukarelawan di posyandu yang menangani langsung pengobatan gratis bagi masyarakat. 3) Firman-firman yang terkait dengan apa yang diutarakan dokter Asmino di antaranya terdapat pada QS 3:133-134; 63:10; 65:7; 61:2-3;; 107:1-6; 69:25-34, beberapa hadits, Kitab Suci Injil, Weda dan lainnya; 4) Lokasi kegiatan di Posyandu Mekarsari dan Masjid An Nur (koordinator : KH Abdul Aziz) serta di Posyandu Sehat Kuat (koordinator Sutarto SPd) yang semuanya berada di Desa Semampir, Kec. Pituruh; Kab. Purworejo. 5) Tim Teknis Posdaya yang ikut bekerja di lapangan terdiri dari : Soleh Kusmana S.Ag, Eko Prihandono, Fikriyansa, dan Diaz G.

Baca selanjutnya.....

Minggu, Maret 22, 2009

Posdaya | Dua Nenek Tua Miskin Mensubsidi Masyarakat Untuk Mengurusi Orang Miskin

0 komentar

Nenek yang pertama bernama Carolina Sahri, 69 tahun, yang sejak 1986 mengurusi 27 posyandu dengan 4.000 balita dan ibu hamil di 31 RW Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tak jauh dari Cikeas, kediaman SBY. Ia lebih sering berjalan kaki mengunjungi posyandu-posyandu yang dikunjungi oleh banyak ibu hamil dan balita miskin itu (di antaranya ada 100 balita bergizi buruk), karena kalau tidak, honornya yang Rp 200 ribu akan tekor.

Sementara nenek yang kedua bernama Constan Saya, 87 tahun, yang adalah ibu dari Carolina Sahri. Constan Saya ini sendirian sebulan sekali dengan cara 4 kali berganti angkot/bus dari Kebon Jeruk, Jakarta Selatan mengantar uang Rp 150.000,- ke Carolina yang ada di Kampung Kedep di Gunung Putri itu. Untuk apa dia ke sana mengantar uang yang berasal dari patungan para keponakannya itu ? Untuk biaya sewa rumah Carolina.

Inilah subsidi dari dua nenek tua, yang termasuk kategori minus ini, kepada masyarakat sejahtera yang sebagian besar belum bangun dari tidurnya untuk tidak hanya membicarakan tetapi juga peduli secara nyata dan langsung kepada orang miskin agar mereka memberdayakan diri keluar dari kemiskinannya.

Terketuk hati ingin membantu ? Carolina - lulusan SGKP tahun 1960 di Palembang - bilang : ” Tidak usah jauh-jauh. Salurkan kacang ijo atau sop bergizi ke posyandu di kampung sekitar tempat tinggal anda atau di kampung masa kecil anda. Di sana selalu ada anak dalam kandungan dan balita miskin. Mereka kelak akan jadi kawan atau anak buah dari anak cucu kita masing-masing. Kasihan kan kalau anak cucu kita berhadapan dengan mitra dan anak buah yang di masa kecilnya kurang gizi sehingga bodoh, susah diatur dan cenderung merusak. Kacang ijo dan sop itu adalah bentuk bantuan yang nyata dan langsung buat bangsa...”

”Saya yakin anda telah membantu bangsa ini melalui profesi masing-masing..tapi jangan lupa yang kecil, yang murah meriah tetapi sangat mendasar ini, yang karena kecil dan tidak bergengsi banyak dilupakan orang. Mengapa saya minta masyarakat segera turun tangan? Dari informasi yang saya terima ada 4 juta balita miskin, 700 ribu kurang gizi. Kemampuan pemerintah hanya 39 ribu per tahun....Lalu sisanya siapa yang tanggung jawab ....? Kalaupun sudah memberi, perlu pula mendorong atau menganjurkan orang lain agar melakukan hal yang sama. Kalau kita mati siapa yang akan melanjutkan kepedulian ini dan lagi bukankah persoalan ini menyangkut jumlah banyak dan wilayah yang luas ? Saya dengan tubuh tua ini masih mau...kenapa anda tidak.....? Sekali lagi tak usah jauh-jauh membantu saya ! Cari posyandu termiskin di wilayah terdekat dengan anda.......itu berarti membantu saya” Katanya.

(Ditulis berdasarkan hasil beberapa kali wawancara dengan Carolina Sahri dan Constan Saya dan yang terakhir dilakukan tanggal 17 Maret 2009)

Baca selanjutnya.....

Rabu, Maret 11, 2009

Arief Mulyadi bin Tatang Nana

9 komentar

Model ”Murah-Meriah-Strategis”
Pemberdayaan Umat
Berbasis
Metode Cepat Paham Kitabullah


Arief Muyadi, yang terkesan “bodor” alias “ngebanyol” karena punya talenta mampu meramu berbagai cerita humor sehingga suasana – termasuk saat presentasi - menjadi hidup, segar dan tak membosankan, saat ini banyak dikenal berbagai kalangan. Terutama komunitas yang mempelajari Kitabullah dengan metode cepat berdasarkan Al Quran dan Al Hadits serta mereka yang kemudian mewujudkan pemahaman itu dalam kegiatan nyata berupa memberi dan mendorong orang lain untuk memberi, yang di antaranya – karena dianggap sangat prioritas di bumi persada Nusantara dewasa ini – adalah melalui posdaya.

Sewaktu pada suatu kesempatan ”MariBerposdaya” ketemu dan menanyakan seluk beluk metode itu dan apa kaitannya dengan berbuat baik yang salah satu di antaranya melalui posdaya, Arief – yang dikaruniai 1 isteri, 2 anak, 1 menantu dan 1 cucu serta bermukim tak jauh dari Istana Bogor ini - mengatakan : ”Jika mau tahu, ikuti saja beberapa presentasi saya atau mitra saya”.

MariBerposdaya yang sepakat lantas melihat agenda kegiatan Arief dan mitranya. ”Amboi padat amat skedul pak Arief dan mitra-mitranya ini ”, kata salah satu jurnalis “MariBerposdaya”. Dan memang benar, kalau tidak presentasi di Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur atau Bandung, Arief – dan juga para mitranya - sering ke Kalimantan, Sumsel, Lampung dan Jambi. Atau bisa jadi pergi ke Jateng dan Jatim. Kesemuanya dalam rangka menemui mitranya untuk bersama-sama mempelajari Al Quran sekaligus menggerakkan posdaya di setiap lokasi yang dikunjungi.

Metode Pemahaman

Setelah MariBerposdaya mengikuti beberapa kali presentasi Arief (dia tak mau disebut berdakwah) akhirnya dapat disimpulkan bahwa seseorang akan makin cepat memahami Al Quran bilamana dia berupaya memahaminya dengan cara mengikutii tatakrama yang sudah disebutkan Allah dalam Al Quran yang tentunya juga dilaksanakan oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. Beberapa yang fundamental dalam metode ini adalah :
  • Allah menyatakan bahwa DiriNya menciptakan alam semesta dan manusia tidak dengan dan tujuan main-main
  • Al Quran menyatakan bahwa tugas manusia adalah sebagai kalifatullah dengan bekal Al Quran sebagai pedoman hidup dan masing-masing saat mati nantinya akan bertanggung jawab atas dirinya masing-masing.
  • Karena mati bisa terjadi kapan saja, maka oleh Allah diperingatkan agar manusia yang beriman segera kembali ke Al Quran – yang dilupakan oleh sebagian besar manusia – agar manusia yang beriman itu tidak menyesal saat kematian datang, di mana di dalam pengertian kembali ini terdapat aktivitas untuk membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan dan melestarikan Al Quran
  • Dengan melaksanakan peringatan Allah itu, manusia akan terhindar dari godaan syaitan dan iblis yang memang telah diberi otorisasi untuk menggoda manusia dan karena itu manusia yang dulunya berasal dari sesuatu yang tidak bisa disebut akan menjadi manusia mulia.
  • Al Quran menyatakan bawa suatu ayat dalam Al Quran akan dijelaskan oleh ayat lainnya sehingga bisa dimengerti dengan mudah oleh manusia yang mau memperhatikan dan melaksanakan ayat-ayat itu
  • Al Quran menjelaskan bahwa sebelum membaca Al Quran, baik Al Quran besar maupun Al Quran kecil, seseorang harus mohon perlindungan terlebih dulu pada Allah agar terhindar dari bisikan dan godaan syetan /iblis yang memang telah mendapat lisensi untuk menggoda manusia
  • Agar manusia mendapat petunjuk, Allah menyatakan bahwa sebelum membaca Al Quran perlu memohon petunjuk kepada Allah dan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah
  • Selama membaca Al Quran, Allah menyarankan untuk pelahan-lahan, tidak tergesa-gesa (karena tergesa-gesa adalah sifat iblis)
  • Setelah membaca Al Quran, sesuai petunjuk Allah, orang yang membacanya perlu melakukan sebanyak mungkin perbuatan baik – seperti apa yang dibacanya - secara kontinyu karena Allah berjanji akan menjelaskan ayat-ayat tersebut apabila sesorang melaksanakan apa yang dibacanya
  • Orang yang telah memahami suatu ayat Al Quran perlu dan bahkan harus mensyiarkan apa yang telah dipahaminya itu kepada orang lain dengan cara menjelaskan hikmahnya serta dengan pelajaran yang baik tanpa memaksakan dan tanpa meminta upah apapun
  • Proses berikutnya adalah berulang kali melakukan proses-proses tersebut di atas karena itulah yang akan melestarikan Al Quran
Berbuat Baik & Posdaya

Sebagaimana tercantum dalam firman Allah, perbuatan baik harus ditujukan kepada seluruh umat tanpa memandang apa latar belakangnya dengan prioritas orang miskin / tidak mampu, baik yang meminta-minta maupun yang tidak mendapatkan bagian. Sementara di surat lain dicantumkan bahwa yang bisa membawa keluar seseorang dari suatu keadaan, miskin misalnya, adalah orang yang miskin itu sendiri. Itu berarti bahwa siapapun manusia tidak bisa membuat orang lain keluar dari kemiskinan kalau orang miskin itu tidak memberdayakan dirinya sendiri. Dengan demikian yang bisa dilakukan oleh seseorang yang bertakwa adalah mendorong dan memfasilitasi orang miskin agar yang bersangkutan memberdayakan dirinya.

Mengapa salah satu bentuk perbuatan baik dilakukan melalui posdaya ? Arief, yang dianugerahi kemampuan untuk merangkai ayat-ayat Allah di luar kepala sehingga apa yang dibahas menjadi mudah dicerna oleh hadirin yang menyimaknya, menyatakan bahwa :
  • Program posdaya – yang awalnya diperkenalkan oleh Prof Dr Haryono Suyono – bertujuan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia dan salah satu metode untuk mencapainya adalah melalui pendekatan per keluarga
  • Dalam hal ini setiap keluarga perlu memberdayakan dirinya agar peduli 8 fungsi keluarga yaitu agama, budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan keluarga, kesehatan dan reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan
  • Karena kemiskinan dan kebodohan diderita oleh sebagian besar orang miskin maka untuk mewujudkan kedelapan fungsi keluarga itu dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara perlu ada kesinergian antar masyarakat sejahtera agar mereka peduli dan sayang kepada masyarakat prasejahtera.
Berkaitan dengan itu, Arief dan kawan-kawannya merumuskan bahwa program yang strategis namun mudah dikerjakan oleh masyarakat sejahtera untuk memberdayakan dirinya dapat dilakukan melalui 7 (tujuh) tahapan utama sebagai berikut:
  • Memberikan Contoh Makanan Sehat (CMS) gratis kepada masyarakat prasejahtera khususnya ibu hamil, anak-anak Bawah Lima Tahun (Balita) dan orang tua Lanjut Usia (Lansia)
  • Memberikan pendidikan kepada anak usia dini (Usia Bawah Lima Tahun) dan anak Usia Remaja (Usia Bawah 17 Tahun) dengan metoda Bermain Sambil Belajar (BSB)
  • Memberikan dana gratis untuk mengerjakan kerja bakti membersihkan dan merawat sekolah antar siswa sekolah tingkat SD, SLTP dan SLTA agar sejak dini sudah terlatih dan terbiasa bersilaturahmi, bergotong royong dan tolong menolong sesama rakyat Indonesia agar dapat mewujudkan Persatuan Indonesia
  • Memberikan beasiswa kepada keluarga prasejahtera pada tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA.
  • Memberikan pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil (warung Posdaya) di bidang administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera
  • Memberikan modal kerja kepada serikat dagang warung warga Posdaya untuk mensejahterakan para anggota dan masyarakat prasejahtera
  • Memberikan pengobatan dan perawatan gratis kepada masyarakat prasejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter yang bertakwa.
“Karena itulah…….., Kata Arief, yang di masa mudanya pernah menjadi test driver di sebuah perusahaan mobil di Jepang, “….. ada korelasi antara pemahaman Al Quran dengan posdaya. Di mana dalam pemahaman dinyatakan bahwa (a) Bukti bahwa seseorang telah bertakwa adalah memberi dan menganjurkan atau mendorong orang lain untuk memberikan sebagian harta yang dimilikinya kepada fakir miskin (b) Orang miskin tidak bisa ditolong namun mereka sendirilah yang akan memberdayakan dirinya agar menjadi tidak miskin. Nah posdayalah yang dapat menjadi salah satu wahana bagi kaum sejahtera untuk berkiprah menerapkan pemahaman itu dengan cara memfasilitasi keberdayaan orang yang tidak mampu”

“Contohnya adalah kalau ada seorang menginfakkan uangnya sebesar Rp 100 ribu apa yang bisa dilakukan ? Kalau mau gampang dan tidak bersistem, ya berikan saja kepada setiap orang miskin yang lewat yang kalau nilai uangnya besar seringkali datang berebutan. Nah dalam program posdaya justru dana itu dapat disalurkan via posyandu yang telah berposdaya ditempatnya masing-masing. Bisa dipakai untuk tambahan makanan bergizi bagi ibu hamil dan balita miskin dan bisa pula untuk beasiswa untuk anak-anak orang miskin” Kata Arief.

“Kalau punya Rp 5 juta bagaimana ? Wah kalau itu bisa dipakai untuk mancing warga 1 RW untuk berposdaya. Maksudnya, dengan dana sebesar itu, suatu wilayah yang warganya belum peduli kepada masyarakat miskin dapat diberi contoh selama 5 bulan @ Rp 1 juta yang dirupakan makanan bergizi (dengan asumsi di situ ada 400 balita/ibu hamil dan lansia yang paket gizinya masing-masing bernilai Rp 2.500,-). Setelah 5 bulan masyarakat sejahtera di wilayah itulah yang kemudian akan menggantikannya dengan cara urunan. Dan kalau kegiatan warga tersebut terus berkelanjutan maka kepedulian akan menjadi tradisi bagi warga di situ. Bayangkan kalau ini terjadi di seluruh Indonesia, apa Indonesia 20 tahun ke depan tidak panen anak pintar ? Karena pintar alias tidak bodoh, kekufuran berkurang dan sejahteralah bangsa ini...” Kata Arief menambahkan.

Arief juga memberikan contoh lainnya yaitu seperti apa yang dilakukan pasangan suami isteri Asiaaf K Utomo dan Melati di Ciawi. Mereka memberdayakan dirinya yang sejahtera untuk menyelenggarakan program BSB (bermain sambil belajar) bagi anak –anak yang masih kecil dan anak sekolah di luar waktu sekolahnya. Kepada mereka, pasangan suami isteri dibantu oleh beberapa instruktur yang dibiayai oleh kedua pasangan itu sendiri , mengajarkan agar tidak hanya hafal ayat dalam bahasa Arab tapi mengerti artinya dan bisa mempraktekkannya setelah melakukan beberapa games simulasi. Diharapkan di masa depan, anak-anak yang semula miskin itu menjadi produktif, mandiri, sosial dan religius. "Dan Alhamdulilah,.."Kata Arief, " BSB tsb banyak dikunjungi oleh insan-insan yang terketuk hatinya untuk melakukan hal yang sama"

Ternyata dengan memahami dan kemudian mengikuti metoda yang dipakai Arief ini – di mana tiap orang membaca sendiri-sendiri Al Quran dan mereka yakin bahwa Allahlah yang akan langsung menjelaskannya bilamana ia melaksanakan apa yang ada di dalamnya - banyak orang yang merasa cocok. Karena merasa cocok itulah maka banyak orang makin rajin mempelajari Al Quran dan Al Hadits secara mandiri dan makin rajin pula untuk berbuat yang positif yang di antaranya melalui posdaya. Mereka membuktikan sendiri bahwa pemahaman itu ternyata memang berkorelasi langsung dengan perbuatan baik.

Proses Memperoleh Metoda Pemahaman Cepat

Bagaimana awalnya Arief mendapatkan metoda ”ayat dijelaskan ayat ” ini ? Arief menyatakan bahwa metode ayat dijelaskan ayat ini sesungguhnya sudah lama diperkenalkan di IAIN. Metode lainnya adalah ayat dijelaskan akal, ayat dijelaskan hadits. Hanya saja metode ayat dijelaskan ayat kurang populer.

Sementara kalau akal yang berperan sehingga banyak timbul penafsiran, maka seringkali tafsir-tafsir itulah yang justru akan bertabrakan. Sementara itu kalau ayat dijelaskan hadits ada persoalan untuk mencari hadits yang sahih dan tidak semua hadits sesuai dengan tempat dan perkembangan zaman. Jadi bagaimana ? Utamanya adalah ayat dijelaskan ayat di mana hikmah ayat ini akan terus sesuai dengan tempat dan perkembangan zaman, sambil mencari hadits yag sahih dan sesuai zaman dan tempat serta menggunakan akal. Jadi semuanya dipakai di mana yang lebih dominan tentunya ayat dijelaskan ayat. Dengan cara inilah kita tidak menafsirkan hanya mempelajari ayat-ayat yang dijelaskan oleh ayat-ayat lainnya sehingga pemahaman menjadi komprehensif.

”Karena itulah .........,” Kata Arief yang pernah sekolah di berbagai SMA (karena nakal, pihak sekolah menyatakan tak sanggup ”mendidiknya” sehingga Arief terpaksa pindah ke sekolah lain), lalu Fakultas Teknik Pertanian IPB (lulus 1979, angkatan “Antime”), ”... Saya tidak menafsirkan Al Quran, apalagi ngarang. Sebab semuanya itu ada dalam Al Quran sebagaimana dibaca oleh banyak orang. Seharusnya banyak ahli kitab tahu tentang metode ini, Mungkin Allah berkehendak demikian karena kebenaran Al Quran selalu datang belakangan alias tidak instan”.

Berbuat Baik Adalah Wujud Takwa

Pada awalnya dulu Arief, yang pernah bekerja di Astra Graphia, Trakindo Utama, Coca Cola, Ika Muda dan Medco Inti Dinamika ini, mempraktekkan ”berbuat baik adalah wujud bertakwa” dengan caranya sendiri. Namun setelah ketemu kawan-kawannya yang berpandangan sama maka bersinergilah mereka untuk bersama-sama melakukan kegiatan sosial. Berupa antara lain : beasiswa anak miskin, sunat masal, santunan guru, posyandu, pesantren ramadhan, dll. Dalam perjalanannya, pada tahun 1987, mereka terpaksa membentuk yayasan yang mereka namakan Yayasan Indonesia Selamat Sejahtera (disingkat Yassin). Mengapa terpaksa ? Rupanya mereka seringkali dicurigai oleh rezim pemerintah waktu itu melalui Dinas Sospol yang ada di setiap kota/kabupaten.

” Waktu itu kalau ada orang mau menyumbang ke sekolah atau RT/RW sering diberondong serentetan pertanyaan antara lain dari mana sumber duitnya, anda dari golongan mana dan sebagainya. Repotlah...padahal uang itu hasil urunan dari kawan-kawan. Maka dengan terpaksa yayasan didirikan. Untungnya notarisnya ngasih gratis ....” Kata Arief.

Walaupun mendirikan yayasan, Arief dan kawan-kawan sepakat untuk tidak membesarkan yayasan tetapi setiap personil yang bergabung dalam yayasan diharapkan menjadi ”maksos” alias makelar sosial, yaitu perantara antara orang mampu dengan orang tidak mampu. Dengan maksos ini akan terkumpul data orang miskin yang bisa ditawarkan kepada orang lain sehingga terbentuklah ”bursa mustahik” yang disingkat Bumus. Kegiatan Maksos dan Bumus itu bisa dikerjakan dengan mudah oleh masing-masing anggota yayasan.

Mengapa yayasan tidak perlu dibesarkan ? Arief dan kawan-kawan tidak mau kebebanan ongkos operasional, birokratisasi dan kemungkinan timbulnya kekisruhan antar orang setelah yayasan besar. Yang penting, kata mereka, jiwa semangat Indonesia peduli prasejahtera terus menggelinding ke semua anak bangsa.

Komitmen arief secara pribadi untuk bersinergi tanpa harus membesarkan yayasan rupanya terus berlanjut saat ia bersama keluarganya mendirikan Yayasan Tatang Nana (YTN), milik keluarga keturunan Tatang Nana (almarhum Tatang Nana adalah pemegang saham PT Jakarta Beverage Bottling Company, pabrik pembotolan Coca Cola di Jakarta). Yayasan ini sampai dengan akhir 2008 yang lalu banyak bermitra dengan berbagai pihak. Di antaranya sebagai tim teknis sewaktu YAMP melaksanakan Posdaya Berbasis Masjid. Sementara Arief sendiri pernah bermitra dengan ESQ untuk mengisi kegiatan alumni ESQ karena ESQ belum memiliki materi untuk para alumninya tsb

Buku-buku

Arief – yang termasuk golongan orang tekun - sudah sejak lama rajin menyusun ayat-ayat sehingga membentuk topik yang kemudian dibukukan. Beberapa di antaranya malahan telah menjadi standar pelatihan bagi mitra-mitra yang mengikuti metode cepat itu. Beberapa judul buku yang disusun Arief (dia tak mau disebut pengarang) adlah :
  • Pancasila
  • Kerukunan Antar Umat Beragama
  • Rintangan hidup manusia
  • Modul Pemahaman Al Quran Berdasarkan Al Quran dan Al Hadits (Tingkatan Pemahaman Al Quran, Tatakrama Membaca Al Quran, Kiat Mempelajari Al Quran, Kiat Memahami, Kiat Melaksanakan, Kiat Syiar dan Kiat Melestarikan)
  • Kiat Berbuat Baik
  • Kiat Mengatasi Rintangan Hidup
  • Kiat Bertobat
  • Kiat Bersabar
  • Kiat Syiar dll
Yang Mengajar & Yang Diajar, Dua-duanya Tidak Minta Upah

Banyak orang belajar melalui Arief namun dia tak mau menyebut orang yang belajar itu sebagai murid. Kata Arief : ”Kalau ada guru dan ada murid apalagi di bidang pemahaman agama, nantinya selalu ada pengkultusan”. Oleh karena itu Arief menyebut orang yang menjadikannya sebagai narasumber sebagai ”mitra”. Tetapi luar biasa, kalau jumlah mitra ini dihitung jumlahnya sudah ratusan ribu. Beberapa mitranya adalah lulusan IAIN, uztad dan ustadzah yang kondang, pengusaha ternama, artis dan birokrat. Bahkan ada beberapa mitranya yang kemudian menjadi fasilitator pengajian beberapa pejabat tinggi negara. Disebut fasilitator karena yang bersangkutan berkeberatan disebut ustadz.

Dalam kaitan proses belajar-mengajar ini Arief memberikan kiatnya berdasarkan apa yang dia dapatkan dari Al Quran : ” Yang pertama, kalau yang mengajar dan yang diajar sama-sama tidak minta upah, insya Allah petunjuk datang. Yang kedua kalau mau aman dari kemungkinan datangnya iblis pengkultusan, seorang kiyai yang bijak akan membikin muridnya nggak seneng sama dia dengan tujuan semata-mata untuk menghindari kultus itu”.


Berkaitan dengan talenta Arief yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, pernah komunitas Badui di Kabupaten Lebak mengundangnya untuk menyelesaikan masalah kerusakan alam, termasuk kerusakan moral. Solusi yang diberikan Arief yang didasarkan Al Quran sesungguhnya sederhana saja yaitu bahwa bencana sudah ditulis dan setiap orang menghampiri neraka. Orang bertakwa akan diselamatkan orang yang tidak bertakwa dibiarkan masuk neraka. Karena itulah berlomba berbuat baik agar selamat dunia – akhirat dan itulah ciri orang bertakwa.

Tidak Tertarik Mendirikan Tapi Ingin Memberdayakan Yang Ada

Mengingat banyak ”murid” atau mitranya itu MariBerposdaya bertanya : ”Apa pak Arief tidak tertarik mendirikan lembaga pendidikan sendiri?”. Apa jawabnya ?

”Kita kan tahu lembaga pendidikan sudah demikian banyak dan tiap hari selalu ada bangunan baru dibangun untuk pendidikan. Yang justru kurang adalah honor untuk guru-gurunya, terutama yang swasta. Minim sekali. Lebih baik enersi diarahkan pada upaya agar masyarakat sejahtera memberdayakan dirinya untuk membantu guru-guru honor mendapatkan tambahan honor sehingga hidupnya lebih sejahtera. Sementara itu kepada lembaga pendidikan yang sudah atau kepada gurunya saya bisa bermitra untuk menyebarkan metode pemahaman dan kegiatan posdaya. Lebih baik bersinergi daripada saya membuat lembaga pendidikan baru” Kata Arief yang telah mewakafkan salah satu rumahnya di Bogor untuk dijadikan kantor para sukarelawan posdaya.

Dalam penyelenggaraan yayasan sosial dan pendidikan swasta, Arief juga memberikan kiat berdasarkan pengalaman prakteknya. Kiatnya adalah : a) pisahkan antara keuangan yayasan dan keuangan rumah tangga, b) bedakan sumbangan dari pihak sponsor menjadi dana operasional, dana zakat -infaq –sodaqoh dan dana takwa dengan sistem pelaporan yang jelas, c) lakukan pengorganisasian kegiatan menjadi 4 bidang yaitu keuangan, pelatihan, posdaya, dan IT, serta d) upayakan pemiliknya melakukan hibah wasiat sebelum mati kepada pewarisnya - yang biasanya lebih dari satu – agar waktu meninggal dunia Insya Allah sudah tak ada lagi masalah.

”Dengan cara seperti itu bila pendiri dan pengelola generasi pertamanya mati maka para penerusnya relatif akan tidak berebutan karena sistemnya sudah jelas” . Kata Arief yang waktu di kampus dulu pernah menjadi ketua senat mahasiswa.

Masa Kecil

Saat ditanya masa kecilnya, maka berceritalah Arief tentang kenakalannya di waktu kecil. ”Saya termasuk orang jahil” Katanya yang dilanjutkan dengan berbagai ceritanya yang konyol, jahil, lucu sehingga yang mendengarnyapun akan tertawa terbahak-bahak.

”Kenakalan saya itu sangat disadari ayah saya...., ”kata Arief, pria berbobot di atas normal yang kecilnya akrab dengan air Ciliwung karena tinggal di Kampung Melayu Kecil sehingga logat betawinya seringkali amat kentara, ”.. Saya nangis setelah belakangan tahu bahwa ternyata orang tua saya sangat memperhatikan diri saya yang bengal. Karena bijak, orang tua saya tidak pernah ngomong langsung kepada saya, Tapi via guru ngaji saya. Guru ngaji itulah yang beberapa tahun yang lalu baru memberi tahu saya setelah lama tak jumpa dan setelah ayah saya tidak ada lagi”.

Jangan Dengar Omongan

Kalau diceritakan masih banyak lagi dari Arief ini, tetapi dia tak mau diceritakan banyak-banyak. ”Sekali lagi ...., katanya, yang justru diperlukan saat ini adalah bukan cerita lagi tetapi aksi nyata langsung dari perintah Tuhan untuk membaca, mempelajari, memahami, melaksanakan, mensyiarkan, melestarikan Al Quran berdasarkan Al Quran dan Al Hadits yang beberapa perintah di dalamnya adalah keharusan manusia untuk segera mengadakan perbaikan dengan berbuat baik dengan tekun, sungguh-sungguh, berkesinambungan kepada seluruh makhluk di alam semesta, termasuk manusia tanpa membeda-bedakan latarbelakangnya. Karena surga adalah milik semua orang takwa, bukan milik golongan tertentu saja sebagaimana juga diterangkan bahwa rasul yang membawa Al Quran diperintahkan untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

”Jangan dengar omongan saya. Sehingga jangan kata Arief. Saya bisa saja salah karena saya adalah manusia tetapi kalimat Allah tidak pernah salah...Saya sangat bahagia kalau orang bicara apalagi berdakwah dengan 100% merujuk Al Quran berdasarkan ayat yang dijelaskan ayat dengan hadits sebagai tambahannya lalu diikuti dengan perbuatan baik yang ditujukan kepada seluruh manusia tanpa pandang latar belakang” Kata Arief.

Tak dapat disangkal bahwa metode cepat pemahaman Al Quran berdasarkan Al Quran dan Hadilts telah menggiring orang untuk harus segera berbuat baik dan berbuat baik yang priotitas karena mudah dan strategis bagi kesejahteraan umat di antaranya adalah melalui posdaya. Itulah sejarah yang pernah diukir oleh Arief Mulyadi melalui metode yang disusun dan kemudian disebarluaskannya.

Maret 2009

JonPosdaya, SriPosdayawati, SastrawanBatangan



Baca selanjutnya.....