Tampilkan postingan dengan label kebodohan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebodohan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 03, 2009

Posdaya | Mengapa Ada Hak Orang Miskin Pada Apa Saja Yang Kita Punyai ?

1 komentar

Berulangkali Yang Maha Kuasa menghimbau - atau kalau mau dipertegas memerintahkan - manusia agar memberikan sebagian harta apa saja yang dimilikinya - di kala lapang dan sempit - kepada orang lain yang miskin. Mengapa mesti memberi ? Tentu ada alasannya sebagaimana diutarakan olehNya yaitu bahwa pada harta siapa saja terdapat hak orang miskin sehingga perlu diberikan kepada yang berhak. Lantas mengapa berulangkali manusia dihimbau ? Tentunya ada alasannya pula. Dua di antaranya adalah karena (*) kebanyakan manusia bersifat pelupa sebagai konsekuensi lebih peduli kepada dirinya sendiri dan (*) kebanyakan manusia cenderung pelit.


Bagi manusia yang tidak mau hanya berdogma tentu akan timbul pertanyaan susulan yaitu mengapa ada hak orang miskin pada harta kita (baik di saat lapang maupun sempit) padahal bukankah harta kita itu adalah hasil usaha kita atau paling tidak diperoleh sebagai warisan dari orang tua atau hibah dari orang lain, bukan dari orang miskin tsb ? Pertanyaan ini menarik untuk dijawab mengingat Yang Maha Kuasa tidak pernah main-main dalam menciptakan alam semesta termasuk di dalamnya mengeluarkan himbauan tersebut.


Sama Modal Awal Dan Kesempatannya


Menurut kepercayaan manusia pada umumnya sebagaimana juga tertulis dalam beberapa Kitab Suci, manusia yang pertama hidup di muka bumi adalah Adam yang kemudian diikuti oleh Hawa. Keduanya – yang menjadi suami isteri - mempunyai beberapa anak yang sebut saja generasi (keturunan) pertama.

Sebagai manusia, mereka perlu makan, berpakaian, bertempat tanggal dan perlu yang lainnya di mana apa yang diperlukan itu tidak secara otomatis siap dipakai atau dikonsumsi tetapi bahan-bahannya telah tersedia di sekeliling mereka. Itulah yang disebut sebagai sumber daya alam, yang baru dapat dimanfaatkan kalau ada usaha melalui proses yang disebut ‘bekerja’. Karena itulah manusia perlu bekerja agar diri dan keluarganya dapat hidup sejahtera.

Pada saat generasi pertama manusia memulai kegiatan kerjanya, modal awal yang mereka miliki relatif sama, yakni berupa kaki, tangan, waktu, tenaga dan akal-pikiran. Kesempatan (peluang) yang mereka mereka untuk mengeksploitasi sumberdaya alam pun juga sama. Jadi relatif tidak ada perbedaan pada mereka saat awal untuk bisa sama-sama memenuhi kebutuhan mereka.


Kemiskinan Terbentuk Dengan Sendirinya


Namun dalam prakteknya, hasil yang diperoleh generasi pertama melalui kerja mereka masing-masing adalah berbeda. Hal ini terjadi karena ada perbedaan produktivitas yang disebabkan oleh faktor malas, tidak disiplin dalam menggunakan waktu atau sebab lainnya misalnya kecelakaan.

Atas dasar itulah di akhir hidup generasi pertama, kepemilikan atas sumberdaya alam - sebagai hasil mereka bekerja – akan berbeda. Yang dinikmati dan kemudian diwariskan kepada generasi kedua tentu juga berbeda.

Dalam kondisi seperti itulah generasi kedua tampil meneruskan aktivitas generasi pertama. Mereka juga harus bekerja tetapi berbeda dengan generasi pertama, modal awal generasi kedua ini relatif tidak lagi sama antara orang yang satu dengan yang lainnya. Modal awal tersebut juga akan semakin berbeda jika yang satu cacat tubuhnya sedangkan yang lain tidak. Sebab dengan kondisi fisik semacam itu kemampuan untuk mengeksploitasi sumberdaya alam menjadi berkurang jika dibandingkan dengan kondisi normal.

Boleh jadi pada generasi kedua ini, ada satu atau lebih keluarga yang harus hidup menghambakan dirinya pada orang atau keluarga lain karena cacat atau sebab lainnya. Dan pada kondisi menghambakan diri kepada orang lain ini, kesempatan untuk bisa mengeksploitasi sumberdaya alam menjadi relatif terbatas. Padahal secara normatif hak mereka dalam mengeksploitasi sumber daya alam adalah sama dengan mereka yang menjadi induk semangnya.

Dengan modal awal yang berbeda itu, maka hasil yang diperoleh generasi kedua akan makin memperlihatkan perbedaan yang lebih tajam dibandingkan generasi pertama. Dengan kata lain jurang kaya miskin makin terlihat lebih nyata.

Kondisi tersebut di atas berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi. Kesenjangan antara kaya-miskin makin lama makin melebar. Lihat saja pada akhir kehidupan setiap umat terdahulu, senjang (gap) antara kehidupan penguasa dan elitenya (sebagai pemilik kapling sumberdaya) dan rakyat yang paling miskin umumnya sangat lebar. Senjang tersebut baru menyempit kembali mendekati titik nol kalau terjadi musibah massal. Jika masih ada manusia yang hidup pasca musibah massal itu, mereka harus bangkit dengan modal awal yang relatif sama.


Kemiskinan Justru Menambah Kekayaan


Hasil yang diperoleh akan menjadi jauh meningkat bilamana seseorang dibantu oleh orang lain. Tidak demikian kalau pekerjaan itu dikerjakan sendirian oleh seorang saja.

Dalam kaitan itu, umumnya orang yang lebih miskinlah yang bekerja membantu orang yang lebih kaya dan bukan sebaliknya. Jika hubungan kerja semacam ini berlangsung maka terbentuklah fungsi yang disebut tuan dan hamba. Yang berfungsi sebagai hamba harus bekerja keras dengan upah yang rata-rata pas-pasan sedangkan yang berfungsi sebagai tuan umumnya duduk ”ongkang-ongkang” namun dengan hasil yang jauh lebih banyak. Situasi semacam inilah yang pada umumnya terjadi kecuali dalam kehidupan suku Badui di mana kepala sukunya harus ikut bekerja dengan hasil yang relatif sama dengan para anggota suku.

Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum tanpa ada orang (miskin) yang mau bekerja, tidak mungkin orang (kaya) akan menjadi lebih kaya lagi. Istilah lainnya jika dipertegas adalah karena kemiskinanlah maka timbul kekayaan.


Ada Hak Orang Yang Dititipkan


Sumberdaya alam adalah milik Sang Maha Pencipta. Karena itulah siapa saja mempunyai kebebasan atau hak yang sama untuk mengeksploitasinya.

Namun dalam kenyataannnya, sumberdaya alam itu seolah-olah terkapling-kapling menjadi hak atas perseorangan. Bisa jadi karena warisan atau bisa jadi pula karena kekuasaan atau karena kemampuannya untuk membeli kapling tersebut. Sementara itu orang yang miskin tidak bisa berbuat apa-apa kecuali terpinggirkan.

Dengan dasar bahwa semua adalah saudara (semuanya turunan Adam) sehingga mempunyai hak yang sama atas sumberdaya alam. Namun karena yang menguasai sumberdaya alam dan mengkaplingnya adalah orang yang lebih mampu (kaya/kuasa) sehingga meminggirkan orang yang tidak mampu (miskin) maka sesungguhnya dalam harta yang dimiliki orang yang mampu itu terdapat bagian untuk orang yang tidak mampu. Atau dengan kata lain ada hak orang miskin yang dititipkan pada orang kaya.

Salah satu bukti bahwa sebagian harta itu adalah titipan adalah bahwa akan terjadi keributan atau desintegrasi kalau sebagian harta itu tak dialirkan kepada orang yang miskin yang akan menyebabkan kemusnahan kekayaan. Salah satu bentuk ekstrimnya antara lain timbulnya perampokan / penjarahan massal pada kondisi di mana ’gap’ kaya-miskin sudah sedemikian besar.

Bukti bahwa hanya sebagian saja harta itu titipan adalah bahwa orang miskin cukup puas dengan sedikit pemberian yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka tidak butuh keseluruhan kekayaan yang dimiliki orang yang mampu. Hanya saja orang yang mampu seringkali merasa gamang melihat banyaknya orang miskin. Ia sering mengira orang miskin akan manja jika diberi. Ia mengira dengan banyaknya orang miskin yang diberi maka akan habis hartanya.


Jika Hak Tidak Disampaikan Maka Akan Terjadi Kemandegan Bahkan KeMusnahan


Harta titipan perlu dikembalikan kepada yang berhak. Pengembalian itu berwujud kepedulian untuk menangani fakir miskin. Di antaranya adalah : yang benar-benar kelaparan diberi sembako, yang masih belum berpendidikan / berketerampilan diberi pendidikan / pelatihan dan yang belum bekerja diberi kesempatan bekerja.

Dalam realisasinya pengembalian hak orang miskin umumnya tidak seperti yang diharapkan. Indikasinya yang paling sederhana adalah banyaknya orang berada atau setengah berada tapi mereka masih belum bergotongroyong menangani orang miskin di sekelingnya agar tidak terjadi kasus kelaparan dan kebodohan.

Mengapa harta titipan tidak diberikan kepada yang berhak, baik sebagian maupun seluruhnya ? Ada banyak penyebab yang di antaranya adalah :

  • Belum menyadari bahwa kekayaan yang diperolehnya adalah hasil kerja banyak orang yang lebih miskin daripadanya.
  • Belum menyadari bahwa kalau mereka memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin maka diri sendirilah yang akan memetik keuntungannya.
  • Menganggap bahwa semua orang harus seperti dirinya yaitu harus ’fight’ dalam hidup sehingga tabu untuk selalu menengadahkan tangan.
  • Masih ada perasaan malas padahal sebagian waktu dan tenagapun termasuk harta yang harus disisihkan untuk kaum miskin.
  • Belum menyadari bahwa orang miskin adalah saudara sendiri, sama-sama keturunan Adam-Hawa.
  • Belum menyadari bahwa akibat kemiskinan akan timbul kekufuran yang dampaknya juga akan menimpa dirinya sendiri.
  • Belum menyadari bahwa anak cucunya akan menghadapi persoalan berat jika tidak ikut memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah kemiskinan dan kebodohan anak-anak yang kelak akan menjadi mitra anak cucunya.

Apa akibat yang akan timbul jika terjadi kemandegan atau ketidaklancaran dalam pengembalian hak orang miskin? Beberapa di antaranya adalah :

  • Kalau orang yang mampu hanya menyimpan duitnya di bank maka lapangan kerja sektor riil tidak bertambah padahal jumlah penduduk yang memerlukan pekerjaan selalu bertambah. Akibat selanjutnya adalah langkanya pekerjaan sehingga banyak orang yang tak berpenghasilan. Karena tak berpenghasilan, maka kemiskinan akan meningkat dan daya beli akan menurun. Jika daya beli menurun, maka pendapatan dan keuntungan usaha orang-orang yang mampu menjadi berkurang bahkan bisa bangkrut.
  • Kalau orang yang mampu tidak memberikan sebagian hartanya untuk memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan maka kriminalitas akan meningkat
  • Kalau orang yang diberi kelebihan beriptek pelit mentransfer ipteknya (dalam bentuk pendidikan dan pelatihan) maka kemajuan iptek akan mandeg dan produktivitas tidak tumbuh sementara jumlah manusia dan tentunya kebutuhannya akan terus meningkat.
  • Kalau orang yang diberi kelebihan mampu menulis atau mampu berbicara tidak meluangkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk menulis dan berbicara agar orang yang mampu terdorong memfasilitasi yang tidak mampu maka orang yang mampu akan lalai mentransfer sebagian hartanya kepada orang miskin.
  • Kalau orang yang diberi kelebihan kekuasaan tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk mendorong rakyatnya agar peduli kemiskinan maka gap kaya-miskin yang makin melebar pada suatu titik akan menyebabkan ledakan kebrutalan berupa penjarahan massal.
  • Kalau kasih sayang tidak mengalir kepada orang miskin yang biasanya cenderung ’sangar’ maka kesangaran akan meningkat dan akan menimbulkan kekerasan dan akhirnya keributan jika sedikit saja ada yang tersinggung

Bahkan yang lebih hebat, sebagaimana Sang Maha Pencipta mengutarakannya, adalah datangnya bencana yang didahului dengan kedatangan utusanNya yang mengingatkan kaum yang hidup mewah -yang biasanya lupa - untuk peduli yang miskin. Kaum Aad dan Tsamud, misalnya, termasuk kaum yang dimusnahkan oleh sebab penumpukan kekayaan secara tidak wajar tanpa peduli kemiskinan sehingga memiskinkan / merugikan orang lain.


Kaki, Tangan, Akal/Pikiran, Tenaga, Waktu Juga Harta Kita. Lantas bagaimana ?


Jadi jika orang mau menggunakan akal (bukan akal pendek) – sebagaimana berkali-kali Sang Maha Pencipta mengingatkan agar manusia menggunakannya- maka memberikan sebgaian harta adalah suatu hal yang bukan saja perlu tetapi harus dilakukan. Jika hal itu dilakukan maka yang memetik keuntungan sesungguhnya bukan orang lain tapi justru dirinya sendiri. Keuntungan yang diperoleh dirinya adalah kesejahteraan yang tidak hanya stabil namun justru makin meningkat dalam kehidupan di mana dia berada dalam pengertian tidak terjadi kemandegan apalagi kemusnahan.

Harta yang dimiliki tidak hanya uang atau emas atau material sejenisnya. Harta yang dimaksud bisa berupa tenaga, pikiran (ide) atau waktu. Di sinilah adilnya Sang Maha Kuasa sehingga orang miskinpun – sesuai dengan kemampuan - juga harus menyisihkan sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada orang yang lebih miskin

Lantas apa saja yang bisa dilakukan ? Dengan modal ’harta’ sebagaimana dimaksudkan di atas maka beberapa hal yang perlu segera dilakukan di antaranya adalah :

  • Memberikan sebagian dari harta yang dimiliki di kala lapang dan sempit kepada orang miskin dalam bentuk makanan bergizi untuk balita miskin, makanan untuk yang kelaparan, beasiswa untuk siswa miskin, modal kerja dan sejenisnya
  • Tidak lupa membagi keberuntungan kepada hamba sahaya bagi siapa saja yang mempunyai hamba sahaya.
  • Meluangkan waktu tenaga dan pikiran untuk mendorong orang lain melalui tulisan, gambar atau pemotivasian secara verbal agar peduli kemiskinan dan kebodohan
  • Berdoa agar kemiskinan dan kebodohan ada yang menanganinya.


Sastrawan Batangan, Bogor 4 Juli 2009
http://www.mariberposdaya.blogspot.com

Catatan : Tulisan ini juga disajikan sebagai jawaban atas pertanyaan mengapa kita perlu melaksanakan program POSDAYA






Baca selanjutnya.....

Selasa, Juni 16, 2009

Daftar 105 Lokasi Percontohan Posdaya di Jawa, Kalimantan dan Sumatera Hasil Dorong Mendorong Model Pancingan Per Mei 2009

1 komentar

Ditunggu Siapa Saja Yang Mau Meneruskan & Mengembangkan Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera :


Peduli secara nyata dalam bentuk memberikan sebagian dari apa saja jenis harta yang dimiliki karena pada harta itu ada hak orang miskin serta mendorong orang lain agar juga melakukannya, merupakan prasyarat yang tidak bisa ditawar lagi bagi siapa saja yang menginginkan dirinya disebut bertakwa. Sang Maha Pencipta tentu tidak main-main dalam memaklumatkan prasyarat ini sebab berdasarkan desain yang diciptakanNya, di benua manapun kemiskinan akan selalu ada sebagai akibat dari kemampuan manusia yang berbeda dalam mengeksploitasi alam. Kemampuan yang beragam ini mengkristalkan manusia dalam 3 golongan, yaitu : miskin, menengah dan kaya. Dan – berdasarkan desainNya pula- hanya setiap individulah yang sanggup mengeluarkan dirinya sendiri dari kemiskinan dan bukan orang lain. Kalaupun ada orang lain yang membantu, fungsinya hanya terbatas memfasilitasi.


Bagi Indonesia yang jumlah rakyat miskinnya masih sekitar 17%, pemenuhan syarat takwa itu sungguh sangat berarti. Betapa tidak ? Jika saja 83% rakyat Indonesia (yang tidak termasuk kategori miskin) nyata-nyata peduli maka jumlah orang miskin (prasejahtera) yang 17% tentu akan bisa dikurangi. Bukan dengan cara memanjakannya sehingga akan membentuk perilaku ”tangan di bawah’ alias menengadahkan tangan tetapi justru sebaliknya. Yakni menjadikan kaum prasejahtera mampu bangkit untuk mengeluarkan dirinya sendiri dari kelaparan, kurang gizi dan kebodohan melalui berbagai upaya yang disebut dengan ’pemberdayaan diri dan keluarga’.

Potensi Peduli Ada Di Mana-mana Tinggal Mendorongnya

Pada dasarnya pada jiwa manusia – walau dengan kadar berbeda- telah ditanamkan olehNya rasa kasih sayang. Sehebat-hebatnya penjahat pun masih ada yang menangis manakala anaknya sakit dan akan marah kalau keluarganya disakiti. Rasa kasih sayang - walaupun masih terbatas pada keluarga – telah ada dalam dirinya.

Rasa kasih sayang itu terlihat nyata sekali bilamana terjadi bencana. Kita lihat betapa cepatnya bantuan dikumpulkan untuk diberikan kepada sesamanya yang sedang kena musibah. Dalam hal ini rasa kasihan – sebagai bagian dari rasa kasih sayang- tersentuh oleh kejadian di mana banyak jiwa melayang dan banyak badan terluka.

Rasa kasihan yang gampang tersentuh tersebut di atas kalau dikategorikan, termasuk rasa kasihan yang terimplemnetasikan dalam bentuk penanggulangan. Sayangnya, rasa kasihan tersebut tidak gampang dibangkitkan untuk hal-hal yang bersifat pencegahan. Wajarlah karena manusia umumnya baru tersentuh kalau melihat secara langsung dan bukan apa yang dibayangkan. Padahal hampir semua menyadari bahwa mencegah sebelum kejadian justru lebih penting agar kejadian yang lebih kronis tidak terjadi. Oleh karena itulah usaha yang terus menerus untuk selalu bisa mendorong amat sangat diperlukan.

Begitu pula dalam usaha mencegah kemiskinan dan kebodohan, upaya mendorong itu juga amat diperlukan. Khususnya mendorong berbagai tokoh yang memiliki komunitas agar segera turun tangan untuk menghindari bencana masa depan akibat banyaknya populasi yang di masa kecilnya kurang gizi.

Namun dengan makin banyaknya urusan manusia, urusan mendorong agar peduli kemiskinan dan kebodohan secara nyata itu seringkali kali kalah prioritas. Bisa saja hari ini orang ingat karena diingatkan betapa pentingnya untuk menangani kebodohan namun besoknya boleh jadi bisa lupa karena ada sesuatu yang lain yang terpaksa harus diingat. Akibatnya kontinyuitas atau konsistensi dalam penanganan kemiskinan dan kebodohan menjadi tidak stabil. Kadang-kadang intensitasnya tinggi namun menjadi menurun di saat lain. Salah satu bukti yang dapat dijadikan indikatornya adalah dari 267 ribuan posyandu yang pernah dibentuk sejak 19886, dikabarkan hanya sekitar 50% saja yang masih aktif.

Dengan kata lain upaya mendorong secara terus menerus mutlak diperlukan. Dan itulah yang dilakukan oleh Prof Dr Haryono Suyono penggagas Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga), suatu model pemberdayaan masyarakat menuju sejahtera berbasis individu dalam keluarga yang salah satu kelembagaannya adalah posyandu (pos pelayanan terpadu) yang direvitalisasi menjadi posdaya (pos pemberdayaan keluarga). Baik melalui institusinya maupun secara pribadi, Prof Haryono mempromosikan Posdaya tersebut kepada berbagai kalangan baik pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi maupun majelis keagamaan.

Sambutan terhadap posdaya tersebut timbul di mana-mana di antaranya adalah kampus dengan KKN Posdayanya (Universitas Jenderal Soedirman / Unsoed, dll), Posdaya Berbasis Masjid, Posdaya Berbasis Sekolah dan lainnya. Namun demikian masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan mengingat demikian banyaknya program penting lainnya yang sudah dan akan ada di masyarakat selain luasnya wilayah dan banyaknya penduduk yang perlu memberdayakan dirinya.

Pengalaman Dorong-Mendorong Model Pancingan

Suatu kegiatan dorong mendorong dengan pancingan agar kepedulian bisa berlangsung semarak di masyarakat dapat diambil hikmahnya dari pengalaman Arief Mulyadi – yang bermukim di Bogor - dan kawan-kawannya yang tersebar di berbagai pelosok.

Sejak tahun 1987, Arief Mulyadi dan kawan-kawannya, melalui pendekatan bahwa ’setiap manusia bertakwa harus memberi dan mendorong orang lain untuk memberikan sebagian harta yang dimiliki’ berusaha mempraktekkannya dalam berbagai ragam kegiatan baik yang didanai sendiri maupun dengan cara patungan. Kegiatan memberi tersebut antara lain berupa beasiswa anak-anak tidak mampu, pemberian honor guru-guru yang berstatus honorer atau guru bantu, sunatan massal, pembangunan MCK dan berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan penanganan kemiskinan.

Dalam melaksanakan kegiatan tersebut Arief Mulyadi dan kawan-kawan tidak menghendaki adanya pengumpulan dana di tingkat nasional namun justru mengharapkan agar di setiap wilayah terjadi mobilisasi dana, energi dan pemikiran dari setiap orang yang menyadari arti ketakwaan untuk dialokasikan di wilayahnya masing-masing. Dengan kata lain organisasi tidak perlu dibesarkan dan sebaliknya jiwa atau spirit untuk peduli itulah yang harus terus dikobarkan secara merata di wilayah NKRI.

Waktu demi waktu terus berlalu dan banyak kawan Arief yang bangkit di lokasinya masing-masing dengan kegiatan ’memberi’ yang beragam. Demikian pula nama organisasi atau komunitas yang mengelola kegiatan memberi di setiap lokasi pun juga beragam.

Pada tahun 2000 awal, setelah mengalami banyak hal di lapangan, Arief melihat bahwa ada suatu masalah fundamental yang sedang dihadapi bangsa ini yaitu kemungkinan adanya ledakan anak bodoh di masa depan akibat di masa balitanya kurang gizi. Karena itulah sejak tahun 2000-an kegiatan Arief dan kawan-kawan yang semula beragam itu kemudian difokuskan pada pemberdayaan melalui posyandu yang kalau bisa diupayakan bisa sinergi dengan kegiatan sosial masjid atau rumah ibadah lainnya. Mengapa Posyandu ? Di Posyandu banyak berkumpul golongan ekonomi lemah sementara para pengurusnya adalah manusia-manusia yang terbukti ikhlas sebagai pelayan masyarakat yang benar-benar mengetahui kondisi kemiskinan warga. Dengan cara melalui posyandu, para donatur tidak perlu repot-repot membentuk organisasi baru. Mengapa rumah ibadah ? Melalui rumah ibadahlah sang pendakwah / pengkhotbah dapat mengingatkan setiap jemaahnya agar selalu memberi dan untuk memberinya tidak perlu capek-capek karena ada posyandu. Dengan kata lain terjadi sinergi antara masyarakat-posyandu (dan kelembagaan lainnya yang terkait dengan pemberdayaan)-rumah ibadah.

Maka begitu posdaya bergaung melalui kiprah Prof Haryono, Arief dan kawan-kawannya seperti mendapat angin segar. Tidak lagi harus susah-susah menjelaskan kepada warga masyarakat yang akan diberdayakannya karena konsep peduli kemiskinan itu telah dikemas rapih oleh Prof Haryono dengan nama posdaya. Karena kemudahan itulah, kegiatan untuk memberi dan mendorong untuk memberi makin semarak. Baik yang dikerjakan secara mandiri maupun bekerjasama dengan LSM lainnya. Tahun 2007 misalnya, YTN (Yayasan Tatang Nana di mana Arief dan keluarganya melakukan kegiatan sosial) bekerjasama dengan Yayasan Damandiri mengimplementasikan contoh posdaya berbasis masjid di 30 masjid di Pulau Jawa.

Dari kegiatan memberi dan dorong mendorong untuk memberi di berbagai tempat dan kalangan maka per Mei 2009 terdapat 105 lokasi percontohan posdaya model pancingan yang sebagian besar diawali dengan pemberian contoh makanan sehat bagi ibu hamil, balita dan lansia miskin (Daftar terlampir). Disebut posdaya model pancingan karena untuk mendorong masyarakat agar peduli perlu ada pancingan terlebih dulu untuk beberapa bulan sebelum masyarakat melanjutkannya. Dalam hal ini dana untuk pancingan berasal dari berbagai pihak yang menyadari manfaat model pancingan tersebut.

Deskripsi ke-105 lokasi percontohan berdasarkan provinsi, basis kegiatan, dan jumlah populasi untuk setiap jenis peserta tersebut adalah sbb :

a) Berdasarkan provinsi

  • Banten, 10 lokasi, 10%
  • Jabar, 43 lokasi, 41%
  • Jakarta, 16 lokasi, 15%
  • Jateng, 5 lokasi, 5%
  • DIY, 2 lokasi, 2%
  • Jatim, 12 lokasi, 11%
  • Kalbar, 2 lokasi, 2%
  • Lampung, 9 lokasi, 9%
  • Sumsel, 6 lokasi, 6%

b) Berdasarkan basis

  • Berbasis Masjid, 58 lokasi
  • Berbasis Pesantren, 1 lokasi
  • Berbasis dll / Umum, 46 lokasi

c) Berdasarkan peserta posyandu

  • Bumil = 933 orang
  • Balita = 13,082 orang
  • Lansia = 5,578 orang
  • Guru = 27 orang

Total = 19,620 orang
(Catatan : Tidak termasuk Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan)

Kegiatan dorong-mendorong model pancingan tersebut di atas membuahkan banyak pengalaman. Beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin memulai atau melanjutkan kepedulian (posdaya) di tempatnya masing-masing adalah sbb:

  • Pendekatan akan lebih efektif bilamana dilakukan dengan cara mengingatkan perintah Sang Maha Pencipta dalam agama yang dipeluknya masing-masing bahwa memberi tanpa membedakan latar belakang orang yang diberi serta mendorong orang lain agar juga memberi adalah tugas manusia bertakwa. Selanjutnya -melalui pendekatan yang sama – diingatkan bahwa seseorang baru bisa mendorong orang lain jika dan hanya jika ia telah memberi terlebih dahulu sehingga tidak disebut ’omong doang’. Dalam hal ini memberikan sebagian harta yang dimiliki berarti memberikan apa saja yang selain materi bisa pula berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan atau bisa pula berupa tenaga dan waktu.
  • Umumnya orang malu-malu untuk mendorong orang lain karena takut dianggap riya. Namun dengan mengingatkan bahwa ”takut” itu adalah bisikan setan / iblis sementara memberi - menurut perintah Sang Maha Pencipta – selain dapat dilakukan dengan diam-diam juga dapat dilakukan dengan cara terang-terangan, maka rasa ”takut” untuk memberi dengan terang-terangan dapat diminimalkan dengan terlebih dulu memohon perlindungan kepadaNya dari godaan iblis/syaitan serta berniat untuk tidak riya dalam melaksanakan kebaikan.
  • Kegiatan ’memberi’ dimulai dengan yang paling mudah dan mendasar yaitu dengan memberikan ’ikan’ dan bukan ’pancing’ kepada kaum miskin yang memerlukannya. Anak-anak yang sedang dikandung dan balita miskin sebagai contohnya, memerlukan ”ikan” berupa tambahan gizi gratis agar di masa depan anak-anak tersebut tidak bodoh dan menjadi beban lingkungannya. Demikian pula lansia miskin juga memerlukan ”ikan” berupa makanan agar tidak kelaparan. Di luar anak-anak dalam kandungan, balita dan lansia miskin, paket yang diberikan sebaiknya berupa ’pancingan’ yang bersifat memberdayakan.
  • Komunitas yang dijadikan basis untuk melaksanakan kegiatan bisa apa saja namun akan lebih efektif kalau basisnya adalah rumah ibadah dengan tujuan agar kegiatan memberi dan mendorong untuk memberi menjadi tradisi mingguan atau bahkan harian. Jika basis awalnya bukan rumah ibadah, langkah-langkah untuk menggiringnya sehingga menjadi kegiatan yang mentradisi di rumah ibadah perlu dilakukan secara bertahap.
  • Dana awal untuk memancing masyarakat umumnya berasal dari bukan warga di mana kegiatan akan dilakukan. Dana pancingan tersebut umumnya berasal dari donatur yang telah menyadari bahwa ’dorong mendorong untuk mengatasi kemiskinan perlu dilakukan’. Tentunya dana yang diperoleh tersebut sesuai dengan kemampuan donatur. Bisa untuk kegiatan 1 bulan atau lebih dengan komitmen bahwa kegiatan tersebut akan dilanjutkan oleh warga setempat dengan dana yang diusahakan oleh warga itu sendiri.
  • Jika warga kemudian melanjutkan kegiatan setelah donatur sponsor menarik diri maka diusahakan semaksimal mungkin agar tidak terjadi penumpukan dana oleh organisasi pelaksana secara tersentral. Dana yang diperlukan setiap lokasi dihimpun oleh masing-masing pengurus di setiap lokasi dan didistribusikan kembali untuk pemberdayaan di lokasi masing-masing. Berdasarkan pengalaman, pengumpulan material dalam bentuk natura (bukan uang) lebih mudah dilakukan daripada dalam bentuk uang.
  • Data dan laporan harus akurat dan mutakhir serta disyahkan oleh tokoh masyarakat yang disegani dan atau yang memiliki legitimasi sehingga tidak meragukan semua pihak yang terkait.
  • Perlu dilakukan pemilihan satu atau dua orang miskin yang mampu dan dapat dipercaya sebagai wakil warga miskin. Salah satu fungsi wakil tersebut adalah memfilter atau mencegah adanya orang-orang mampu yang mengaku-aku miskin.

Masih banyak lagi pengalaman yang diperoleh namun terlalu panjang kalau dituliskan di sini. Mungkin pada kesempatan lain dapat dibahas karena kesemuanya menjadi modal yang penting artinya dalam pengembangan dan pemeliharaan kegiatan pemberdayaan masyarakat (posdaya).

Tantangan Bagi Kita

Di Indonesia terdapat sekitar 36 jutaan warga miskin, di mana 4 juta di antaranya adalah balita. Mereka terhimpun dalam 260 ribuan posyandu (yang kabarnya hanya 50%-nya saja yang masih beroperasi) yang tersebar di 70 ribuan desa. Melihat jumlah ini rasanya cukup lama waktu yang diperlukan untuk menangani kemiskinan.

Sebagai manusia yang berusaha untuk menjadi manusia bertakwa, keberhasilan berdasarkan target waktu bukanlah suatu tujuan. Perjuangan yang sungguh-sungguh berdasarkan proses yang sesuai dengan aturanNya itulah yang akan menentukan derajat ketakwaan. Dan itulah tantangan bagi siapa saja yang ingin menjadikan dirinya sebagai manusia bertakwa. Untuk itu pilihannya adalah : a) memberi dengan terang-terangan atau diam-diam, b) memberi sekali lalu tidak memberi lagi atau selalu memberi, c) hanya sendirian memberi tanpa mendorong orang lain untuk juga memberi, d) berdoa saja tanpa memberi atau berdoa sambil memberi dan e) kombinasi dari pilihan-pilihan tersebut berdasarkan aturanNya.

Sastrawan Batangan, 17 Juni 2009

Lampiran : Daftar 105 Lokasi Percontohan Posdaya (Nama Posyandu & Masjid Posdaya, Alamat, Jumlah Peserta Posyandu dan Nama Kontak) Per Mei 2009


Banten

  1. Posyandu Kel Tegal Ratu, Masjid Baitul Kholiq, - Kel. Tegal Ratu Kec. Ciwandan Cilegon (Kota) Banten, 423 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Abdul Manaf Sag, Telp : 0254-601465
  2. Posyandu Desa Cikeusik, Masjid Besar At Taqwa, - Desa Cikeusik Kec. Cikeusik Pandeglang (Kab) Banten, 332 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. A. Surajaya, Telp :0253-204087, 0852-1861900
  3. Posyandu Desa Cigadung, Masjid Ar Rohim, - Desa Cigadung Kec. Karang Tanjung Pandeglang (Kab) Banten, 349 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Encep Munadjat, Telp :0815-86823268
  4. Posyandu Desa Citeureup, Masjid Baitul Mu'min, - Desa Citereup Kec. Ciruas Serang (Kab) Banten, 289 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. M. Amin Isro, Telp :0254-280064
  5. Posyandu Salam Cengkeh Jahe Pamulang-2, Sukarelawan, - Kec. Pamulang Tangerang (Kab) Banten, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumiyati Karnadi, Telp : 021-74630575
  6. Posyandu Bougenvile, Sukarelawan, Kel. Rawa Buntu Kec. Serpong Tangerang (Kab) Banten, 75 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuriyati, Telp :______
  7. Posyandu Tulip , Sukarelawan, Kel. Rawa Buntu Kec. Serpong Tangerang (Kab) Banten, 31 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Mardiana, Telp :-
  8. Posyandu Mawar IV Jurangmangu, Sukarelawan, Kec. Pondok Aren Tangerang (Kota) Banten, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Ning, Telp :021-94023838 / 0853- 10197012
  9. Posyandu Anggrek , Sukarelawan, - - Kec. Pondok Aren Tangerang (Kota) Banten, 71 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Mariam, Telp :021-99866509
  10. Posyandu Kp Pinang, Masjid Syuhada, Desa Tigaraksa Kec. Tiga Raksa Tangerang (Kota) Banten, 258 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Ita Sumpena, Telp :021-5990037

Yogyakarta

  1. Posyandu Dusun Semail, Masjid Jamal, Desa Bangun Harjo Kec. Sewon Bantul (Kab) DIY, 212 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Warsito, Telp :027-6993778
  2. Posyandu Desa Sukoharjo, Masjid Baiturrohman, Desa Sukoharjo Kec. Ngaglik Sleman (Kab) DIY, 141 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. Wiratno MBA, Telp :0811-286320

Bandung/Cimahi

  1. Posyandu Cicalengka, Masjid Besar Cicalengka, Desa Cicalengka Kulon Kec. Cicalengka Bandung (Kab) Jabar, 231 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Kilin, Telp : 022-7949308
  2. Posyandu Melati 1 & 2 Punclut, Warga RW 02 Punclut, Kel Ciumbuleuit Kec. Cidadap Bandung (Kota) Jabar, 273 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _______, Telp :-
  3. Posyandu Sedapmalam 1/2/3/4, Masjid Al Aqsho, Kel. Sarijadi Kec. Sukasari Bandung (Kota) Jabar, 403 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Eman Suherman, M.Ag, Telp : 0812-2186561
  4. Posyandu Melati 3 Kp Bewak RW 03, Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jayagiri Kec. Lembang Bandung Barat (Kab) Jabar, 168 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Aan Darliah, Telp :-
  5. Posyandu Cempaka RW 08+RW 09, Masjid Jami Pangkalan, Desa Sariwangi Kec. Parongpong Bandung Barat (Kab) Jabar, 398 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___, Telp:-
  6. Posyandu Anggrek I dan II, Masjid Al-Fattah, RW Desa Margamulya Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 370 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Lia Erliawati, Telp :_____
  7. Posyandu Cempaka 1/2, Masjid Ar Rahmat, Kel. Utama Kec. Cimahi Selatan Cimahi (Kota) Jabar, 339 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Madiyana, Telp :0813-2050-6185
Bekasi

  1. Posyandu Cempaka I/II & Posyandu Flamboyan, Masjid Baitul Jannah, Desa Jatimulya Kec. Tambun Selatan Bekasi (Kab) Jabar, 466 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nurdin, Telp : 0812-1327874 / 021-8800814
  2. Posyandu Kel Margajaya, Masjid Nurul Islam, Kel. Marga Jaya Kec. Bekasi Selatan Bekasi (Kota) Jabar, 428 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ir. H. Kanti Prayogo, Telp :0812-820-7449
Depok

  1. Posyandu Anggrek II, Masjid Qurrota'Ayun, Kel. Bedahan Kec. Sawangan Depok (Kota) Jabar, 310 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Moh. Syahudin H, Telp :0812-972-1706
  2. Posyandu RW 09 Pasir Gunung Cimanggis Depok, Sukarelawan, RW-09 Kel Pasir Gunung Kec. Cimanggis Depok (Kota) Jabar, 301 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Tukijan, Telp : 0813-18586700
  3. Posyandu RW 13 Pasir Gunung Cimanggis Depok, Sukarelawan, RW-13 Kel Pasir Gunung Kec. Cimanggis Depok (Kota) Jabar, 316 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Suliyati Cahyo, Telp :021-87716711

Bogor

  1. Posyandu Teratai RT 1/RW-19 Kp Kedep, Masjid Al Maliki, Kel. Tlajung Udik Kec. Gunung Putri Bogor (Kab) Jabar, 220 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ade Siti Hayati , Telp : 021-8675061
  2. Posyandu Dahlia I, Sukarelawan, RW2 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 152 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Diah Karwa/ Aisyah, Telp : 021-87910988
  3. Posyandu Kecubung, Sukarelawan, RW1 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 73 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumarsih , Telp :021-87911619
  4. Posyandu Cempaka, Sukarelawan, RW3 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 81 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Iyum / Lia, Telp : 021-87906126
  5. Posyandu Sri Rejeki, Sukarelawan, RW1 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 108 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Romlah/Karmi, Telp : 021-8756964
  6. Posyandu Krisan 09, Sukarelawan, Kp Loji Desa Pasirjaya Kec. Cigombong Bogor (Kab) Jabar, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuryati , Telp :085697791549
  7. Posyandu Dahlia 2 , Sukarelawan, RW2 Desa Pakansari Kec. Cibinong Bogor (Kab) Jabar, 114 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Encah / Mustini , Telp :021-87911559
  8. Posyandu Flamboyan 1-12, Sukarelawan, Cibeuteng Udik Desa Cibeuteung Udik Kec. Ciseeng Bogor (Kab) Jabar, 142 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Rusjana , Telp : 081514257341
  9. Posyandu Mangga/Belimbing/Pisang, Masjid Al Kautsar, Kel. Cipaku Kec. Bogor Selatan Bogor (Kota) Jabar, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs.H.Zaenal Syukri, Telp :0251-311-429
  10. Posyandu Kemuning, Posyandu Kenanga, Masjid Miftahul Jannah, Kel. Ciwaringin Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 378 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Abdullah, Telp :0852-1045-3176
  11. Posyandu Seruni, Sukarelawan, Jl.Sepat Rt.05/13 Kel. Kebon Pedes Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 100 orang bumil/balita/lansia, Kontak: Ibu Idris, Telp :0251-8342993
  12. Posyandu Anyelir, Sukarelawan, Bubulak Kel. Kebon Pedes Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 254 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Idris, Telp :0251-8342993
  13. Posyandu Kenanga , Sukarelawan, Ciheuleut Pakuan RT. 04/09 Kel. Tegallega Kec. Bogor Tengah Bogor (Kota) Jabar, 83 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ine Usman , Telp :0251-8358876
  14. Posyandu Aster, Sukarelawan, Komplek PDK Ciparigi Kel. Ciparigi Kec. Bogor Utara Bogor (Kota) Jabar, 47 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Hamid, Telp :0251-8664679
  15. Posyandu Doa Ibu I , Sukarelawan, Cimanggu Lamping Rt.02/03 Kel. Kedung Waringin Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 96 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ida Sutiarsih, Telp :0251-4731964
  16. Posyandu Wijaya Kusuma, Sukarelawan, Jl Mataram, Cimanggu Permai Kel. Kedungjaya Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 54 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Bagus , Telp :0811113374
  17. Posyandu Anggrek III , Sukarelawan, Griya Katulampa D2 Kel. Katulampa Kec. Bogor. Timur Bogor (Kota) Jabar, 59 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Murtini, Telp :
  18. Posyandu Doa Ibu II , Sukarelawan, RT 4/14 Kel. Kedung Waringin Kec. Tanah Sareal Bogor (Kota) Jabar, 88 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Asih Sunarsih , Telp :0251-8359436
  19. Posyandu Melati I, Sukarelawan, RW1 Kec. Tajurhalang Desa Tonjong Bogor (Kota) Jabar, 119 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sumarni/Slamet , Telp :0251-2762706

Ciamis / Tasikmalaya / Garut / Cianjur/ Sukabumi / Karawang / Subang

  1. Posyandu Mawar / Melati /Kenanga, Masjid At Taqwa, Desa Golat Kec. Panumbangan Ciamis (Kab) Jabar, 287 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. Harun Kuswana, Telp :0812-2192-245
  2. Posyandu Kartini/Cakra, Masjid Al Mu'awanah, Desa Pagerageung Kec. Pagerageung Tasikmalaya (Kab) Jabar, 412 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Drs. H. Abd. Aziz D. Badri, Telp :0265-453-070
  3. Posyandu Nusa Putra I/II, Masjid Manbaul Hikmah, Desa Sabandar Kec. Karang Tengah Cianjur (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nandang Zaenudin S.Pd, Telp :0815-7027-472
  4. Posyandu Budi Asih/Doktren 1, Masjid Shiraatul Jannah, Desa Cikeket Kec. Cikelet Garut (Kab) Jabar, 331 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Dede Tarmidi, Telp :0262-2520-321
  5. Posyandu Dahlia 1/2/3/4, Masjid As Syuhada, Desa Cikampek Kec. Cikampek Timur Karawang (Kab) Jabar, 432 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Pia Supra Supriatna, Telp :0264-310-241
  6. Posyandu Melati 1/2/3/4/5/6/7/8, Masjid Nurul Jannah, Desa Parakan Kec. Tirtamulya Karawang (Kab) Jabar, 672 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Upi, Telp :
  7. Posyandu Cipedes, Masjid Nurul Huda, Desa Cipedes Kec. Ciniru Kuningan (Kab) Jabar, 446 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tedi Kusnadi SPd.I, Telp :0813-1744-8586
  8. Posyandu Apel IV, Masjid Al-Mubarokah Subang, Kp Babakan Kondang Desa Pasanggrahan Kec. Cisalak Subang (Kab) Jabar, 131 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sholeh Kusmana, Telp :
  9. Posyandu Nusa Indah/Terate, Masjid Nurul Amal, Desa Cigadung Kec. Subang Subang (Kab) Jabar, 360 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Endang Ahmad Suryana, Telp :0260-416-103
  10. Posyandu Desa Nagrak Selatan, Masjid At Taqwa, Desa Nagrak Selatan Kec. Nagrak Sukabumi (Kab) Jabar, 323 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Misbah Kamil, Telp :0266-7077-747
  11. Posyandu Cut Nyak Dien, Masjid Tijanul Anwar, Cipelang Leutik Desa Selabatu Kec. Cikole Sukabumi (Kota) Jabar, 164 orang bumil/balita/lansia, Kontak : ___________, Telp :
  12. Posyandu Kresna RW 09, Masjid Darunnadjah, Kp Kebandungan Desa Parungseah Kec. Sukabumi Sukabumi (Kota) Jabar, 209 orang bumil/balita/lansia, Kontak : _____, Telp :

Jakarta

  1. Posyandu Putra Ceria 1, Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 80 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Armanih , Telp :021-7666623
  2. Posyandu Putra Ceria 2 , Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 190 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Ibu Neneng, Telp :021- 96421684
  3. Posyandu Al A'raf , Sukarelawan, Kel. Gandaria Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 36 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nia, Telp :021-93691955
  4. Posyandu Dukuh Ciganjur Jaksel, Sukarelawan, Kel. Jagakarsa Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 120 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Cucu Sutianah , Telp :021-98644856
  5. Posyandu Melati , Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 90 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Emi Susilo, Telp :021-7233913 / 0856 95157878
  6. Posyandu Mawar , Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 132 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Susi Sahara, Telp :08170787085
  7. Posyandu Putik, Sukarelawan, Kel. Kramat Pela Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 52 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Djuminah, Telp :021-7394151
  8. Posyandu Aster I, Sukarelawan, Kel. Cilandak Barat Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 60 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sri Utami, Telp :085959436405
  9. Posyandu Melati 14, Sukarelawan, Kel. Cilandak Tengah Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 83 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nurjaroh, Telp :087880826674
  10. Posyandu Anggur III, Sukarelawan, Kel. Cipete Selatan Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 150 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Suartini, Telp :021-7662668 / 081218286508
  11. Posyandu Anggur III, Sukarelawan, Kel. Jagakarsa Kec. Jagakarsa Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 100 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Nuning, Telp :021-7272575
  12. Posyandu Singkong , Sukarelawan, Kel. Grogol Selatan Kec. Kebayoran Lama Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 120 orang bumil/balita/lansia, Kontak: Muasa, Telp :021-92412702
  13. Posyandu Melati, Sukarelawan, Kel. Pejaten Barat Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 130 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Tuti Alawiyah, Telp :021-79193932
  14. Posyandu Cempaka, Sukarelawan, Jl Sawo RT0/2 Jakarta Kel. Cipete Utara Kec. Cilandak Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 77 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Kusmiati, Telp :021-72792708
  15. Posyandu Taro Labu, Sukarelawan, Jl. Perdagangan, Bintaro Kel. Bintaro Kec. Pesanggrahan Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 174 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Hartati, Telp :021-7371573
  16. Posyandu Bougenville, Sukarelawan, Rawa Simpruk Jakarta Kel. Grogol Selatan Kec. Kebayoran Lama Jakarta Selatan (Kota) Jakarta, 150 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Hj. Aminah, Telp :021-7267002

Jateng (Cilacap, Magelang, Purworejo)

  1. Posyandu Melati Putih III, Masjid Al Huda, Desa Bantar Kec. Wanareja Cilacap (Kab) Jateng, 204 orang bumil/balita/lansia, Kontak : M. Syaikhu Mukhtar S.Ag, Telp : 0812-2996-009
  2. Posyandu Kalinegoro, Masjid Al Muhajirin, Perum. Kalinegoro Kel. Kalinegoro Kec. Mertoyudan Magelang (Kota) Jateng, 477 orang bumil/balita/lansia, Kontak : S. Heri Susena, Bsc, Telp :0293-328-0225
  3. Posyandu RW 01/02/03/04, Masjid At Taawazun, Desa Widuri Kec. Pemalang Pemalang (Kab) Jateng, 372 orang bumil/balita/lansia, Kontak : K.H. Sorihin Mukrim, Telp :081391774434
  4. Posyandu Mekarsari, Masjid An Nur Pituruh Purworejo, Desa Semampir Kec. Pituruh Purworejo (Kab) Jateng, 125 orang bumil/balita/lansia, Kontak : KH Abdul Aziz, Telp :__
  5. Posyandu Sehat Kuat II, Sukarelawan, Desa Semampir, Kec. Pituruh, Purworejo (Kab) Jateng, 78 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sutarto S.Pd, Telp : _______
Jatim (Bondowoso, Gresik, Malang, Madiun, Pacitan, Mojokerto)

  1. Posyandu Desa Dadapan, Masjid Al Ishlah, Desa Dadapan Kec. Grujugan Bondowoso (Kab) Jatim, 129 orang bumil/balita/lansia, Kontak : K.H Thoha YZ, Lc, Telp :0812-359-5824
  2. Posyandu Desa Kembangan, Komunitas Peduli, Desa Kembangan Kec. Kebomas Gresik (Kab) Jatim, 330 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H. Nuryanto, Telp : 031-72405115.
  3. Posyandu RW 03, Masjid Nurul Falah, Dusun Srembi Desa Kembangan Kec. Kebomas Gresik (Kab) Jatim, 474 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Masykur, Telp :0811-314493
  4. Posyandu Tebalo , Komunitas Peduli, Desa Tebalo Kec. Manyar Gresik (Kab) Jatim, 325 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Yusron Hidayat, Telp : 0819-38483990
  5. Posyandu Desa Yosowilangun, Sukarelawan, Desa Yosowilangun Kec. Manyar Gresik (Kab) Jatim, 246 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Masykur, Telp : 0811314493
  6. Posyandu Dusun Kerjo, Ponpes Babussalam, Desa Mojorejo Kec. Kebonsari Madiun (Kab) Jatim, 290 orang bumil/balita/lansia, Kontak : KH Ahmad Fauzani S.Ag, Telp : 0351-367767
  7. Posyandu Desa Sukosari, Masjid Baiturrohmat, Desa Sukosari Kec. Kasembon Malang (Kab) Jatim, 103 orang bumil/balita/lansia, Kontak : H.M. Basori Alwi, M.Sc, Telp :0813-3310-7006
  8. Posyandu Melati 1-5, Sukarelawan, Desa Penarukan Kec. Kepanjen Malang (Kab) Jatim, 624 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Gembong, Telp : 0341-464226
  9. TKA Darul Mujawwidin, Sukarelawan Kepanjen Malang, Jl Pasuruan no 30, Kec. Kepanjen Malang (Kab) Jatim, 20 orang guru honor, Kontak : Gembong, Telp : 0341-464226
  10. Posyandu Surodinawan I/II/Ketidur, Masjid Roudhotul Jannah, Kel. Surodinawan Kec. Prajurit Kulon Mojokerto (Kota) Jatim, 303 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Surani, BA, Telp :0321-323-537
  11. Posyandu Kayen I, Masjid Baitushsholihin, Desa Kayen Kec. Pacitan Pacitan (Kab) Jatim, 114 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Katwadi, Telp :0357-881-929
  12. Posyandu Desa Pucang Sewu, Masjid Pucang Sewu, Desa Pucang Sewu Kec. Pacitan Pacitan (Kab) Jatim, 486 orang bumil/balita/lansia, Kontak : Sugeng W, Telp :0852-3565-2486
Kalbar

  1. Posyandu Desa Pasir, Masjid Al Amien, Dusun Sebukit Rama Desa Pasir Kec. Mempawah Hilir Pontianak (Kab) Kalbar, 196 orang bumil/balita/lansia, Kontak : , Telp :
  2. Posyandu Tunas Kelapa, Masjid Darunnajah, RW 01 Desa Sungai Raya Kec. Sungai Raya Pontianak (Kab) Kalbar, 87 orang bumil/balita/lansia, Kontak : , Telp :

Lampung

  1. Posyandu Kel Suka Menanti, Masjid Al Fitrah, Kel Suka Menanti Kec. Kedaton Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Baherom/Priatman, Telp :0852-79410908
  2. Posyandu Kel Durian Payung, Masjid Asy Syuhada, Kel Durian Payung Kec. Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Jaya Putra, Telp :0812-7907915
  3. Posyandu Kel Kupang Teba, Masjid Nurul Iman, Kel Kupang Teba Kec. Teluk Betung Bandar Lampung (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Rifai/Zulfikar, Telp :0813-21431120
  4. Posyandu Desa Sendang, Masjid Nurul Iman, Desa Sendang Kec. Tanjung Bintang Lampung Selatan (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Nasibto SPdI, Telp :0819-30044484
  5. Posyandu Desa Negara Bumi Udik, Masjid Darul Ulum, Desa Negara Bumi Udik Kec. Anak Tuha Lampung Tengah (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
  6. Posyandu Desa Negara Bumi Udik, Masjid Nurul Iman, Desa Negara Bumi Udik Kec. Anak Tuha Lampung Tengah (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
  7. Posyandu Desa Sinar Menanga, Masjid Baabul Khoiril Ummah, Desa Sinar Menanga Kec. Sektor Udik Lampung Timur (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sunarti, Telp :0857-68271313
  8. Posyandu Kampung Sawah, Masjid Miftahul Jannah, Kampung Sawah Metro (Kota) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Supardi; M, Telp :0828-80908534
  9. Posyandu Desa Bagelen, Masjid Hidayatul Muslimin, Desa Bagelen Kec. Gedong Tataan Pesawaran (Kab) Lampung, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Zulfikar La Ntoresano, Telp :0813-21431120
Sumsel
  1. Posyandu Kel 26 Ilir, Masjid Al Amani, Kel 26 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Fatoni, Telp :0816-3291209
  2. Posyandu Kel 19 Ilir, Masjid Agung, Kel 19 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Juwita, Telp :0813-67616136
  3. Posyandu Kel 27 Ilir, Masjid Al Amanah, Kel 27 Ilir Kec. Ilir Barat Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sugiarto, Telp :0815-32715511
  4. Posyandu Kel Sako, Masjid Al Muntaha, Kel Sako Kec. Kenten Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Eduard, Telp :0711-7333372
  5. Posyandu Kel Sialang, Masjid Istiqlal, Kel Sialang Kec. Kenten Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Sutrisno, Telp :0711-7821477
  6. Posyandu Kel Lr Roda 26 Ilir, Masjid Al Hidayah, Kel Lr Roda 26 Ilir Kec. Bukit Kecil Palembang (Kota) Sumsel, (belum ada data) bumil/balita/lansia, Kontak : Eko Sutardi, Telp :081373311412

Baca selanjutnya.....

Kamis, April 16, 2009

|Posdaya : Seputar Paket Pancingan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Sinambung Bergulir

1 komentar

Kondisi Kemiskinan & Keberdayaan Masyarakat Indonesia Dalam Mengatasinya

Indonesia yang kaya sumber daya alam, memiliki 13.667 pulau, 370 suku bangsa, 67 bahasa induk dengan jumlah penduduk 227 juta jiwa (tahun 2007), di antaranya lebih dari 86% berKTP Muslim. Pada tahun 2007, sekitar 207 ribu muslimin Indonesia (+ 10% dari jemaah haji dunia) beribadah haji dengan biaya resmi paling murah Rp 29 juta. Namun Indonesia juga kaya orang miskin yaitu sekitar 16.6% atau 36,5 juta orang (2007).


Beberapa kasus kemiskinan yang terekam adalah :
  • Februari 2008, di Makassar, Sulsel; seorang ibu (45 th) dan seorang anak balitanya (4 th) meninggal dalam kondisi 3 hari kelaparan dan diare akut. Para tetangga, begitu pula RT/RW-nya, diberitakan tidak ada yang tahu karena mereka tidak pernah meminta-minta.
  • Mei 2008, seorang anak yatim laki2 usia SD di Cibinong terpaksa tidak sekolah karena harus menjaga 2 adiknya yang masih kecil. Ibunya harus mencari nafkah dengan pendapatan yang kecil sehingga tidak mencukupi untuk membayar pembantu rumah tangga.
  • Jatah beras miskin (raskin) yang didrop via ke-tua RT 1 x/ bulan tidak bisa ditebus oleh yang berhak. Saat beras datang, mereka tidak sanggup mengganti biaya transportasi karena sedang tidak punya uang (karena memang benar2 miskin). Akhirnya beras dibeli oleh orang yang lebih mampu.
  • Riba eceran (pinjaman bernilai kecil) banyak terjadi di kalangan orang miskin. Hutang Rp 200.000,- mesti dibayar Rp 8.000 per hari x 30 hari (bunga 20%/bulan)
  • Makassar, Maret 2008, seorang ibu miskin, sehabis bersalin, berniat menjual bayinya agar bisa membayar biaya pesalinan Rp300 ribu.
  • Di Bekasi, Maret 2008, seorang ibu membenamkan 2 anaknya sehingga mati karena kemiskinan.
  • Menurut informasi terakhir, saat ini terdapat antara 3-4 juta balita miskin, di mana 700 ribuan jiwa di antaranya dalam keadaan kritis gizi, Kemampuan pemerintah untuk menangani balita kritis gizi itu hanya 39 ribu orang per tahun.
Dampak miskin adalah kekufuran, di antaranya adalah sbb :
  • Fasilitas umum / produksi (pabrik), yang dibangun dengan waktu yang cukup lama dan biaya besar, dirusak dalam sekejap oleh masyarakat / karyawan sendiri.
  • Berebutan sedekah sehingga ter-injak2 (padahal ada orang yang berhak namun tidak mendapatkan)
  • Tawuran (olahraga, antar pelajar, antar kampung)
  • Membunuh anak sendiri (ibu yang membenamkan 2 anaknya karena miskin)

Akibat kekufuran terjadilah pengrusakan yang merupakan contoh buruk buat generasi mendatang bahwa pemaksaan / kekerasan dianggap sebagai alat ”ampuh” untuk melawan orang sejahtera (kaya) yang ”menulikan telinga”, ”membutakan mata”, dan ”membutakan hati”.

Akibat selanjutnya, banyak investor enggan berinvestasi. Lapangan kerja menjadi berkurang atau tidak bertambah. Kalau tidak segera ditangani diperkirakan bencana sosial akan datang.

Apakah kita cukup hanya terharu menitikkan air mata saja? Ataukah sendirian saja memberi orang miskin lantas semua masalah kemiskinan selesai ? Atau biarkan saja sehingga kita wariskan generasi yang lemah-miskin-bodoh yang akan mengakibatkan kekufuran?

Apa kita tidak berpikir bahwa anak-cucu kita (yang terdidik-pandai karena kita mampu membiayainya dan kemudian menjadi bos di masa depan) akan repot karena harus menghadapi generasi seumurnya yang bodoh-beringas akibat kurang gizi dan pendidikan? Atau apa kita tunggu saja mukjizat Allah? Tentunya akan tidak demikian kalau kita sebagai bangsa Indonesia melaksanakan perintah Tuhan YME sesuai dengan agama/ kepercayaannya masing-masing.

Apa Yang Disebut Posdaya ?

Posdaya - kependekan dari Pos Pemberdayaan Keluarga - adalah suatu gerakan masyarakat untuk memberdayakan setiap individu baik mandiri maupun berkelompok untuk mengamalkan 8 (delapan) fungsi keluarga yaitu : (1) agama, (2) budaya, (3) cinta dan kasih sayang, (4) perlindungan keluarga, (5) kesehatan dan reproduksi, (6) pendidikan, (7) ekonomi dan (8) lingkungan

Posdaya pada awalnya digagas oleh Prof Dr Haryono Suyono yang melihat bahwa usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baru akan berhasil kalau setiap individu dalam keluarga dan keluarga itu sendiri yang memberdayakan dirinya. Dalam kaitan ini dengan mempertimbangkan banyak hal, maka posyandu sebagai kelembagaan layanan masyarakat yang telah lama setia berkontribusi diharapkan mampu secara bertahap meningkatkan fungsinya sebagai operator lapangan pelaksanaan pemberdayaan keluarga ini. Lebih dari sekadar melayani kesehatan ibu dan anak balita yang selama ini telah dilakukan.

Mengapa Perlu Berposdaya ?

Sebagaimana telah dipahami bahwa kesejahteraan hanya dapat terjadi kalau terjadi sinergi antar setiap individu dalam keluarga dan sinergi antara individu / keluarga dengan masyarkat yang lebih luas. Dengan kata lain, kesejahteraan masyarakat tidak dapat terjadi dengan sendirinya.

Karena kesejahteraan tidak dapat terjadi dengan sendirinya sementara itu tingkat kesejahteraan setiap keluarga juga berbeda-beda di mana kaum prasejahtera (kaum miskin) memiliki kendala keterbatasan yang sangat besar dibandingkan kaum sejahtera, maka diperlukan usaha dari semua pihak. Dalam hal ini kaum sejahtera memberdayakan dirinya untuk selain meningkatkan kualitas hidupnya juga ikut memberikan kontribusi dalam memberdayakan kaum prasejahtera.

Sebaliknya dengan fasilitas yang dikontribusikan oleh kaum sejahtera, kaum prasejahtera memberdayakan dirinya untuk bangkit menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
Hubungan yang harmonis di mana kaum sejahtera membantu kaum prasejahtera untuk memberdayakan dirinya dan sebaliknya di mana kaum prasejahtera mau memberdayakan dirinya dengan difasilitasi oleh kaum sejahtera akan menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kata lain tanpa ada upaya dari masing-masing kaum, baik yang sejahtera maupun yang prasejahtera untuk memberdayakan dirinya secara sinergi, tidak mungkin kesejahteraan masyarakat akan tercapai. Atau dengan kata lain setiap individu dalam keluarga perlu memberdayakan diri dan keluarganya agar kesejahteraan keluarga dan masyarakat tercapai

Faktor Moral Apa Saja Yang Menjadikan Seseorang Perlu /Harus Melakukan Posdaya ?

Faktor-faktor moral yang mendasari seseorang melakukan posdaya adalah :
  • Sebagai bukti/perwujudan cinta negeri dan syukur kepada para pendahulu, pahlawan kemerdekaan, pahlawan pembangunan fisik dan agama yang telah menjadi lantaran Indonesia menjadi negeri yang merdeka dan terus membangun berdasarkan keseimbangan jasmani dan rohani
  • Sebagai bukti/perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa pada diri kita– baik di waktu lapang maupun sempit – terdapat hak orang miskin baik yang meminta maupun yang tidak mendapat bagian.
  • Sebagai bukti / perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa pada diri kita terdapat tugas untuk mendorong/mengajak/menganjurkan /memberdayakan orang lain (yang sejahtera) agar juga memberikan sebagian hartanya kepada orang tidak mampu (prasejahtera/miskin) sehingga kegiatan kepedulian berlangsung sinambung.
  • Sebagai bukti / perwujudan pemahaman terhadap Kitabullah bahwa masalah kemiskinan hanya bisa diselesaikan sendiri oleh yang menderita kemiskinan dengan cara berupaya mengubah nasibnya sementara kontribusi kaum sejahtera berfokus pada usaha untuk memfasilitasi kaum prasejahtera agar mau dan mampu bangkit dari keterpurukannya
Apa Target Utama Posdaya?

Target utama Posdaya adalah berdayanya masyarakat sejahtera di suatu lokasi secara kontinyu untuk memberdayakan (bukan memanjakan) masyarakat prasejahtera yang berada di lingkungan sekitar masyarakat sejahtera itu sendiri.

Kelembagaan Apa Saja Yang Dapat Diberdayakan Sebagai Basis Posdaya

Subyek Posdaya adalah masyarakat di suatu wilayah. Sedangkan kelembagaan yang suda ada dan relatif siap untuk mengoperasionalkan posdaya adalah posyandu.

Dalam hal ini posyandu sebagai operator posdaya tidak akan dapat berfungsi kalau tidak didukung oleh berbagai komunitas masyarakat sebagai basisnya. Komunitas masyarakat yang dimaksudkan ini adalah suatu kumpulan warga masyarakat baik informal maupun formal yang memiliki kepentingan relatif sama, misalnya komunitas sekolah, komunitas majelis taklim, komunitas RT atau RW dan sebagainya.

Komunitas masyarakat yang saat ini ada dan diharapkan dapat berfungsi sebagai basis untuk menggerakkan anggotanya untuk memfasilitasi posyandu dalam melaksanakan posdaya di antaranya adalah :
  • Sekolah
  • Rumah ibadah
  • RT/RW
  • Kelompok pengajian / majelis taklim
  • Kleompok alumni/arisan
  • Perusahaan Dan sejenisnya

Dengan demikian pada saat pelaksanaan posdaya akan terdapat beberapa basis posdaya yang di antaranya adalah :
  • Posdaya berbasis SLTA A, Univeritas B, pesantren Z, dll
  • Posdaya berbasis masjid A, gereja B, dll
  • Posdaya berbasis majelis taklim C, dst
  • Posdaya berbasis alumni SMA-X atau Universitas-Z
Melalui basis-basis tersebut, warga masyarakat yang menjadi anggotanya bersinergi membantu posyandu yang diharapkan dapat meningkatkan fungsinya sebagai posdaya untuk menangani perrmasalahan masyarakat.

Apa dan Mengapa Perlu Melakukan Posdaya Sinambung Bergulir (Posdaya-SB)

Walaupun kemauan ada namun gerakan nyata dari masyarakat untuk memberdayakan dirinya, boleh dikatakan masih relatif rendah. Beberapa indikasinya adalah :
  • BLT (Bantuan Langsung Tunai) masih sering menjadi rebutan
  • Jatah beras untuk keluarga miskin masih sering tidak bisa dinikmati oleh keluarga yang berhak.
  • Banyak orang sakit parah ditolak RS karena ketiadaan jaminan
  • Setiap kali ada pembagian sedekah atau sejenisnya seringkali rebutan
  • Data kaum prasejahtera tidak selalu ada dan kalaupun ada seringkalo dalam keadaan tidak mutakhir.
Sesungguhnya kasus-kasus tersebut tidak perlu terjadi seandainya di setiap lokasi, masyarakat secara bergotong royong telah menangani masalah-masalah mereka sendiri. Dalam hal ini banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah :
  • masih rendahnya kualitas unsur pemerintah untuk secara ikhlas dalam melakukan pembinaan,
  • tidak adanya warga yang militan untuk tampil membenahi dan merawat sistem pendataan dan distribusi fasilitas yang diberikan kepada orang miskin,
  • belum sadarnya warga mampu bahwa dalam hartanya (baik dana, waktu dan pemikiran) ada hak orang miskin
  • belum sadarnya warga miskin bahwa budaya ”meminta/ mengemis” tidak akan bisa membuat sejahtera yang seharusnya diubah menjadi budaya ”memberdayakan diri”,
  • posyandu belum menjadi milik masyarakat sehingga posyandu dibiayai sendiri oleh kader-kader posyandu dan seringkali juga mengandalkan urunan warga miskin yang jumlahnya relatif terbatas.
Karena masalah-masalah itulah maka dalam pelaksanaan posdaya diperlukan adanya stimulan atau ”pancingan”. Yang disebut pancingan adalah pemberian contoh selama beberapa waktu (1 bulan atau lebih) oleh seorang atau lebih yang peduli untuk kemudian dilanjutkan (diambil-alih) dan diperluas oleh warga yang diberi contoh. Dengan adanya pancingan tersebut, diharapkan pula data yang valid dan merupakan keputusan bersama yang selalu mutakhir dapat dikelola pula dengan baik

Jika sudah terpancing, dalam hal ini setelah diberi contoh berdasarkan data yang valid dan selalu mutakhir tsb, masyarakat kemudian mmelanjutkan, maka pancingan dapat dirupakan berupa paket lain di mana masyarakat masih belum menyentuhnya.

Memancing dan kemudian menarik pancingan untuk memancing di bidang lain inilah yang disebut ’sinambung bergulir’. Diharapkan dengan adanya pancingan ini, terjadi percepatan keberdayaan masyarakat. Kesimpulannya Posdaya-SB memang diperlukan sebagai upaya untuk mempercepat ”bangun-nya” masyarakat.

Siapa Yang Dapat Berfungsi Sebagai Pemancing Posdaya-SB ?

Siapa saja yang diberi kelebihan oleh Tuhan Semesta Alam dalam hal harta, pemikiran, relasi, dan sejenisnya, yang sadar bahwa pada hartanya terdapat hak orang miskin baik yang meminta maupun yang tidak mendapat bagian.

Beberapa potensi masyarakat yang dapat berfungsi sebagai pemancing adalah : calon haji/haji, pejabat/mantan pejabat, dokter, pengusaha

Paket Apa Saja Yang Digunakan Sebagai ’Pancingan’ Dalam Posdaya-SB ?

Dari berbagai pengalaman yang ada, saat ini terdapat 8 paket pancingan yang disarankan untuk dilakukan secara berurutan (dari yang paling mudah sampai tersulit) mengingat bahwa masyarakat baru akan mau melaksanakannya jika mulai dari yang murah dan tidak sulit dikerjakannya. Kedelapan paket tersebut diuraikan berikut ini.
  • Paket Pancingan I : Paket makanan gizi tambahan untuk ibu hamil, balita dan lansia miskin (bubur kacang ijo, telur rebus dan buah-buahan) seharga saat ini sekitar Rp 3.500 per orang yang dapat dilakukan 1 kali atau lebih per bulan via posyandu yang logistiknya dibeli dari warung-warung yang sepakat untuk berposdaya.
  • Paket Pancingan II : Paket Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi anak-anak balita miskin berupa inisiasi, pengadaan modul belajar-mengajar, dan honor bagi fasilitator/ guru PAUD
  • Paket Pancingan III : Paket Belajar Sambil Bermain / Bekerja (BSB) bagi anak dan remaja miskin berupa inisiasi, pengadaan modul belajar-mengajar, dan honor bagi fasilitator/ guru BSB
  • Paket Pancingan IV : Paket kegiatan gotong royong kesetiakawanan sosial bagi siswa/ anak-remaja berupa dana gratis untuk konsumsi dan peralatan gotong royong
  • Paket Pancingan V : Paket beasiswa kepada keluarga pra sejahtera tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA
  • Paket Pancingan VI : Paket pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil (Warung Posdaya) di bidang administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera.
  • Paket Pancingan VII : Paket modal kerja kepada serikat dagang warung warga Posdaya untuk mensejahterakan para anggota dan para masyarakat pra sejahtera.
  • Paket Pancingan VIII : Paket pengobatan dan perawatan gratis kepada masyarakat pra sejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter yang TAKWA
Kedelapan paket tersebut di atas merupakan paket-paket yang relatif mudah dikerjakan sebagai awal untuk mengerjakan kegiatan pemberdayaan lainnya terutama di bidang ekonomi.

Bagaimana Paket Pancingan I Posdaya-SB Digulirkan ?

Tahap pertama ini dimulai dari adanya kesadaran satu atau lebih orang dari kalangan sejahtera yang ada di suatu wilayah atau kalau belum ada dapat berasal dari luar wilayah bahwa pada diri mereka terdapat hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tak mendapat bagian.

Oleh karena kesadaran itu, mereka menyisihkan sebagian hartanya untuk melakukan pancingan dalam usaha untuk mendorong / mengajak orang lain untuk memberi. Mengapa ? Karena selain memberi, pada diri setiap orang (baik kaya maupun miskin) terdapat tugas dari Yang Maha Kuasa untuk mendorong/menganjurkan memberi orang miskin.

Pancingan berupa makanan tambahan bergizi diberikan kepada kaum prasejahtera (ibu hamil, balita, lansia) yang berada di suatu wilayah melalui posyandu sesuai dengan standar yang telah ada. Pelayanan posyandu yang biasanya 1 x sebulan dapat ditingkatkan frekuensi dan kualitas kontennya sesuai dengan kemampuan, misalnya saja, 1 kali menjadi 2 kali atau lebih per bulan dengan memberikan tambahan makanan sehat yang lebih bergizi daripada sebelumnya. Logistik untuk ini diutamakan dibeli dari warung yang berada di wilayah tsb yang nantinya akan berfungsi sebagai warung posdaya.

Dalam program ini juga dilakukan kontrak kemitraan antara pihak ’yang memberi pancingan dengan warga masyarakat di mana kaum prasejahtera itu berada. Isi kontrak adalah bahwa setelah masa kontrak selesai, warga masyarakat (dalam hal ini tokoh dan kaum yang sejahtera) mau melanjutkan pemberian paket. Dalam hal ini wakil prasejahtera juga dilibatkan sebagai penandatangan kontrak.

Dengan adanya kegiatan ini, ada kesempatan yang baik untuk mengumpulkan dan memutakhirkan serta sekaligus melegalisasikan data. Tokoh-tokoh masyarakat diajak untuk melakukan verifikasi.

Selanjutnya pararel dengan pemberian makanan bergizi ini, kaum prasejahtera – melalui juru dakwah – diajak untuk menyadari bahwa yang dapat mengeluarkan diri dari kemiskinan dan kebodohan itu adalah dirinya sendiri. Orang lain tidak bisa dan hanya berfungsi sebagai fasilitator. Dengan demikian budaya mengemis/ meminta perlu diubah menjadi budaya memberi sesuai kemampuan. Memberi apa saja di saat lapang maupun sempit.

Kegiatan awal ini boleh dikatakan sebagai kegiatan yang murah-meriah namun relatif jitu sebagai starter awal (sosialisasi) kegiatan pemberdayaan masyarakat sejahtera maupun prasejahtera.

Bagaimana Paket Pancingan II Posdaya-SB Digulirkan ?

Dalam tahap kedua ini – setelah masyarakat secara mandiri melaksanakan / mengambil alih program tahap pertama – pancingan dapat diarahkan oleh para ’pemancing’ kepada penyelenggaraan PAUD (pendidikan anak usia dini) kaum miskin yang selain sebagai pengisi waktu agar produktif juga sebagai persiapan bagi mereka nantinya untuk masuk SD yang dewasa ini telah digratiskan oleh pemerintah.

Kebanyakan anak usia dini kaum fakir miskin ini tidak tersentuh oleh ’play group atau TK yang karena dikelola swasta, menjadi beban bagi kaum miskin. Kalaupun tersentuh oleh pengajian anak (yang dilakukan oleh guru ngaji), materinya pun baru terbatas kepada cara membaca, belum banyak mengarah kepada bagaimana mengimplementasikan ayat-ayat yang dibacanya melalui ’game’ dan tindakan nyata yang dapat membekas dalam diri anak-anak kecil itu.

Modul PAUD yang dipadukan dengan pengajian anak-anak didesain sebagai pendidikan luar sekolah yang materi-materinya mengarah kepada motivasi hidup, kemandirian yang sinergi, kesantunan, kereligiusan, kegotongroyongan dan keterampilan-keterampilan dasar yang cocok untuk anak usia dini

Karena jarang ada orang yang dengan sukarela (padahal di setiap lokasi selalu ada potensinya) mau menyelenggarakan kegiatan ini maka pancingan diarahkan pada :
  • Pemberian honor kepada fasilitator PAUD dan guru ngaji
  • Pelatihan fasilitator PAUD dan guru ngaji
  • Pemberian modul-modul yang diperlukan.
Sama seperti paket I, dalam pengguliran paket II ini juga dilakukan kontrak antara pihak pemancing dengan tokoh/warga sejahtera yang juga ditandatangani oleh wakil prasejahtera. Isi kontrak adalah kesepakatan tokoh masyarakat/warga sejahtera untuk melanjutkan kegiatan ini apabila jangka waktu kontrak bantuan telah selesai.

Bagaimana Paket Pancingan III Posdaya-SB Digulirkan ?

Jika paket I telah diambil alih oleh masyarakat, maka paket III bisa digulirkan baik secara serial maupun pararel dengan paket II. Dalam hal ini paket III difoluskan untuk menyelenggarakan pendidikan luar sekolah bagi anak-anak, remaja, dewasa dan lansia.

Pendidikan luar sekolah tersebut dapat dirinci sbb :
  • Pendidikan luar sekolah bagi anak-anak yang disebut BSB (Belajar Sambil Bermain) berisi materi-materi :motivasi hidup, kemandirian yang sinergi, kesantunan, kereligiusan, kegotongroyongan dan keterampilan-keterampilan yang cocok untuk anak-anak.
  • Pendidikan luar sekolah bagi remaja yang disebut BSK (belajar Sambil Bekerja), lebih diarahkan kepada visualisasi dunia kerja yang akan mereka masuk di kemudian hari. Dalam kegiatan BSK ini remaja diajak untuk berlatih bekerja di beberapa jenis pekerjaan yang ada di wilayah tsb.
  • Pendidikan bagi kaum dewasa lebih diarahkan pada bagaimana bersikap sebagai orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rumah tangga dan sebagai warga masyarakat, bagaimana mengembangkan hobi-hobi yang dapat diproduktifkan bilamana terjadi PHK dan beberapa materi lain yang berkaitan.
  • Pendidikan bagi lansia lebih diarahkan pada bagaimana mengisi kehidupan sebelum mati sebagai manusia mulia. Dalam hal ini materi yang lebih banyak disajikan adalah yang berkaitan dengan masalah sosial-religius
Pancingan yang Digulirkan antara lain berupa :
  • Pelatihan dan pemberian honor bagi fasilitator / guru yang mengajar
  • Pengadaan materi-materi (bukan bangunan) yang menjadi alat dalam penyelenggaraan kegiatan

Bagaimana Paket Pancingan IV Posdaya-SB Digulirkan ?

Paket IV – berupa bantuan fasilitas untuk melakukan kegiatan gotong royong - dapat diberikan pada saat paket III baru dimulai dengan tujuan memupuk kerukunan dan rasa kebersamaan warga dalam mengatasi masalah masyarakat.

Sebagai contoh dapat digambarkan skenarionya sebagai berikut :
  • Jika dari 5 sekolah (SD/SLTP/SLA) yang ada di suatu wilayah mengirimkan masing-masing 10 siswanya setiap minggu secara bergantian untuk bekerja bakti di salah satu sekolah, maka selama 5 minggu lima sekolah tsb telah pernah dikunjungi (untuk kerjabakti) oleh siswa-siswa yang sekolahnya berlainan tsb.
  • Dengan cara seperti ini kemungkinan tawuran antar siswa dapat ditekan menjadi seminimal mungkin.
Paket yang diberikan berupa alat kerja dan konsumsi selama kerjabakti / gotong royong, yang diharapkan dapat dilanjutkan / diambilalih oleh masyarakat setelah periode pancingan selesai.

Bagaimana Paket Pancingan V Posdaya-SB Digulirkan ?

Paket V (beasiswa kepada keluarga pra sejahtera tingkat Balita, SD, SLTP dan SLTA) digulirkan setelah paket gotong royong (Pakaet IV) dan paket pendidikan luar sekolah (paket III) diambil alih oleh masyarakat

Paket ini diberikan dalam bentuk seragam, uang transportasi, uang buku dan keperluan lain yang berkaitan dengan sekolah (dengan asumsi bahwa sekolah gratis).

Agar lepas dari budaya ’mengemis/meminta / menerima ’ yang dewasa ini sering menjadi trademark kaum miskin, maka kepada para siswa yang dapat beasiswa diwajibkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sbb :
  • Siswa kelas 1 s/d 5 SD diwajibkan untuk membersihkan ruang kelasnya masing-masing
  • Siswa kelas 6 SD s/d SLTA diwajibkan membersihkan halaman sekolah.
Dalam pelaksanaan paket ini, beberapa orang guru akan dilibatkan dalam memantau kinerja / prestasi para siswa miskin yang mendapatkan beasiswa tersebut.

Bagaimana Paket Pancingan VI Posdaya-SB Digulirkan ?

Sebagaimana diketahui bahwa pada saat awal pelaksanaan program pancingan, beberapa warung yang ada di lokasi posdaya telah dilibatkan sebagai pemasok material posyandu. Mereka inilah yang kemudian diupayakan untuk berhimpun dalam kegiatan yang disebut forum warung posdaya.

Untuk meningkatkan kualitas layanan dan manajemen warung-warung tsb maka digulirkanlah paket VI, yaitu pelatihan gratis bagi mereka, Bidang-bidang pelatihan meliputi administrasi pergudangan, kebersihan, keuangan, pemasaran dan kemitraan agar bertambah sejahtera)
Paket VI (pelatihan gratis kepada para pengusaha kecil /Warung Posdaya) ini digulirkan pararel dengan atau setelah paket V (pemberian beasiswa anak miskin) diambil alih oleh masyarakat.

Bagaimana Paket Pancingan VII Posdaya-SB Digulirkan ?

Bilamana masyarakat suatu lokasi telah bangkit melakukan posdaya melalui tahap demi tahap, maka suatu saat akan tercetus pemikiran mengenai bagaimanakah mendapatkan dana abadi untuk membiayai kegiatan posdaya yang sudah, sedang dan akan berlangsung. Dalam hal ini tentu ada yang berpikiran bahwa dana tersebut dapat diperoleh dari unit-unit usaha produktif yang dikelola masyarakat.

Menyikapi hal ini, ada potensi yang bisa dikembangkan untuk memenuhi maksud tersebut yaitu adanya beberapa warung yang telah membantu posdaya dan telah dilatih untuk menerapkan manajemen yang profesional sebagaimana dilakukan pada paket sebelumnya.

Atas dasar inilah maka digulirkanlah paket VII berupa pemberian modal kerja kepada serikat dagang warung Posdaya. Serikat dagang - yang diusahakan berbadan hukum koperasi - ini dibentuk dengan tujuan untuk mensejahterakan para anggota (warung posdaya) dan sekaligus para masyarakat prasejahtera. Mengapa demikian ? Karena sebagian dari keuntungan serikat dagang tersebut dialokasikan untuk memberdayakan prasejahtera.

Bagaimana Paket Pancingan VIII Posdaya-SB Digulirkan ?

Potensi masyarakat utntuk menanganai kemiskinan sesungguhnya amat besar hanya saja belum dibangkitkan untuk memberikan kontribusi. Di antara potensi-potensi tersebut ada yang berkaitan dengan bidang kesehatan, yakni : RS, apotik, dokter, tabib, perawat, dan sejenisnya.

Mengingat keberadaan potensi tersebut maka diluncurkanlah paket VIII berupa pengobatan dan perawatan gratis bagi masyarakat prasejahtera melalui kemitraan dengan rumah sakit, apotik dan para dokter takwa. Potensi ini amat mendukung Jamkesmas yang akan diberlakukan menyeluruh di Indonesia. Hal ini untuk mengantisipasi bilamana Jamkesmas tidak berlangsung lancar (karena sistem birokrasi), posdaya siap berperan menangani kekurangannya.

Dalam paket ini, para dokter, tabib dan perawat yang peduli bergabung untuk bergiliran berpraktek gratis setiap minggu 2 jam, Jika Jamkesmas lebih berfokus kepada tindakan kuratif, maka kegiatan praktek bergiliran ini banyak mengarah kepada tindakan pencegahan menangani penyakit yang mungkin timbul di kalangan laum miskin. Dalam hal ini pemilik apotik dan pemilik RS dilibatkan untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang timbul saat kegiatan berlangsung,

Beberapa Ciri Khas Posdaya Sinambungbergulir Yang Sepatutnya Dipertahankan

Beberapa Ciri Khas Posdaya Sinambungbergulir Yang Sepatutnya Dipertahankan adalah :
  • Kelembagaan yang telah ada, yang sudah dibentuk oleh pemerintah (Posyandu, dll) maupun masyarakat (majelis taklim, pesantren, sekolah, dll) berfungsi sebagai ”kendaraan” untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan (dengan kata lain seminimal mungkin melakukan pembentukan kelembagaan baru)
  • Memanfaatkan fasilitas bangunan yang sudah ada (masjid, sekolah, posyandu dsb) untuk menyelenggarakan kegiatan posdaya (pelayanan kesehatan, PAUD, BSB, dll) dan diusahakan tidak membangun fasilitas yang baru.
  • Menjadikan pemberian makanan tambahan bergizi sebagai tahap awal pembiasaan peduli
  • Menjadikan kegiatan pemberdayaan berupa pemahaman (pelatihan) yang selalu diikuti dengan aksi nyata
  • Menjadikan gotong royong sebagai wahana merukunkan warga dimulai dengan gotong royong menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan
  • Menjaga akurasi, kemutakhiran dan validitas data kaum miskin di mana kader posyandu/PKK dan ketua RT/RW amat berperan besar di dalamnya
  • Menjadikan sistem pelaporan berbasis data mustahik yang dilegalisir oleh pejabat/tokoh setempat sebagai alat untuk merencanakan, mengevaluasi / mengaudit dan menyampaikan himbauan untuk mengajak/mendorong peduli mustahik.


Bogor, April 2009
SastrawanBatangan / JonPosdaya / SriPosdayawati / MariBerposdaya / Posdaya,

Baca selanjutnya.....

Rabu, April 15, 2009

Posdaya | Resep Caleg Tidak Gila 2014 : Murah-Meriah-Gampang-Ridho

1 komentar

Hasil Pemilu 9 April 2009 yang lalu bagi masing-masing caleg relatif dengan cepat sudah bisa diterka, terutama di level kabupaten atau kota, apakah ia terpilih ataukah tidak untuk duduk di parlemen. Yang menang, sebagaimana ditayangkan tivi, kebanyakan ”sumringah-bungah”. Demikian pula pendukungnya juga ikut senang yang kemudian ada yang menggunduli kepalanya, ada pula yang memanggul dan mengarak si caleg keliling kampung dan sebagainya. Wajarlah dalam pesta demokrasi ada perilaku seperti itu.

Lantas bagaimana yang gagal ? Bermacam-macam pula responnya. Kebanyakan sedih, pilu, cenderung menyendiri bahkan depresi. Malahan ada yang gantung diri, mengusir orang yang telah puluhan tahun menumpang di rumah miliknya hanya karena tidak mencontreng dia, tidak pulang ke rumah karena takut dikejar penagih hutang dan ada pula yang lari ke padepokan tim spiritual alias dukun.

Mengapa gagal ? Seorang pemerhati masalah sosial religius menyimpulkan bahwa penyebab kegagalan seorang caleg terpilih menjadi legislator dapat dikelompokkan menjadi 5 faktor : (1) tidak dikenal rakyat; (2) tidak disuka rakyat; (3) tidak dipercaya rakyat.; (4) tidak dikehendaki parpol; dan (5) tidak dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat. Karena itulah bagi yang gagal tinggal pilih termasuk kategori manakah dia. Apakah belum dikenal rakyat ? Apakah dikenal cuma oleh sedikit rakyat? Kalau sudah dikenal apakah sudah disuka / disenangi rakyat. Apakah yang suka kepadanya sedikit ataukah banyak ? Lalu kalau sudah dikenal dan disuka, apakah dia dipercaya rakyat ? Apakah yang percaya kepadanya banyak ataukah sedikit ?. Kalau sudah dikenal, disuka dan dipercaya apakah parpol di mana sang caleg berinduk sudah menghendakinya ataukah tidak ?. Dan terakhir kalau semuanya sudah oke, apakah Sang Maha Pencipta Rakyat berkehendak ataukah tidak?

Dari logika itu pula kita dapat memahami mengapa ada seorang caleg yang tidak dikenal, tidak disuka dan tidak dipercaya oleh banyak warga masyarakat dapat terpilih menjadi legislator. Rupanya dia dikehendaki oleh parpol pendukungnya dan dikehendaki pula oleh Sang Maha Pencipta Rakyat. Demikian pula ada orang yang sangat dikenal, disukai dan dipercaya rakyat namun karena ”emoh” jadi wakil rakyat formal, maka tidak ada satupun parpol yang men-caleg-kannya. Dengan kata lain agar jadi wakil rakyat formal, parpol harus ”menghendakinya” terlebih dulu sebelum dikehendaki oleh Sang Maha Pencipta Rakyat.

Tentunya banyak caleg yang gagal pada pemilu 2009 ini yang masih berkeinginan untuk maju lagi pada pemilu 2014. Demikian pula tentu banyak muka-muka baru (new comer) yang ingin menjadi caleg 5 tahun di depan. Mereka tentunya tidak ingin gagal kan ?. Mereka juga tidak ingin gila kan ?. Namun bagaimana resepnya ?

Dari hasil ”tengok sana tengok sini”, ada sebuah paket dari seorang pengamat amatir - bermukim tidak jauh dari Jakarta- yang berisi kiat agar caleg dikenal-disuka-dipercaya rakyat, dikehendaki parpol dan dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat Bunyi kiatnya adalah sbb :

(1) Sosialisasikan pemberdayaan masyarakat dengan cara murah-meriah
  • Minta dan periksa data balita/ibu hamil dan lansia dari posyandu di kampung miskin-kumuh terdekat. Beli rutin kacang ijo (jangan lupa gula) dan berikan kepada posyandu untuk dimasak menjadi bubur kacang ijo dan kemudian dibagikan kepada balita/ibu hamil / lansia miskin. Murah, meriah, sekitar 5 kg per 200 orang miskin (+/- Rp 200.000, termasuk gula, dll).
  • Jika sudah dilakukan secara rutin 3 bulan, ajak 3 lansia yang kehidupannya mapan alias mampu untuk bergantian memberi makan pagi-siang-malam kepada 1 lansia yang miskin (anda tidak perlu keluar uang).
  • Bagaimana kalau hal itu sudah dilakukan ? Lanjutkan lagi dengan memberikan honor tambahan buat guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) balita miskin. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan baik secara serial maupun pararel, baik berskala RT maupun berskala lebih besar lainnya.
  • Siapa pelaksananya ? Tidak usah repot-repot. Ada posyandu yang bisa diminta sebagai pelaksananya karena relatif sudah tahunan terpecaya dan ikhlas mengurusi orang miskin.
  • Yang penting dalam hal ini adalah : 1) Ajak keluarga, tetangga dan kawan pengajian/ alumni / arisan / dll agar biaya murah dan ada unsur ”bersama”, 2) Tidak perlu ’bawa-bawa’ nama partai tertentu, partailah yang nanti ”nglamar” anda karena anda dekat rakyat. Ingat seorang ’salesman’ seringkali lebih dikenal namanya daripada perusahaannya, 3) Jangan pedulikan omongan orang yang umumnya suka ’ngomong’ tapi tidak peduli kepada tetangga dekat /jauhnya sendiri. Dalam hal ini anda boleh sedikit ”sombong’ karena telah langsung berbuat nyata bukan berwacana dan ’omdo’ saja. Dalam hal ini sebagai media latihan bagi anda, ajak orang-orang seperti itu agar mau ikut peduli.

(2) Banyak dan rajin bersilaturahmi

  • Silaturahmi yang dilakukan bersifat memberi (tidak selalu uang/harta/material fisik) dan kalau bisa tanpa upah (pamrih).
  • Kalaupun tidak bisa bersilaturahmi dengan cara tatap muka, saat ini bisa dilakukan dengan ”tatap monitor” yakni memanfaatkan media internet (e-mail, facebook)

(3) Banyak baca berita

  • Banyak baca koran dan media lainnya dan kalau bisa, tuliskan buah pikiran anda berdasarkan pengalaman nyata anda di atas untuk menangani masalah kemiskinan dan kebodohan. Dimuat di mana ? Media untuk itu sekarang ini amat banyak. Tidak usah langsung lewat koran juga tidak apa-apa. Manfaatkan saja web-site/ blog yang ada di internet dan kirim tulisan dalam blog anda itu kepada orang lain. Dengan cara ini anda telah memberi dan mendorong orang lain untuk peduli kemiskinan (sebagai perintah dari Sang Maha Pencipta Rakyat)

(4) Lakukan usaha ekonomi apa saja -walau kecil - tapi sinambung

  • Tujuannya adalah untuk mendukung kehidupan rumah tangga yang bisa berlangsung berdasarkan sistem walaupun anda tidak selalu bisa menunggui usaha itu.

(5) Rajin berpuasa & berolahraga

  • Banyak berpuasa sebagai usaha ”pengedalian diri”
  • Berolah raga agar tidak capek saat berkampanye atau duduk sidang berlama-lama sebagai legislator.

(6) Pengendalian bicara

  • Bicara tidak terburu-buru,
  • Bicara tidak ”nylekit”
  • Bicara sambil senyum dan sambil menoleh para pendengar yang ada di kiri dan kanannya.

(7) Berniat lurus & minta lindungan Sang Maha Pencipta Rakyat

  • Berniat benar-benar menjadi wakil rakyat yang memakelari kepentingan rakyat.
  • Berniat tidak gila bilamana kalah dan tidak gila kekuasaan jika menang.
  • Banyak minta lindungan Sang Maha Pencipta Rakyat agar terhindar dari syaitan dan iblis yang sering menipu lewat atau atas nama kepentingan rakyat.

Sang pengamat yang memberikan kiat di atas menambahkan : ”Empat tahun ke depan cukuplah bermodal tujuh butir itu untuk menjadi caleg yang dikenal, disuka dan dipercaya rakyat, dikehendaki partai dan semoga juga dikehendaki Sang Maha Pencipta Rakyat. Dan perlu anda ketahui bahwa sebagian besar legislator yang gila kekuasaan dan caleg yang gila sungguhan karena tidak terpilih dipastikan tidak melakukan kiat-kiat itu...Mengapa ? He....he....he.......kita semuanya entah kenapa ya, maunya by-pass lewat jalan tol ....”.

SastrawanBatangan, Bogor, 2009-04-15

Baca selanjutnya.....

Rabu, Maret 25, 2009

Posdaya | Caleg ”Memakelari” Tiket Surga

0 komentar

Kita sudah terbiasa dengan istilah makelar alias calo. Di antaranya makelar tanah atau makelar mobil. Sementara itu ada lagi profesi sejenis namun umumnya mereka yang melakukannya enggan menyandang gelar itu karena malu atau takut ditangkap pihak berwajib. Di antaranya adalah makelar proyek dan makelar jabatan.

Bicara lebih lanjut tentang makelar, yang tugasnya mempertemukan dua atau lebih pihak yang saling memerlukan, ternyata kegiatan ini perlu dan bahkan harus dikerjakan oleh siapapun yang merasa dirinya manusia bilamana ia ingin masuk surga. Tidak pandang bulu profesi si manusia tsb, Apakah kiyai, ulama, pendeta, presiden, seniman, pengusaha, professor, profesional, baik kaya ataupun miskin, baik sibuk maupun tidak. Semuanya dikenai kewajiban, bahwa selain memberikan sebagian harta yang dimilikinya, juga sebagai perantara untuk menyambungkan yang kaya dengan yang miskin yang terkenal dengan istilah “menganjurkan” atau “mendorong” dan agar gampang diingat sebut saja makelar.

Apa yang dituliskan di atas adalah sebuah kesimpulan yang diterima oleh seorang caleg sebuah parpol setelah berkali-kali berdialog secara serial dan pararel dengan banyak pendalam dan praktisi agama. Di antaranya adalah ulama, pastor, pendeta, dan bikhu yang pada waktu dialog membuka kitab sucinya masing-masing. Referensi yang mereka gunakan di antaranya adalah:
  • Kesejahteraan makhluk hendaklah engkau usahakan sebab orang sedang berjalan, duduk, bangun, tidur sekalipun jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat tidak ada bedanya dengan perilaku hewan (Weda, S. Mucaya 139) .Tuhan Yang Maha Esa tidak akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur. Demikian pula yang tidak mendermakan sebagian miliknya kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukan. Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengambil kekayaan untuk orang-orang yang tamak dan menganugrahkannya kepada orang-orang yang dermawan. (Rg.veda V.34.7).
  • Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Injil, Yakobus 2:24). Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Injil, Amsal 14:31)
  • "Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. .......... " (Sabda Budha dalam Dhammapada, 19, 20)
  • Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Quran 61:2-3). Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala...... ...... Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. (Quran 69:31-34) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Quran 107:1-7). Mulailah dari dirimu, bersedekahlah atasnya (Ibda’ Binafsika Fa Tashoddaq ‘Alaiha) (HR Muslim). Sampaikanlah dari ajaranku walaupun hanya satu ayat (HR. Bukhari)
Pemahaman tersebut di atas menjadi makin mendalam bagi sang caleg ketika di sebuah forum yang dihadirinya ada yang bertanya : ”.... Tetapi mengapa koq banyak orang tidak atau enggan menjadi makelar seperti itu ? ” Pendakwah, yang berada di mimbar forum, menjawab : ” Karena kebanyakan dari kita menganggap bahwa mati belum sebentar lagi....... Ntar..ntar saja kalau sudah nggak sibuk...ntar ntar saja kalau sudah tua..... Padahal mati kan bisa kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya”.

Maka tidaklah mengherankan jika sang caleg itu kemarin, diakhir pidatonya berkata dengan penuh semangat : ”Ayolah ramai-ramai bersama saya menjadi makelar .......makelar sosial alias maksos di lingkungan masing-masing.....karena siapapun baik pemerintah maupun partai yang menangpun tak akan sanggup sendirian menangani kemiskinan dan kebodohan....Saya tidak berjanji menghilangkan kemiskinan dan kebodohan dari bumi pertiwi kita ini. Tetapi saya berjanji mulai saat ini dan atau saat terpilih nanti akan bersama-sama anda menggelorakan semangat makelar sosial alias maksos agar kegiatan maksos menjadi milik kita semua...agar kemiskinan dan kebodohan segera teratasi ......Maka contrenglah saya.......!!!!!”

Tempik sorak para penonton di depan podium membahana. Mereka setuju apa yang dikatakan sang caleg bahwa kemiskinan dan kebodohan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah ataupun oleh siapapun partai yang menang. Justru rakyatlah - terutama yang termasuk kategori mampu alias sejahtera - yang harus dirangsang agar peduli dan bahu membahu. Maka setelah bubar, para pendengar kampanye membawa pulang oleh-oleh selarik kalimat ” Menjadi makelar di lingkungannya masing-masing tanpa malu, tanpa riya karena kalau tidak...... tidak akan mendapat tiket surga.....................................................dan tidak lupa mencontreng sang caleg yang tadi berkampanye”.


http://mariberposdaya.co.cc, 25 Maret 2009


Baca selanjutnya.....

Senin, Maret 23, 2009

Posdaya | Tanda Cinta Dokter Ahli Syaraf Samino Untuk Isterinya Tidak Lagi Kembang Yang Gampang Layu

1 komentar

Di dunia persyarafan, apalagi Alzheimer, nama dokter H.Samino Sp.S (k) sangat populer. Pria berwajah lembut, mantan direksi RSCM, dosen di FKUI/RSCM dan saat ini menjadi Direktur RS Islam Jakarta ini, kemarin, 15 Maret 2009, menorehkan salah satu bukti cintanya buat sang isteri, Endang Samino, yang telah melahirkan 3 anaknya. Bukti Cinta itu tidak lagi seombyok kembang, apalagi sebuah klinik atau rumah sakit baru seperti yang dewasa ini banyak muncul di mana-mana, tapi sebuah karya mewakili diri pribadi dan profesinya. Karya itu berupa pemberdayaan masyarakat sejahtera agar peduli secara sistematis kepada 66 balita dan 137 lansia miskin di Desa Semampir, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, kampung halaman leluhur keluarga besar isterinya.


Hari itu adalah tahap pertama kerja bareng keluarga besarnya baik yang ada di Jakarta maupun yang ada di desa itu. Mereka berpantungan untuk memberikan contoh makanan bergizi kepada balita dan lansia miskin dengan harapan bahwa kaum sejahtera yang ada di lokasi itu juga ikut ambil bagian. Tidak hanya ambil bagian pada masalah gizi tapi juga pada pendidikan anak usia dini, pendidikan anak/remaja lepas sekolah dan bahkan niatnya sampai pada tahap pemberdayaan ekonomi keluarga dan penanganan kesehatan secara total.

Sementara balita ditangani oleh bidan desa dan kader puskesmas, dokter Samino ikut turun memeriksa kesehatan lansia yang rata-rata karena miskin jarang disentuh oleh dokter. Itulah sebuah hajad dari keluarga yang melibatkan tidak saja posyandu, puskesmas, aparat desa tapi juga masjid. Dalam kaitan ini masjid diharapkan menjadi basis spiritual untuk turut menyadarkan warga bahwa pada diri mereka terdapat hak orang miskin sehingga para jamaah mau bergotong royong menangani masalah kemiskinan dan kebodohan di lokasi itu.

Dokter Samino – yang persis di depan rumahnya di Jalan Nenas, Utan Kayu Jakarta Pusat memiliki bangunan yang disediakan untuk kegiatan masyarakat – menyatakan bahwa kegiatan ini bisa dikerjakan oleh komunitas apa saja. Bisa komunitas arisan / perkumpulan keluarga, alumni, RT atau RW atau komunitas profesional seperti ikatan dokter atau ikatan isteri dokter yang sadar bahwa pada harta dan profesi mereka ada hak orang miskin. Murah meriah tetapi manfaatnya amat sangat besar karena akan mengurangi beban anak cucu akibat kawan-kawan mereka di masa kecilnya kurang gizi dan kurang mutu pendidikan.

Dokter Samino - berdasarkan hasil studinya mengenai Al Quran dan Al Hadits dan ia yakin bahwa itu juga disebutkan dalam kitab agama lainnya–menyatakan bahwa kewajiban manusia tidak hanya bicara dan berdoa saja tetapi harus selalu memberi di kala lapang dan sempit dan sekaligus menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Kalau keduanya tidak dilakukan, baik memberi maupun mengajurkan, maka manusia seperti itu akan dipandang Allah sebagai manusia yang tidak beriman dan sekaligus mendustakan agama. Kebanyakan orang memberi tapi diam-diam karena takut riya. Padahal suruhan Tuhan, manusia selain memberi juga harus menganjurkan. Kalau tidak menganjurkan mana mungkin kemiskinan dan kebodohan bisa ditangani sendiri. Kesimpulannya adalah bagaimana caranya memberi dan menganjurkan tetapi tanpa riya. Untuk itulah pentingnya mohon perlindunganNya agar terhindar dari syaitan yang menyebabkan riya dalam setiap usaha untuk menganjurkan.

Itulah kisah tentang tanda cinta seorang suami kepada isterinya. Tidak lagi berupa kembang yang sehari dua hari bisa layu, tetapi kegiatan yang bermanfaat dunia akhirat. Memberi dan menganjurkan untuk memberi. Siapa menyusul agar tidak dimurkai Allah karena mendustakan agama ?

Catatan : 1) Ditulis berdasarkan dialog dengan dr Samino dan isterinya (yang juga Pengurus Besar IIDI) di Jakarta tanggal 17 Maret 2009 dan berbagai informasi lain mengenai kegiatan posdaya keluarga besarnya di Purworejo tanggal 15 Maret 2009; 2) Di Palembang, Cimahi dan Gresik, menurut kabar, banyak dokter meluangkan waktunya untuk menjadi sukarelawan di posyandu yang menangani langsung pengobatan gratis bagi masyarakat. 3) Firman-firman yang terkait dengan apa yang diutarakan dokter Asmino di antaranya terdapat pada QS 3:133-134; 63:10; 65:7; 61:2-3;; 107:1-6; 69:25-34, beberapa hadits, Kitab Suci Injil, Weda dan lainnya; 4) Lokasi kegiatan di Posyandu Mekarsari dan Masjid An Nur (koordinator : KH Abdul Aziz) serta di Posyandu Sehat Kuat (koordinator Sutarto SPd) yang semuanya berada di Desa Semampir, Kec. Pituruh; Kab. Purworejo. 5) Tim Teknis Posdaya yang ikut bekerja di lapangan terdiri dari : Soleh Kusmana S.Ag, Eko Prihandono, Fikriyansa, dan Diaz G.

Baca selanjutnya.....